Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label SIDOARJO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SIDOARJO. Tampilkan semua postingan

Hadi Sutjipto Mencalonkan Diri dengan Jaminan 'People Power'

Selasa, 26 Januari 2010
CATATAN PILKADA SIDOARJO 2010 (SERIE KE-2)

oleh Prima Sp Vardhana

LALU siapakah kandidal rival yang seimbang untuk melayani pencalonan Syaiful Ilah merebut tahta W-1?


Dari nama-nama cabup dan cawabup yang beredar, secara popularitas dan elektabilitasnya, hanya satu nama yang mampu mengimbangi pencalonan Syaiful Ilah dan mesin politiknya PKB. Satu nama itu adalah H. MG Hadi Sutjipto SH., MH. Ini karena dari sisi dukungan, Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini memiliki basis massa yang sangat mengagumkan dan membuat para rival perlu bekerj keras untuk membendung kekuatannya.

Dengan latar belakang sebagai mantan Kepala Dinas Infokom dan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo, pria ramah ini di atas kertas telah mengantongi dukungan yang memastikan dari sekitar 9.000-an guru PNS dan Honorer se-Sidoarjo. Jumla itu belum termasuk keluarga dari para guru tersebut, yang memmungkinkan dari basis pendidik saja bisa mengumpulkan sekitar 17.000 suara dukungan.

Jumlah dukungan suara itu bisa membengkak berlipat kali, karena pria yang menjabat Asisten I Pemkab Sidoarjo ini juga sangat populer di kalangan PNS Kabupaten Sidoarjo, juga di kalangan umum lantaran pria yang akrab dipanggil Pak Tjip ini merupakan sosok yang terlibat aktif sedikitnya dalam 10 oranisasi kemasyarakatan. Selain sebagai Ketua Takmir Masjid Agung, ia juga Ketua Kwartir Cabang Pramuka Sidoarjo, Ketua Harian KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Sidoarjo, Wakil Ketua BAZ (Badan Amil dan Zakat) Sidoarjo.

Dengan peluang dalam pengumpulan suara dukungan itu, secara tersirat posisi tawar Hadi Sutjipto ini untuk merebut tahta W-1 bak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, sejak awal tahun 2009 Bupati Win Hendrarso sudah mengelus-elusnya untuk dijadikan jago yang diterjunkan dalam Pilkada 2010. Namun tawaran indah yang menjanjikan kekuasaan itu tidak membuat pria berpostur kecil ini terbius dan terlena untuk menerima. Sehingga membuat Win gusar dan mengubah pilihan pada Kepala Dinas DPU Bina Marega Sidoarjo, Ir Bambang Joelianto. Namun pilihan Win itu harus berhenti di tengah jalan, lantaran Takdir Allah Swt menentukan lain. Bambang Julianto yang berdarah Madura Pamekasan itu harus berpeluang akibat serangan jantung pada 23 Desember 2009 pukul 07.30.

Kejutan lain dalam peta kekuatan Pilkada 2010 itu, secara tiba-tiba Hadi Sujipto didampingi tiga orang terdekatnya mendaftar ke desk Pilkada PKB untuk mengikuti penjaringan merebut tiket cawabup dari partai tersebut. Obsesi Pak Tjip hanya satu dipercaya oleh PKB untuk mendampingi Syaiful Ilah melenggang menuju Pilkada 2010.

Kesiapan Pak Tjip maju berlaga di ajang Pilkada Sidoarjo 2010, menurut dia, karena dorongan dari berbagai kalangan masyarakat. Hanya saja, dia tidak tertarik untuk merebut tahta W-1. Ia hanya tertarik dan ingin menambah ilmu sebagai umaro di posisi wakil bupati. “Banyak kalangan masyarakat (Sidoarjo) yang mengharapkan saya mencalonkan diri jadi bupati. Tapi saya sampaikan, saya belum mampu jadi orang nmo satu. Saya cukup jadi orang dua saja lewat PKB. Sikap ini merupakan proyeksi dari komitmen saya mendukung Pak Saiful,” katanya.


Berpijak dari sikap Pak Tjip yang sangat mengejutkan itu, maka tahtaW-1 di atas kertas sudah ada di genggaman Syaiful Illah. Pertempuran memperebutkan kekuasan di Sidoarjo pun sudah berakhir sebelum peperangan dimulai. Bagaimana tidak. Dengan sikap komitmen Pak Tjip yang memilih menjadi Wakil Bupati mendampingi diri Syaifu Ilah itu, maka kekuatan PKB untuk mengantarkan pasangan calonnya memenangkan Pilkada 2010 akan lebih gampang dari perjuangan mengantarkan pasangan Win Hendrarso-Syaiful Illah memenangkan Pilkada 2000 dan 2005.

Apalagi Pak Tjip merupakan salah satu sosok hasil istikarah tim kiai NU dan PKB untuk direkomendasikan sebagai pasangan Saiful. Rival Pak Tjip yang konon juga dipublikasi menjadi pilihan alternatif untuk mendampingi Syaiful, adalah Gesang Budianto - Gesang Budiarso, Komisaris Utama PT. Minarak Lapindo Jaya.

Dengan majunya Hadi Sutjipto mendaftarkan diri lebih dahulu, maka peluang Gesang untuk mendmpingi Syaiful Ilah kian meredup. Pasalnya sosok Gesang secara politis memiliki citra yang sangat buruk di mata masyarakat Sidoarjo. Sekretaris DPD Partai Golkar Propinsi Jawa Timur itu menyandang predikat trouble marker untuk Sidoarjo. Daftar dosa yang disandangnya adalah menyebabkan tragedi Lumpur Lapindo yang membuat ribuan warga terdampak lumpur lapindo harus menderita. Kehilangan sandang, pangan, dan papan yang hingga saat ini belum selesai.

“Saya yakin para Kiyai NU dan PKB, juga partai PKB tak akan memilih Gesang Budianto untuk dipasangkan dengan Syaful Ilah. Jika merek memilih Gesang, maka tipologi para Kyai NU dan PKB itu adalah Kyai Bonokeling yang hanya memikirkn diri sendiri tak memikirkan kesusaha masyarakat Sidoarjo,” kata Mbah Di –sesepuh masyarakat Tulangan dan Krian.

Selain itu, dia akan mengerahkan massa untuk endemo para Kyai dan PKB jika memilih Gesang yang jelas-jelas pembuat susah masyarakat Sidoarjo. Juga, akan melakukan tour politic kelilin Sidoarjo untuk tidak memilih Gesang dan pasangannya berkuasa diSidoarjo.(TAMAT)
Read Full 0 komentar

Syaiful Ilah Melenggang Tanpa Rival Sebanding

Senin, 25 Januari 2010
Catatan Pilkada Sidoarjo 2010 (1)

oleh Prima Sp Vardhana




PEMILIHAN Kepala Daerah (PILKADA) Sidoarjo yang rencananya digelar Juli 2010 dapat dipastikan akan berlangsung tanpa pertarungan sengit. Calon peraih tahta Bupati Sidoarjo dalam Pilkada itu 75% sudah dapat diprediksi. Wakil Bupati H. Saiful Ilah yang sejak jauh-jauh hari memastikan ikut mencalonkan diri dengan mesin politiknya Partai Keadilan Bangsa (PKB) Sidoarjo, diatas kertas berpeluang besar untuk melenggang mulus tanpa perlawanan. Mengapa demikian?
Juragan tambak yang biasa bicara ceplas-ceplos ini, diprediksi banyak pihak akan melenggang merebut tahta W-1 tanpa perlu mengeluarkan strategi ekstra. Ini terjadi lantaran deret lawan yang akan dihadapi Saiful Ilah dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) nanti, semuanya tak memiliki kekuatan rupiah maupun pasukan pemenangan yang mampu mengimbangi mesin politiknya PKB Sidoarjo yang sangat solid dan tangguh. Dibawah bayang-bayang dukungan NU, Muslimat, Fatayat, PKB, Ansor, PPKB, dan Garda Bangsa.
Sebut saja, H. Khulaim Junaidi Sp. Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Sidoarjo ini yang sudah mendaftarkan diri ke tim pencalonan penjaringan Cabup-Cawabup tim sembilan PAN Sidoarjo, 3 Januari lalu, ini bukanlah lawan yang sebanding dengan Saiful Ilah. Dari sisi kepopuleran bagi masyarakat Sidoarjo, misalnya. Nama Khulaim baru dikenal saat ia terpilih sebagai anggota DPRD, dengan jabatan politik Ketua Wakil DPRD Sidoarjo. Sebelumnya nama dia hanya dikenal oleh kalangan anggota PAN Sidoarja saja.

Demikian pula H. Imam Sugiri. Pria keling Ketua Kadin Sidoarjo ini diatas kertas tak akan menjadi sosok yang perlu dikhawatirkan kubu Saiful Ilah. Pasalnya kontraktor di Sidoarjo ini memiliki banyak cacat dan kekurangan untuk memimpin Sidoarjo. Ketidakmampuannya memimpin Kadin Sidoarjo, misalnya. Itu dibuktikan dengan banyaknya pengurus inti yang menundurka diri dari struktur kepengurusan Kadin, antara lain Turino Junaidi dan H. Hadi Putranto.
Dua pegurus di jajaran Wakil Ketua ini mundur lantaran merasa dikhianati Imam Sugiri. Kadin Sidoarjo tidak dijalankan sebagaimana fungsinya, tapi hanya dijadikan kendaraan politik Imam Sugiri untuk mencari popularitas. ”Kadin saat ini sudah tidak serius melakukan pembinaan anggotanya. Tapi lebih fokus sebagai kendaraan politik untuk kepentingan Pilkada Sidoarjo 2010 mendatang,” kata Hadi Putanto, yang juga Ketua Umum Askumindo (Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia) Sidoarjo tersebut.
Hal lain yang turut mendasari pengunduran diri itu, adalah beberapa ‘kesalahan’ Kadin saat menggelar kegiatan Sidoarjo Festival (SF) 2009. Salah satunya, adalah banner SF 2009 yang dipasang tidak layak. Dalam banner itu gambar Wakil Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah dihilangkan dan diganti gambar Imam Sugiri, yang secara struktural birokrasi dinilai para pengurus sangat tidak etis. “Selain itu, dalam penyelenggaraan Sidoarjo Festival itu karcis masuknya segaja tidak berporporasi. Ini adalah sebuah pelanggaran perpajakan dan bernuansa pelanggaran hukum,” ujarnya.
Sedangkan H. Sarto MT., MH, Ketua DPC Partai Demokrat Sidoarjo yang sejak pertengahann 2009 sudah melakukan kampanye terselubung dengan memasang fotonya berdampingan SBY. Di atas kertas dia juga rival yang mumpuni untk berduel dengan Saiul Ilah. Salah satunya adalah background asal-usulnya, yang bukan dari Sidoarjo. Dus, peluangnya untuk berebut tahta W-1 sangat berat. Mengapa demikian?
Ini karena masyarakat Sidoarjo, menurut Mbah Di -sesepuh masyarakat Tulangan, sudah kapok dipimpin pemimpin yang bukan asli Sidoarjo. Terbukti dua periode dipimpin Win Hendrarso yang asli Wong Jawa Tengah, ternyata membuat perekonomian Sidoarjo terpuruk oleh tragedi Lumpur Lapindo. Jumlah masyarakat yang hidup dibawah angka kemiskinan dengan tanpa papan (rumah) dan pangan menjadi meningkat.
Demikian pula sikap para ulama yang pernah dilontakan oleh Gus Ali Mashuri, bahwa para ulama Sidoarjo sangat mengharapkan agar Kota Udang itu tak lagi dipimpin oleh seorang bupati yang non-Sidoarjo. Sehingga pemimpin tersebut mengetahui akan karakter masyarakat Sidoarjo, demikian pula kebutuhan masyarakat. Sepintas lalu sikap para ulama itu akan menjadi batu sandungan bagi Sarto untuk mencalonkan diri. (bersambung)

Read Full 0 komentar

Nama Dua Kyai Difitnah untuk SMS Anti Sutjipto

Sabtu, 23 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardhana


Sidoarjo, TRIBUN -KEPUTUSAN Hadi Sutjipto mengikuti penjaringan merebut tiket cawabup dari PKB dengan mendaftar ke desk Pilkada PKB, tenyata sudah mendulang sandungan dan sikap penolakan. Bentuknya adalah beredarnya SMS fitnah di kalangan tokoh masyarakat, ulama dan para Kyai, dan wartawan di Sioarjo. 

Isi SMS itu informasi tentang adanya gerakan dari kelompok para Kyai NU dan PKB yang menolak pencalonan Pak Tjip –panggilan populer Hadi Sutjipto- untuk mendampingi Syaiful Ilah sebagai Calon Wakil Bupati.


SMS yang dikirim dari nomer 0857332xxxxx itu menginformasikan, bahwa mantan Ketua PC NU Sidoarjo, KH Abdi Manaf, Klopo Sepuluh sedang menggalang gerakan di kalangan para Kyai se-Sidoarjo untuk menolak Hadi Sutjipto sebagai bakal calon pendamping Saiful Ilah dalam Pilkada Sidoarjo 2010. Masalah itu telah dibahas dalam forum di Ponpes Darul Falah, Krian.
Ironisnya, saat nomor pengirim SMS dikontak untuk melakukan konfirmasi, ternyata hanya terdena nada sambung. Namun kontak tersebut tak pernah diangkat oleh emili ponsel.
Saat dikonfirmasi pada KH Abdi Manaf, ternyata ulama ramah dan kalem itu hanya terseyum. Pasanya ponsel miliknya sendiri, juga mendapatkan SMS sama dari pengirim yang sama. Tidak hanya itu, namanya juga difitnah tengah menggalang gerakan bersama KH Iskandar, pengasuh Ponpes Darul Falah, Krian untuk menolak pencalonan Sutjipto.
“SMS fitnah itu pekerjaan orang-orang sesat yang ingin mencelakan orang lain, yang tidak perlu ditanggapi biar Allah Swt saja yang melayani kelicikannya itu. Bodohnya lagi kok SMS yang mengatasnamakan saya kok dikirim ke ponsel saya, ini lucu mas. Selain itu, saya tidak punya kepentingan dalam Pilkada nanti,” katanya dengan tersenyum.
Soal dirinya terlibat dalam mendukung deklarasi Syaiful Ilah untuk maju ke Pilkada, diakui, sebatas pada sikanya sebagai ulama yang dimintai doa dan dukungan oleh seorang teman lama. Selepas acara deklarasi itu, sudah dua bulan lebih tak bertemu dan berkomunikasi dengan Syaifl Ilah.
Demikian pula sikap yan ditunjukkan KH Iskandar, yang namanya juga dikutip melakukan gerakan penolaka terhadap majunya Hadi Sutjipto sebagai calon wakil bupati. Menurut ia, dengan fitnah yang berpeluang membuat dirinya berbenturan dengan Hadi Sutjipto dan orang lain, maka dia beharap agar Allah memaafkan dan mengampuni dosa-dosa pelaku fitnah itu untuk segera diberi petunjuk.
“Namun secara pribadi, SMS fitnah itu saya ambil hikmahnya sebagai petunjuk Allah, bahwa sosok yang layak mendampingi Pak Syaiful adalah Pak Tjip. Buktinya belum apa-apa, ternyata banyak orang sirik terhadap Pak Tjip. Sikap saya ini semoga saja juga sama denga sikap para Kyai lainnya,” ujarnya.
Sedangkan Hadi Sutjipto saat diknfimasi sikapnya atas SMS fitnah itu, hanya menanggapi dengan tersenyum. Bahkan dia sangat kaget jika keputusannya mendaftarkan diri ke desk Pilkada PKB itu, ternyata membuat seseorang sakit hati dan berani meminjam nama dua Kyai untu melakukan fitnah.
“Sebagai pribadi, saya mohon maaf jika keputusan mendaftar ke desk Pilkada PKB membuat seseorang sakit hati. Harapan saya kalau melakukan fitnah janganlah meminjam nama Kyai, karena Kyai itu adalah panutan kita dalam beribadah,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya. (vd)
Read Full 0 komentar

Hadi Sutjipto Daftar Cawabup ke Desk PKB

Rabu, 20 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardana



Sidoarjo, TRIBUN – Setelah satu tahun lebih berdiam diri atas rumour yang berkembang tentang ambisinya maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2010,  Rabu (20/1)  malam, H. MG Hadi Sutjipto turun gunung. Didampingi tiga orang terdekatnya, pejabat Asisten 1 SekdakabSidoarjo Bidang Pemerintahan dan Kesra ini mendaftarkan diri dalam bursa Bacawabup (Bakal Calon Wakil Bupati) pada desk Pilkada PKB.
Datang tiga jam sebelum penutupan pendaftaran, Pak Tjip (nama panggilan Hadi Sutjipto, red.)  tiba di Kantor PKB, Jl Erlangga 5-6. Disambut Ketua Desk Pilkada PKB Imam Rahmad dan anggota, Pak Tjip yang datang sekitar pukul 21.00 langsung mengisi daftar hadir, melengkapi berkas administrasi mengisi berkas pendaftaran bacawabup. Selain itu, dia juga memenuhi ''mahar'' pendaftaran sebesar Rp 50 juta.
”Alhamdulilah, saya berhasil mendaftarkan diri sebagai bacawabup pada desk PKB pada detik-detik terakhir penutupan. Semoga pendaftaran saya ini diridhoi Allah, sehingga saya bisa mendampingi Pak Saiful untuk melakukan perbaikan perekonomian Sidoarjo yang tersuruk akibat tragedi Lumpr Lapindo,” kata Hadi Sutjipto saat dihubungi ponselnya.
Tak berselang lama, deklarator Partai Demokrat Sidoarjo Jalaluddin Alham datang. Pria berkumis ala aktor Yunani Omar Sharief ini didampingi tujuh anak yatim dari panti asuhan Al Firdaus, Siwalanpanji, Buduran. Wakil ketua DPRD Sidoarjo periode 2004-2009 itu masuk Kantor PKB sekitar pukul 22.00.

Saat mendaftar, anggota DPRD Jatim dari dapil Sidoarjo-Surabaya itu mengisi daftar hadir, lantas melengkapi berkas administrasi. Tak lupa, dia menyerahkan uang pendaftaran Rp 50 juta. Ironisnya, Sarjana Ilmu Politik itu tak membawa foto dan salinan ijazah terakhir. Tapi, dia diberi toleransi melengkapi hingga Minggu (24/1). Jika tak bisa memenuhi, dia bersedia dicoret dari daftar nama bacawabup PKB.

Sepertinya, waktu yang diberikan PKB itu tidak cukup untuk mengurus kekurangan tersebut. ''Saya menghargai penjaringan PKB. Saya bersedia dicoret karena alasan waktu,'' katanya.

Pada menit-menit terakhir Akhmad Khoiri datang paling akhir ditemani dua orang dekatnya. Kader NU itu menyerahkan ''mahar'' Rp 50 juta. Menurut Khoiri, dirinya serius maju mendampingi bacabup Saiful Ilah.

Sekretaris PKB Sidoarjo itu merasa terpanggil untuk memajukan Sidoarjo. Warga NU Sidoarjo, kata dia, merupakan mayoritas. Karena itu, dia ingin menjadi representasi warga NU. ''Jangan orang lain yang diusung, utamakan kader sendiri,'' ucap wakil direktur RS Siti Hajar tersebut.
(vd)

Read Full 0 komentar

Gesang - Sutjipto Bersaing Dalam Istikhoroh Para Kiyai

Senin, 04 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardhana

TRIBUN  - Sidoarjo, Sosok yang layak mendampingi Syaiful Ilah maju dalam Pilkada Sidoarjo 2010, ternyata mengkristal menjadi dua orang yaitu Komisaris PT Minarak Lapindo Jaya, Gesang Budiarso dan Asisten I Sekdakab Sidoarjo Bidang Tata PemerintahanSidoarjo H. MG Had Sutjipto. Keduanya memilik peluang yang sama untuk mendampingi Syaiful Ilah.

Dua nama itu muncul dalam istikhoroh para Kiyai NU, sebagaimana diakui KH Achmad Rofi'i, Ketua Syuriah PC NU Sidoarjo.

“Saat istikhoroh pertama, ada tiga orang yang muncul. Namun, sekarang sudah tinggal dua orang. Satunya pengusaha yang berkaitan dengan tragedi lumpur Laindo Jaya, sementara satu sosok lainnya birokrat murni,” kata anggota tim istikarah yang akrab disapa Gus Rofiq itu.

Kiai asal Jabon ini memang tidak bersedia menyebutkan nama. Namun dia memberi isyarat dua nama itu tak berbeda dengan yang pernah terungkap sebelumnya. “Saya kira semua sudah tahu siapa dua nama yang layak mendampingi Pak Saiful,” ujarnya.

Pengerucutan dua nama itu, menuut dia, sudah diamini seluruh kiai yang tergabung dalam tim istikarah, termasuk kiai sepuh dari Kediri.

Dalam waktu dekat ini, lanjut Gus Rofiq, tim sukses Saiful akan mengumumkan, siapa yang bakal dipilih mendampinginya. Lagi-lagi, istikarah para kiai mengambil peranan penting. “Yang jelas, Pak Saiful sudah dapat dipastikan tidak akan menolak hasil istikarah para kiai,” katanya.

Pengumuman yang diungkapkan Gus Rofiq itu, ternyata disambut senyuman oleh Mbah Di. Menurut sesepuh masyarakat Tulangan dan Krian itu, penguman yang disampaikan Ketua Syuriah PC NU Sidoarjo itu bernuansa politis. Pengumuman itu sangat tendensius menunggu sambutan dua sosok yang diummkan itu.

"Sebagai Kyai yang menjadi panutan masyarakat, seharusnya para Kyai NU itu tidak bersikap demikian. Beralaskan hasil Istikhoroh, lalu menyebut nama dua orang yang layak jadi pendamping Syaiful Ilah," ujarnya.

Sikap para Kyai NU itu, dinilainya, secara agamis sangat "melecehkan"  kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Sebab dalam Quran, Allah telah berfirman akan mendatangan seoang pemimpin kaum yang pilihan dan teraik diantara kaumnya. Artinya, Allah tidak akan mengirmkan seseoang yang pernah merusak sebuah kaum untuk menjadi pemimpin kaum yang dirusaknya.

"Lalu kenapa nama Gesang Budiarso yang jelas-jelas perusahannya PT Lapindo menjadi sumber petaka masyarakat Sidoarjo, kok dimunculkan Allah dalam Istikhoroh para Kyai tersebut. Hal ini sangat gak masuk akal dan menyalahi Quran," ujarnya.

Karena itu, Mbah Di meminta para Kyai NU itu hendaknya segera bertobat. Pasalnya memanfaatkan kekuasaan dan kebesaran Allah untuk membuat Syaiful Ilah bingung, dosanya sangat besar. (vd)
Read Full 0 komentar

Sholeh Calon Independen Usungan Forkoba

Kamis, 22 Oktober 2009

TRIBUN, Sidoarjo - Bursa Calon Kepala Daerah Sidoarjo 2010 semakin ramai setelah muncul nama nama independent yang bersaing mendapatkan simpatik dari masyarakat. Salah satunya Muhammad Sholeh calon independent yang di usung Forum Komunikasi Rakyat (FORKORA).

Menurut Bejo salah satu pengurus Forkora yang bertindak sebagai juru bicara, di usungnya nama M.Sholeh ini, tak lepas dari peran besar yang di lakukan M.Sholeh dalam merubah sistem urut ke sistem suara terbanyak dalam pelaksanaan pemilu legislative 2009 kemarin.

“Apalagi dia adalah putra daerah yang memiliki kridebilitas cukup menjanjikan,” terang Bejo.

Selain akan di calonkan di Sidoarjo, M.Sholeh di kabarkan juga akan di calonkan untuk Pilwali Surabaya 2010. namun menurut FORKORA, tenaga dan fikiran M.Sholeh lebih di butuhkan di Sidoarjo.

“Akan jauh bermanfaat jika yang bersangkutan pulang kampong untuk membesarkan dan membangun Sidoarjo,” tukasnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi via Phone, M.Sholeh memberikan apresiasi akan pencalonan dirinya sebagai Kepala Daerah Sidoarjo oleh FORKORA. Untuk itu, dirinya juga akan siap maju jika memang dukungan itu benar benar real.

“Kita hormati dukungan dari warga Sidoarjo,” tukasnya (vd)
Read Full 0 komentar

Syaiful Ilah Hadiri Silatuhrohmi Akbar Muhammadiyah Sidoarjo

Sabtu, 10 Oktober 2009



Tribun, Sidoarjo - Sekitar seribu warga Muhammadiyah se Kabupaten Sidoarjo, Minggu (10/10) menghadiri acara silatuhrohmi bersama yang di gelar di halaman kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah Sidoarjo.
Dalam acara yang di rangkai dengan pengumpulan dana bagi korban gempa Sumatera Barat ini, hadir ketua DPP Muhammadiyah Pusat KH. Dahlan Rais yang juga adik kandung mantan ketua umum Muhammadiyah Prof. Amin Rais.
Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah Sidoarjo Drs Abdul Basyid menegaskan, tujuan dari silatuhrohmi keluarga besar Muhammadiyah Sidoarjo ini, untuk menyatukan kembali komitment persyarikatan jamaah Muhammadiyah utamanya menyongsong Muktamar pada Nopember mendatang.
“Dalam acara ini mari kita teguhkan lagi persyarikatan yang sudah kita galang melalui Muhammadiyah,” terang Basyid.
Masih menurut Basyid, yang di maksud dengan penyatuan lagi persarikatan itu, adalah dengan menghormati dan melaksanakan setiap SK yang di keluarkan oleh pimpinan pusat Muhammadiyah.
“Jangan sampai kita berjalan senediri sendiri untuk memutuskan setiap sesuatunya,” tukas Basyid lagi.
Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo H.Saiful Ilah dalam sambutannya berpesan, agar ajang Silatuhrohmi ini bisa dijadikan sebagai wadah memperteguh diri dalam menghadapi segala sesuatu pada masa datang.
“Mari kita teguhkan hati, untuk bersama sama menghadapi hari esok yang lebih baik,” tutur nya. (vd)


Read Full 0 komentar

Win Hendarso Promosikan Hadi Sutjipto

oleh Prima Sp Vardhana


KARIER MG Hadi Sutjipto sebagai birokrat di Pemkab Sidoarjo kian mengkilap. Setelah tiga tahun lebih menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten (Dispendikkab) Sidoarjo, akhir 2005-2009, pria yang akrab dengan para wartawan ini masukdalam gerbong mutasi pejabat yang digulirkan Bupati Sidaorjo Drs. Win Hendrarso, Juma (9/10).

Mantan Kepala Dinas Infokom ini dipercaya Win mengisi jabatan baru sebagai Asisten Tata Pemerintahan dan Kesra Setda Sidoarjo. Sebuah jabatan promosi yang sangat strategis di Pemkab Sidoarjo. Pasalnya keberhasilan sosok Bupati dalam memimpin daerah sangat bergantung pada kapabelitas pejabatnya, bersama pejabat Asisten Perekonomian dan Pembangunan serta Asisten Administrasi Umum. Karena itu, tugas tiga pejabat asisten ini merupakan “ujung tombak” dalam membantu Pejabat Bupati dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan perangkat daerah.

Sedangkan fungsi organisasi ketiga pejabat asisten itu dalam Pemkab Sidoarjo adalah Penyusunan kebijakan pemerintahan daerah; Pengkoordinasikan pelaksanaan tugas perangkat daerah; Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah; Pembinaan administrasi dan aparatur pemerintahan daerah; dan Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Jabatan baru yang kini disandang Hadi Sutjipto sebelumnya ditempati oleh Djoko Saptono, yang sudah memasuki masa purnatugas. Sedang kursi Kepala Dispendikkab yang ditinggalkan, dipercayakan Win Hendrarso pada Ir. Agoes Boedi Tjahjono yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Koperasi, UKM, perindustrian, Perdagangan, Energi dan SDM. Dan, kursi yang ditinggalkan Agoes hingga gerbong mutasi bergulir, Jumat (9/10),  dibiarkan kosong. Namun, sebuah sumber yang dekat dengan Win Hendarso memastian kursi Agoes akan dipercayakan pada Ir. Ali Gofar, yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pasar.

“Jabatan yang dipercayakan Bupati bagi saya adalah tugas dan pengabdian. Namun sebagai seorang manusia jabatan baru apapun adalah sebuah amanah dari masyarakat yang harus saya laksanakan semaksimal diri,” kata Hadi Sutjipto saat dihubungi ponselnya.

Karena itu, dalam waktu 30 hari kerja, pria penggemar sepatu Adidas ini akan menyesuaikan diri pada jabatan barunya. Mengenal dan mendalami tugas-tugas barunya, sehingga ke depannya ia dapat melaksanakan semua tugas pokok dan fungsinya membantu Bupati dengan lancar.

Dalam gerbon mutasi diahir jabatannya ini, Win memutasi 46 personil dari jajaran eselon II hingga IV. Menurut orang nomor satu di kota Delta ini, mutasi kali ini dilakukan sebagai penyegaran jabatan dan juga untuk mengisi kekosongan jabatan karena ditinggal pensiun. "Mutasi ini tidak akan berhenti sampai di sini dan masih berlangsung lagi tahun depan," katanya.

Momen mutasi ini, dikatakan, merupakan regulasi biasa yang dilakukan, khususnya di jajaran birokrasi. Usaha memutasi para pejabat ini dilakukan, karena banyak pejabat yang sudah memasuki masa pensiun. "Pejabat yang memasuki purna tugas itu antaa lain Hariyadi Purwantoro, Djoko Saptono, Sudjarwo dan Slamet Riyadi. Dengan kondisi ini, maka posisi yang ditinggalkan harus segera diisi pejabat baru agar roda pemerintahan tidak komplang ," ujarnya.

Dari penetapan jabatan itu, orang nomor satu di kota delta itu menekankan pada tugas dan fungsi seorang birokrat. Ia berharap, dalam melaksanakan tugasnya, pelayanan publik secara prima harus tetap diutamakan. "Saya meminta agar pejabat harus mempunyai visi yang jelas yakni untuk membangun masyarakat dengan memfokuskan pada konsistensi pelayanan publik," katanya.

Lebih lanjut ia meminta kepada seluruh bawahannya untuk terus dan tetap melakukan inovasi-inovasi. Sebab dengan cara itu, pelayanan publik kepada masyarakat diharapkan bias berjalan secara maksimal. "Apa yang sudah dilakukan oleh pejabat yang lama harus diteruskan oleh pejabat yang baru, dan tidak boleh turun, minimal sama," katanya.

Win juga menegaskan, bahwa penetapan seorang pejabat memerlukan pertimbangan khusus. Ia tak akan memilih pejabat berdasarkan subyektifitas, tapi berdasar pada berbagai aspek, termasuk bagaimana kredebilitasnya, integritasnya maupun profesionalitasnya. "Yang penting bagaimana ia bisa memberikan dedikasinya dan loyalitasnya pada negara dan bangsa," katanya. (vd/nta)
Read Full 0 komentar

Emy Susanti Tak Tertarik Ikut Berebut W-1

Sabtu, 22 Agustus 2009

oleh Nikolai Miftahurrahman

MEMATANGKAN strategi atau tahu diri atas lemahnya kepopuleran di mata masyarakat Sidoarjo, maka orang terdekat Hj. Emy Susanti buru-buru mengumumkan, bahwa permaisuri Bupati Sidoarjo H. Win Hendrarso itu tak akan maju dalam bursa Pemilihan Bupati (Pilbup) Sidoarjo 2010 mendatang.

”Bu Emy sudah bilang ke saya, beliau tidak akan maju, kok. Jadi peta pilbup yang mulai memanas saat ini jangan dikait-kaitkan lagi dengan Bu Emy. Kasihan dia,” kata salah satu orang dekat Emy yang juga pejabat structural di Pemkab Sidoarjo ini wanti-wanti, Jumat (21/8).

Pengumuman tidak ikutnya Emy Susanti itu tentu saja sangat mengejutkan, para kuli disket. Bagaimana tidak. Pengumuman itu muncul pasca diumumkannya hasil sigi popularitas tokoh di mata masyarakat Sidoarjo, yang dilakukan sebuah lembaga survei independen dari Surabaya.  

Selain itu, pengumuman tersebut sangat kontroversi dengan rumor yang berkembang sejak pertengahan 2008 lalu, bahwa Ketua Penggerak PKK Sidoarjo, Direktur Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Sidoarjo, sekaligus dosen FISIP Unair itu disiapkan Bupati Win sebagai pengganti yang disiakan saat suksesi pada tahun 2010. 

Karena itu, berbagai acara seremonial pemkab pun disiapkan dan dikemas untuk melibatkan Emy Susanti. Targetnya selain membangun imaje. Juga, merancang nama Emy populer dan akrab di telinga masyarakat Sidoarjo.

Semua rencana besar mendongkrak citra dan kepopuleran Emy yang tidak pernah diakui Win Hendrarso itu, ternyata berantakan di tengah jalan. Selain rontok oleh hasil sigi popularitas yang menempatkan Emy Susanti di peringkat kedua dibawah Wakil Bupati Sidoarjo H. Syaiful Ilah yang membukukan 35,5% suara responden. Sementara Emy mendapat 10,7 persen suara dari 1000 resonden survei. Juga, berantakan oleh fatwa Gus Mus (KH. Mustofa Bisri, red.) yang menegaskan, bahwa khalifah (pemimpin) digariskan agama Islam harus diemban seorang pria.

Ironisnya ”pengunduran diri” Emy yang jelas-jelas tersandung hasil survey dan fatwa ulama tentang posisi khalifah yang diatur Islam harus ditangan pria itu, ternyata orang terdekat Emy terkesan tidak mengakui. Menurut pria yang menolak disebut jati dirinya itu, tidak ikutnya Emy untk berebut tahta W-1 itu bukan disebabkan oleh apa pun. 

”Bu Emy memastikan tidak ikut Pilbup bukan disebabkan oleh apa pun. Karena sejak awal memang tidak pernah berminat untuk ikut. Rumour yang menyebutkan beliau ikut kan akal-akalan para wartawan agar peta Pilbup jadi berita menarik,” kata sumber tersebut sembari meninggalkan kerumunan wartawan. (nic/tribunonline@gmail.com)  

Read Full 0 komentar

Win akui Saiful Ilah Kandidat Pilbup Tersiap


oleh Prima Sp Vardhana

PEMILIHAN Bupati (Pilbub) Sidoarjo baru akan berlangsung pertengahan tahun depan. Namun nama H. Syaiful Ilah diprediksi banyak pihak sebagai kandidat kuat, yang akan melenggang ke tahta Sidoarjo 1 menggantikan Win Hendrarso.

Prediksi akan peluang Wakil Bupati Sidoarjo itu berpeluang duduk di tahta Bupati itu, salah satunya berdasar hasil survei popularitas tokoh terhadap 1000 masyarakat Sidoarjo. Dalam survei selama tiga bulan terakhir yang dilakukan sebuah lembaga survei independen dari Surabaya itu, Pemimpin PKB Sidoarjo itu memperoleh 35,5 persen suara responden. Prosentase tersebut merupakan yang tertinggi dibanding kandidat lain.

Peringkat kedua ditempati Emy Susanti, istri Bupati Sidoarjo Win Hendrarso. Ketua Penggerak PKK Sidoarjo, Direktur Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Sidoarjo, yang juga dosen FISIP Unair ini membukukan 10,7 persen suara. Posisi ketiga ditempati Ketua DPW PKB Jatim, Imam Nahrawi dengan 3,2 persen suara.

Sedangkan nama Gesang Budiarso, Komisaris Utama PT. Minarak Lapindo Jaya memperoleh 1,8 persen suara. Munculnya nama caleg Partai Golkar untuk DPR RI dari Dapil I Jatim yang gagal ini tiba-tiba menyodok ke peringkat, layak disebut mengejutkan. Selain dia sangat jauh dari birokrasi, Gesang juga termasuk tokoh penting dibalik operasional perusahaan pengeboran minyak, yang membuat perekonomian Sidoarjo merosot ke titik nadir.

Kendati hasil sigi popularias yang keabsahannya banyak diragukan para tokoh terpilih atau pun kubu pendukung masing-masing, tapi hasil survei tersebut sempat menjadi bahan guyonan gayeng antara kubu Saiful Ilah dan Emi Susanti dalam acara ramah tamah bupati dengan para anggota dewan yang baru dilantik di Pendapa Delta Wibawa, Jumat (21/8). 

Suksesi tahta Sidoarjo 1 itu diletupkan oleh Bupati Win Hendrarso saat memberikan pidato sambutan pelantikan para Anggota Dewan. Orang nomor satu di Sidoajo itu, mengatakan, tampuk kepemimpinan Sidoarjo mendatang sudah dapat dipastikan akan jatuh ke tangan Saiful. 

”Saya pribadi punya keyakinan demikian, karena survei kepopuleran Pak Saiful saat ini saja sudah mencapai 60 persen,” kata Win dengan nada serius.

Hasil sigi popularitas yang dilakukan sebuah lembaga survei di Surabaya itu. Menurut ia, sepintas lalu sangat meragukan lantaran responden yang disurvei tak tercantum datanya secara valid. Wilayah sebaran foam survei, misalnya. Atau pun pertanyaan yang tercantum foam tersebut. Juga waktu penyelenggaraan suvei itu dilakukan.

Data Pengukur

Sebagai hasil karya yang diakui sebuah lembaga dengan saat pemunculan data yang terkesan ujug-ujug. Win Hendrarso berharap, semua pihak yang merasa terlibat dalam bursa pilbup 2010 perlu untuk menghargai. Paling tidak sebagai data pengukur atas kekurangan diri, sehingga dapat melakukan perbaikan dan penyempurnaan untuk keberhasilan dalam pilbup mendatang.

Sedangkan Saiful Ilah yang secara tersirat mendapat lampu hijau dari Win dalam proses suksesi di tahun 2010, ternyata menanggapi survei itu sebagai sebuah kelakar yang kurang sempurna. Hasil sigi popularitas itu dinilainya kurang akurat.

”Hasil survei yang disebutkan Pak Win dan yang diumumkan kok beda. Pak Win menyebut 60 prosen, tapi yang diumumkan 35,5 prosen. Perbedaan ini jangan-jangan akibat surveinya sambil ngantuk,” katanya dengan tertawa ngakak.

Sikap kurang serius yang ditunjukkan Ketua Pengusaha dan Pemilik Tambak se-Sidoarjo ini, ternyata sejurus kemudian berubah sebaliknya. Ia terlihat serius menanggapi. Salah satunya adalah pengakuan Syaiful, bahwa ia sudah menemui para kyai sepuh NU di Sidoarjo dan Jawa timur. Kalender sowannya itu untuk meminta restu maju dala bursa calon Bupati Sidoarjo pada tahu 2010. 

Program lain yang akan dibawahnya dalam pencalonannya merebut Sidoarjo 1 adalah obsesinya mewujudkan pembangunan Kawasan Sidoarjo Baru. Titik tolak pembangunan itu adalah real estat KNV (Kahuripan Nirwana Village), yang diatas kertas salah satu anak perusahaan PT. Minarak Lapindo Jaya dengan Komisaris Utama Gesang Budianto.

Program yang mengaitkannya dengan PT. Minarak itu sebagai simbolik, pencalonannya nanti akan menggandeng Gesang sebagai wakilnya? Syaful mengaku, sosok calon yang digandengnya sampai saat ini belum ditentukan. Ia masih dalam kondisi jomblo. ”Siapa calon yang akan mendampingi saya, belu ada. Saya menunggu hasil istikhoroh,” katanya. (vd/pvardhana88@gmail.com)

Peringkat Hasil Survei Atas 1000 Responden

01. H. Syaful Illah (Wakil Bupati Sidoarjo) - 35% (350 suara)
02. Hj. Emy Susanti (istri Win Hendrarso) - 10,7% (107 suara)
03. H. Imam Nahrawi (Ketua DPW PKB Jatim)- 3,2 % ( 32 suara)
04. Gesang Budiarso (Komisaris Utama PT. Minarak Lapindo Jaya) - 1,8% ( 18 suara)
05. H. Sarto (Ketua Partai Demokrat Sidoarjo) - 1,5% (15 suara)
06. H. Win Hendrarso (Bupati Sidoajo 2 periode) – 1% (10 suara)
07. H. Arly Fauzi (mantan Ketua DPRD Sidoarjo) – 0,6% (6 suara)
08. H. Syafiq Mughni (mantan Rektor UMU Sidoarjo) – 0,5% (5 suara)
09. Bambang Prasetyo Widodo (Dirut PT. Media Delta Espe) – 0,5% (5 suara)
10. Vino Rudy Muntiawan (Sekdakab Sidoarjo) – 0,3% (3 suara)
11. Swing Voter (responden belum menetapkan pilihan) – 43,8% (438 suara) 
Read Full 0 komentar

Hadi Sutjipto: Saya Tak Minat Tahta W-1

Rabu, 19 Agustus 2009

oleh Prima Sp Vardhana

PEMILIHAN Bupati (Pilbup) Sidoarjo baru berlangsung pertengahan 2010 mendatang, ternyata atmosfer persaingan sudah menghangat. Para calon yang telah mengikrarkan diri akan maju dalam bursa calon bupati, yaitu Wakil Bupati Sidoarjo. H. Syaiful Ilah dan Ketua Partai Demokrat Sidoarjo H. Sarto. Ataupun yang malu-malu kucing seperti yang ditunjukkan permaisuri Bupati Sidoarjo Hj. Emy Susanti Hendrarso, ternyata masing-masing secara tersirat sudah mempromosikan diri dan melempar strategi. 

Beragam teknik promosi dan strategi (prostrat) sudah dilempar para pemburuh tahta W-1 itu ke masyarakat. Sebagian berhasil membuat posisi masing-masing kian populer di masyarakat, tapi ada pula yang membuat orang lain kerepotan. Posisi Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kab.Sidoarjo, H. MG Hadi Sutjipto SH., MM., misalnya.

Gara-gara salah satu harian lokal di Surabaya merilis namanya dan beberapa nama pejabat struktural di Pemkab, juga ancang-ancang untuk mengikrarkan diri ikut bursa suksesi tahta W-1. Tak pelak lagi Hadi Sutjipto pun menjadi bahan buruan para kuli isket. Lebih mengesalkan lagi, dia harus repot membantah ucapan selamat yang disampaikan para koleganya. 

”Gara-gara digosipin ikut maju ke bursa perebutan W-1, saya akhir-akhir ini jadi repot membantah ucapan selamat para koega,” gerutu mantan Kepala Dinas Infokom Kab. Sidoarjo ini saat dikonfirmasi Tribun Online, Selasa (18/8).

Gosip tentang minatnya ikut Pilbup Sidoarjo pada 2010 mendatang, menurut ia, sebuah kabar yang tidak benar dan tidak jelas juntrungnya. Kabar itu diletupkan siapa pun untuk mengocok peta persaingan para kandidat yang sudah mengikrarkan diri, sehingga mereka merasa lawan berebut tahta W-1 bertambah.

Kendati gossip itu tidak merugikan posisinya sebagai pejabat struktural Pemkab, tapi secara moral sangat merugikan privasinya. Sebab ia harus kerepotan akibat gossip tersebut. Selain itu, karena ia merasa namanya dicatut oknum usil untuk memuluskan rencananya dalam bursa Pilbup. Karena itu, pria ramah ini bertekad melacak harian lokal yang membuatnya kerepotan. Juga, oknum usil yang meletupkan namanya sebagai sosok yang ingin meramaikan bursa Pilbup.

”Soal sikap apa yang akan saya lakukan pada media lokcal dan oknum usil tersebut, biar waktu yang menentukan. Saya maafkan kelakuan mereka atau saya tuntut di jaur hukum itu soal nanti,” ujar Hadi Sutjipto bernada serius.

Mengapa sangat kesal dengan gosip Pilbup tersebut. Pria ramah yang gemar bersepatu Adidas ini mengaku, gosip tersebut sangat melukai pribadinya. Selain tak berminat ikut memperebutkan tahta W-1, karena ia merasa tenaganya masih sangat dibutuhkan dunia pendidikan di Sidoarjo. Meningkakan sikap professional para pengajar yang ada di Sidoarjo, misalnya. 

”Obsesi saya tiga tahun kedepan, para guru di Sidoarjo semuanya sudah memiliki sikap professional. Saat kondisi ini telah menjadi atmosfer pendidikan di Sidoarjo, saya yakin setiap tahunnya akan bermunculan deret pelajar teladan yang akan mendongkrak citra daerah di tingkat nasional,” katanya. (vd/pvardhana88@gmail.com)

Read Full 0 komentar

Kader Demokrat Lirik Sidoarjo 1

Kamis, 13 Agustus 2009

oleh Rizky Hardiyanto

BUMI Sidoarjo yang dibelit masalah lumpur Banjar Panji akibat keteledoran kerja PT. Lapindo Brantas,. Juga diprediksi beberapa paranormal akan ambles ke bumi dan hilang dari peta Indonesia, ternyata memikat kader Patai Demokrat untu teribat dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) yang kan dgelar taun 2010 mendatang.

Ambisi kader Partai Demokrat pemenang PemilihanPresiden (Pilpres) 2009 yang untuk memimpin Sidoarjo itu diletupkan oleh Ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) Kab. Sidoarjo H. Sarto ST sebagaimana banyak dikutip beberap media lokal. 

Menurut pria bertubuh subur ini, ketertarikan Partai Demokrat memimpin Sidoarjo lewat Pilbup 2010 mendatang sebagai langkah untuk menyempurnakan kesuksesan berpolitik, setelah keberhasilan mengantrkan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) kembali meraih tahta Indonesia 1. Dan, keberhasilan kader Demokrat Sidoarjo merebut kursi legislative di DPRD Sidoarjo lewat Pemilihan Legisltif 2009. Demokrat behasil mengantungi 11 kursi yang secara otomatis kader partai yang didirikan SBY itu berhak untuk menduduki kursi pimpinan dewan.

“Dari bukti keberhasilan mengantongi suara terbanyak dalam Pemiihan Legislatif lalu, sudah selayaknya jika kader Demokrat dipercaya untuk memimpin Sidoarjo. Juga diberi kesempatan masyarakat untuk melakukan perubahan pada Sidoarjo yang kondisinya saat ini kian tidak menentu,” kata pengusaha yang tinggal di Brebek, Waru, ini saat dihubungi Tribun, Rabu (12/8).

Kendati demikian pria kelahiran Surabaya tahun 1953 ini, mengaku belum mengetahui tentang sosok kader Demokrat yang akan ditugaskan DPP maupun DPD Jatim untuk maju ke bursa Cabup (Calon Bupati) Sidoajo tahun 2010 mendatang. “Sampai saat ini DPP dan DPD belum membei petunjuk tentang sosok yang didukung untuk maju dala bursa Cabup. Kami kader di Sidoarjo sebagai bawahan akan sumeleh dan selalu mendukung kebijakan pimpinan,” ujar suami dari H. Sri Lestari ini.

Bagaimana jika DPP dan DPD Demokrat Jatim memilih Sarto sebagai kader yang ditejunkan untuk tampil dalam bursa Cabup 2010 nanti. Bapak dari Joanasari ST (kandidat Ketua Fraksi Demokrat di DPRD Sidoarjo) dan Rinto Januar (mahasiswa Fak. Huum Ubara Surabaya) ini mengaku, sip untuk melaksanakan amana yang diberikan pimpinan untuk berjuang habis-habisan dalam bursa Cabup tersebut.

“Saat pimpinan sudah memberi petunjuk tentang sosok yang wajib didukung kader Demokrat di Sidoarjo, maka DPC akan mulai beraksi menggalang pasukan tempur untuk mengantarkan kader tersebut ke kursi Sidoarjo satu,” katanya meberi jaminan.

Tentang peluang kader Demokrat tersebut merebut tahta Sidoarjo 1, Sarto yakin peluag kader tersebut sangat besar. Ini sudah teruji dan terbukti dalam Pileg dan Pilpres 2009. Dalam dua pesta demorasi tersebut suara yang berhasil dijaring Partai Demokrat sangat besar. (riz/tribunonline@gmail.com
Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks