Nicoline Patricia Malina, Memotret Perempuan Kuat
Rabu, 29 April 2009
Beranjak remaja, Nicoline Patricia Malina, begitu perempuan 25 tahun ini disapa, paling hobi nonton film Perancis.
“Aku tertarik dengan kehidupan, cara pikir, dan kebebasan yang mereka miliki. Sejak itu aku bermimpi pergi ke Eropa,” kenang anak pasangan dari Jack Bernard dan Fransisca Lanywati yang hobi menggambar ini.
Lewat kerja keras, tahun 2002, mimpi Nicole terwujud. Ia pergi ke Belanda, menekuni studi Fine Art di Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Belanda. Sambil mengisi waktu, Nicole menjadi penata rias lepas untuk para model, lalu bahkan menjadi model. Dari situ ketertarikannya pada kamera tumbuh. “Selama jadi model aku kenal banyak fotografer. Aku lihat kerja mereka ini asyik banget. Saat sedang break di lokasi pemotretan, aku mengajak mereka ngobrol soal fotografi.”
Dua tahun kemudian, Nicole bisa membeli kamera sendiri. Di sela kesibukan ia memotret kehidupan jalanan di Belanda dan bebrapa model agensi. Ia juga berusaha masuk ke lingkungan fotografi fashion dan mengirimkan kumpulan fotonya ke berbagai majalah fashion di Belanda. Sampai suatu hari di tahun 2006, Majalah Elle Belanda menghubunginya, “Mereka mengajakku kerja sama!”
Karyanya semakin cepat dikenal di Eropa (Amsterdam, Paris, Antwerp) setelah ia menjuarai Iconique Societas Excellence in Photography Award 2007. Nicole pun semakin mantap menyandang profesi barunya sebagai fotografer profesional.
Tahun 2008, Nicole kembali ke Indonesia. Butuh sekitar setahun buatnya untuk bisa beradaptasi dengan cara kerja dan selera pasar di Indonesia. Menurut Nicole, dalam segi fashion, Indonesia memiliki lebih banyak unsur yang bisa dieksplor, sedangkan di Eropa segala sesuatunya lebih simpel. “Orang Eropa lebih suka menekankan feel dan mood. Orang Indonesia lebih senang menekankan produk dan lighting.“
Sulitkan memantapkan posisi di kalangan fotografi yang didominasi kaum lelaki? “Yang pasti ada diskriminasi. Misalnya, soal harga.” Tapi Nicole tetap tak menyerah, “Aku tunjukin ciri khasku. Tipe fotoku lebih edgy dan seksi. Aku senang memotret perempuan yang terlihat kuat, enggak lembut-lembut amat. Dan saat memotret aku tidak terlalu mengandalkan hal-hal teknis, lebih impulsif-lah. Aku tidak senang membuat foto yang membingungkan orang. Simpel saja, tapi mampu membuat orang mau melihat karyaku lama-lama.”
Sekarang klien Nicole tak hanya dari Indonesia dan Eropa, tapi juga Singapura dan China. Ia juga bekerja sama dengan beberapa majalah fashion ternama yang ada di Belanda, Inggris, China, dan Indonesia. Dan entah sudah berapa banyak iklan yang ditanganinya. Beberapa di antaranya adalah Ponds, Lux, Clear, M Pacific Place, juga Class Mild.
Dengan berbagai karya yang sudah dihasilkannya ini, pantaslah kalau berbagai media dan lembaga memberikannya penghargaan seperti Young Photographer of the Year Award from ELLE Indonesia, Young Designer United Amsterdam, dan lain-lain.(kom)
Kontestan Miss Australia "Cuma Tulang dan Kulit"

Kontes Miss Universe di Australia memicu kontroversi saat beberapa dokter dan ahli gizi menyatakan seorang finalis utama "hanya tulang dan kulit" dan sangat kekurangan gizi.
Adalah model asal Sydney, Stephanie Naumoska (19), yang menjadi sorotan dalam ajang itu.
"Cuma tulang atau cantik?" demikian judul berita utama surat kabar ketika mengomentari gambar Naumoska, yang kurus-kering, berpose dengan memakai bikini berwarna merah. Seperti dilansir Reuters, Naumoska adalah satu dari 32 peserta dari lebih 7.000 calon yang melaju ke putaran final.
Beberapa ahli kesehatan mengatakan, Namoska, yang memiliki tinggi 1,8 meter dan berat hanya 49 kilogram, memiliki indeks massa tubuh (BMI) hanya 15,1, jauh di bawah batas ukuran gizi resmi 18.
"Ia akan dikategorikan sebagai kekurangan berat dan saya tentu saja ingin melakukan penilaian mengenai makanannya guna memastikan bahwa ia tak memiliki sejenis gangguan makan," kata ahli gizi Melanie McGrice kepada beberapa surat kabar lokal. "Ia perlu menjalani pemeriksaan darah, analisis makanan, dan penilaian secara keseluruhan," katanya.
Direktur kontes kecantikan, Deborah Miller, mengatakan, Naumoska, yang berambut coklat dan kalah di final oleh pembawa acara televisi dan model yang berusia 20 tahun, Rachael Finch, adalah keturunan Macedonia, yang memengaruhi kondisi tubuhnya yang sangat kurus.
"Mereka memiliki tubuh yang lentur dan panjang serta tulang yang kecil. Itulah jenis tubuh mereka, seperti gadis lain Asia yang cenderung bertubuh kecil," kata Miller.
Namun, Ketua Perhimpunan Medis Australia Rosanna Capolingua, yang organisasinya mewakili para dokter Australia, mengatakan bahwa kontes tersebut mesti memberlakukan ukuran minimum BMI 20. "Namun, bagian yang paling tidak sehat mengenai itu ialah citra yang diperlihatkannya kepada perempuan muda lain yang mungkin memandang ini sebagai normal, padahal jelas itu tidak normal," kata Capolingua.
Meskipun Naumoska menolak berbicara kepada media, ahli gizi Susie Burrel mengatakan kepada surat kabar Herald Sun bahwa tak ada yang disebut jenis tubuh Macedonia. Finch, yang akhirnya menjadi pemenang, akan bersaing di final Miss Universe dunia di Kepulauan Bahama pada Agustus. (kom)
Berlian Biru Rp 92,2 Miliar Dilelang di London

Sebentuk berlian langka yang diperkirakan akan membuat rekor dunia baru harga berlian per karat dalam lelang bulan Mei dipamerkan di London.
Lebih mungil dari lingkaran koin penny, berlian itu diperkirakan berharga 5,8 sampai 8,5 juta dollar AS (sekitar Rp 92,2 miliar), menurut estimasi penjualnya. Cincin 7,03 karat ini merupakan satu di antara sedikit sekali berlian biru yang ada di dunia.
Berlian ini ditemukan di Afrika Selatan tahun lalu dan kini dipamerkan di Sotheby's, Mayfair, London, Inggris, hingga Selasa (28/4). Kemudian berlian tersebut akan dilelang di Jenewa pada 12 Mei. Permata tersebut dipotong dari sebuah batu mulia kasar seberat 26,58 karat, ditemukan tahun 2008 di tambang Cullinan.
Tambang ini juga menghasilkan berlian Great Star of Africa 530 karat yang kini menghiasi mahkota kerajaan. Institut Bebatuan Amerika (GIA) memberikan kelas sempurna untuk kejernihan pada berlian biru itu, kelas tertinggi yang bisa diberikan pada sepotong batu mulia.
Cathy Malins, dari Petra Diamonds, perusahaan yang menambang berlian tersebut, melukiskan penemuan berlian ini sebagai hal sangat unik. Ia mengatakan, "Di tambang kami di Afrika Selatan kami menambang sekitar 2-3 juta ton batu per tahun. Kami cukup beruntung kalau bisa dapat mungkin sepotong, atau dua, berlian biru dari tambang ini. Pendeknya kami tidak tahu kapan bisa dapat berlian sejenis ini lagi."
Langkanya jenis batu mulia ini karena di dunia ini hanya sedikit wilayah yang bisa ditambang untuk berlian biru. Bebatuan ini mendapat warna biru saat zat kimia nonmetal bernama boron, yang bisa menyerap cahaya berwarna, muncul selama masa pembentukan batuan.
Target rekor
Pelelang mengatakan, meskipun situasi ekonomi saat ini kurang baik, penawaran dari pembeli seluruh dunia mulai membanjir. David Bennett, kepala rumah lelang Sotheby's Eropa dan Timur Tengah, mengatakan, "Barang seperti ini akan dibeli oleh seseorang yang ingin mengantongi sesuatu yang tidak dimiliki seorang pun di dunia, seseorang yang menginginkan sesuatu yang amat sangat indah dan langka." "Saya sangat optimistis bahkan dalam pasar seperti sekarang kelangkaan berlian ini akan membuatnya terjual."
Bulan Mei 2008, sebuah berlian 3,73 karat dijual rumah lelang Sotheby's seharga 1.328.444 dollar AS, merupakan rekor dunia baru untuk harga batu mulia per karat dalam pelelangan. Jika berlian ini laku dijual sesuai perkiraan seharga 8,5 juta dollar, maka si berlian akan mematahkan rekor dunia tersebut. Pembelinya nanti juga berhak memberi nama berlian ini. (kom)
Pekerja Pelabuhan Rentan HIV/AIDS
Selasa, 28 April 2009PEKERJA pelabuhan yang kebanyakan terdiri dari laki-laki rentan terhadap HIV/AIDS karena memiliki perilaku seks berisiko. Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran mereka untuk memeriksakan diri.
Hal itu terungkap dalam Lokakarya Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, dan AIDS, di Kota Semarang, Rabu (15/4). Acara ini diselenggarakan Kalandara, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS.
Selama rentang waktu 2006-2009, Kalandara meneliti pekerja pelabuhan Tanjung Emas yang terdiri atas anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat, pengemudi truk dan kernet, dan pengendara ojek.
Manajer Program Kalandara Muhammad Yusuf mengakui, pekerja pelabuhan merupakan laki-laki yang memiliki tingkat mobilitas cukup tinggi sehingga memiliki perilaku seks berisiko yang rentan terhadap IMS, HIV, dan AIDS. "Apalagi, mereka jauh dari tempat tinggalnya dan jarang bertemu istri," ujar Yusuf.
Dari hasil penelitian Kalandara terhadap 50 tenaga kerja bongkar muat, 68 persen berhubungan seks tidak dengan istrinya dan 42 persen di antaranya tidak pernah menggunakan kondom. Adapun hasil penelitian terhadap 50 pengemudi truk, 90 persen berhubungan seks tidak dengan istrinya dan 74 persen di antaranya tidak menggunakan kondom.
Hal ini diperparah dengan rendahnya kesadaran memeriksakan diri. Sebanyak 54 persen tenaga kerja bongkar muat dan 96 persen pengemudi truk tidak pernah memeriksakan kesehatan.
"Laki-laki berisiko ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi berpotensi untuk menularkan kepada istri dan anaknya," kata Yusuf.
Kepala Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Emas Ramses Peter Sihombing mengakui, minimnya kesadaran para pekerja pelabuhan untuk memeriksakan kesehatan disebabkan budaya malu yang justru dapat merugikan diri sendiri.
Kepala Kantor Administrasi Pelabuhan Tanjung Emas Erwin Rosmali mengatakan, sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS terhadap pekerja pelabuhan penting dilakukan sebagai bentuk penyadaran.
Menurut Kepala Seksi Kesehatan Pelabuhan Hamidah, terdapat 108 penderita IMS yang memeriksakan diri ke 13 klinik di sekitar pelabuhan. "Hal ini mesti diwaspadai karena penderita IMS berpotensi terkena HIV/AIDS," ucapnya.
Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Tengah sejak tahun 1993-2008, terdapat 1.915 kasus HIV/AIDS antara lain 1.375 kasus HIV dan 540 AIDS yang menyebabkan 215 orang meninggal.
Namun, Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi KPA Jateng Sigit Setya Budi mengatakan, jumlah tersebut lebih kecil dari estimasi KPA Nasional terhadap pengidap HIV/ AIDS di Jateng yang mencapai sekitar 8.000 orang. (kom)
Kawasan Selatan, Wajah Ketakberdayaan
KAWASAN selatan Pulau Jawa adalah sebuah ironi. Punya potensi sumber daya alam luar biasa melimpah, tetapi malah jadi potret kawasan tertinggal dan miskin. Tak heran, mewacanakan utara dan selatan Jawa ibarat langit dan bumi.
Seperti geososio dunia yang membagi utara sebagai dunia maju dan selatan sebagai dunia berkembang, Jawa juga memperlihatkan disparitas yang sama. Pantai utara (pantura) ibarat tanah impian. Beragam kegiatan terkonsentrasi di kawasan itu. Pembangunan fisik terus tumbuh. Fasilitas dan infrastruktur selalu diperhatikan. Jalan lintas penghubung tampak lebih lebar. Fasilitas seperti hotel, rumah makan, pengisian bahan bakar lebih lengkap.
Tetapi, disparitas amat terasa di kawasan pantai selatan (pansela) yang membentang di 22 kabupaten, mulai Pandeglang, Lebak, Sukabumi, Canjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.
Memandangi bentangan kawasan selatan yang mencolok adalah hutan rimbun dan kesunyian. Kondisi infrastruktur minim. Jalan-jalan, walau sekelas jalan nasional, pun lebih sempit. Faktor-faktor inilah yang membuat aksesibilitas masyarakat begitu rendah. Pembangunan fisik bergerak lamban.
Ketimpangan wilayah
Akibat prasarana dan sarana yang serba minim itulah, kemajuan ekonomi di selatan jauh tertinggal. Ekonomi Jawa barangkali 70-80 persen dibangun di pantura. Pakar statistik dari ITS Surabaya, Kresnayana Yahya, memperkirakan, untuk wilayah Jatim saja, kawasan utara mengelola uang Rp 250 triliun dari sektor usaha nonpertanian, sedangkan kawasan selatan hanya mengelola Rp 56 triliun.
Contoh lain, pendapatan domestik regional bruto (PDRB) kabupaten/kota di kawasan selatan Jatim lebih kecil dibandingkan dengan di utara. Rata-rata PDRB kota/kabupaten di selatan Rp 1,5 triliun-Rp 3,5 triliun. Bandingkan dengan PDRB kota/kabupaten di pantura yang Rp 3 triliun hingga Rp 10 triliun. Bahkan jika dikaitkan secara nasional, PDRB kawasan selatan seluruh Indonesia hanya 10 persen. Bandingkan dengan kawasan utara yang mencapai hampir 90 persen. Ketimpangan juga terlihat dalam kontribusi ekonomi. Kawasan selatan menyumbang hanya 10 persen, selebihnya peran pantura.
Ini sungguh tak logis. Apalagi, kawasan selatan sebagian besar merupakan hamparan lahan pertanian dan perkebunan yang produktif. Kalaupun ada lahan tandus atau karst justru menjadi sumber bahan tambang semisal marmer dan onyx di Tulung Agung atau emas di Cikotok yang selama ini juga sudah dikuras dipasarkan di pantura.
Yang paling mencolok adalah potensi bahari, khususnya sektor kelautan dan pariwisata. Ketika Laut Jawa over fishing, perairan selatan Jawa ibarat surga bagi nelayan. Bayangkan, di Jatim, dari potensi perairan selatan 590.020 ton per tahun, yang tergarap baru 197.640 ton. Runyamnya lagi, dari produksi ikan 453.034 ton per tahun di Jatim, kontribusi pansela hanya 12,12 persen. Di Banten, pemanfaatan sektor kelautan 117.170 ton/tahun (2002), padahal potensi di perairan selatannya 656.000 ton.
Dengan potensi tersebut, semestinya pusat-pusat perikanan dan pelabuhan, seperti Palabuhanratu (Sukabumi), Cilacap, Prigi (Trenggalek), Sendangbiru (Malang), Puger (Jember), Muncar (Banyuwangi), bisa menjadi pelabuhan (ikan), menyaingi Muara Angke di Jakarta, Tegal, atau Brondong di Lamongan.
Potensi wisata bahari yang elok juga menanti penggarapan serius. Dengan kontur alam yang menawan, pantai-pantai di selatan ibarat primadona. Bila digarap serius, dari Ujungkulon (Banten), Palabuhanratu-Pangandaran (Jabar), Parangtritis (Yogyakarta), hingga Plengkung (Banyuwangi) bisa menjadi sumber pendapatan daerah yang menggiurkan. Bahkan bisa dipadukan dengan wisata goa-goa purba yang tersebar terutama di perbatasan Jateng-Jatim. (kom)
Pelabuhan Muncar: Produsen Ikan Tanpa Jeda

KETERTINGGALAN seolah identik dengan kondisi di Pulau Jawa bagian selatan. Pembangunan infrastruktur yang belum optimal membuat kawasan ini sulit berkembang. Padahal, potensi perikanan dan pariwisata yang terdapat di balik citra negatif itu bagaikan permata yang belum terasah.
Jawa Timur bagian selatan memiliki beberapa tempat pelelangan ikan dan pelabuhan laut yang mampu menggerakkan roda perekonomian. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar di Kabupaten Banyuwangi boleh dibilang yang paling menonjol.
Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, PPP Muncar merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi tersebut menguntungkan karena para nelayan di Kecamatan Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan baik angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari.
”Pada saat seperti itu jarang sekali ada ikan. Kami lebih memilih memperbaiki alat penangkap ikan dan kapal yang rusak,” kata Iksan (41), salah seorang nelayan, Sabtu (25/4). Setelah waktu libur usai, nelayan kembali berburu ikan laut. Lemuru, tongkol, salem, dan layang sebagai bahan dasar pembuatan ikan kaleng menjadi hasil laut andalan di perairan Muncar.
Pada saat paceklik tangkapan, seperti yang terjadi pada periode Januari-April, nelayan masih bisa memasok ikan-ikan itu ke puluhan cold storage (tempat pendinginan) di Muncar dan sekitarnya. Siswanto, pekerja di tempat pendinginan Usaha Dagang Piala Indah, menyebutkan, masih bisa mendapatkan pasokan 8-10 ton ikan lemuru, tongkol, salem, dan layang per hari selama masa paceklik.
Penurunan jumlah hingga 30 persen daripada saat panen tangkapan juga tak membuat para pengusaha tempat pendinginan berhenti mengekspor ikan lemuru kelas satu ke Jepang dan Thailand. ”Kalau pada saat musim panen Juni-November, kami bisa mengekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton),” ungkap Siswanto.
Dengan harga jual Rp 4.500 per kilogram, pengusaha tempat pendinginan dapat meraup pendapatan kotor hingga Rp 300 juta per bulan, untuk penjualan 200 ton ikan lemuru. Omzet bisa meningkat tiga kali lipat saat berlangsung panen tangkapan.
Usaha tempat pendinginan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi ribuan warga. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Cold Storage Muncar, Jafar, 26 tempat pendinginan rata-rata mempekerjakan 70 laki-laki dan perempuan. ”Ini membuat warga Muncar jarang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri,” ujarnya.
Potensi itu tentu saja dapat makin berkembang jika program pengembangan wilayah melalui pembangunan Jalur Lintas Selatan yang telah dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak tujuh tahun silam tuntas. Kian lunturnya embel-embel pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia timur menunjukkan betapa lambatnya perkembangan Muncar. Departemen Kelautan dan Perikanan pun hanya memberi Muncar status sebagai PPP alias pelabuhan perikanan tipe C (kelas II).
Jumlah ikan yang didaratkan di PPP Muncar masih tertinggal dari beberapa pelabuhan perikanan, seperti Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan (Sumatera Utara), PPS Cilacap, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong (Lamongan, Jawa Timur), dan PPN Prigi (Trenggalek, Jawa Timur).
Kisah diakronis produksi ikan di perairan Muncar dulu dan sekarang dapat dijelaskan Iksan (52), nelayan veteran yang memutuskan tak lagi mencari nafkah di lautan, sebagaimana dulu dilakukannya saat otot-otot lengannya masih kencang.
Pada saat krisis moneter 1998, ungkap Iksan, harga ikan lemuru sebagai bahan baku produk sarden kalengan yang paling dicari nelayan Rp 700 per kilogram. Ini sama dengan harga solar Rp 700 per liter waktu itu.
Kini, 11 tahun kemudian, semenjak dua kali kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga lemuru Rp 1.500 per kilogram, padahal harga solar sudah Rp 4.500 per liter. Ini berarti nilai tukar lemuru merosot terhadap BBM. BBM yang harganya diatur negara dan secara faktual menentukan harga barang konsumsi apa pun sebenarnya telah bersikap kejam kepada nelayan seperti Iksan. Namun, karena kuatnya produksi ikan di Muncar, nelayan seperti Iksan, meski harus berpindah profesi, tetap pula bisa bertahan hidup.Iksan pun lantas dengan entengnya berkomentar bahwa keadaan dulu lebih enak daripada sekarang. Padahal, profil opini politik Iksan itu tampak mewakili sikap warga Muncar umumnya, yang sesungguhnya apolitis terhadap perubahan politik negara. ”Di sini dulu PDI-P (2004), sekarang Demokrat,” katanya. Iksan dulu buruh nelayan, dan kini belantik (pedagang) ikan.
Iksan, sebagai belantik modal kecil, saat ini dalam sehari rata-rata bisa membeli 50 ember ikan dari buruh nelayan perahu slerek. Harga satu ember Rp 22.000-Rp 25.000. Harga perahu slerek sebagai unit produksi terbesar di Muncar paling murah Rp 1,2 miliar dan mempekerjakan 70-an nelayan.
Di tengah laut, para buruh memiliki kesempatan mengumpulkan ikan tercecer yang tidak dimasukkan dalam perut perahu slerek. Slerek yang berupa sepasang perahu itu bisa menyimpan dalam perut kapalnya 10–15 ton ikan semalam perjalanan melaut, atau setara dengan Rp 45 juta–Rp 60 juta pendapatan kotor sehari. Ikan-ikan tangkapan tidak semuanya bisa dimasukkan ke dalam perut perahu, kadang tercecer dalam jaring. Sisa ikan ini boleh dikumpulkan awak slerek, yang akan menjadi penghasilan tambahan mereka setelah dijual kepada belantik seperti Iksan.
Meski Muncar dapat disebut sebagai pasar perikanan tertua di Jawa Timur, pola produksinya masih sama dibandingkan dua dekade lalu. Hampir tidak ada modernisasi cara tangkap. Jalur lintas selatan Jawa yang sebentar lagi direalisasikan dan diyakini bakal memecahkan problem isolasi wilayah selatan Jawa, termasuk Muncar, mudah-mudahan bisa mendorong modernisasi produksi itu. (kom)
Percintaan Luc dan Ellie di Alas Purwo

APA jadinya jika cinta dua sejoli menyatu dengan cinta pada perikehidupan alam liar? Jawabnya: kenekatan pasangan Luc dan Ellie di pantai sunyi Plengkung, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, yang terkenal angker itu.
Kami mengenal keduanya saat mereka minta tumpangan pada Mazda double cabin yang kami gunakan, Minggu (26/4) pukul 14.00 di pos penjagaan Pancur, Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
”Saya sudah tidur di pinggir pantai dua hari. Kami bikin api dan masak mi. Kami mau coba ke Plengkung untuk surfing,” kata Luc (23), anak muda yang mengaku dari London dan baru saja menggelandang di Pulau Dewata selama sepekan bersama istrinya, Ellie, asal Afrika Selatan.
Alam asli, liar, tapi berbiaya murah; itulah obsesi dan cara pendekatan Luc dan Ellie van der Walt (21) akan ”dunia” mereka. Demi menghemat biaya pula, tiga hari sebelumnya sejoli itu memilih menyeberang dengan feri dari Gilimanuk, Bali, ke Ketapang, Banyuwangi.
Masalah sebenarnya sudah timbul menjelang masuk Hutan Purwo, saat kami melewati pos penjagaan pertama Rowobendo. Margo, penjaga tiket, bertanya, ”Mau berwisata atau mencari bahan berita, Mas. Kalau mencari bahan berita, tidak boleh. Kalau berwisata, boleh masuk.”
”Kami pilih berwisata saja, Mas Margo,” jawab kami buru-buru. ”Ya, silakan. Soalnya kalau mau meliput harus bawa simaksi, surat izin masuk kawasan konservasi,” kata Margo sopan sekali. Kawasan Taman Nasional Alas Purwo meliputi luas areal sekitar 43.420 hektar (ha) dan hampir 40 persen merupakan hutan bambu.
Tipe vegetasi utamanya hutan hujan tropis dataran rendah dan terdapat mamalia besar, banteng. Sedangkan mamalia kecil antara lain rusa, kijang, babi hutan, macan tutul, dan kera. Jenis burung yang sering dijumpai: ayam hutan, beo, kangkareng, jalak, puter, dan ketilang. Rombongan ekspedisi bahkan bersua dengan kijang, rombongan merak, lutung, monyet, serta puluhan rase.
Margo menerangkan, dari Pos Pancur—yaitu pos selanjutnya yang berjarak sekitar 8 kilometer—mobil dan motor tidak boleh masuk kecuali harus menyewa mobil pengelola kawasan itu, Rp 130.000 per mobil.
Di Pancur, pos kedua, inilah Luc dan Ellie bergabung. Keduanya rela terguncang-guncang di bak belakang sampai di Plengkung, pantai yang melengkung, dan ternyata amat sangat populer bagi kalangan peselancar dunia dengan sebutan G-Land. Disebut G-Land karena pantainya melengkung mirip huruf G.
Konon di G-Land inilah gelombang besar terhimpun dan gelombang panjang bergulung bertalu-talu. Inilah satu dari empat tempat serupa di dunia yang masuk kategori ”impian” bagi peselancar sejagat. ”Memang, Pak, Plengkung ini sangat populer. Lihat saja di internet,” kata Nanang, petugas jaga Taman Nasional Alas Purwo di Pos Pancur.
Persoalan mendadak jadi kompleks. Bayangkan, tempat paling favorit bagi peselancar sejagat itu ternyata ada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Istilah taman nasional bagi sebagian besar penduduk pedesaan adalah teror karena beberapa yang terjadi di Indonesia, begitu satu kawasan dinyatakan sebagai taman nasional, kawasan itu steril dari penduduk, aktivitas apa pun. Petani pencari rumput pun harus menyingkir dari sana.
Namun, di Alas Purwo, taman nasional itu ”menyewakan” kepada empat investor untuk membangun cottage atau resor, yaitu Plengkung Indah Wisata alias Joyo’s Camp, Wanasasi Pramita Ananta atau Bobby’s Camp, Wana Wisata Alam Hayati (WWAH) alias Raymond’s Camp, dan Kenari Wisata alias Tiger’s Camp.
”Kontrak mereka 20 tahun untuk kawasan antara 2 hektar sampai 5 hektar. Kalau mereka melanggar, seperti salah satu resor, ya langsung dicabut. Tapi ini urusan orang atas, Mas,” kata salah satu petugas lapangan.
Masalah kedua, Luc dan Ellie adalah backpacker, pelancong miskin yang langsung mundur begitu ditodong tarif cottage Raymond’s Camp alias WWAH 45 dollar AS per malam. ”Itu terlalu mahal. Itu untuk orang kaya,” begitu gerutu Luc.
Masalah ketiga: inilah kontradiksinya: sedikitnya 40 goa karst di Alas Purwo ini adalah kawasan sakral, lahan untuk bersemadi bagi pencinta selancar batin sejak zaman Majapahit. Nanang, anggota staf taman nasional itu, menyebut goa-goa tersebut adalah tempat bertapa para ”peselancar batin”.
”Kebetulan yang banyak orang Jawa dan orang lokal, Mas,” kata Nanang sambil menyebutkan sejumlah nama pejabat dan tokoh masyarakat yang ternyata pernah bertapa, antara lain di Goa Mangreng, Padepokan, Basori, Mayangkara, Istana, dan Goa Haji.
Karena biaya menginap tak terjangkau itulah Luc dan Ellie duduk muram di karang pantai, beberapa meter dari cottage WWAH tadi. Di belakang mereka, beberapa orang dari WWAH menjual hotdog dan roti bakar lengkap dengan pemanggang listriknya di sana. Mereka juga menyediakan bir.
Luc hanya mengelus-elus kaki istrinya yang bentol di mana-mana karena gigitan nyamuk. ”Saya ini pelukis dan pematung. Saya hanya ingin eksplor, eksplor mencari tempat-tempat sunyi dan liar,” kata Luc yang kumisnya mengingatkan pada tokoh perompak mbeling Johnny Depp dalam Pirates of The Caribbean.
Setiba dari Bali, Luc dan Ellie sudah menginap di Alas Purwo, benar-benar tidur di alam terbuka, pinggir hutan yang berbatas laut, hanya mengandalkan sleeping bag. Pasangan suami-istri belia itu tidur di Pantai Triangulasi, tak jauh dari Pos Pancur. Di sekitar mereka berwisata ”ala Tarzan” itu, puluhan turis asing yang berduit minum bir dan bercengkerama menunggu gelombang pasang. ”Oke, oke. Kami ikut balik saja ke Pos Pancur. Kami bisa diantar ke goa-goa tempat bertapa? Kami mungkin akan tidur di sana,” kata Luc dan Ellie.
”Baik, malam ini saya akan cerita tentang goa-goa dan para pertapa itu. Silakan ke warung dulu,” kata Nanang menghibur Luc dan Ellie yang gagal menikmati ombak Plengkung seperti turis bule lain.… (kom)
Menyusuri Goa Pelarian Orang-orang PKI

MOBIL yang dibawa tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa 2009 Harian Kompas, berkelok melintasi perbukitan gamping yang tandus. Sisi kiri dan kanan yang dilintasi hanya terlihat pohon jati dan waru. Rumah warga yang sederhana dan bersahaja terasa kontras dengan kerasnya suasana bukit. Terus menuju selatan Blitar, Jawa Timur, jalan semakin menyempit.
Di bawah bukit kecil terdapat sebuah goa yang dinamai Mbultuk tepatnya di Desa Tumpak Kepah, Bakung, Blitar Selatan. Goa ini sangat fenomenal karena mengingatkan semua orang akan kisah pelarian orang-orang PKI. Goa tersebut pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian para aktivis, simpatisan dan orang-orang yang dituduh PKI.
Dan tempat ini kian ramai ketika tahun 1968 disisir oleh tentara yang menggelar operasi penumpasan sisa-sisa G 30 S/PKI, yang dikenal sebagai Operasi Trisula. Tim sebelumnya berdiskusi dengan para sepuh di desa setempat untuk menggali kembali kisah goa.
Mbah Gimo (70) menceritakan bahwa dia ingat dulu di goa ini banyak didatangi tentara. "Sebenarnya warga tidak tahu menahu kalau ada orang-orang PKI di dalam goa, dan saya ingat banyak tentara bergerak mengepung goa," terangnya.
Dengan latar ingatan pelajaran sejarah serta cerita Mbah Gimo itulah, dua anggota tim ekspedisi dengan ditemani pemandu mencoba memasuki goa. Kamar Goa Tim perlahan memasuki mulut goa dengan berendam di sungai sedalam 1 meter. Cahaya matahari perlahan hilang berganti dengan cahaya petromaks yang diusung dua orang pemandu yaitu Yani dan Purwoto.
Bagaimana para pelarian orang-orang PKI yang bersembunyi kemudian lari di dalam goa terus membayangi tim yang perlahan tapi pasti menyusuri goa. Pertama masuk, terpaksa membungkuk karena dihadapkan dengan langit goa yang sangat rendah. Penyusuran goa harus berhati-hati karena stalaktit dan dinding goa yang tajam. Sekilas pemandangan dari luar yang biasa saja sontak berubah ketika sudah masuk ke dalam goa sejauh 500 meter.
Ternyata aliran sungai dalam goa bergerak tenang. Beberapa kali dikecohi dengan suara riak air yang jatuh di sela sebuah chamber atau kamar yang dihiasi daratan. Dalam goa banyak terdapat chamber yang sangat luas bahkan bisa diisi 200 orang. Di chamber ada daratan yang benar-benar kering dan ada yang sedikit basah oleh aliran air sungai di goa.
Terbersit di kepala, di ruang ini kah orang-orang PKI dulu istirahat, duduk maupun tiduran? Purwoto sambil bercerita tentang keadaan goa. Dia mencatat lebih dari sepuluh jenis stalaktit dan stalakmit yang telah diberi nama dan rata-rata dengan ukuran besar dan bentuk yang unik dan khas. "Sampai batu Sangga Buana saya perkirakan bisa mencapai sejauh 1,5 kilometer ke dalam goa dan bisa tembus ke Desa Sidomulya," terangnya.
Potensi Wisata Sejarah silam Tumpak Kepuh dengan Goa Mbultuk memang suram. Tapi kini pemerintah setempat mengubahnya menjadi potensi wisata. Goa ini mulai dikembangkan menjadi wahana wisata petualangan susur goa.
Yani menyebutkan, saat hari libur kawasan ini terutama di mulut goa sangat ramai. Para pengunjung biasanya mandi di sungai yang keluar dari mulut goa. "Kalau ada yang mau masuk warga sudah menyiapkan para pemandu yang mengantar," ujarnya.
Jasa para pemandu susur goa menjadi sumber pundi uang menggiurkan di sela-sela bekerja sebagai petani di tanah yang tandus. Hal itu yang diakui Yani dan Purwoto yang juga sebagai petani dan sesekali mencari ikan di laut. Tidak jauh dari goa adalah pesisir pantai yang rencananya terhubung dengan pembangunan jalur lintas selatan. Dan tentu membuka peluang meningkatnya jumlah kunjungan wisata di tanah yang tandus ini. (kom)
Herliane Melatih Warga Afsel Mengelola Hotel Berbintang
Sabtu, 23 Februari 2008
Herliane mengatakan dia datang ke Afrika Selatan untuk membuka hotel berbintang di kawasan Sun City.
"Saya harus memegang tangan mereka seperti kala di restoran bagaimana menunya, bagaimana chef memasak makanan, bagaimana rasa makanan itu, bagaimana menyajikannya dan bagaimanan memakannya," kata Herliane kepada BBC.
Menurut Herliane, staf hotel dari kalangan kulit hitam dulu tidak terbiasa menggunakan logika karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan logika.
Oleh karena itu, kata Herliane, mereka tidak tahu kalau menumpuk koper semestinya mulai dari koper yang ukurannya lebih besar, baru disusul dengan koper lebih kecil.
"Saya punya pengetahuan dari luar negeri. Itu yang saya bawakan kepada orang-orang yang tidak ke sekolah, tidak bisa belajar dan menulis padahal saat itu orang-orang tersebut sudah tua dan berkeluarga," kata Herliane Portenschlager yang menjabat sebagai manajer Humas dan eksekutif lokasi di Sun City Resort.
Karena tidak bisa membaca dan menulis itulah Herliane mengatakan dia mengajarkan ketrampilan perhotelan kepada pegawai hotel dengan cara peragaan dan praktek langsung.
Herliane pertama kali tiba di Afrika Selatan tahun 1990 untuk membuka hotel pertama Sun City Resort pada saat negara itu masih berada di bawah sistem pemerintahan apartheid.
Sun City Resort adalah kawasan tetirah yang terletak di Afrika Selatan barat laut, sekitar dua jam perjalanan darat dari Johannesburg.
Resor yang didirikan oleh pengusaha perjudian, Sol Kerzner ini memiliki empat hotel berbintang serta berbagai sarana olahraga dan hiburan. ma/BBC
Sinden 'Bule' Fenomena Baru dalam Budaya Barat
Kamis, 21 Februari 2008
Kelompok gamelan South Bank Gamelan Players menggelar pentas lengkap dengan iringin sinden atau penyanyi lagu Jawa.
Sekilas orang yang mendengar pasti akan teringat dengan suara-suara yang sering terdengar dari Keraton Solo atau Keraton Yogyakarta atau setidaknya sanggar peminat karawitan di Indonesia.
Salah seorang Sinden yang tampil bersama South Bank Gamelan Players adalah Esther Wilds.
Seniman muda ini bukan orang Indonesia tetapi orang Inggris asli.
Sebagaimana sinden yang sering dijumpai di Jawa, Esther Wilds membawakan tembang-tembang Jawa, seperti Uler Kambang dan Sontoloyo.
Jumlah menurun
Di Indonesia sendiri, jumlah sinden Jawa dilaporkan mengalami penurunan, meski tidak ada data konkrit.
Tapi menurut salah satu sinden kondang, Yati Pesek yang biasa pentas dalang sejumlah dalang wayang, penurunan tersebut bisa dirasakan.
Menurunnya jumlah peminat terhadap seni menyanyikan lagu-lagu Jawa untuk mengiringi karawitan dan pentas wayang, kata Direktur program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta Dwi Marianto, bisa dilihat dari jumlah mahasiswa yang mengambil jurusan itu.
Menurut Dwi Marianto, hadirnya sinden dari negara-negara lain di dalam seni tradisional Jawa ini bisa membantu menghidupkan minat masyarakat terhadap seni ini.
Menurut catatan, Esther Wilds bukanlah satu-satunya sinden asing yang aktif tampil. Di Indonesia sendiri, sinden asal Amerika Serikat Elizabeth Karen juga sering ditanggap untuk mengiringi pentas wayang. ma/BBC
Thailand Lumbung Padi Dunia
Sabtu, 16 Februari 2008
Jika ada yang disebut lumbung padi dunia, maka salah satunya adalah kawasan Suphan Buri, sekitar 150 km dari ibukota Thailand, Bangkok.
Suphan Buri merupakan propinsi dengan tingkat produktifitas padi tertinggi di Thailand, dan Thailand selama beberapa tahun merupakan eksportir beras terbesar di dunia.
Lahan di Suphan Buri bisa menghasilkan panen sampai 4 kali setahun, dan kesuburan tanah itu membuat warganya terbebas dari beban hutang.
Beberapa tahun lalu, para petani di Suphan Buri terlilit hutang namun harga beras yang meningkat terus telah meningkatkan pendapatan mereka.
Tahun ini harga beras meningkat sampai 50% dibanding tahun lalu dan diperkirakan masih akan terus meningkat.
Berdasarkan indeks harga pangan dari Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian, harga beras akan mencapai tingkat tertinggi dalam waktu 20 tahun.
"Situasinya tidak diperkirakan amat baik buat kami," kata Sawan Katawut yang menjabat Ketua Perkumpulan Petani Suphan Buri.
"Mungkin karena bencana alam di negara-negara lain atau masalah harga beras di sejumlah negara, namun jelas merupakan hal yang baik buat kami," kata pria berusia 76 tahun itu.
Komoditas vital
Dalam pertemuan wilayah Badan Pangan Dunia, WFP, harga pangan dunia yang meningkat menjadi salah satu pusat perhatian.
"Bagi jutaan orang di Asia, ini merupakan krisis yang nyata," kata Tony Banbury, Direktur WFP untuk kawasan Asia.
"Bayangkan keluarga anda terdiri dari 4 orang, mendapat US$ 1 per hari dan menghabiskan 70% untuk pangan, tiba-tiba harganya meningkat dua kali lipat. Jelas anda tidak mampu," katanya.
Beras merupakan komoditi yang penting, sebagai bahan pangan dari sekitar 2/3 penduduk dunia dan sebagian besar diproduksi secara lokal.
Hanya sekitar 7% saja yang diperdagangkan di pasar internasional, namun jumlah itu amat vital bagi penduduk Bangladesh dan Afghanistan, yang amat tergantung pada impor beras.
Beras juga merupakan komoditi yang politis karena sering dilihat dalam kaitan dengan keamanan dan kesejahteraan di sejumlah negara Asia.
Eksport berkurang
Jepang, yang merupakan salah satu negara industri kaya, tetap menjaga stok beras yang cukup besar.
Padahal dalam kondisi ekonomi sekarang, Jepang tentu mampu membeli beras di pasar internasional walau dengan harga yang tinggi.
Dan sejalan dengan meningkatnya harga beras dunia, beberapa negara pengekspor beras menghentikan ekspor karena keinginan untuk menjaga stok dalam negeri.
Dalam waktu beberapa tahun belakangan, India dan Vietnam --yang merupakan negara pengeksport terbesar kedua dan ketiga-- sudah menghentikan eksport.
Sementara itu Cina --yang merupakan konsumen beras terbesar di dunia-- pada sisi lain merupakan pengeksport ke Korea Utara, yang beberapa waktu dilanda kekurangan pangan.
Dalam situasi ini, semua negara menginginkan beras dari Thailand, yang memang selalu menghadapi surplus beras.
Berbeda dengan negara-negara penghasil beras lainnya, yang juga menghadapi tingkat konsumsi yang meningkat, maka Thailand justru sudah mencapai tingkat pendapatan yang menyebabkan turunnya konsumsi beras.
Hal ini disebabkan tingkat pendapatan yang tinggi memungkinkan variasi pangan.
Ingin harga stabil
Di salah satu kantor kecil yang gelap di salah satu gang sempit di kawasan Pecinan di Bangkok, Supoj Vongjirattikarn sibuk dengan kedua telepon tangannya dan menghitung dengan cipoa.
Supoj Vongjirattikarn merupakan salah satu pedagang beras di Bangkok yang mengamati kondisi pasar internasional.
Perannya adalah menghubungkan para petani di penggilingan padi di Thailand dengan pembeli di luar negeri. Dan dia semakin sibuk saja.
"Thailand beruntung," katanya di sela-sela percakapan telepon.
"Kami mempunyai banyak beras pada saat saingan utama kami seperti Vietnam dan India tidak cukup untuk eksport."
Penyebab dari meningkatnya harga dunia sebenarnya amat kompleks.
Chookiat Ophaswongse, dari Asosiasi Eksportir Beras Thailand, mengatakan bahwa permintaan meningkat pesat dari pasar-pasar baru seperti Afrika.
Namun di sisi lain produksi menurun karena banyak petani yang berubah ke tanaman yang lebih menguntungkan untuk kebutuhan bahan bakar bio.
Beras, menurut Chookiar Ophaswongse, semata-mata mengikuti kecenderungan peningkatan harga pada komoditas lainnya.
Mimpi buruk
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, permintaan dunia akan melebihi pasokan yang ada.
Bagi WFP, skenario ini merupakan mimpi buruk.
WFP sudah ditekan untuk menyalurkan bantuan pangan tambahan bagi Afghanistan dan Bangladesh.
Dan kekuatiran amat tinggi atas dampak meningkatnya harga beras untuk negara seperti Korea Utara dan Timur Timur, yang amat ringkih dalam menghadapi kekurangan pangan.
Karena harga yang meningkat, negara-negara seperti itu tidak mampu lagi membeli beras di pasar internasional seperti pada masa-masa sebelumnya.
"Kami sekarang kuatir dengan penduduk perkotaan, yang biasanya tidak membutuhkan pertolongan kami," kata Tony Banbury.
"Penduduk yang bekerja sebagai buruh yang tidak punya mekanisme untuk menyesuaikan dengan harga baru, dan tidak bisa bercocok tanam untuk kebutuhan mereka," tambahnya.
Tapi apakah situasi ini membuat para petani beras di Thailand tertawa-tawa sambil berjalan menuju ke bang untuk menabung uang?
Sebenarnya kondisinya tidaklah segampang itu.
"Kami tidak suka kalau harga bergerak terlalu cepat," kata Chookiat Ophswongse.
"Sebagai eksportir kami bisa terperangkap juga. Jauh lebih mudah bagi kami untuk menanganinya jika harga stabil," tambah Chookiat.
Masalahnya, saat ini sepertinya tidak ada yang bisa menjamin harga beras akan stabil. ma
sumber: BBC
Kebijakan Suharto Redam Konflik dengan Budaya
| | |
| Orde Baru menggelar bermacam festival seni berskala nasional |
Penyeragaman dan standarisasi lembaga desa itu, menurut laporan Bank Dunia tahun 2004, telah melemahkan lembaga tradisional masyarakat yang sudah ada di masing-masing desa.
Itulah salah satu contoh yang mengangkat pertanyakan apakah memang terjadi upaya penyeragaman budaya di bawah kepempinan Suharto?
Sitok Srengenge adalah seorang budayawan yang tinggal di Jakarta.
"Jawabannya mudah: Ada!" kata Sitok.
Menurut Sitok, hal itu bisa wajar jika dilihat dari sudut koridor kebudayaan. "Di mana pun, bangsa mana pun, apabila terdapat suku bangsa atau etnik yang dominan, dia selalu membawa nilainya dan mempengaruhi etnik-etnik yang lain," katanya.
"Tetapi, bila ini mulai sudah dipolitisir dan dipaksakan kepada etnik-etnik yang lain dalam wilayah yang sama, maka saya kira itu mendatangkan banyak kerugian secara kultural " tambahnya.
Sitok Srengenge, yang kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, juga berpendapat penyeragaman budaya juga terjadi lewat pelajaran sejarah.
"Bukan hanya sejarah raja-raja Jawa yang diajarkan di berbagai suku bangsa lainnya, tapi juga sudah terjadi manipulasi penafsiran atas sejarah itu," kata Sitok Srengenge, dengan mencontohkan "pengukuhan Patih Gadjah Mada sebagai simbol persatuan bangsa Indonesia".
Membatasi ekspresi
Saat itu hanya ada kerajaan-kerajan kecil dan belum ada persatuan nusantara. "Maka apa yang dilakukan Gadjah Mada adalah invasi terhadap kerajaan-kerajaan yang lebih kecil," ujarnya.
| | |
| Warga Bali membawakan tari adat sebagai bagian dari tradisi |
Sitok Srengenge juga menyinggung penayangan film G30S/PKI setiap tahun. "Itu penyeragaman kognisi terhadap seluruh siswa di seluruh Indonesia tentant tafsir tentang penyeragaman apa yang terjadi pada 1965 itu," katanya.
Sitok tidak sepenuhnya sepandapat bahwa penyeragaman itu sebagai wujud obsesi Suharto untuk mempersatukan Indonesia secara lebih utuh. "Kenapa integrasi tidak diwujudkan dalam pemerataan kesejahteraan? Kenapa tidak dengan menghargai keluhuran budaya setiap daerah?" tanyanya.
Sementara itu, di Medan, Sumatera Utara, Ben Pasaribu, pengajar Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Medan, berpendapat kebijakan untuk standarisasi budaya telah membatasi ekspresi seni lokal.
Ben mengangkat contoh berbagai festival teater, musik dan tarian nasional yang digelar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu mengarah ke penyeragaman, mulai durasi, tata cara pentas hingga sumber cerita.
"Semua harus menjadi sama," kata Ben.
"Itu membuat tidak ada kebebasan dari masing-masing daerah untuk mengekspresikan gaya atau style masing-masing, " kata Ben Pasaribu dari Universitas Medan.
Meski demikian, Ben juga melihat kebijakan positif yang ditinggalkan Orba seperti muatan lokal dalam kurikulum. Sayangnya, bahan bacaan itu harus menunggu buku dari Jakarta, katanya.
Cukup bagus
Namun, Prof. Dr. Ellyano S. Lasam, Ketua Majelis Adat Kalimantan Timur di Balikpapan menegaskan, Suharto berhasil dalam mewujudkan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
"Pada prinsipnya, seluruh bangsa Indonesia diharapkan bersatu," katanya.
"Oleh karena itu, satu budaya dengan budaya yang lain, walaupun itu adalah berbeda-beda, yang beliau kehendaki itu semacam kesatuan dan persatuan, bukan penyeragaman," kata Profesor Ellyano.
Menurut Ellyano, budaya Dayak "cukup terakomodir" selama kepemimpinan Pak Harto, meski warga Dayak di daerah pedalaman belum tersentuh.
"Keinginan beliau untuk memajukan seluruh budaya itu menjadi satu kesatuan itu mengarah ke sana," katanya.
"Kita suka tidak atau tidak suka dengan kepemimpinan beliau selama 32 tahun itu, saya kira itu sudah cukup bagus untuk mengembangkan bangsa Indonesia supa berbudaya yang baik itu, " Profesor Ellyano S Lasam.
"Artinya saling menghargai budaya orang lain, saling mengakui kebudayaan orang lain... tidak saling menjegal satu suku dengan suku lain," tandasnya. ma
sumber:BBC
Kebijakan Suharto Meracik Ekonomi Orde Baru
| | |
| Kebjiakan ekonomi pada awal pemerintahan Suharto berhasil menekan inflasi yang sangat tinggi |
Kenyataan ini bertolak belakang dengan situasi pada awal kepemimpinan jenderal purnawirawan ini pada tahun 1968.
Di awal Orde Baru, Suharto berusaha keras membenahi ekonomi Indonesia yang terpuruk, dan berhasil untuk beberapa lama.
"Kondisi ekonomi Indonesia ketika Pak Harto pertama memerintah adalah keadaan ekonomi dengan inflasi sangat tinggi, 650% setahun," kata Emil Salim, mantan menteri pada pemerintahan Suharto.
Orang yang dulu dikenal sebagai salah seorang penasehat ekonomi presiden menambahkan langkah pertama yang diambil Suharto, yang bisa dikatakan berhasil, adalah mengendalikan inflasi dari 650% menjadi di bawah 15% dalam waktu hanya dua tahun.
Untuk menekan inflasi yang begitu tinggi, Suharto membuat kebijakan yang berbeda jauh dengan kebijakan Sukarno, pendahulunya.
Ini dia lakukan dengan menertibkan anggaran, menertibkan sektor perbankan, mengembalikan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan merangkul negara-negara barat untuk menarik modal.
'Terikat modal asing'
Menurut Emil Salim, Suharto menerapkan cara militer dalam menangani masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia, yaitu dengan mencanangkan sasaran yang tegas.
| | |
| Presiden Suharto menandatangi kesepakatan IMF beberapa bulan sebelum mundur di tahun 1998 |
Suharto menamai programnya 'Pembangunan Lima Tahun' atau PELITA, yang dengan melibatkan para teknokrat dari Universitas Indonesia, dia berhasil memperoleh pinjaman dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan seperti IMF dan Bank Dunia.
Liberalisasi perdagangan dan investasi kemudian dibuka selebarnya. Inilah yang sejak awal dipertanyakan oleh Kwik Kian Gie, yang menilai kebijakan ekonomi Suharto membuat Indonesia terikat pada kekuatan modal asing.
"Liberalisasi sebesar mungkin, sebebas-bebasnya, kalau ada intervensi boleh dikatakan didikte oleh IMF dan Bank Dunia, yang dibelakangnya adalah pemerintah Amerika Serikat dan dampaknya dirasakan sampai sekarang," kata mantan menteri koordinator perekonomian Indonesia antar tahun 1999-2000.
Namun menurut Emil Salim, untuk menggerakkan pembangunan, Suharto sejak tahun 1970-an juga menggenjot penambangan minyak dan pertambangan, sehingga pemasukan negara dari migas meningkat dari $0,6 miliar pada tahun 1973 menjadi $10,6 miliar pada tahun 1980.
Kemajuan sektor migas
Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama dengan 80% ekspor Indonesia.
"Dengan kebijakan itu, Indonesia di bawah Orde Baru, bisa dihitung sebagai kasus sukses pembangunan ekonomi," kata pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak.
Keberhasilan Pak Harto membenahi bidang ekonomi sehingga Indonesia mampu berswasembada pangan pada tahun 1980-an, menurut Emil Salim, diawali dengan pembenahan di bidang politik.
Kebijakan perampingan partai dan penerapan azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru, dilatari pengalaman masa Orde Lama ketika politik multi partai menyebabkan energi terkuras untuk bertikai.
Lebih lanjut, Emil Salim menilai, pendekatan seperti yang dilakukan Suharto pada awal pemerintahannya lazim dipraktekkan oleh para pemimpin di kawasan Asia Timur dan Tenggara.
"Ada pandangan bahwa demokrasi yang dikembangkan di negara berkembang itu membutuhkan semacam pengarahan atau intervensi untuk tidak segera bersifat liberal," kata Emil Salim.
Gaya kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan Suharto pada masa Orde Baru oleh Kwik Kian Gie diakui memang dibutuhkan untuk membenahi perekonomian Indonesia yang berantakan di akhir tahun 1960
Namun, dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan Orde Baru kemudian tidak diberi tempat.
Titik balik
Masa keemasan ekonomi Orde Baru, kata Emil salim, mengalami titik balik ketika memasuki tahun 1990-an, saat BJ Habibie dengan visi teknololgi masuk merambah bidang ekonomi.
| | |
| Suharto melepaskan jabatan setelah unjuk rasa besar-besaran tahun 1998 |
Tetapi, Kwik Kian Gie tidak sependapat dan dia menilai Habibie bukan faktor penting dalam titik balik ekonomi Orde Baru.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru terkesan begitu memukau," kata Kwik, namun menurutnya di sisi lain kesenjangan dan kemiskinan adalah akibat kebijakan ekonomi liberal.
Krisis moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan tuntutan reformasi total, dia anggap sebagai konsekuensi logis dari kebijakan tersebut yang diperburuk oleh situasi politik.
Namun, pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak mempunyai analisa berbeda tengan jatuhnya Suharto.
"Krisis ekonomi untuk sebagian orang memang bisa ditelusuri ke praktek kebijakan, bukan desain kebijakan di atas kertasnya," kata Djisman.
Pengamat ekonomi ini menilai pada prakteknya kebijakan pemerintahan Suharto sarat dengan berbagai penyelewengan seperti kolusi, korupsi dan nepotisme pada kroni Suharto.
Pada saat yang bersamaan, rakyat menuntut suksesi politik. Dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia menjadi pemicu krisis politik yang sudah dipendam oleh rakyat, tambah Djisman Simandjuntak. ma
sumber:BBC
Kebijakan Suharto Pacari Kelompok Islam
| | |
| Pemerintah Suharto mengendalikan kehidupan politik secara ketat |
Mereka yang diakrabi pak Harto itu termasuk para tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, ICMI.
Dan, kedekatan itu mencapai titik puncak saat Pak Harto memilih BJ Habibie untuk mengisi kursi wakil presiden, kata pakar sejarah Anhar Gonggong dari Universitas Indonesia.
Menurut Anhar, kedekatan Suharto dengan ICMI terkait dengan keinginannya untuk menciptakan lingkungan intelektual Islam yang bisa mendukung dia.
Menjelang tahun 1990-an, ada sekelompok cendekiawan di Malang merintis pendirian ICMI.
"Kemudian, ditampilkan Habibie sebagai seorang tokoh yang seakan-akan mewakili cendekiawan Islam," kata Anhar.
"Dan, itu juga strategi Suharto untuk melakukan pendekatan kepada kekuatan Islam yang digambarkan seakan-akan kekuatan yang digambarkan sebagai kekuatan Islam...seakan-akan Islam mendukung dia," katanya
Ancaman
Tapi, seperti apa sebenarnya kebijakan politik Suharto terhadap Islam, selama memimpin Orde Baru?
| | |
| Suharto ingin Habibie dan ICMI dilihat sebagai dukungan Islam |
Menurut sejarawan, Anhar Gonggong sejak awal berkuasa Pak Harto cenderung melihat kalangan Islam sebagai ancaman bagi kekuasaan.
Setelah menjadi presiden, Suharto melancarkan sejumlah perubahan terkait dengan rencana pembangunannya dan menciptakan kestabilan.
"Terlihat di situ Suharto menciptakan kekuatannya sendiri, yaitu golkar dan tentara," kata Anhar.
Berikutnya Suharto menggelar pemilu pertama di masa Orde Baru, tahun 1971 dengan hasil Golkar (saat itu masih Sekber Golkar) keluar sebagai pemenang.
"Tetapi kekuatan Islam juga tetap kelihatan cukup besar, maka Suharto harus berusaha bagaimana caranya untuk mengeliminasi kekuatan Islam sebagai kekuatan politik, " jelas Anhar.
Pendapat Anhar Gonggong ini bertolak belakang dengan pandangan tokoh Eksponen 66, Cosmas Batubara.
'Keperluan politik'
Cosmas Batubara, yang pernah menjabat menteri dalam kabinet Pak Harto, mengatakan, kebijakan Pak Harto menyatukan partai-partai Islam ke dalam satu partai adalah untuk memenuhi keperluan politik pada saat itu.
"Kita sudah menjadi korban pertarungan ideologi zaman Nasakom, zaman Sukarno, itu mau ditinggalkan, karena sudah bersepakat ingin melaksanakan Pancasila dan UUD 1945," kata Cosmas memberikan alasan kebijakan fusi tersebut.
Menurut Cosmas Batubara, sebenarnya dilihat dari aliran politik yang ada saat itu, "penyederhanaan itu menjawab kepentingan pembangunan pada saat itu".
Namun, pengamat politik Islam Syafii Anwar dari International Centre for Islam and Pluralism melihat kebijakan terhadap kelompok-kelompok Islam adalah bagian dari upaya Suharto memperkuat hegemoni kekuasannya.
Menurut Anwar, kebijakan Suharto terhadap kelompok-kelompok Islam mengikuti beberapa pembabakan. "Tahap pertama itu tahap yang sangat hegemonik sekali," katanya.
Anwar menggambarkan periode 1968-1979, Pak Harto menerapkan "kebijakan terhadap umat Islam yang sangat represif sekali", termasuk Undang-Undang Perkawinan dan fusi partai-partai Islam.
"Pokoknya, tekanannya itu adalah pada pemerkuatan rezim Orde Baru," kata Anwar.
Dampak kebijakan
Apapun alasannya, kebijakan represif Suharto mendatangkan dampak besar berkepanjangan bagi banyak aktivis dua organisasi Islam terkemuka Indonesia, Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
"Itu bahkan NU sendiri, kalau bisa Pak Harto ingin bukan NU yang memimpin, " kata KH Mustofa Bisri, Tokoh senior NU |
Menurut tokoh veteran NU, KH Mustofa Bisri, organisasinya sering menjadi bulan-bulanan rezim Suharto.
Mustofa Bisri menilai Pak Harto dan rezim Orba "fobi terhadap NU itu sangat luar biasa".
"Itu bahkan NU sendiri, kalau bisa Pak Harto ingin bukan NU yang memimpin," ujarnya.
Menurut Mustofa Bisri, intervensi Orba terhadap pemilihan pimpinan NU itu dimaksudkan "supaya (NU) tidak ada yang kuat atau memimpin".
Namun, bagi orang luar, tetap ada pertanyaan mengenai kebijakan pemerintahan Suharto terhadap NU yang sering dilihat sebagai organisasi "moderat".
Menurut Mustofa, kebijakan itu terkait dengan ketidakinginan Golkar, yang bersama tentara menjadi kekuatan utama yang tersisa pasca Sukarno, untuk melihat NU menjadi saingan.
Tidak hanya NU yang merasakan tekanan rezim Pak Harto seperti yang dituturkan KH Mustofa Bisri.
Pergantian kepemimpinan
Mantan ketua PP Muhammadiyah, Syafii Maarif harus menempuh berbagai jurus untuk bisa bertahan dari tangan kekuasaan pemerintahan Suharto, termasuk soal campur tangan dalam pemilihan pimpinan Muhammadiyah.
Syafii Maarif Tokoh senior Muhammadiyah |
Syafii Maarif mencontohkan, waktu Muktamar Aceh 1995, sebenarnya Amin Raies dihalangi untuk dipilih untuk memimpin Muhammadiyah.
"Tetapi, karena umatnya sudah hampir bulat mendukung Amien Rais, akhirnya Pak Harto tidak bisa berbuat apa-apa," kata Syafii.
"Padahal, Anda tahu sudah sejak tahun 1993 Amien Rais, yang waktu itu belum menjadi ketua..sudah meluncurkan gerakan untuk perlunya pergantian kepemimpinan nasional," kata mantan ketua PP Muhammadiyah 1999-2004.
Terhadap Muhammadiyah sebagai organisasi sosial, Syafii mengatakan, "asal kita tidak memasuki politik, itu ya tenang-tenang saja".
Mengenai sikap Pak Harto yang sejak awal 1990-an berubah menjadi dekat dengan sebagian kalangan Islam, Syafii menilai "banting stir itu tidak tulus."
| | |
| Kubu muslim menyiasati hegemoni dengan dakwah 'kultural' |
Tokoh Muhammadiyah ini mencontohkan didirikannya ICMI dan berbagai bank muammalat.
"Sesungguhnya hanyalah dalam rangka mengukuhkan kekuasaannya penting, karena pihak tentara sudah mulai tidak senang lagi dengan dia, paling tidaknya beberapa oknum penting... dia mencari dukungan umat Islam," tandas Syafii.
Banting stir, seperti yang dikatakan Syafii Maarif dari Muhammadiyah, ditempuh sebagai pilihan terakhir Pak Harto.
Sebelum itu, saat masih sangat berkuasa, pimpinan Orde Baru itu telah menempuh berbagai strategi politik terhadap Islam di Indonesia, mulai dari represif, akomodatif, hingga politik kooptasi, kata pengamat politik Islam, Syafii Anwar.
Antara 1980-1984, demikian jelas Syafii Anwar, Pak Harto mulai merasa umat Islam akan melawan jika ditekan.
Untuk itu, Pak Harto mengubah kebijakan dengan memberikan sumbangan kepada masjid-masjid dan mendirikan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila setelah memberlakukan ketentuan Asas Tunggal Pancasila.
"Setelah merasa saya sudah memberikan bantuan kepada madrasah, kepada pesantren, ideologi kamu harus satu dong (Asas Tunggal Pancasila)," tutur Syafii.
Menurut Anwar, banyak warga masyarakat sebenarnya menolak kebijakan Pak Harto itu. "...Mereka melakukan dakwah yang kultural sebagai perlawanan terhadap hegemoni politik Suharto," ujarnya.
Berikutnya, Pak Suharto melihat umat Islam bisa dijadikan "teman" yang bisa diajak bekerjasama, tambah Syafii.
'Ahli Strategi'
Menurut Syafii Anwar, inilah yang melatarbelakangi hubungan dekat Pak Harto dengan pemuka ICMI.
"Dukungan Pak Harto terhadap ICMI itu luar biasa sekali. Politik yang mula-mula menjauhkan Islam dari negara, menjadi melekat dengan negara," katanya.
Namun, dia juga mencatat kebijakan akomodatif Pak Harto terhadap sebagian kelompok Islam itu belakangan berubah menjadi "politik kooptasi".
Menurut Syafii Anwar, perubahan kebijakan tersebut terhadap kalangan muslim merupakan bukti Pak Harto "ahli strategi yang hebat".
"Walaupun pada saat-saat terakhir, kalau mau orang mau fair (adil), kegagalan Pak Harto Itu karena krisis ekonomi," katanya.
"Di situ dia kalah kalkulasi, karena dia fikir orang Islam bisa dikooptasi terus, tanpa bersikap kritis," tambah pengamat politik Syafii Anwar.
Lepas dari berbagai jurus politik yang diperagakan, seperti dicatat Syafii Anwar, Pak Harto akhirnya lengser tahun 1998.
Jadi, bagaimana umat Islam akan mengenang pemerintahan Pak Harto? Jawabnya bergantung pada siap yang ditanya, kata KH Mustofa Bisri dari Nahdlatul Ulama.
"Jangan dilihat hanya dari segi dagingnya (luarnya saja)," kata Mustofa Bisri
"Kalau persoalan bahwa ada banyak masjid dibangun, lalu itu baik dengan Islam. ....Itu mungkin orang Islam lain berpendapat begitu, kalau saya tidak," kata Mustofa yang juga dikenal sebagai sastrawan.
"Kalau ada pemerintahan atau penguasa tidak memihak, tidak mengayomi kepada rakyatnya, itu tidak Islami sama sekali....apalagi membelenggu rakyat," katanya. ma
Kebijakan Mendiang Suharto dibelejeti BBC

Mantan Presiden Suharto, yang tutup usia pada hari Minggu (27/01) di Jakarta pada usia 86 tahun, memerintah Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa. Pemerintah Suharto yang dia sebut Orde Baru menjadi pembangunan dan kemajuan ekonomi sebagai prioritas utamanya. Ini dilakukan dengan menerapkan gaya pemerintahan otoriter lewat kebijakan perampingan partai politik dan penerapan azas tunggal. Dalam pelaksanaannya, tindakan intimidasi, pemaksaan dan kekerasan dialami oleh orang-orang yang menentang Soeharto ketika itu. Masa pemerintahan Orde Baru juga dikecam atas kasus pelanggaran hak azazi manusia, pembelengguan pers dan hak mengeluarkan pendapat, dan demokrasi ditekan. Namun, di sisi lain perekonomian Indonesia semasa Suharto menikmati tingkat pertumbuhan yang menakjubkan sehingga Indonesia mampu mencapai swasembada pangan. Liberalisasi perdagangan dan investasi terbuka lebar. Perhatian besar juga diberikan pemerintah Suharto pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbawah. BBC Siaran Indonesia meninjau beberapa kebijakan penting yang menandai pemerintahan Suharto. ma sumber: BBC |
Dinosaurus Karnivora Baru Pernah Menghuni Sahara
| | |
| Eocarcharia dinops memiliki gigi setajam pisau |
Fosil dinosaurus karnivora baru itu diidentifikasi oleh seorang peneliti dari Universitas Bristol, Inggris yang bekerja sama dengan paleontolog (ahli fosil) dari Amerika Serikat.
Salah satu dinosaurus itu kemungkinan memakan bangkai mangsanya seperti yang dilakukan hewan hyena, dan jenis kedua kemungkinan memburu hewan dan memakannya sewaktu masih segar.
Rincian temuan ini diterbitkan di jurnal Acta Palaeontologica Polonica.
Fosil dua jenis dinosaurus karnivora dari 110 juta tahun lalu itu ditemukan di sepanjang Gurun Tenere bagian barat di Niger oleh Dr Paul Serano, dari Universitas Chicago, Amerika, delapan tahun lalu.
"Fosil-fosil ini adalah catatan paling awal dari kelompok karnivora utama yang mendominasi Afrika, Amerika Selatan dan India selama 50 juta tahun berikutnya pada Zaman Kapur (Cretaceous Period)," kata salah satu peneliti itu, Steve Brusatte dari Universitas Bristol.
Wajah tersembunyi
Salah satu hewan itu memiliki tinggi sekitar 8 meter dan bermoncong pendek. Jenis ini dinamai Kryptops palaios atau "si wajah tersembunyi".
| | |
| Kryptops palaios bermoncong pendek |
Kryptops kemungkinan memakan mangsanya setelah menjadi bangkai, mirip dengan kebiasaan hyena.
Seperti jenis dinosaurus berikutnya - yang dikenal sebagai abelisaurid - di Amerika Selatan dan India, Kryptops memiliki rahang pendek dan bergerigi serta gigi kecil, yang dirancang untuk merobek perut mangsa dan mengunyah bangkai.
Temuan kedua adalah fosil dinosaurus berukuran serupa yang disebut Eocarcharia dinops.
Hewan ini memiliki gigi setajam pisau dan tulang alis yang menonjol. Berbeda dengan Kryptops, gigi Eocarcharia lebih cocok untuk menyerang mangsa hidup dan memotong bagian tubuh mangsa.
| Steve Brusatte Universitas Bristol |
Carcharodontosaurid, kelompok yang termasuk Eocarcharia, adalah hewan pemangsa besar, bahkan kemungkinan lebih besar dari Tyrannosaurus rex.
Tulang alis yang menonjol di atas mata Eocarcharia memberi hewan ini wajah yang menakutkan dan tulang alis yang keras itu kemungkinan digunakan untuk menabrak Eocarcharia saingan dalam mendapatkan pasangan, kata para peneliti.
Kedua dinosaurus pemakan daging ini hidup pada zaman yang sama dengan dinosaurus karnivora lain dari daerah yang sama: Suchomimus, theropoda (dinosaurus yang berdiri pada dua kaki) besar pemakan ikan.
"Dari anatomi tubuh, jelas bahwa kedua hewan ini memiliki makanan yang berbeda: Suchomimus memakan ikan, Kryptops memakan hewan kecil dan Eocarcharia adalah hewan pemangsa paling dominan pada masa itu," kata Brusatte.
"Seperti halnya di padang rumput di Afrika sekarang, macan, cheetah dan hyena memiliki makanan yang berbeda agar bisa hidup berdampingan. Yang menakjubkan adalah ekosistem ini sudah ada sejak 110 juta tahun lalu."
sumber: BBC






