Tampilkan postingan dengan label PROFIL KABINET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL KABINET. Tampilkan semua postingan
Endang - Siti Fadilah Berbeda Pendapat Menilai Depkes
Kamis, 22 Oktober 2009TRIBUN, Jakarta - Tanggapan berbeda-beda diungkapkan oleh setiap menteri saat awal kepemimpinannya di departemen. Salah satunya, mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, yang menganggap awal kepemimpinannya lima tahun lalu layaknya masuk ke dalam hutan belantara. Namun, Menteri Kesehatan baru, Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, melihat Departemen Kesehatan bagai taman bunga, pada awal jabatannya
"Bukan hal mudah bagi saya untuk menduduki posisi Menteri Kesehatan. Tapi saya tidak lihat Departemen Kesehatan sebagai hutan belantara, tapi sebagai taman bunga," ucap dia saat acara serah terima jabatan (sertijab) di Kantor Depkes Jakarta, Kamis (22/10). Ungkapan itu disambut tepuk tangan ratusan orang dari jajaran Depkes, BUMN, dan rumah sakit yang menghadiri acara sertijab.
Menkes mengungkapkan, sebagai anggota Depkes, ia bangga dengan pencapaian selama kepemimpinan Siti Fadilah. Ia berjanji akan terus melanjutkan program kesehatan yang pro-rakyat. "Bukan waktunya bongkar pasang. Mana yang belum lancar akan dilihat di mana masalahnya, setelah itu diselesaikan," kata dia.
Pada awal kepemimpinannya, ia meminta dukungan dari seluruh jajaran Depkes. Ia pun mengaku telah mendapat arahan dari Presiden mengenai program jangka pendek dan jangka panjang di bidang kesehatan. "Perjuangan kita meningkatkan derajat manusia Indonesia setinggi-tingginya," ujarnya.
Pada akhir sambutannya, ia pun mengucapkan terima kasih atas pengabdian Siti Fadilah kepada Depkes selama lima tahun terakhir. "Terima kasih sebesar-besarnya kepada ibu yang telah berbakti kepada Depkes," ungkapnya. (kompas/vd)
Presiden Minta Menteri Harus Cerdas
TRIBUN, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, menteri-menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II harus mampu berpikir cerdas dan siap bekerja keras untuk memenuhi tuntutan tugas.
Hal itu disampaikan Presiden saat melantik 34 menteri dan tiga pejabat negara setingkat menteri di Istana Negara Jakarta, Kamis (22/10).
"Setiap tahun saya akan evaluasi. Lima tahun mendatang tidaklah ringan, gejolak minyak dan persoalan dalam negeri yang kompleks, siapkan pikiran dan fisik untuk berpikir cerdas dan bekerja keras yang semuanya untuk kepentingan rakyat," kata Presiden.
Kepala Negara menambahkan, dalam menghadapi kritik dan kecaman dari sebagian masyarakat, para menteri harus sabar, tegar, dan terus berikhtiar.
"Seperti saya sampaikan tadi malam, hampir pasti di kalangan masyarakat luas ada yang puas, ada yang tidak puas, ada yang pro dan kontra, dan ada yang menyangsikan. Itulah wujud demokrasi dan kebebasan yang makin mekar," kata Presiden.
Karena itu, dia meminta agar tidak selalu menjawab keraguan itu dengan kata-kata, tetapi menjawab dengan bekerja dan memberikan bukti hasil kerja yang sesuai dengan target serta mampu menyejahterakan rakyat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis, di Istana Negara Jakarta melantik 34 menteri KIB II dan tiga pejabat setingkat menteri, yaitu Kepala BIN, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Pelantikan berlangsung mulai pukul 14.00. Selain dihadiri oleh Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, pelantikan itu juga disaksikan oleh Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati. (kompas/vd)
Presiden Lantik Menteri Kabinet Pada Siang Bolong
TRIBUN, Jakarta - Setelah sibuk melakukan seleksi calon menteri yang akan bekerja pada Kabinet Indonesia Bersatu II selama satu minggu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya melantik ke-34 calon menteri dan dua calon pejabat tinggi negara di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).
Ke-34 calon menteri itu dilantik melalui Keputusan Presiden Nomor 84 P/2009. Presiden juga melantik Kepala UPK3R dan Kepala Badan Intelijen Negara melalui Keputusan Presiden Nomor 85 P/2009 untuk dan Nomor 86 P/2009. Surat keputusan ini dibacakan oleh Wakil Sekretaris Kabinet Lambok Nahattandas.
Usai keputusan tersebut dibacakan, Presiden memimpin pengambilan sumpah, disaksikan oleh para pemuka agama di Indonesia.
Berikut ini sumpah yang dikumandangkan oleh para calon menteri dan dua pejabat tinggi negara.
"Bahwa saya, untuk diangkat pada jabatan ini, langsung ataupun tidak langsung, dengan nama atau dalih apa pun, tidak memberikan atau menjanjikan, ataupun akan memberikan sesuatu kepada siapa pun juga."
"Saya bersumpah, bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, dalam jabatan ini, tidak sekali-kali menerima dari siapa pun juga, langsung atau pun tidak langsung, sesuatu janji atau pemberian."
"Saya bersumpah, bahwa saya, setia pada UUD Tahun 1945, akan memelihara Undang-undang dan peraturan yang berlaku bagi Indonesia."
"Bahwa saya dengan sekuat tenaga, akan mengusahakan kesejahteraan Republik Indonesia. Bahwa saya akan setia pada nusa dan bangsa dan akan memenuhi segala kewajiban, yang ditanggungkan kepada saya oleh jabatan ini."
"Bahwa saya, akan menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada bangsa dan negara." (kompas/vd)
Ke-34 calon menteri itu dilantik melalui Keputusan Presiden Nomor 84 P/2009. Presiden juga melantik Kepala UPK3R dan Kepala Badan Intelijen Negara melalui Keputusan Presiden Nomor 85 P/2009 untuk dan Nomor 86 P/2009. Surat keputusan ini dibacakan oleh Wakil Sekretaris Kabinet Lambok Nahattandas.
Usai keputusan tersebut dibacakan, Presiden memimpin pengambilan sumpah, disaksikan oleh para pemuka agama di Indonesia.
Berikut ini sumpah yang dikumandangkan oleh para calon menteri dan dua pejabat tinggi negara.
"Bahwa saya, untuk diangkat pada jabatan ini, langsung ataupun tidak langsung, dengan nama atau dalih apa pun, tidak memberikan atau menjanjikan, ataupun akan memberikan sesuatu kepada siapa pun juga."
"Saya bersumpah, bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, dalam jabatan ini, tidak sekali-kali menerima dari siapa pun juga, langsung atau pun tidak langsung, sesuatu janji atau pemberian."
"Saya bersumpah, bahwa saya, setia pada UUD Tahun 1945, akan memelihara Undang-undang dan peraturan yang berlaku bagi Indonesia."
"Bahwa saya dengan sekuat tenaga, akan mengusahakan kesejahteraan Republik Indonesia. Bahwa saya akan setia pada nusa dan bangsa dan akan memenuhi segala kewajiban, yang ditanggungkan kepada saya oleh jabatan ini."
"Bahwa saya, akan menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada bangsa dan negara." (kompas/vd)
Nila Menitikkan Air Mata, Endang Kaget Tak Kepalang
NAMA Ny Nila Djuwita Moeloek, calon menteri yang telah mengikuti seluruh rangkaian proses seleksi, terpental dari susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II seperti yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, sekitar pukul 22.00 WIB, Rabu (21/10).Padahal, semula ia bakal menjadi Menteri Kesehatan menggantikan Siti Fadilah Supari. Pasangan SBY-Boediono justru menunjuk Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih.
Nama baru yang tidak pernah disebut-sebut sebelumnya. Doktor lulus Harvard School of Public Health, Boston, AS, tersebut menjalani fit and proper test serta tes kesehatan secara mendadak pada Rabu siang. “Kaget banget, saya seperti mimpi,” ujar Endang kepada Persda Network.
Ironisnya, di rumah istri mantan Menteri Kesehatan Faried Anfasa Moeloek tersebut, Kompleks Micasa Blok B3, Kuningan, Jakarta, telah dipenuhi karangan bunga berisi ucapan selamat. Seorang warga mengatakan, bunga berdatangan ke rumah Nila sejak Rabu siang hingga sore.
Karangan bunga juga berdatangan sejak Nila memenuhi panggilan SBY-Boediono untuk menjalani wawancara sebagai calon menteri di Puri Cikeas, Bogor, Minggu lalu. “Tapi yang paling banyak datang ya hari ini,” ungkap seorang pria saat ditemui Persda Network di depan kediaman Nila.
Nila belum bersedia memberikan komentar. Hasyim, seorang penjaga keamanan di rumah Nila, mengatakan, Faried Anfasa Moeloek sempat menyemangati istrinya yang terlihat shock. Menurut Hasyim, Nila sudah mendapat informasi kegagalannya sebelum pengumuman dilakukan.
Hasyim sempat melihat Nila meneteskan air mata. Informasi mengenai kegagalan masuk jajaran kabinet diterima Nila lewat telepon.
Tidak lama berselang, Nila meminta Hasyim dan beberapa orang untuk memindahkan karangan bunga yang ada di halaman depan ke dalam rumah. “Ibu yang menyuruh memindahkan karangan bunga itu. Setelah itu Ibu masuk kamar,” katanya.
Berdasarkan pantauan Persda Network, sekitar pukul 20.05, setidaknya ada lima rangkaian bunga ukuran besar di halaman rumah Nila.
Bunga-bunga itu di antaranya dikirim Dr Rudolf Tuhusula, Alcon, anggota KKI, dan Teguh Juwarno, anggota DPR asal PAN. Puluhan bunga ucapan berukuran kecil tersusun di teras rumah.
Sementara itu, Endang mengaku shock ketika ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan. Menurutnya, pada Rabu siang ia baru dihubungi Sudi Silalahi yang kini dipercaya menjadi Menteri Sekretaris Negara.
Saat ditelepon, Endang sedang rapat bersama jajaran Departemen Kesehatan (Depkes) di Hotel Horison, Bekasi. “Saya kira bohongan. Saya pikir awalnya teman-teman saya yang iseng. Eh tahunya benar telepon dari Pak Sudi,” katanya.
Setelah Sudi Silalahi berhasil meyakinkan bahwa ia merupakan utusan Presiden SBY, barulah Endang percaya. “Saya shock waktu ditelepon, enggak percaya,” tegasnya.
Tak lama setelah ditelepon, Endang langsung diminta meluncur ke Puri Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY. Ia langsung diwawancarai Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono.
Seusai diwawancara, Endang juga langsung dites kesehatan tim dokter yang sengaja didatangkan ke Cikeas. “Tapi tes kesehatannya belum tuntas, mungkin lusa setelah pelantikan dilanjutkan tes kesehatannya lagi,” ujar Mahamit, suami Endang, yang juga dokter.
Saat Presiden SBY mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II, Endang sedang berada di rumah bersama suaminya. Telepon mereka langsung berdering tanpa henti begitu namanya disebut sebagai Menteri Kesehatan.
“Wah, ini telepon banyak sekali. Kami kaget dan bingung, enggak percaya kalau istri saya dipercaya Bapak SBY menjadi Menteri Kesehatan,” tambah Mahamit.
Endang menambahkan, meskipun baru pada detik-detik akhir menjalani tes sebagai calon menteri, ia siap menerima amanah ini. “Saya akan laksanakan amanah ini sebaik-baiknya. Jabatan ini atas sepengetahuan Allah,” sambungnya.
Apakah ada firasat? “Sama sekali tak ada firasat apa pun,” tegasnya.
Rencananya Kamis (22/10) pukul 13.30, Endang akan menghadiri pelantikan di Istana Negara. “Besok (hari ini) dengan persiapan seadanya, kami akan mengikuti pelantikan seperti yang disampaikan Bapak Presiden tadi,” tegasnya.(kompas/vd)
Gamawan Fauzi, Mendagri Sipil Pertama Pasca Orde Baru
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih Gamawan Fauzi, mantan Gubernur Sumatera Barat, sebagai Mendagri dalam Kabinet Indonesia Bersatu 2009-2014. Meski agak mengejutkan, pilihan itu patut diapresiasi karena beberapa alasan.
Pertama, terpilihnya Gamawan sebagai tokoh sipil terbilang bersejarah karena selama ini pemerintahan dalam negeri kita ”kental” dengan kepemimpinan militer. Kita berharap, dasar pertimbangannya bersifat paradigmatis: bergesernya mandat inti Departemen Dalam Negeri sebagai pembina politik ke peran manajemen kebijakan di bidang otonomi daerah, fasilitasi/dukungan pemilu, dan seterusnya.
Kedua, seperti Mendagri 2007-2009, Presiden memilih tokoh yang sedang menjabat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Berbekal pengalaman itu, Mendagri diharapkan tidak perlu waktu lama untuk mengenali peta masalah pengelolaan pemerintahan dalam negeri, khususnya isu-isu otonomi daerah.
Ketiga, sosok Gamawan yang merupakan ikon reformasi governansi yang bersih dan inovatif, baik di Sumatera Barat maupun saat menjabat Bupati Solok. Pascatransisi desentralisasi delapan tahun, kini kita menapaki fase konsolidasi otonomi, yang mensyaratkan visi kepemimpinan inovatif dalam menjamin tumbuhnya kreativitas birokrasi di ranah lokal.
Agenda 100 hari
Dalam terang optimisme semacam itu, publik berharap Mendagri mampu menangani berbagai agenda prioritas (jangka pendek) maupun arah kebijakan (jangka menengah) ke depan. Terkait kebijakan desentralisasi dan penyelenggaraan pemerintahan daerah, ada tiga agenda (masalah) krusial yang harus ditargetkan beres dalam kalender 100 hari ke depan.
Pertama, persiapan gelombang kedua pemilihan kepala daerah. Tahun 2010, ada 246 daerah melaksanakan pilkada. Sebagian harus sudah memulai tahap awal rangkaian persiapan pada November 2009. Di sisi lain, hingga hari ini, banyak ketidakjelasan dan ketidaksiapan, baik kerangka legal/regulasi, dukungan anggaran (alokasi APBD), aparat pelaksana (mekanisme pembentukan Panwas Pilkada), sumber data pemilih, dan lainnya. Dalam semua masalah itu, peran dan tanggung jawab Depdagri amat besar (pilkada sebagai bagian rezim pemerintahan daerah).
Ihwal dukungan anggaran, misalnya. Ketiadaan alokasi bagi pelaksanaan pilkada dalam APBD 2009 menuntut keputusan kebijakan Mendagri agar memungkinkan daerah melakukan penyesuaian darurat (APBD-P) di luar siklus normal yang seharusnya dikerjakan paling lambat September lalu. Tanpa langkah politik itu, daerah sulit melakukan perubahan anggaran dan pilkada terancam tertunda. Alternatif lebih jauh, jika segenap persiapan tak bisa dibereskan, pilkada akan tertunda dan berdampak pada implikasi hukum dan politik.
Kedua, problem tunjangan komunikasi intensif dan dana operasional anggota DPRD 2004-2009. Akar masalahnya adalah kerangka regulasi pusat yang kerap berganti, tak jelas, bertabrakan: dari PP No 24/2004, PP No 35/2006, PP No 37/2006, PP No 21/2007, SE Mendagri No 700/08/ SJ, hingga SE Mendagri No 555/3032/SJ. Alhasil, anggota DPRD 2004-2009 kembali mengulang pengalaman periode sebelumnya (1999-2004), terancam tindak pidana korupsi.
Terlihat jelas jebakan korupsi ”legal” dalam kasus ini adalah murni kesalahan pusat, dengan implikasi anggaran dan akibat hukum yang sepenuhnya ditanggung daerah. Pihak daerah hanya melakukan apa yang sudah diatur, yakni membayar rapelan tunjangan komunikasi dan dana operasional, yang ironisnya minta dikembalikan secara mencicil. Mendagri baru menghadapi pekerjaan rumah amat pelik karena apa pun keputusan yang akan diambil relatif sama risikonya bagi daerah.
Ketiga, ritual berulang pemekaran wilayah. Setelah setahun memasuki masa moratorium, awal Oktober Presiden mengirim surat dan menyilakan DPR mengajukan usul RUU pembentukan daerah otonom baru. Pada putaran pertama pascapelantikan presiden-wapres nanti, tidak kurang 20 calon daerah otonom baru siap diproses penyusunan RUU pembentukannya.
Gelombang baru ini tak mengejutkan karena jeda pemekaran itu bukan hasil desain terencana, di mana ada dasar hukum atau manajemen kebijakan khusus, tetapi terpaksa karena faktor kondisional tragedi Medan dan persiapan Pemilu 2009.
Kini, sikap Mendagri diuji publik. Secara subyektif-politik harus searah dengan Presiden/DPR yang harus memenuhi utang janji pemekaran dalam kampanye pemilu lalu. Di sisi lain, fakta obyektif menunjukkan, hasil pemekaran lebih banyak membawa mudarat. Bahkan, menurut Lemhannas, sekitar 80 persen daerah otonom baru masuk kategori daerah gagal. Koreksi tuntas harus dimulai dari level manajemen kebijakan: dari hulu (penyiapan kerangka besar), tahapan proses (supervisi), hingga hilir (evaluasi). Tanpa pembenahan kebijakan, jeda pemekaran justru harus diperpanjang lagi.
Berbagai masalah itu berskala kompleks, tetapi perlu segera diselesaikan. Suatu tantangan yang tentu jauh dari enteng dan rasanya Mendagri tak punya kemewahan waktu untuk berbulan madu dengan jabatan baru. Melihat berbagai modal awal itu, publik berharap hasil lebih dari Gamawan Fauzi.
SBY: Pemilhan Menteri Dilakukan Secara Obyektif
Rabu, 21 Oktober 2009
TRIBUN, Jakarta - Sebelum mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II pada Rabu (21/10) pukul 22.00 tadi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tanggapan terhadap pemberitaan media. Tanggapan itu mencakup harapan agar pengumuman tak terlambat dan penilaian soal kabinet.
Presiden SBY antara lain menceritakan bahwa dalam kurun dua hingga tiga hari menjelang pengumuman susunan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, banyak pihak yang ingin bertemu dengannya. Mereka ingin memberikan masukan mengenai calon menteri. Namun, keinginan tersebut ditolak SBY.
"Saya katakan, mekanisme tengah berlangsung. Saya dan Pak Boediono sedang berkonsentrasi menyusun susunan kabinet," ujar SBY kepada para wartawan, Rabu (21/10) malam di Istana Negara.
SBY mengatakan, dalam menentukan anggota susunan kabinet, beliau dan Boediono tidak gegabah. Sebaliknya, SBY mengatakan bahwa pilihan tersebut ditentukan secara obyektif dan rasional. (kompas/vd)
Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II adalah:
Menteri-menteri Koordinator:
1. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menteri Koordinator Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
Menteri-menteri Departemen:
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Assegaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
Menteri-menteri Negara:
25. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menteri Negara BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Presiden SBY antara lain menceritakan bahwa dalam kurun dua hingga tiga hari menjelang pengumuman susunan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, banyak pihak yang ingin bertemu dengannya. Mereka ingin memberikan masukan mengenai calon menteri. Namun, keinginan tersebut ditolak SBY.
"Saya katakan, mekanisme tengah berlangsung. Saya dan Pak Boediono sedang berkonsentrasi menyusun susunan kabinet," ujar SBY kepada para wartawan, Rabu (21/10) malam di Istana Negara.
SBY mengatakan, dalam menentukan anggota susunan kabinet, beliau dan Boediono tidak gegabah. Sebaliknya, SBY mengatakan bahwa pilihan tersebut ditentukan secara obyektif dan rasional. (kompas/vd)
Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II adalah:
Menteri-menteri Koordinator:
1. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menteri Koordinator Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
Menteri-menteri Departemen:
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Assegaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
Menteri-menteri Negara:
25. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menteri Negara BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Suswono, Calon Mentan yang Gemar Sayur Asem
Selasa, 20 Oktober 2009
oleh Prima Sp Vardhana/ berbaai sumber
CALON Menteri Pertanian (Mentan) di Kabinet Indonesia Bersatu II, Suswono, ternyata gemar menyantap sayur asam. "Kakak saya, Suswono, memang salah satu penggemar sayur asem. Bila pulang ke Slawi, minta dibuatkan sayur asem," kata adik kandung Suswono, Siti Arumsih, Selasa (20/10) di Tegal.
Soal makanan, kata Siti yang tinggal di RT 02/RW 04, Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal itu, Suswono bukanlah orang yang pilih-pilih. Ia mengatakan, sebagian besar makanan kesukaannya adalah makanan sederhana.
Ia mengatakan, Suswono yang politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu memang dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kandidat menteri. Kandidat menteri lainnya yang berasal dari partai itu adalah Tifatul Sembiring, Salim Segaf Aljufri, dan Suharna Surapranata.
"Soal nanti Suswono menjadi menteri atau tidak, itu wewenang Bapak SBY karena yang saya tahu, SBY telah menepati janjinya yakni akan memberikan jatah empat menteri dari PKS," kata Siti yang juga istri Amar Syamsi itu.
Ia mengaku mengetahui Suswono sebagai salah satu kandidat menteri dari pemberitaan televisi. Kedua orangtuanya, yakni Asyraf dan Suratni, katanya, juga mengetahui kabar anak pertamanya itu menjadi salah satu kandidat menteri dari pemberitaan televisi.
"Suswono belum memberitahu keluarga perihal dirinya menjadi calon menteri pada kabinet mendatang," katanya. Amar mengaku, dia tidak mengetahui secara mendalam tentang sosok Suswono karena kakak iparnya itu jarang pulang ke Slawi.
Berdasarkan cerita beberapa teman dekatnya, Suswono memang dikenal memiliki kecerdasan yang lebih baik ketimbang mereka. Suswono pernah aktif di sejumlah organisasi, seperti menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB, Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Tegal, dan Ketua PII Komisariat Slawi.
Asisten pribadi Suswono dan pengelola Kantor Perwakilan Pusat Informasi dan Pengaduan (PIP) Slawi, Aji Kurnia Darmawan, mengaku mengenal Suswono sebagai pribadi yang layak dicontoh masyarakat. "Sosok Suswono merupakan sosok pekerja keras, disiplin, dan memberikan perhatian kepada sesama," katanya.
Ketua DPRD Kabupaten Tegal Rojikin AH mengharapkan agar Suswono melaksanakan berbagai program pemerintah untuk kepentingan seluruh masyarakat dan bukan kepentingan partai.
Kandidat Doktor
Sekalipun belum ada kepastian mengenai pos menteri yang akan dipercayakan kepada Suswono, ia telah diarahkan Susilo Bambang Yudhoyono, presiden terpilih 2009-2014, untuk mengerjakan bidang pertanian.
"Bapak Presiden memberikan pesan pada saya terkait upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan," katanya kepada wartawan seusai menjalani tes kesehatan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Senin (19/10) malam.
Menurut Suswono, daerah yang sudah mencapai swasembada pangan diharapkan dapat dipertahankan. Adapun yang belum, daerah itu terus diupayakan untuk juga menjadi swasembada. "Intinya agrobisnis," ujarnya.
Terhadap tugas ini, Suswono merasa optimistis karena bidang pertanian sudah menjadi bidangnya. "Saya kandidat doktor pertanian," ujarnya.
Berbeda dengan tiga calon menteri yang lain, yaitu Purnomo Yusgiantoro, Fadel Muhammad, dan Fredy Numberi, Suswono tidak perlu kembali menjalani tes kesehatan pada Selasa (20/10). "Hari ini saya puasa. Saya biasa puasa Senin dan Kamis," pungkasnya.
CALON Menteri Pertanian (Mentan) di Kabinet Indonesia Bersatu II, Suswono, ternyata gemar menyantap sayur asam. "Kakak saya, Suswono, memang salah satu penggemar sayur asem. Bila pulang ke Slawi, minta dibuatkan sayur asem," kata adik kandung Suswono, Siti Arumsih, Selasa (20/10) di Tegal.
Soal makanan, kata Siti yang tinggal di RT 02/RW 04, Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal itu, Suswono bukanlah orang yang pilih-pilih. Ia mengatakan, sebagian besar makanan kesukaannya adalah makanan sederhana.
Ia mengatakan, Suswono yang politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu memang dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kandidat menteri. Kandidat menteri lainnya yang berasal dari partai itu adalah Tifatul Sembiring, Salim Segaf Aljufri, dan Suharna Surapranata.
"Soal nanti Suswono menjadi menteri atau tidak, itu wewenang Bapak SBY karena yang saya tahu, SBY telah menepati janjinya yakni akan memberikan jatah empat menteri dari PKS," kata Siti yang juga istri Amar Syamsi itu.
Ia mengaku mengetahui Suswono sebagai salah satu kandidat menteri dari pemberitaan televisi. Kedua orangtuanya, yakni Asyraf dan Suratni, katanya, juga mengetahui kabar anak pertamanya itu menjadi salah satu kandidat menteri dari pemberitaan televisi.
"Suswono belum memberitahu keluarga perihal dirinya menjadi calon menteri pada kabinet mendatang," katanya. Amar mengaku, dia tidak mengetahui secara mendalam tentang sosok Suswono karena kakak iparnya itu jarang pulang ke Slawi.
Berdasarkan cerita beberapa teman dekatnya, Suswono memang dikenal memiliki kecerdasan yang lebih baik ketimbang mereka. Suswono pernah aktif di sejumlah organisasi, seperti menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB, Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Tegal, dan Ketua PII Komisariat Slawi.
Asisten pribadi Suswono dan pengelola Kantor Perwakilan Pusat Informasi dan Pengaduan (PIP) Slawi, Aji Kurnia Darmawan, mengaku mengenal Suswono sebagai pribadi yang layak dicontoh masyarakat. "Sosok Suswono merupakan sosok pekerja keras, disiplin, dan memberikan perhatian kepada sesama," katanya.
Ketua DPRD Kabupaten Tegal Rojikin AH mengharapkan agar Suswono melaksanakan berbagai program pemerintah untuk kepentingan seluruh masyarakat dan bukan kepentingan partai.
Kandidat Doktor
Sekalipun belum ada kepastian mengenai pos menteri yang akan dipercayakan kepada Suswono, ia telah diarahkan Susilo Bambang Yudhoyono, presiden terpilih 2009-2014, untuk mengerjakan bidang pertanian.
"Bapak Presiden memberikan pesan pada saya terkait upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan," katanya kepada wartawan seusai menjalani tes kesehatan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Senin (19/10) malam.
Menurut Suswono, daerah yang sudah mencapai swasembada pangan diharapkan dapat dipertahankan. Adapun yang belum, daerah itu terus diupayakan untuk juga menjadi swasembada. "Intinya agrobisnis," ujarnya.
Terhadap tugas ini, Suswono merasa optimistis karena bidang pertanian sudah menjadi bidangnya. "Saya kandidat doktor pertanian," ujarnya.
Berbeda dengan tiga calon menteri yang lain, yaitu Purnomo Yusgiantoro, Fadel Muhammad, dan Fredy Numberi, Suswono tidak perlu kembali menjalani tes kesehatan pada Selasa (20/10). "Hari ini saya puasa. Saya biasa puasa Senin dan Kamis," pungkasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)












