Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label BELADIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BELADIRI. Tampilkan semua postingan

DKI Pertahankan Mahkota Juara Kejurnas Inkai 2010

Minggu, 28 Februari 2010

oleh Prima Sp Vardhana

KEJUARAAN Nasional (Kejurnas) Institut Karate-do Indonesia (Inkai) 2010 telah selesai Minggu (28/2) lalu. Selama tiga hari pertarungan antar karateka andalan pengprov perguruan se-Indonesia di GOR Kertajaya Surabaya itu, ternyata peta kekuatan dua besar tidak berubah dari hasil Kejurnas dua tahun lalu. Peringkat satu atau juara umum tetap disandang oleh Kontingen DKI Jaya, sementara tuan rumah Jawa Timur harus iklas duduk di peringkat runner-up.
Kendati peringkat dua besar nasional tidak mengalami perubahan. Namun, terjadi selisih perolehan medali yang sangat signifikan. Jatim menempati peringkat runner-up dengan perolehan medali 10 emas, 9 perak, dan 11 perunggu, sementara DKI Jaya mempertahankan predikat juara umum dengan raihan medali 32 emas, 14 perak, dan 15 perunggu.
Read Full 0 komentar

Atlet Wushu Jatim Ikut Kejuaraan Dunia

Senin, 12 Oktober 2009
oleh Prima Sp Vardhana


TRIBUN, Surabaya - Tiga atlet wushu dari Jawa Timur bergabung dengan kontingen Indonesia, Progam ini terkait dalam pengiriman tim dalam Kejuaraan Dunia di Toronto, Kanada, yang renananya diselenggakan pada 23-30 Oktober.

Manajer Puslatda Wushu Jatim Pujianto yang ditemui wartawan di Surabaya, Senin (12/10), mengatakan, ketiga atlet yang berangkat ke Kanada, terdiri dari dua atlet nomor shansou yakni Fadzillah Oscar Yakut dan Gunawan, serta atlet Yuliana Kurniawan yang akan tampildi nomor taolo.

Oscar Yakut yang diproyeksikan untuk PON 2012, meraih medali perak pada kejuaraan dunia wushu junior di Bali tahun lalu. Sementara Yuliana Kurniawan yang pernah beberapa kali tampil di ajang internasional, termasuk kejuaraan Asia 2008, diharapkan mampu masuk peringkat 10 besar dunia.

Pada kejuaraan dunia itu, Indonesia rencananya mengirimkan sebanyak 18 atlet, delapan di antaranya turun di nomor taolo dan sisanya mengikuti nomor shansou."Ini kesempatan berharga buat ketiga atlet puslatda tersebut untuk menimba pengalaman sekaligus uji kemampuan. Syukur-syukur bisa meraih prestasi maksimal," katanya.

Menurut Pujianto, sekalipun tidak masuk sepuluh besar, dia berharap event ini mampu meningkatkan kemampuan Yuliana, Oscar Yakut dan Gunawan. Di Toront, Yuliana rencananya berlaga di nomor chang quan, golok dan toya, yang mengantanya sebagai penyumbang medali emas Kontingen Jatim dalam PON 2008 lalu. (rim)
Read Full 0 komentar

Gulat Sidoarjo Andalkan Dian Yanuar

Rabu, 02 September 2009

PENGCAB Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Sidoarjo yakin mampu meraih medali emas Porprov II di Malang, 5-10 Oktober. Target beban yang diharapkan mampu dikantongi hanya sekeping emas. 

Kendai demikian, Ketua Haria PGSI Sidoarjo Nafik, yakin jumlah medali yang mampu direnda para pegulat Sidoarjo mampu melewati target pengcab. Keyakinan itu muncul lantaran kesiapan para atlet serta peningkatan skil mereka selama puslatcab.

"Skill pegulat di atas kertas menjanjikan medali. Namun berdasar peta persaingan yang ada, untuk sementara kami mengandalkan Dian Yanuar yang mampu memenuhi target medali pencab," kata Nafik di sela-sela latihan para pegulat Sidoarjo, Rabu (2/9).

Menurut Nafik, Dian diunggulkan lantaran prestasinya meraih medali emas Kejurda 2008. Atlet yang baru saja lulus dari SMANOR Sidoarjo itu pernah meraih predikat pegulat wanita terbaik di ajang Piala Wali Kota Surabaya 2007. "Kami optimistis karena tahu bahwa pegulat yang tampil di porprov II nanti adalah atlet yang berlaga di kejurda," sambung Nafik. 

Menyongsong porprov II, Pengcab PGSI Sidoarjo menggeber latihan empat kali dalam sepekan. Dua kali dilakukan di Prambon (Sabtu, Rabu) dan dua kali di SMANOR (Selasa, Jumat ).

Di porprov II nanti, Sidoarjo hanya menurunkan sembilan pegulat, yaitu enam pria dan tiga wanita (lihat grafis). "Di sektor pria, kami sengaja tidak ikut di kelas 42 kg, 45 kg, 48 kg, dan 51 kg. Sebab, di kelas-kelas itu, pegulat kami belum terlalu mumpuni," bebernya. Untuk sektor pria, lanjut Nafik, Sidoarjo berharap pada Septian Eko Adi Pratama yang kini tercatat sebagai siswa SMANOR. (vd/jap)
Read Full 0 komentar

Pasuruan Kantongi Tiket Silat Terbanyak

Sabtu, 01 Agustus 2009
oleh Prima Sp Vardhana


PETA persaingan dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porpov) II Jawa Timur cabang olahraga (cabor) pencak silat, dapat dipastikan akan berlangsung ketat dan berimbang. Kondisi yang berpeluang terjadi dalam penyelenggaraan di Malang, 5-10 Oktober, itu terlihat dari hasil Pra-Porpov di Gelora Remaja Jl. Bogen, Surabaya, 29 Juli hingga 1 Agustus lalu.

Dalam kejuaraan yang diikuti 37 kabupaten/kota dengan mempertandingkan 6 kelas putra dan 4 kelas putri di nomor sabung (pertarungan), serta 3 kelas putra–putri di nomor TGR (seni) itu, ternyata kontingen Kab. Pasuruan berkibar sebagai tim terbanyak dalam meloloskan pesilat. Pesilat dari kabupaten pesisir Jawa Timur yang dipimpin Dade Angga ini yang lolos sebanyak 17 atlet. Mereka akan tampil di 12 kelas dengan rincian 7 pesilat tampil di 7 kelas sabung dan 10 pesilat di 5 kelas TGR.

Sedangkan kontingen Kota Surabaya sebagai tuan rumah Pra-Porpov cabor silat hanya menempati posisi kedua dengan meloloskan 16 pesilat yang akan tampil di 10 kelas yaitu 4 pesilat di 4 kelas sabung dan sisanya tampil di 6 kelas TGR.

Sukses tim silat Kab. Pasuruan dalam Pra-Porpov yang meloloskan 180 pesilat itu, diakui Agus Sutiadji, Ketua IPSI Kabupaten Pasuruan, merupakan sebuah kabar menarik yang patut dibanggakan. Namun harus diwaspadai dan dipertahankan sebagai sebuah amanah daerah.

Karena itu, Agus saat dihubungi ponselnya mengatakan, sepulang dari Surabaya para pesilat yang lolos hanya diberi kesempatan recovery tenaga tak lebih dari tiga hari. Selanjutnya 17 pesilat tersebut akan digembleng dalam kamp pemusatan, sehingga skill tanding dan fisik mereka siap duel saat diturunkan dalam arena Porpov di Malang.

“Secara prestise, saya yakin 17 pesilat itu paling tidak mampu mencuri 5 keping emas Porprov. Kendati demikian, kami tidak akan memberi target pada mereka. Kami khawatir beban medali justru akan menjadi bumerang bagi mereka,” ujarnya.

Sedangkan pelatih Puslatda PON 2012 Jatim cabor pencak silat, Karyono disela-sela pertandingan babak perempat final mengakui, sukses kontingen Kab. Pasuruan ini sangat mengejutkan dan diluar dugaan. Demikian pula kegagalan yang dibukukan kontingen Surabaya. Namun hasil ini telah membuktikan, bahwa peta cabor pencak silat di Jatim sangat berimbang.

“Gagalnya Surabaya dalam kejuaraan perebutan tiket Porprov ini harus segera menjadi kajian tim silat Surabaya. Salah satunya hendaknya segera menguba sistem pembinaan atlet dan meningkatkan skill atlet, khususnya terhadap pesilat yang akan tampil di nomor sabung,” ujar pelatih yang pernah mengantarkan timnas silat Brunei Darussalam bekibar di arena Sea Games ini.

Lampu kuning yang dilontarkan terhadap perlunya perbaikan terhadap sistem pembinaan pesilat Surabaya itu, diakui, karena selama tiga hari mengamati penampilan para pesilat remaja yang tampil dalam Pra-Porpov, ia hanya menemukan 4 bibit pesilat potensial yang layak masuk tim bayangan Puslatda Pon 2012. Ironisnya keempat pesilat tersebut bukan berasal dari Surabaya, tapi berasal dari Banyuwangi, pasuruan, Sumenep, dan Jember.

Berdasar hasil pantauan yang dilakukan itu, Karyono menilai, bahwa IPSI Surabaya perlu meningkatkan sistem penggemblengan terhadap para atletnya. Sehingga sisa waktu dua bulan ini dapat digunakan maksimal untuk mengantarkan 16 pesilat yang mengantongi tiket Porprov II mampu mencuri 6 medali emas, khususnya di nomor sabung yang peta persaingannya sangat ketat. (pvardhana88@gmail.com)
Read Full 0 komentar

Soekarno Marsaid: Pra-Porpov Silat Tak Akan Diwarnai Masalah

Rabu, 29 Juli 2009

oleh Prima Sp Vardhana

SEBANYAK 382 pesilat dari 37 Pengkot/ Pengkab IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia) tampil dalam kejuaraan Pra-Porvov (Pekan Olahraga Provinsi) II di Gelanggang Remaja, 29 Juli – 1 Agustus. Para pesilat itu akan bertarung memperebutkan tiket tampil di arena pencak silat Porprov II di Malang, 5 – 10 Oktober mendatang. Karena itu, peta pertarungan yang akan terjadi dapat diprediksi berlangsung ketat, keras, dan penuh emosi. 

“Kendati persaingan yang akan berlangsung sangat ketat dan penuh emosi, saya yakin dalam even ini tidak akan terjadi sebuah masalah serius yang harus melibatkan KONI Jatim,” kata Ketua Harian KONI Jatim, H. Soekarno Marsaid seusai meresmikan pembukaan kejuaraan tersebut.

Keyakinan tidak akan terjadinya permasalahan serius dalam Pra-Porpov Pencak Silat, menurut mantan Bupati Sumenep ini, karena atmosfer yang dimiliki cabor pencak silat kental dengan sikap fanatisme perguruan dan daerah. Sehingga sangat tidak mungkin akan terjadi sebuah permasalahan serius yang harus melibatkan KONI Jatim, seperti yang terjadi dalam Pra-Porpov Sepak Bola.

Namun, Soekarno dalam sambutannya juga wanti-wanti pada para peserta Pra-Porpov agar bertarung secara sportif dan tampil profesional. Artinya, para peserta hendaknya tidak menunjukan sikap protes yang bernuansakan emosi. Sebaliknya belajar untuk melakukan protes memanfaatkan jalur yang disiapkan panitia penyelenggara, sehingga nantinya peserta akan terbiasa bersikap profesional dan menjunjung tinggi aturan yang ada. 

“Jika para peserta terlatih melakukan protes atas kebijakan wasit dan juri yang dianggap tidak tepat dengan menggunakan jalur protes yang diatur panpel, saya yakin dalam Porpov nanti mereka juga akan terbiasa untuk bersikap profesional dan menjunjung tinggi peraturan yang disiapkan panpel,” ujarnya.

Konsep penyelenggaraan Pra-Porpov cabor Pencak Silat ini, menurut Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jatim, Irmantara Subagio, sebagai cara untuk melakukan seleksi atas jumlah pesilat yang tampil dalam Porpov II di Malang. Pertimbangannya lataran terjadinya ketimpangan antara jumlah pesilat yang diandalkan 37 kabupaten/kota dengan waktu penyelenggaraan Porprov yang hanya satu minggu.

“Jika pencak silat diselenggarakan tanpa pra-Porpov, maka waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan juara di tiap-tiap kelas dan kategori dibutuhkan waktu lebih dari waktu yang sudah diatur panpel Porprov,” kata mantan petenis nasional ini.

Sedangkan pesilat yang berhak tampil di Malang, dikatakan, adalah pesilat yang mampu masuk dalam babak delapan besar untuk nomor sabung. Sehingga jumlah total pesilat yang nantinya tampil di Malang untuk nomor Sabung (pertarungan) dan TGR (Seni) sekitar 120-an pesilat. (pvardhana88@gmail.com)

Read Full 0 komentar

Forki Jatim Kirim 48 Karateka ke Piala Mendagri XIII

Selasa, 28 Juli 2009

oleh Prima Sp Vardhana

BERKEKUATAN 48 karateka, Fedserasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Jawa Timur meluruk ke arena Kejurnas Junior Piala Mendagri XIII dan Mendiknas II di Bandar Lampung. Kontingen yang terdiri dari para karateka hasil Kejuaraan Daerah (Kejurda) itu akan bertarung mulai 31 Juli hingga 3 Agustus.

Kekuatan yang dikirimkan Forki Jatim dalam kalender tahun 2009 ini, diakui manajer tim Drs. Atjuk sukotjo, jumlahnya berlipat kali dari pasukan yang dikirim pada kalender 2007 dengan kekuatan 6 atlet. Selain faktor dana pengiriman atlet yang mumpuni, pengiriman kontingen kali ini memiliki bervariasi program pembinaan yang ingin dicapai pengurus. Salah satunya, program regenerasi atlet yang harus berlangsung kontinyu.

Program lainnya, karena Forki Jatim terobsesi untuk menemukan bibit-bibit karateka junior andalan yang dapat dijadikan tim pelapis dalam Puslatda PON 2012. Barometer yang akan digunakan pengprov dalam menghadiakan tiket bergengsi masuk tim pelapis Puslatda itu, karateka junior yang tampil harus mampu menunjukkan kualitas skillnya sebagai sosok karateka potensial yaitu merebut medali emas atau perak.

Kendati demikian, kontingen yang diberangkatkan Forki Jatim itu tidak dibebani target medali. Menurut Atjuk, pengprov sengaja tidak membebani target medali pada karateka yang berangkat, karena pengprov tak ingin membuat mereka bertarung dengan beban psikologis yang berpeluang merusak skill mereka saat di tatame pertarungan.

“Jika beban medali justru berpeluang merusak skill mereka, maka pengurus sepakat tidak memberikan beban medali pada kontingen yang berangkat. Hanya saja para karateka diminta tampil maksimal dan bertarung secara sportif. Soal poin dan medali biar tim wasit yang menentukan,” ujar atjuk didampingi pelatih kepala Dicky BS.

Dengan target tampil maksimal dan sportif itu, Atjuk yakin, kontingen yang dipimpinnya mampu membawa medali emas lebih banyak dari Kejurnas Piala Mendagri XII lalu. Pada kejurnas tahun 2007 itu Jatim dengan kekuatan enam karateka membawa pulang 1 emas 2 perak dan 3 perunggu.

Dasar keyakinan Atjuk akan kemampuan timnya membawa pulang medali lebih banyak dari tahun 2007, karena karateka yang diberangkatkan sudah mengalami masa pendadaran sejak awal Juni lalu. Setiap minggunya digembleng tiga kali dalam teknik dan fisik, sehingga saat diberangkatkan kondisi stamina para karateka tengah dalam puncak kemampuannya dalam merebut medali.
Medali yang diperebutkan dalam Kejurnas Piala Mendagri, jumlah totalnya 56 medali emas.

“Secara pribadi, saya optimistis bisa meraih sedikitnya 10 emas. Kans tertinggi berada di sektor pemula dan prapemula. Jatim memiliki beberapa atlet cilik yang sudah berpengalaman terjun di kejurnas,'' katanya. 

Selain itu, pria berambut perak ini mengaku sangat berharap terhadap kredo karateka under-21, Herga Yoga. Atlet berusia 20 tahun itu sudah meraih emas dalam dua kali keikutsertaannya, yakni pada 2007 dan 2008. Dia juga masuk skuad Indonesia saat terjun di kejuaraan AKF Junior (Kejuaraan Asia Karate) edisi 2008. ''Karena itu, saya berharap Herge dalam kejurnas kali ini mampu kembali menunjukkan kelasnya dengan meraih emas,'' ujarnya.

Sedangkan kontingen Forki Jatim yang berangkat terdiri dari 5 karateka kategori Usia Dini, 11 karateka Pemula (KU 12-13th), 10 karateka Cadet (KU 14-15th), 15 karateka Junior (KU 16-17 th), dan 7 karateka Under-21 (KU 18-20th). (pvardhana88@gmail.com)

Read Full 0 komentar

INKAI Juarai Kejurda Karate Jatim 2009

Minggu, 19 April 2009

oleh Prima Sp Vardhana

SEBAGAIMANA prediksi perguruan lain pasca perpecahan perguruan Lemkari, Inkai (Institut Karate-Do Indonesia) Jatim berhasil memborong medali Kejurda Karate Jatim 2009 di GOR CLS Jl . Kertajaya Indah, Surabaya. Medali yang diborong dalam kalender even FORKI Jatim selama tiga hari, 17 – 19 April, sebanyak 22 emas, 16 perak dan 21 perunggu.
“Sukses perguruan kami menjuarai Kejurda forki Jatim ini tidak hanya membanggakan kami, tapi juga menjadi sebuah beban moral yang hars kami pertahankan pada tahun mendatang,” kata Ketua harian Inkai Jatim, Ir. Prwanto seusai penobatan predikat juara umum.

Sukses ini, menurut ia, merupakan hasil pembinaan intensif selama setahun terakhir. Selain latihan, perguruan juga rajin mengirimkan atlet ke kejuaraan di berbagai jenjang, mulai dari kejuaraan setingkat daera, regional, hingga nasional. Sedangkan peringkat runner-up ditempati kontingen Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Jatim dengan 16 emas, 8perak, dan 11 perunggu. Tempat ketiga diisi kontingen Lemkari (Lembaga Karate-Do Indonesia) dengan 9 emas, 4 perak, dan 12 perunggu.

Bagi Fork Jatim penyelenggaraab tahun ini merupakan sebuah kejutan dalam merenda sistem pembinaan karateka. Bagaimana tidak. Even sekelas kejuaraa daerah ini berhasil diikuti 843 karateka dari 17 perguruan dan 24 Forki cabang. Sedangkan kelas yang dipertandingkan sebanyak 69 buah.

Partai bergengsi itu pun berakhir dengan susunan juara sebagai berikut Kelas under 21 putri di rebut Sofia dari Forki Sidoarjo, yunior putri Marthina Inkai Jatim, senior putri Noni Ayu Forki Malang, under 21 putra Samsul Inkanas Jatim, yunior putra Angga L Inkanas Jatim dan senior putra Hengki dari Inkanas Jatim.

Hasil Kejurda ini, menurut Ketua Umum Forki Jatim Totok Lusida didampingi Ketua Harian Johanes Kunto, nantinya akan diproyeksikan untuk tampil dalam Kejurnas. Para Juara junior akan ditampilkan dalam Kejurnas Piala endagri, sementar juara senior akan dikirimkan dalam Kejurnas Piala KSAD.

“Para karateka juara Kejurda ini berkesempatan menggusur karateka Puslatda PON XVIII, senyampang mereka mamp mendulang medali emas. Sebaliknya untuk karateka Puslatda yang gagal mencuri emas Kejurnas akan langsung ditendang dari kamp Puslatda,” kata Totok Lusida dengan suara blak-blakan. (pvardhna88@gmail.com)
Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks