Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

2012, Sepenggal Kisah Quraan ala Hollywood

Senin, 16 November 2009
oleh Prima Sp Vardhana


“Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka
adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya
azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang
mengambil pelajaran?”
(QS  Al-Qamar [54] : 15-17)



FIRMAN Allah SWT dalam Surat Al-Qamar ayat 15 hingga 17 itu sangatlah bernas dan penuh makna. Tidak hanya menegaskan, bahwa ilmu pengetahuan (disimbolikan dalam bentuk Kapal) merupakan rahmat Allah yang mampu menolong umat manusia dari kehancuran akibat kebodohan diri sendiri. Pasalnya azab Allah akibat kebodohan manusia sendiri sangatlah dahsyat dan tak akan mampu dihindari siapa pu mahluk Allah.


Semua ilmu pengetahuan dan adzab yang ditimpahkan Allah pada umat manusia dan bumi seisinya ini, dijanjikan Allah dapat dipelajari dengan mudah dan gamblang dalam Al-Quraan. Kendati demikian, Allah memastikan hanya semua pelajaran dalam kitab suci umat Islam itu hanya dapat difahami oleh para umat manusia yang mau mengambil pelajaran. Sebaliknya bagi yang bertujuan lain, ilmu pengetahuan dan azab Allah yang dijanjikan dalam Al-Quraan tak akan mampu dicerna dan diresapi maknanya untuk kepentingan manusia dan semua mahluk Allah.


Janji Allah yang demikian membahagiakan juga menakutkan itu, Insya Allah sudah diketahui Roland Emmerich saat menyutradarai film 2012 yang sepekan terakhir ini merebut perhatian mayoritas masyarakat dunia. Sehingga semua gedung bioskop di Indonesia ataupun negara lain yang memutar film yang dibintangi John Cusack dan Amanda Peet ini diserbu penonton.



Salah satu bukti, bahwa sineas kelahiran Stuttgart, Baden-Württemberg, Jerman ini tentang janji Allah dalam Al-Quraan itu dengan piawainya disisipkan pada akhir film dalam ujud sebuah kapal tangker berperalatan super canggih. Kapal ini menjadi sarana yang menyelamatkan sekitar 40 ribu umat manusia dan semua jenis pasangan hewan. Manusia dan hewan itu selama 26 bulan hidup di dalam kapal, yang mengarungi samudera tanpa batas akibat bencana alam global itu. Pada akhirnya kapal tersebut mendarat di sebuah benua baru hasil dari proses pergeseran lempeng bumi, yang juga menjadi sumber lain dari bencana alam global tersebut.


Pesan islami yang ditawarkan Emmerich itu memang tak disadari oleh mayoritas penonton, bahkan para ustadz muda seperti Jeffrey Al-Buchori atau pun para ulama yang jadi pengurus MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sehingga film yang menelan biaya sekitar 260,000,000 dolar Amerika ini, bukannya melahirkan sebuah kesadaran iman yang islami. Yang terjadi justru sebaliknya. Para ulama itu dengan argumen masing-masing yang mencerminkan keterbatasan pengetahuan dalam mencerna beragam pesan Allah, mereka terbelah dalam kutub “kebodohan”.


Dengan mengatasnamakan agama Islam, sebagian ulama MUI mengharamkan umat Islam Indonesia menonton film 2012. Sebagian lain tidak mengharamkan senyampang menonton dengan niatan mencari hiburan. Memang, argumen-argumen yang disampaikan para ulama itu memiliki banyak alasan, yang bersumber untuk melindungi iman kaum muslim yang menonton 2012. Para ulama tersebut takut pasca menonton, banyak iman kaum muslim Indonesia mengalami kemerosotan.



Padahal kalau para ulama itu bersikap lebih arif dan cerdas, mereka tak akan mudah untuk mengharamkan nonton 2012 atau sebaliknya. Pasalnya dalam film berdurasi 2,5 jam itu, sesungguhnya banyak kisah-kisah tauladan dalam Al-Quraan yang disajikan sangat menarik dan memikat. Misalnya tentang hujan meteor yang melahirkan adegan pembakaran pada kota-kota besar. Adegan itu merupakan visualisasi dari surat Ath-Thuur misalnya, Allah berfirman:


"Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: "itu adalah  awan yang bertindih-tindih". (QS Ath-Thuur [52]:44)


Juga di dalam surat Ad-Dukhan Allah berfirman:


"(ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan." (QS Ad-Dukhan [44]:16)


Pada ayat pertama (surat Ath-Thuur) Al-Qur'an mengisyaratkan adanya sebuah kejadian berupa jatuhnya benda-benda langit dalam bentuk potongan-potongan. Jatuhnya potongan-potongan benda langit ke bumi itulah yang akhirnya menimbulkan awan yang bertumpuk-tumpuk. Dalam hal ini, orang-orang kafir tidak mampu membedakan antara awan yang bertumpuk-tumpuk (sahabum markum) dengan asap (dukhan). Apa yang dilihat oleh orang kafir itu sendiri boleh jadi merupakan kepulan asap yang terbentuk akibat jatuhnya potongan benda-benda langit (batu meteor) setelah membentur bumi. Boleh jadi karena benturan keras (Al-Batsyah Al-Kubra) yang menghantam bumi itulah, maka akan terjadi efek domino di permukaan bumi.


Di dalam surat Al-Mulk juga disebutkan adanya isyarat hujan meteor dan penenggelaman bumi, Allah berfirman:


"Apakah kamu merasa aman terhadapAllah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, alangkah hebatnya kemurkaan-Ku". (QS Al-Mulk [67]:16-18)


Secara tegas pula Allah menjelaskan bahwa Dia akan menimpakan kepingan-kepingan material dari langit kepada manusia, atau membenamkan mereka di perut bumi. Allah berfirman:


"Maka, apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Rabb) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)". (QS Saba' [34]:9).


Berpijak dari banyaknya ayat-ayat Al-Quraan yang tersaji secara filmis dalam film 2012 itu, maka fatwa para ulama yang mengharamkan menonton film ini akan menghasilkan sebuah kebijakan yang merugikan umat Islam. Pasalnya larangan itu akan mebuat para muslim tak memiliki pengetahuan visualisasi akan kedahsyatan ayat-ayat Quraan tentang bencana alam.


Karena itu, secara pribadi kehadiran film 2012 sangatlah saya syukuri. Sebab usai menonton film yang dibintangi John Cusack dan Amanda Peet itu, kini saya tahu bahwa visualisasi ala Hollywood tentang Surat-Surat dalam Al-Quraan itu sangatlah dahsyat. Insya Allah film itu kian menambah kadar keimananku pada Allah SWT, Rasul, Al-Quraan, dan Hari Kiamat. Amien

Read Full 0 komentar

Laskar Pelangi Siap Guncang FFI Fukuoka

Kamis, 17 September 2009

FILM Laskar Pelangi peraih banyak penghargaan di dalam negeri maupun di luar negeri, akan menjadi salah satu film yang diputar Ldi Festival Film Internasional Fukuoka 2009, Jepang.

Sutradara film Laskar Pelangi Riri Riza yang dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu, mengatakan, karena dirinya harus menyelesaikan proses pembuatan film kedua Andre Hirata yaitu "Sang Pemimpi" maka dia tidak bisa berangkat ke festival yang dimulai pada 18 September.

"Yang akan hadir mewakili itu Ikranegara (pemeran Pak Harfan) dan Andrea Hirata (penulis novel "Laskar Pelangi`). Besok malam mereka akan berangkat," kata Riri.

Laskar Pelangi yang bercerita mengenai perjuangan 10 anak Belitung untuk bersekolah itu telah diputar di beberapa negara di lima benua.

"Kemarin, Laskar Pelangi baru saja di putar di Harare, Namibia. Sebelumnya pernah diputar di Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, lima kota di Amerika, empat kota di Australia dan Portugal," kata sutradara film yang melejit lewat film "Petualangan Sherina".

Ajang film internasional yang memutar "Laskar Pelangi" antara lain di Barcelona Asian Film Festival 2009 di Spanyol, Singapore Internasional Film Festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat.

Riri mengatakan Laskar Pelangi juga akan diputar di Pusan International Film Festival 2009 pada Oktober mendatang.

Sejak dibuat tahun 2008, "Laskar Pelangi" telah meraih penghargaan internasional antara lain The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di Internasional Festival of Films for Children and Young Adults di Hamedan, Iran.

"Laskar Pelangi" masuk nominasi kategori film terbaik di Berlin Internasional Film Festival 2009, pada Asian Film 2009 di Hong Kong, dan editor filmnya yaitu W. Ichwandiardono menjadi nominator untuk kategori editor terbaik. (nab/nta)
Read Full 0 komentar

Prequel yang Ingin Mengulang Sukses Induknya

Senin, 14 September 2009

oleh Prima Sp Vardhana

DALAM peta perfilman dunia, serial Star Trek merupakan salah satu serial film televisi legendaries. Film seri Star Trek pertama yang lebih dikenal sekarang sebagai Star Trek: The Original Series pertama ditayangkan di Amerika Serikat di tahun 1966. Serial ini menceritakan tentang petualangan pesawat ruang angkasa USS Enterprise (NCC-1701) dengan awak Kapten James T. Kirk (dimainkan oleh William Shatner), Commander Spock yang berasal dari planet Vulcan (Leonard Nimoy), doktor Leonard McCoy (DeForest Kelley) dan lain-lain. 

Ironisnya saat pertama disiarkan serial ini kurang populer dan memikat masyarakat Amerika. Sehingga setelah tiga tahun tayang, studio televisi NBC menghentikan musim tayangnya. Anehnya, setelah dibatalkan ketenaran serial ini melambung. Karena biaya produksi yang mahal, studio NBC menjual hak siar kepada stasiun-stasiun lokal. Di sinilah Star Trek mengalami kebangkitan kembali dan banyak orang menjadi penggemar setia. Demikian pula yang dialami versi animasinya yang mulai tayang pada 1973, dengan tokoh-tokoh yang sama dan disuarai oleh aktor aslinya. Serial yang bertahan selama dua tahun ini dinamai Star Trek: The Animated Series.

Pada tahun 1978, seri televisi ini direncanakan kembali dihidupkan dengan judul dalam seri Star Trek: Phase II. Tokoh Kapten Kirk akan kembali diperankan aktor Shatner, tetapi Nimoy menolak kembali memerankan sosok Spock. Sehingga karakter mahluk Vulcan yang sangat penting di serial ini digantikan oleh sosok Xon (David Gautreaux). Juga tambahan satu karakter lain, Ilia dari Planet Delta (Persis Khambatta).


Sebelum rencana ini sempat direalisasi, George Lucas meluncurkan film Star Wars yang meledak di seluruh dunia. Pihak produser Star Trek memutuskan membanting kemudi. Mengolah skenario untuk seri televisi menjadi film layar lebar dan Robert Wise dipercaya sebagai sutradaranya. Film yang diproduksi taun 1979 ini judulnya diubah menjadi Star Trek: The Motion Picture.


Dalam film ini Gautreaux mendapat peran kecil, sementara Khambatta tetap memainkan sosok Ilia. Semua aktor utama dari film televisi kembali memainkan perannya masing-masing. Itu termasuk Nimoy. Film ini meraih sukses di box office dan dilanjutkan dengan film-film berikutnya. Hingga tahun 2005 sudah ada sepuluh judul termasuk film pertamanya. 

Sembilan judul lainnya adalah Star Trek: The Wrath of Khan (1982/Karya Nicholas Meyer), Star Trek: The Search for Spock (1984/ Karya Leonard Nimoy), Star Trek: The Voyage Home (1986/ Karya Leonard Nimoy), Star Trek: The Final Frontier (1989/ Karya William Shatner), Star Trek: The Undiscovered Country (1991/ Karya Nicholas Meyer), Star Trek: Generations (1994 Next Generation/ Karya David Carson), Star Trek: First Contact (1996 Next Generation/ Karya Jonathan Frakes), Star Trek: Insurrection (1998 Next Generation/ Karya Jonathan Frakes), Star Trek: Nemesis (2002 Next Generation/ Karya Stuart Baird).

Serial Televisi

Sedangkan pada tahun 1987, waktu produksi antara film keempat dan kelima, sebuah seri televisi Star Trek lain diproduksi. Serial berjudul Star Trek: The Next Generation yang dibintangi oleh awak berbeda itu mengisahkan tentang sepak terjang awak Enterprise NCC-1701-D dengan Kapten Jean-Luc Picard (Patrick Stewart) dan commander Will Riker (Jonathan Frakes). Setting waktunya sekitar satu abad setelah seri pertama. Seri ini bertahan selama tujuh tahun.

Pada tahu 1993, serial sama berudul Star Trek: Deep Space Nine mulai tayang. Serial ini mengisahkan sebuah stasiun ruang angkasa yang dipimpin Kapten Benjamin Sisko (Brooks Avery). Stasiun ini terletak di dekat Planet Bajor dan sebuah lubang cacing yang menuju ke kuadran gamma (yaitu perempat bagian lain dari galaksi bima sakti - digambarkan bahwa bumi terletak di kuadran alpha). Posisi itu membuat banyak spesies alien mampir ke bumi, sehngga konflik di antara mereka tak dapat dihindari. Seperti pendahulunya, seri ini juga ditutup setelah tujuh tahun.

Sedangkan serial Star Trek: Voyager yan mulai tayan pada 1995 dan berakhir tujuh tahun kemudian, menggambarkan perjalanan pesawat ruang angkasa USS Voyager NCC-74656 yang dpimpin Kapten Kathryn Janeway (Kate Mulgrew) yang terlempar ke kuadran delta (yaitu perempat bagian lain dari galaksi bima sakti) oleh suatu kekuatan alien. Pesawat Voyager ini sepanjang serialnya terikat dalam satu tematis yaitu mencari jalan kembali ke bumi.  

Serial ke-5 dari franchise Star Trek ini tetap meneruskan semangat penjelajahan dan penemuan nilai-nilai baru yang dimulai sejak ST:TOS. Salah satu nilai dan tatanan masyarakat lama yang didobrak adalah diangkatnya seorang perempuan menjadi kapten kapal, suatu hal yang sama tabu-nya dengan adegan ciuman-antar ras yang dilakukan antara Kapten Kirk (seorang lelaki kulit putih) dengan Letnan Uhura (seorang perempuan kulit hitam) pada tahun 1960-an di dalam salah satu episode ST:TOS.

Seri terakhir yang diproduksi adalah Star Trek: Enterprise (pada mulanya disebut sebagai Enterprise saja). Serial ini mengisahkan tentang petualangan pesawat Enterprise NX-01 di bawah pimpinan Kapten Jonathan Archer (Scott Bakula). Seri ini adalah prekuel seri pertama ST:TOS, dengan latar belakang waktu sekitar satu abad sebelumnya. Mulai ditayangkan tahun 2001 dan terakhir ditayangkan pada tahun 2005. Pada awalnya serial ini memiliki rating yang tinggi sampai akhirnya terus menurun hingga musim tayang ke-3. Kondisi ini membuat Paramount Pictures memutuskan untuk menghentikan serial ini setelah musimtayang ke-4 dengan jumlah keseluruhan 98 episode.

Film Prekuel


Versi layar lebar ke-11 yang digarap JJ Abrams ini adalah prekuel yang berkisah tentang pertemuan dua pamungkas "Star Trek", Kapten Kirk dan Mr. Spock muda. Adegan dibuka dengan penyerangan USS Enterprise oleh bangsa Romulan. Penyerangan ini mengakibatkan Kapten George Kirk tewas. Dua puluh lima tahun kemudian, James Tiberius Kirk (Chris Pine) memutuskan bergabung bersama Starfleet, atas dorongan dari Kapten Pike (Bruce Greenwood). Dalam perjalanan, ia bertemu Leonard Mc Coy (Karl Urban), yang frustasi karena baru bercerai dan tak punya tempat tujuan lagi.

Pada masa pendidikan sebagai kadet, Kirk berhasil dalam simulasi ujian yang diciptakan Spock (Zachary Quinto). Sukses Kirk itu membuat Spock merasa dicurangi. Pasalnya sebelumnya belum ada yang bisa melampaui tes buatannya itu, sehingga Spock membawa kasus ini ke hadapan anggota dewan. Di sinilah pertama kali Kirk dan Spock bertemu dan langsung perang dingin. Selanjutnya, USS Enterprise NCC- 1701 harus menghadapi perlawanan dari bangsa Romulan dari masa depan, yang dipimpin oleh Nero (Eric Bana). 

Dalam film itu kru Enterprise lain juga hadir lengkap, seperti Letnan Uhura (Zoe Saldana) yang punya kisah tersendiri dengan Spock, Montgomery Scott (Simon Pegg) yang menciptakan teleportasi, Chekov (Anton Yelchin) yang bertindak sebagai ahli navigasi sekaligus kru termuda, dan Sulu (John Cho) yang mahir melakukan manuver hebat dalam pertempuran. 

Film yang menelan dana produksi sekitar 150 juta dolar AS ini menguntai kisahnya dengan sederhana. Penggalan alur cerita di awal yang terus maju, menyiratkan kalau Abrams tak ingin berbasa-basi. Selanjutnya, twist adegan tak dapat dihindarkan. Mengingat konstelasi ruang dan waktu tak berlaku buat "Star Trek". Tak heran jika projek ini disebut-sebut sebagai pekerjaan mahaberat bagi Abrams. Mengingat "Star Trek" adalah adalah franchise terpopuler sepanjang masa, dan satu-satunya serial orisinil yang memiliki spin-off terbanyak sepanjang sejarah pertelevisian dunia (versi Guiness Book of World Records). Sedikit saja cela dalam reboot "Star Trek", Trekkies (sebutan untuk penggemar Star Trek) yang tersebar di seluruh dunia bisa mencibir habis-habisan.

Ide prekuel ini sebenarnya sudah pernah dicetuskan Roddenberry di tahun 1968 saat menghadiri World Science Fiction Convention di Amerika. Sepeninggal Roddenberry, baru pada 2005 ide tersebut mencuat lagi saat Paramount Pictures menggaet J.J. Abrams, dua rekannya yaitu penulis Roberto Orci dan Alex Kurtzman (yang saat itu sedang menggarap "Mission Impossible III"), serta produser Damon Lindelof dan Bryan Burk untuk membuat reboot-nya.
Dengan kombinasi semacam itu (Orci-Lindelof yang Trekkie, serta Abrams-Kurtzman yang juga penggemar meski kasual), "Star Trek" mampu menarik penonton muda, tanpa harus terlibat lebih dalam dengan seri-seri sebelumnya.

Seperti rumor sebelumnya, film ganjil "Star Trek" selalu mendapat respons penonton yang lebih bagus, daripada yang bernomor genap. Dan Star Trek: The Fuue Begins merupakan seri ganjil. Kira-kira, respons apa ya yang akan didapat? Well, cukup bersantai, kencangkan sabuk pengaman, dan Anda akan dibawa Abrams berpetualang ke bagian lain semesta.

DATA FILM

JUDUL: Star Trek: The Future Begins
JENIS FILM: Eksen Fiksi Pengetahuan
SUTRADARA:
JJ Abraham
PENULIS SKENARIO:
Roberto Orci & Alex Kurtzman
PRODUKSI:
Paramount Pictures
DURASI :
127 menit (2 jam 7 menit)
BATAS USIA:
PG-13 (Remaja Wajib Didampingi Orang Tua) 
BINTANG:
Chris Pine (James T. Kirk), Zachary Quinto (Spock), Leonard Nimoy (Spock Prime) Eric Bana (Nero), Bruce Greenwood (Capt. Christopher Pike), Karl Urban (Bones), Zoe Saldana (Nyota Uhura), Simon Pegg (Montgomery Scott), John Cho (Lt. Hikaru Sulu), Anton Yelchin (Pavel Chekov), Ben Cross (Sarek), Winona Ryder (Amanda Grayson), Chris Hemsworth (George Kirk), Jennifer Morrison (Winona Kirk), Rachel Nichols (Gaila)

Read Full 0 komentar

'JAMILA DAN SANG PRESIDEN', Kisah Nyata Perdagangan Perempuan

Rabu, 29 April 2009

Seorang perempuan bernama Jamila (Atiqah Hasiholan) tiba-tiba menjadi headline di semua pemberitaan nasional. Ia mengaku membunuh seorang pejabat tinggi negeri dan menolak mengajukan pengampunan hukuman mati dari Presiden.

Jamila dimasukkan dalam penjara yang dipimpin oleh seorang sipir perempuan yang sangat ditakuti, Ibu Ria (Christine Hakim). Di penjara inilah cerita Jamila bergulir, membuka sebuah luka bernama perdagangan manusia yang dialami oleh Jamila dan jutaan anak di Indonesia. Selama ini Jamila mencari adiknya yang terjerat dalam sindikat prostitusi anak, yang akhirnya mengantar Jamila ke penjara.

Persidangan Jamila menjadi panas dan semakin kontroversial dengan kemunculan kepala golongan fanatik (Fauzi Baadilah) yang mati-matian menentang pengampunan dari Presiden. Konflik di dalam penjara dengan Ibu Ria makin meruncing, sementara tekanan dari luar juga menjadi tidak tertahankan. Jamila semakin terpuruk, hukuman matinya semakin dekat.

Ide cerita JAMILA DAN SANG PRESIDEN berawal dari tiga tahun yang lalu, UNICEF meminta Ratna Sarumpaet, sutradara teater handal yang juga aktivis perempuan, untuk menjalankan sebuah penelitian mengenai woman trafficking di Indonesia. Ratna berkelana ke Batam, Solo, Indramayu, Surabaya, dan kota-kota di Kalimantan, merekam beragam cerita dari ratusan ribu korban perempuan yang kemudian disatukannya dalam sebuah pementasan teater yang sangat membuka mata. Dua ratus ribu anak di bawah umur diperdagangkan di Indonesia setiap tahunnya untuk alasan yang sangat menyedihkan, kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Kedahsyatan tema dan kedalaman kebenaran yang diusung oleh pementasan teater JAMILA DAN SANG PRESIDEN menghasilkan pengakuan positif dari berbagai khalayak. Mata penonton basah, kepala-kepala tertunduk, kisah Jamila begitu mewakili hingga terbawa dan terus dikenang. Cerita ini harus diteruskan, JAMILA DAN SANG PRESIDEN dikonversikan menjadi sebuah media yang lebih bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat, yakni melalui sebuah film. (kom)

Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Adjie Pangestu, Marcellino Lefrand, Surya Saputra, Fauzi Baadilah.
Read Full 0 komentar

'RAMBO IV: IN THE SERPENT'S EYE

Kamis, 14 Februari 2008
Resensi oleh Prima Sp Vardhana

DALAM karier Sylvester Stallone sebagai seorang sineas, ada dua film yang sangat berjasa dalam membangun sosoknya sebagai seorang sineas kaliber dunia yang berhasil masuk nominasi dan merebut Piala Oscar yang diperebutkan dalam Festival Film Academy Award di Hollywood.

Dua film itu adalah serial ROCKY yang mengupas tentang kehidupan seorang petinju juara dunia fiktif bernama Rocky Balboa. Serta film serial RAMBO yang bertutur tentang perjuangan seorang mantan perang Vietnam bernama John Rambo dalam mencari jati dirinya, baik sebagai seorang ksatria, pahlawan, dan individu warganegara AS.

Secara prestise, dua serial hasil tangan dingin pria berdarah Italia itu sangatlah luar biasa. Bagaimana tidak, kedua serial tsb tidak cuma berhasil secara bisnis. Namun, juga berhasil menjadi sebuah karya monumenal yang mengibarkan citra industri perfilman Amerika di peta dunia.

Serial film tentang perjalanan hidup petarung Rocky Balboa direnda mulai Rocky (1976), Rocky II (1979), Rocky III (1982), Rocky IV (1985), Rocky V (1990), Rocky Balboa (2006) . Sedangkan petualangan sosok John Rambo dioawali lewat First Blood (1982), Rambo (1983), Rambo: First Blood Part II (1985), Rambo III (1988), 'RAMBO IV: IN THE SERPENT'S EYE' (2007)

Keistimewaan Stallone dalam dua seria filmnya itu, ia mendapuk dirinya dalam empat jabatan penting yang menentukan nasib sebuah film. Jabatan-jabatan itu adalah aktor utama, sutradara, penulis skenario, dan produser.

Dengan beredarnya serial ke-4 Rambo di bioskop-bioskop di Indonesia ini, menurutt catatan situs imdb, kemonceran karier Stallone dihiasi dengan prestasinya sebagai aktor di 54 film bioskop dan televisi, sementara film ke-55 berjudul Notorius untuk tayangan televisi sedang dalam masa produksi. Ia berhasil membidani film sebagai sutradara dan produser sebanyak 9 judul film termasuk Notorius dan Poe yang tegah proses produksi, dan sebagai penulis skenario sebanyak 22 film termasuk Poe.


MENGKRITIK MYANMAR

Sedangkan dalam RAMBO IV, Stallone mengemasnya sebagai sarana kritik kemanusiaan atas peperangan yang merusak psikologis suatu bangsa. Berbeda dengan serial keduanya yang bersetig Vietnam dan Afganistan sebagai seting serial ketiganya. Dalam serial keempatnya ini seting cerita dipilihnya wilayah Burma dan Myanmar, yang menjadi arena perang saudara terpanjang di dunia. Perang yang memakan jutaan korban jiwa yang mayoritas rakyat itu sudah berlangsung puluhan tahun dan hingga kini masih berlangsung.

Dalam film ini John Rambo dikisahkan telah lama meninggalkan perang. Ia bertekad tak akan melibatkan diri dalam 'kehidupan berdarah'. Rambo memilih menetap di belantara Thailand. Selain berprofesi menyewakan perahu, ia juga bekerja sebagai penangkap ular di hutan untuk disetorkan pada pemilik arena tontotan atraksi tari ular.

Namun keputusannya berubah, setelah bertemu dengan Michael Burnett (Paul Schulze) dan rekannya, Sarah Miller (Julie Benz). Mereka adalah missionaris dari Amerika Serikat yang ingin mengantar obat-obatan ke pedalaman Burma, serta bantuan bagi desa Karen di perbatasan Burma - Thailand yang menjadi wilayah perang saudara terpanjang didunia, yaitu konflik orang Burma dengan orang Karen yang sudah mencapai tahun ke-60.

Para misionars meminta Rambo untuk menjadi pemandu, karena dianggap paling tahu daerah tersebut, termasuk wilayah yang dihuni oleh Suku Karen, suku yang dianggap pemberontak oleh junta militer Myanmar. Kendati awalnya menolak, Rambo akhirnya menerima permohonan itu tapi setelah Sarah menjelaskan kondisi pengungsi yang sangat membutuhkan bantuan. Juga mara bahaya yang harus mereka hadapi dalam perjalanan ke perbatasan tersebut. Rambo mengantar rombongan misionaris hingga di pelabuhan tradisonal di bibir sungai yang ada di gerbang desa Suku Karen.

Ironisnya dua minggu pasca mengantar para missionaris tsb, Pastor Arthur Marsh (Ken Howard) yang mengirim kelompok missionaris itu membawa kabar rombongan Sarah hilang tak berkabar. Kemungkinan tertawan militer Burma. Permohonan Pastor Marsh itulah menjadi awal "turun gunungnya" Rambo dalam sebuah medan perang penyelamatan seperti di logi kedua dan ketiga.

Memang sebagai sebuah film, kemasan yang disuguhkan Stallone tak berbeda dengan tiga serial pendahulunya. Sosok Rambo mencorong sebagai seroang prajurit mantan Green Berret yang pilih tanding dan selalu unggul dalam sebuah peperangan gerilya.

Namun, ada suguhan lain dalam serial keempat ini. Rambo tak lagi berlaga seorang diri bak superhero di komik-komik karya DC Comic maupun Marvel. Kali ini ia melakukan misi penyelamatan dibantu tujuh tentara bayaran mantan SAR dan Green Berret.

Keunggulan lainnya, dalam film ini Stallone melakukan pewarnaan kisah dengan memasukkan cuplikan-cuplikan film dokumenter kekejaman junta militer Myanmar. Bahkan dalam beberapa adegan, ia juga memasukkan adegan pemerkosaan rame-rame para tentara Myanmar terhadap empat perawan Suku Karen. Dan, kebejatan komandan pasukan yang memiliki kegemaran memperkosa dengan mensodomi remaja pria dari suku Karen.

Karena dalam serrial Rambo, tetesan darah dan tubuh yang berantakan dihantam bom dan penangkis udara selalu tervisual. Maka, anak-anak hendaknya tak diijinkan para orang tua untuk menikmati film ini.

Susunan Kru Rambo IV
Genre : Action / Drama / Thriller
Sutradara : Sylvester Stallone
Penulis skenario : Art Monterastelli and Sylvester Stallone
Bintang : Sylvester Stallone, Julie Benz, Matthew Marsden, Matthew Marsden, Graham McTavish, Reynaldo Gallegos, Jake La Botz
Read Full 0 komentar

Duel 'No Country' - 'There Will' Berimbang

Selasa, 12 Februari 2008

HOLLYWOOD - Persaingan memperebutkan piala Oscar sedang berlangsung. Hingga kini, posisi sementara film No Country for Old Man dan There Will Be Blood bersaing ketat menjadi terfavorit dengan masing-masing meraih 8 nominasi.

Di bawah kedua film tersebut, ada film Atonement dengan 7 nominasi. Termasuk nominasi pada kategori aktris terbaik, Keira Knightley; aktor terbaik, James McAvoy; dan sutradara terbaik, Joe Wright. Selain James McAvoy, sejumlah aktor ternama lainnya masuk dalam nominasi aktor terbaik, yaitu, Daniel Day Lewis, Johnny Depp, George Clooney, Tommy Lee Jones, dan Viggo Mortensen.

Film Bee Movie, Ratatouille, dan The Simpsons Movie bersaing di kategori film animasi terbaik.

Seperti dilansir Female First, perhelatan Oscar ini akan berlangsung pada 24 Februari di Kodak Theatre at Hollywood & Highland Cente, Los Angeles, dengan Jon Stewart sebagai pembawa acara. Kendati Golden Globe Awards batal diselenggarakan, tapi kesemarakan Academy Award ahun ini tidak akan terpengaruh. Salah satu pertimbangannya, karena selama tiga tahun terakhir tidak ada satu pun film terbaik versi Golden Globes mampu meraih Oscar di kategori film terbaik.

Golden Globe Awards terpaksa tidak diselenggarakan atas kesepakatan sejumlah aktor dan aktris yang tak ingin menodai perjuangan para demonstran itu. Hasilnya, Golden Globes hanya berupa konferensi pers berisi pengumuman pemenang tanpa perayaan besar seperti biasanya.

Sedangkan untuk kategori aktor dan aktris terbaik, sepasang piala manusia berkepala gundul bersaput emas itu diperebutkan empat aktris dan lima aktor.

Dimulai dari kategori aktris terbaik diperebutkan oleh Cate Blanchett, Jodie Foster, Julie Christie, dan Angelina Jolie. Kategori aktor terbaik oleh George Clooney, Day Lewis, Viggo Mortensen, Denzel Washington, dan McAvoy.
sumber: Oz
Read Full 0 komentar

Aksi demo penulis skenario tak akan pengaruhi Academy Award ke-80


HOLLYWOOD - Presiden Academy Awards memastikan perhelatan memperebutkan piala Oscar tetap terselenggara. Aksi demo penulis naskah Hollywood, tak akan mempengaruhi penyelenggaraan acara.

Aksi demo yang dilakukan sejumlah penulis naskah Hollywood pada November 2007, berpengaruh besar bagi dunia perfilman Amerika. Setelah perhelatan Golden Globe Awards batal diselenggarakan, Academy Awards terancam bernasib serupa.

Presiden Academy Awards Sir Ganis menyatakan, Academy Awards positif akan tetap terlaksana. Ajang penghargaan bagi insan perfilman Amerika itu tak akan terpengaruh oleh aksi demo para penulis.

"Aksi demo para penulis yang tergabung dalam Writers Guild Of America (Wga) akan berakhir dengan terlaksananya Academy Awards, 24 Februari besok," duga Ganis, yang dikutip Female First, Jumat (8/2/2008).

Dia yakin demo itu penulis yang menuntut perbaikan kesejahteraan itu akan berakhir karena Oscar diselenggarakan untuk pada sineas.

"Kehadiran Oscars untuk memberi penghargaan atas kerja dan usaha para sineas," imbuhnya.

sumber:Oz
Read Full 0 komentar

Festival Film Indonesia digelar di Beograd

Jumat, 08 Februari 2008
Jakarta:Festival Film Indonesia digelar di ibukota Serbia, Beograd, selama empat hari dimulai pada Kamis (7/2), kata siaran pers Kedutaan besar Indonesia Beograd hari Jumat.

Dutabesar Indonesia untuk Serbia Abduh Dalimunthe secara resmi membuka festival itu, yang diselenggarakan di gedung Yugoslav Film Archiev (Konoteka), salah satu dari lima lembaga perfilman terbesar di Eropa.

Hadir dalam pembukaan itu Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Serbia Ivana Dimic, budayawan, pengusaha, wartawan dan warga setempat.

Dalam sambutannya, Dutabesar Abduh menyatakan misi utama festival film itu ialah mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Serbia.

"Indonesia ingin membina hubungan sosial-budaya dengan Serbia melalui berbagai upaya, termasuk lewat film, yang diyakini dapat menerjemahkan watak dan budaya bangsa Indonesia," kata Abduh.

Disebutkannya, jaringan televisi nasional Serbia, RTS, menyiarkan secara langsung acara pembukaan festival itu, yang baru pertama kali diadakan di negara bekas Yugoslavia tersebut.

Suratkabar terkemuka Serbia, "Politika", juga menyiarkan acara itu di halaman mukanya. Beberapa film Indonesia ditayangkan dalam festival tersebut, antara lain "Ibunda", yang mewarnai acara pembukaan itu.

Sementara itu, Kedutaanbesar Indonesia Beograd juga ikut dalam Festival Teh di Nis, kota industri terbesar Serbia.

Festival Teh itu, yang diadakan lima hari hingga 10 Januari, merupakan acara tahunan di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pertanian Serbia.

Dalam Festival Teh itu, Indonesia diberi tempat khusus sebagai peserta penghasil teh di luar Eropa Timur. (sumber: Antara)
Read Full 0 komentar

Peta Persaingan Oscar ke-80 Sangat Ketat

Kamis, 13 Desember 2007
HOLLYWOOD: Peta persaingan perebutan Piala Oscar dalam Academy Award ke-80, sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya adalah ketatnya atmosfir perseteruan diantara para nominasi. Masing-masing nominasi memiliki keistimewaan tersendiri, yang mampu mengantarnya tampil di podium juara.

Adapun daftar nominasi itu adalah:


Performance by an actor in a leading role:

George Clooney in “Michael Clayton” (Warner Bros.)
Daniel Day-Lewis in “There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax)
Johnny Depp in “Sweeney Todd The Demon Barber of Fleet Street” (DreamWorks and Warner Bros., Distributed by DreamWorks/Paramount)
Tommy Lee Jones in “In the Valley of Elah” (Warner Independent)
Viggo Mortensen in “Eastern Promises” (Focus Features)

Performance by an actor in a supporting role
Casey Affleck in “The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford” (Warner Bros.)
Javier Bardem in “No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage)
Philip Seymour Hoffman in “Charlie Wilson’s War” (Universal)
Hal Holbrook in “Into the Wild” (Paramount Vantage and River Road Entertainment)
Tom Wilkinson in “Michael Clayton” (Warner Bros.)

Performance by an actress in a leading role
Cate Blanchett in “Elizabeth: The Golden Age” (Universal)
Julie Christie in “Away from Her” (Lionsgate)
Marion Cotillard in “La Vie en Rose” (Picturehouse)
Laura Linney in “The Savages” (Fox Searchlight)
Ellen Page in “Juno” (Fox Searchlight)

Performance by an actress in a supporting role
Cate Blanchett in “I’m Not There” (The Weinstein Company)
Ruby Dee in “American Gangster” (Universal)
Saoirse Ronan in “Atonement” (Focus Features)
Amy Ryan in “Gone Baby Gone” (Miramax)
Tilda Swinton in “Michael Clayton” (Warner Bros.)

Best animated feature film of the year
“Persepolis” (Sony Pictures Classics) Marjane Satrapi and Vincent Paronnaud
“Ratatouille” (Walt Disney) Brad Bird
“Surf's Up” (Sony Pictures Releasing) Ash Brannon and Chris Buck

Achievement in art direction
“American Gangster” (Universal) - Art Direction: Arthur Max, Set Decoration: Beth A. Rubino
“Atonement” (Focus Features) - Art Direction: Sarah Greenwood, Set Decoration: Katie Spencer
“The Golden Compass” (New Line in association with Ingenious Film Partners) - Art Direction: Dennis Gassner, Set Decoration: Anna Pinnock
“Sweeney Todd The Demon Barber of Fleet Street” (DreamWorks and Warner Bros., Distributed by DreamWorks/Paramount) - Art Direction: Dante Ferretti, Set Decoration: Francesca Lo Schiavo
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax) - Art Direction: Jack Fisk, Set Decoration: Jim Erickson

Achievement in cinematography
“The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford” (Warner Bros.) Roger Deakins
“Atonement” (Focus Features) Seamus McGarvey
“The Diving Bell and the Butterfly” (Miramax/Pathé Renn) Janusz Kaminski
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage) Roger Deakins
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax) Robert Elswit

Achievement in costume design
“Across the Universe” (Sony Pictures Releasing) Albert Wolsky
“Atonement” (Focus Features) Jacqueline Durran
“Elizabeth: The Golden Age” (Universal) Alexandra Byrne
“La Vie en Rose” (Picturehouse) Marit Allen
“Sweeney Todd The Demon Barber of Fleet Street” (DreamWorks and Warner Bros., Distributed by DreamWorks/Paramount) Colleen Atwood

Achievement in directing
“The Diving Bell and the Butterfly” (Miramax/Pathé Renn) Julian Schnabel
“Juno” (Fox Searchlight) Jason Reitman
“Michael Clayton” (Warner Bros.) Tony Gilroy
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage) Joel Coen and Ethan Coen
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax) Paul Thomas Anderson

Best documentary feature
“No End in Sight” (Magnolia Pictures)
“Operation Homecoming: Writing the Wartime Experience” (The Documentary Group)
“Sicko” (Lionsgate and The Weinstein Company)
“Taxi to the Dark Side” (THINKFilm)
“War/Dance” (THINKFilm)

Best documentary short subject
“Freeheld” A Lieutenant Films Production
“La Corona (The Crown)” A Runaway Films and Vega Films Production
“Salim Baba” A Ropa Vieja Films and Paradox Smoke Production
“Sari’s Mother” (Cinema Guild) A Daylight Factory Production

Achievement in film editing
"The Bourne Ultimatum” (Universal) Christopher Rouse
“The Diving Bell and the Butterfly” (Miramax/Pathé Renn) Juliette Welfling
“Into the Wild” (Paramount Vantage and River Road Entertainment) Jay Cassidy
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage) Roderick Jaynes
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax) Dylan Tichenor

Best foreign language film of the year
“Beaufort” A Metro Communications, Movie Plus Production Israel
“The Counterfeiters” An Aichholzer Filmproduktion, Magnolia Filmproduktion Production Austria
“Katyń” An Akson Studio Production Poland
“Mongol” A Eurasia Film Production Kazakhstan
“12” A Three T Production Russia

Achievement in makeup
“La Vie en Rose” (Picturehouse) Didier Lavergne and Jan Archibald
“Norbit” (DreamWorks, Distributed by Paramount) Rick Baker and Kazuhiro Tsuji
“Pirates of the Caribbean: At World’s End” (Walt Disney) Ve Neill and Martin Samuel

Achievement in music written for motion pictures (Original score)
“Atonement” (Focus Features) Dario Marianelli
“The Kite Runner” (DreamWorks, Sidney Kimmel Entertainment and Participant Productions, Distributed by Paramount Classics) Alberto Iglesias
“Michael Clayton” (Warner Bros.) James Newton Howard
“Ratatouille” (Walt Disney) Michael Giacchino
“3:10 to Yuma” (Lionsgate) Marco Beltrami

Achievement in music written for motion pictures (Original song)
“Falling Slowly” from “Once” (Fox Searchlight)
“Happy Working Song” from “Enchanted” (Walt Disney)
“Raise It Up” from “August Rush” (Warner Bros.)
“So Close” from “Enchanted” (Walt Disney)
“That’s How You Know” from “Enchanted” (Walt Disney)

Best motion picture of the year
“Atonement” (Focus Features)
“Juno” (Fox Searchlight)
“Michael Clayton” (Warner Bros.)
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage)
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax)

Best animated short film
“I Met the Walrus” (A Kids & Explosions Production)
“Madame Tutli-Putli” (National Film Board of Canada)
“Même les Pigeons Vont au Paradis (Even Pigeons Go to Heaven)” (Premium Films)
“My Love (Moya Lyubov)” (Channel One Russia)
“Peter & the Wolf” (BreakThru Films)

Best live action short film
“At Night” (A Zentropa Entertainments 10 Production)
“Il Supplente (The Substitute)” (Sky Cinema Italia)
“Le Mozart des Pickpockets (The Mozart of Pickpockets)” (Premium Films)
“Tanghi Argentini” (Premium Films)
“The Tonto Woman”

Achievement in sound editing
“The Bourne Ultimatum” (Universal)
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage)
“Ratatouille” (Walt Disney)
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax)
“Transformers” (DreamWorks and Paramount in association with Hasbro)

Achievement in sound mixing
“The Bourne Ultimatum” (Universal)
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage)
“Ratatouille” (Walt Disney)
“3:10 to Yuma” (Lionsgate)
“Transformers” (DreamWorks and Paramount in association with Hasbro)

Achievement in visual effects
“The Golden Compass” (New Line in association with Ingenious Film Partners)
“Pirates of the Caribbean: At World’s End” (Walt Disney)
"Transformers” (DreamWorks and Paramount in association with Hasbro)

Adapted screenplay
“Atonement” (Focus Features) - Screenplay by Christopher Hampton
“Away from Her” (Lionsgate) - Written by Sarah Polley
“The Diving Bell and the Butterfly” (Miramax/Pathé Renn) - Screenplay by Ronald Harwood
“No Country for Old Men” (Miramax and Paramount Vantage) - Written for the screen by Joel Coen & Ethan Coen
“There Will Be Blood” (Paramount Vantage and Miramax) - Written for the screen by Paul Thomas Anderson

Original screenplay
“Juno” (Fox Searchlight) - Written by Diablo Cody
“Lars and the Real Girl” (MGM) - Written by Nancy Oliver
“Michael Clayton” (Warner Bros.) - Written by Tony Gilroy
“Ratatouille” (Walt Disney) - Screenplay by Brad Bird, Story by Jan Pinkava, Jim Capobianco, Brad Bird
“The Savages” (Fox Searchlight) - Written by Tamara Jenkins

sumber: Oscar. Com
Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks