Tampilkan postingan dengan label BURSA PILKADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BURSA PILKADA. Tampilkan semua postingan
Wiwied Menebar Janji Menuai Kecaman
Kamis, 25 Februari 2010oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-2 Habis
SEPANJANG mengikuti kampanye pencitraan diri yang dilakukan Bambang Prasetyo Widodo atau karib disapa Wiwied Soewandi, sepintas lalu sosok putra mantan Bupati Sidoarjo, Soewandi ini mampu memagis sebagian masyarakat yang dikunjungi. Sehingga dirinya pun jadi sosok calon bupati yang menjanjikan untuk membawa kemakmuran pada Kab. Sidoarjo.
Padahal semua janji-janjinya yang bernuansa keberpihakan pada wong cilik dengan wacana Tilik Deso, Noto Deso, Mbangun Kuto itu, hanyalah sebuah orasi politik hasil kecerdikan tim suksesnya. Targetnya kecilnya sekadar sebagai magis pengumpul suara dukungan untuk memuluskan ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai Kab. Sidoarjo. Sedangkan target utamanya adalah “mengamankan” bisnis keluarga Bakrie yang terancam akibat tragedi sumur Banjar Panji (populer sebagai Tragedi Lumpur Lapindo, red.).
Wiwied Suwandi Boneka Politik Bakrie Grup
Rabu, 24 Februari 2010oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-1
GAGAL memenuhi janji melunasi komitmen cash and carry pada mayoritas korban lumpur Lapindo, ternyata tidak membuat PT. Minarak Lapindo Jaya terserang rasa malu dan pekiwuh. Perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas yang menangani urusan jual beli aset tanah dan bangunan korban luapan lumpur sumur Banjar Panji ini, justru bersikap kurang simpati dan miskin empati.
Sikap itu ditunjukkan dengan ambisi anak perusahaan keluarga Grup Bakrie ini dengan mengikuti perebutan tahta Bupati Sidoarjo lewat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yang rencananya diselenggarakan April 2010 mendatang. Besarnya ambisi tersebut diproyeksikan dengan menurunkan dua calon andalan mereka, yang dilengkapi dana puluhan miliar rupiah sebagai stimulus merebut tahta W-1.
PKB Sudah Pasti Kawinkan Saiful-Sutjipto
Selasa, 16 Februari 2010oleh Prima Sp Vardhana
Keputusan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam memilih pasangan yang dijagokan dalam Pemilihan Kepala Daerah (PKB) Sidoarjo 2010, sudah terpastikan mengarah pada duet H. Syaiful Ilah sebagai Calon Bupati (Cabup) dan H. MG Hadi Sutjipto sebagai Calon Wakil Bupati (Cawabup). Kedua ”mempelai” itu sudah pasti disandingkan, setelah mereka bersama H.Abdulah Khoiri (Sekretaris PKB Sidoarjo) dinyatakan lolos dari penjaringan, yang diselenggarakan PKB Sidoarjo akhir Januari lalu.
Selain itu, arah pemilihan DPP dalam mendukung pasangan yang dijagokan dalam Pilkada Sidoarjo itu, ternyata sudah diungkapkan oleh Ketua Desk Pilkada Sidoarjo 2010, Imam Rahmat secara sekilas. ”Walau belum menerima pemberitahuan dari pusat kami sudah melihat arah dukungan DPP yang mengerucut untuk memasangkan Pak Syaiful dan Pak Tjip,” kata Imam saat dihubungi ponselnya, Senin (15/02).
Melirik Hadi Sutjipto, Saiful Ilah Kian Melenggang
Senin, 15 Februari 2010oleh Prima Sp Vardhana
Setelah lama menutup diri tentang calon tokoh yang akan digandengnya sebagai Wakil Bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2010, Syaiful Ilah sedikit membuka diri. Calon Bupati (Cabup) yang sudah pasti akan dijagokan oleh DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sidoarjo itu memastikan akan memilih calon wakil, yang memiliki basis pendukung yang besar dan kuat. Selain itu, tokoh tersebut mengantongi catatan prestasi dalam profesinya yang sangat membanggakan.
”Maju dalam Pilkada itu bukan sebuah permainan yang kental nuana spekulatif. Masuk bursa Pilkada merupakan sebuah perjuangan diri untuk memperebutkan amanah masyarakat. Karena itu, siapa pun yang maju harus mengantongi beragam syarat yang memastikan keyakinannya untuk dipercaya masyarakat,” kata Syaiful Ilah usai acara Istighosah Bersama yang diadakan Mahasiswa UIN Maliki Malang, Minggu (14/02).
Syaiful Ilah Bacabup, Hadi Sutjipto - Akhmad Khoiri Bacawabup
Selasa, 26 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardhana
Sampai batas toleransi pemenuhan kurangnya data administrasi berupa foto dan ijasah terakir, Minggu (24/1), ternyata bacawabup Jalaludin Alham Sip., M.Hum., tidak mampu memenuhi kekurangannya.Sehingga desk Pilkada PKB menetapkan deklarator Partai Demokrat Sidoaro itu gugur dalam sesi administratif.
“Saya legowo atas pencoretan nama saya sebagai pendaftar bacawabup, karena saya memang gagal memenuhi persyaratan pendaftaran. Kegagalan ini bagi saya memberi hikmah agar saya konsentrasi di DPRD Jatim,” kata Jalaludin saat ditemui di ruang kerjanya, DPRD Jatim, Selasa (26/1).
Hadi Sutjipto Mencalonkan Diri dengan Jaminan 'People Power'
CATATAN PILKADA SIDOARJO 2010 (SERIE KE-2)
oleh Prima Sp Vardhana
LALU siapakah kandidal rival yang seimbang untuk melayani pencalonan Syaiful Ilah merebut tahta W-1?
Dari nama-nama cabup dan cawabup yang beredar, secara popularitas dan elektabilitasnya, hanya satu nama yang mampu mengimbangi pencalonan Syaiful Ilah dan mesin politiknya PKB. Satu nama itu adalah H. MG Hadi Sutjipto SH., MH. Ini karena dari sisi dukungan, Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini memiliki basis massa yang sangat mengagumkan dan membuat para rival perlu bekerj keras untuk membendung kekuatannya.
Dengan latar belakang sebagai mantan Kepala Dinas Infokom dan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo, pria ramah ini di atas kertas telah mengantongi dukungan yang memastikan dari sekitar 9.000-an guru PNS dan Honorer se-Sidoarjo. Jumla itu belum termasuk keluarga dari para guru tersebut, yang memmungkinkan dari basis pendidik saja bisa mengumpulkan sekitar 17.000 suara dukungan.
Jumlah dukungan suara itu bisa membengkak berlipat kali, karena pria yang menjabat Asisten I Pemkab Sidoarjo ini juga sangat populer di kalangan PNS Kabupaten Sidoarjo, juga di kalangan umum lantaran pria yang akrab dipanggil Pak Tjip ini merupakan sosok yang terlibat aktif sedikitnya dalam 10 oranisasi kemasyarakatan. Selain sebagai Ketua Takmir Masjid Agung, ia juga Ketua Kwartir Cabang Pramuka Sidoarjo, Ketua Harian KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Sidoarjo, Wakil Ketua BAZ (Badan Amil dan Zakat) Sidoarjo.
Dengan peluang dalam pengumpulan suara dukungan itu, secara tersirat posisi tawar Hadi Sutjipto ini untuk merebut tahta W-1 bak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, sejak awal tahun 2009 Bupati Win Hendrarso sudah mengelus-elusnya untuk dijadikan jago yang diterjunkan dalam Pilkada 2010. Namun tawaran indah yang menjanjikan kekuasaan itu tidak membuat pria berpostur kecil ini terbius dan terlena untuk menerima. Sehingga membuat Win gusar dan mengubah pilihan pada Kepala Dinas DPU Bina Marega Sidoarjo, Ir Bambang Joelianto. Namun pilihan Win itu harus berhenti di tengah jalan, lantaran Takdir Allah Swt menentukan lain. Bambang Julianto yang berdarah Madura Pamekasan itu harus berpeluang akibat serangan jantung pada 23 Desember 2009 pukul 07.30.
Kejutan lain dalam peta kekuatan Pilkada 2010 itu, secara tiba-tiba Hadi Sujipto didampingi tiga orang terdekatnya mendaftar ke desk Pilkada PKB untuk mengikuti penjaringan merebut tiket cawabup dari partai tersebut. Obsesi Pak Tjip hanya satu dipercaya oleh PKB untuk mendampingi Syaiful Ilah melenggang menuju Pilkada 2010.
Kesiapan Pak Tjip maju berlaga di ajang Pilkada Sidoarjo 2010, menurut dia, karena dorongan dari berbagai kalangan masyarakat. Hanya saja, dia tidak tertarik untuk merebut tahta W-1. Ia hanya tertarik dan ingin menambah ilmu sebagai umaro di posisi wakil bupati. “Banyak kalangan masyarakat (Sidoarjo) yang mengharapkan saya mencalonkan diri jadi bupati. Tapi saya sampaikan, saya belum mampu jadi orang nmo satu. Saya cukup jadi orang dua saja lewat PKB. Sikap ini merupakan proyeksi dari komitmen saya mendukung Pak Saiful,” katanya.
Berpijak dari sikap Pak Tjip yang sangat mengejutkan itu, maka tahtaW-1 di atas kertas sudah ada di genggaman Syaiful Illah. Pertempuran memperebutkan kekuasan di Sidoarjo pun sudah berakhir sebelum peperangan dimulai. Bagaimana tidak. Dengan sikap komitmen Pak Tjip yang memilih menjadi Wakil Bupati mendampingi diri Syaifu Ilah itu, maka kekuatan PKB untuk mengantarkan pasangan calonnya memenangkan Pilkada 2010 akan lebih gampang dari perjuangan mengantarkan pasangan Win Hendrarso-Syaiful Illah memenangkan Pilkada 2000 dan 2005.
Apalagi Pak Tjip merupakan salah satu sosok hasil istikarah tim kiai NU dan PKB untuk direkomendasikan sebagai pasangan Saiful. Rival Pak Tjip yang konon juga dipublikasi menjadi pilihan alternatif untuk mendampingi Syaiful, adalah Gesang Budianto - Gesang Budiarso, Komisaris Utama PT. Minarak Lapindo Jaya.
Dengan majunya Hadi Sutjipto mendaftarkan diri lebih dahulu, maka peluang Gesang untuk mendmpingi Syaiful Ilah kian meredup. Pasalnya sosok Gesang secara politis memiliki citra yang sangat buruk di mata masyarakat Sidoarjo. Sekretaris DPD Partai Golkar Propinsi Jawa Timur itu menyandang predikat trouble marker untuk Sidoarjo. Daftar dosa yang disandangnya adalah menyebabkan tragedi Lumpur Lapindo yang membuat ribuan warga terdampak lumpur lapindo harus menderita. Kehilangan sandang, pangan, dan papan yang hingga saat ini belum selesai.
“Saya yakin para Kiyai NU dan PKB, juga partai PKB tak akan memilih Gesang Budianto untuk dipasangkan dengan Syaful Ilah. Jika merek memilih Gesang, maka tipologi para Kyai NU dan PKB itu adalah Kyai Bonokeling yang hanya memikirkn diri sendiri tak memikirkan kesusaha masyarakat Sidoarjo,” kata Mbah Di –sesepuh masyarakat Tulangan dan Krian.
Selain itu, dia akan mengerahkan massa untuk endemo para Kyai dan PKB jika memilih Gesang yang jelas-jelas pembuat susah masyarakat Sidoarjo. Juga, akan melakukan tour politic kelilin Sidoarjo untuk tidak memilih Gesang dan pasangannya berkuasa diSidoarjo.(TAMAT)
Syaiful Ilah Melenggang Tanpa Rival Sebanding
Senin, 25 Januari 2010Catatan Pilkada Sidoarjo 2010 (1)
oleh Prima Sp Vardhana
PEMILIHAN Kepala Daerah (PILKADA) Sidoarjo yang rencananya digelar Juli 2010 dapat dipastikan akan berlangsung tanpa pertarungan sengit. Calon peraih tahta Bupati Sidoarjo dalam Pilkada itu 75% sudah dapat diprediksi. Wakil Bupati H. Saiful Ilah yang sejak jauh-jauh hari memastikan ikut mencalonkan diri dengan mesin politiknya Partai Keadilan Bangsa (PKB) Sidoarjo, diatas kertas berpeluang besar untuk melenggang mulus tanpa perlawanan. Mengapa demikian?
Juragan tambak yang biasa bicara ceplas-ceplos ini, diprediksi banyak pihak akan melenggang merebut tahta W-1 tanpa perlu mengeluarkan strategi ekstra. Ini terjadi lantaran deret lawan yang akan dihadapi Saiful Ilah dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) nanti, semuanya tak memiliki kekuatan rupiah maupun pasukan pemenangan yang mampu mengimbangi mesin politiknya PKB Sidoarjo yang sangat solid dan tangguh. Dibawah bayang-bayang dukungan NU, Muslimat, Fatayat, PKB, Ansor, PPKB, dan Garda Bangsa.
Sebut saja, H. Khulaim Junaidi Sp. Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Sidoarjo ini yang sudah mendaftarkan diri ke tim pencalonan penjaringan Cabup-Cawabup tim sembilan PAN Sidoarjo, 3 Januari lalu, ini bukanlah lawan yang sebanding dengan Saiful Ilah. Dari sisi kepopuleran bagi masyarakat Sidoarjo, misalnya. Nama Khulaim baru dikenal saat ia terpilih sebagai anggota DPRD, dengan jabatan politik Ketua Wakil DPRD Sidoarjo. Sebelumnya nama dia hanya dikenal oleh kalangan anggota PAN Sidoarja saja.
Demikian pula H. Imam Sugiri. Pria keling Ketua Kadin Sidoarjo ini diatas kertas tak akan menjadi sosok yang perlu dikhawatirkan kubu Saiful Ilah. Pasalnya kontraktor di Sidoarjo ini memiliki banyak cacat dan kekurangan untuk memimpin Sidoarjo. Ketidakmampuannya memimpin Kadin Sidoarjo, misalnya. Itu dibuktikan dengan banyaknya pengurus inti yang menundurka diri dari struktur kepengurusan Kadin, antara lain Turino Junaidi dan H. Hadi Putranto.
Dua pegurus di jajaran Wakil Ketua ini mundur lantaran merasa dikhianati Imam Sugiri. Kadin Sidoarjo tidak dijalankan sebagaimana fungsinya, tapi hanya dijadikan kendaraan politik Imam Sugiri untuk mencari popularitas. ”Kadin saat ini sudah tidak serius melakukan pembinaan anggotanya. Tapi lebih fokus sebagai kendaraan politik untuk kepentingan Pilkada Sidoarjo 2010 mendatang,” kata Hadi Putanto, yang juga Ketua Umum Askumindo (Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia) Sidoarjo tersebut.
Hal lain yang turut mendasari pengunduran diri itu, adalah beberapa ‘kesalahan’ Kadin saat menggelar kegiatan Sidoarjo Festival (SF) 2009. Salah satunya, adalah banner SF 2009 yang dipasang tidak layak. Dalam banner itu gambar Wakil Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah dihilangkan dan diganti gambar Imam Sugiri, yang secara struktural birokrasi dinilai para pengurus sangat tidak etis. “Selain itu, dalam penyelenggaraan Sidoarjo Festival itu karcis masuknya segaja tidak berporporasi. Ini adalah sebuah pelanggaran perpajakan dan bernuansa pelanggaran hukum,” ujarnya.
Sedangkan H. Sarto MT., MH, Ketua DPC Partai Demokrat Sidoarjo yang sejak pertengahann 2009 sudah melakukan kampanye terselubung dengan memasang fotonya berdampingan SBY. Di atas kertas dia juga rival yang mumpuni untk berduel dengan Saiul Ilah. Salah satunya adalah background asal-usulnya, yang bukan dari Sidoarjo. Dus, peluangnya untuk berebut tahta W-1 sangat berat. Mengapa demikian?
Ini karena masyarakat Sidoarjo, menurut Mbah Di -sesepuh masyarakat Tulangan, sudah kapok dipimpin pemimpin yang bukan asli Sidoarjo. Terbukti dua periode dipimpin Win Hendrarso yang asli Wong Jawa Tengah, ternyata membuat perekonomian Sidoarjo terpuruk oleh tragedi Lumpur Lapindo. Jumlah masyarakat yang hidup dibawah angka kemiskinan dengan tanpa papan (rumah) dan pangan menjadi meningkat.
Demikian pula sikap para ulama yang pernah dilontakan oleh Gus Ali Mashuri, bahwa para ulama Sidoarjo sangat mengharapkan agar Kota Udang itu tak lagi dipimpin oleh seorang bupati yang non-Sidoarjo. Sehingga pemimpin tersebut mengetahui akan karakter masyarakat Sidoarjo, demikian pula kebutuhan masyarakat. Sepintas lalu sikap para ulama itu akan menjadi batu sandungan bagi Sarto untuk mencalonkan diri. (bersambung)
Hadi Sutjipto Daftar Cawabup ke Desk PKB
Rabu, 20 Januari 2010oleh Prima Sp Vardana
Sidoarjo, TRIBUN – Setelah satu tahun lebih berdiam diri atas rumour yang berkembang tentang ambisinya maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2010, Rabu (20/1) malam, H. MG Hadi Sutjipto turun gunung. Didampingi tiga orang terdekatnya, pejabat Asisten 1 SekdakabSidoarjo Bidang Pemerintahan dan Kesra ini mendaftarkan diri dalam bursa Bacawabup (Bakal Calon Wakil Bupati) pada desk Pilkada PKB.
Datang tiga jam sebelum penutupan pendaftaran, Pak Tjip (nama panggilan Hadi Sutjipto, red.) tiba di Kantor PKB, Jl Erlangga 5-6. Disambut Ketua Desk Pilkada PKB Imam Rahmad dan anggota, Pak Tjip yang datang sekitar pukul 21.00 langsung mengisi daftar hadir, melengkapi berkas administrasi mengisi berkas pendaftaran bacawabup. Selain itu, dia juga memenuhi ''mahar'' pendaftaran sebesar Rp 50 juta.
”Alhamdulilah, saya berhasil mendaftarkan diri sebagai bacawabup pada desk PKB pada detik-detik terakhir penutupan. Semoga pendaftaran saya ini diridhoi Allah, sehingga saya bisa mendampingi Pak Saiful untuk melakukan perbaikan perekonomian Sidoarjo yang tersuruk akibat tragedi Lumpr Lapindo,” kata Hadi Sutjipto saat dihubungi ponselnya.
Tak berselang lama, deklarator Partai Demokrat Sidoarjo Jalaluddin Alham datang. Pria berkumis ala aktor Yunani Omar Sharief ini didampingi tujuh anak yatim dari panti asuhan Al Firdaus, Siwalanpanji, Buduran. Wakil ketua DPRD Sidoarjo periode 2004-2009 itu masuk Kantor PKB sekitar pukul 22.00.
Saat mendaftar, anggota DPRD Jatim dari dapil Sidoarjo-Surabaya itu mengisi daftar hadir, lantas melengkapi berkas administrasi. Tak lupa, dia menyerahkan uang pendaftaran Rp 50 juta. Ironisnya, Sarjana Ilmu Politik itu tak membawa foto dan salinan ijazah terakhir. Tapi, dia diberi toleransi melengkapi hingga Minggu (24/1). Jika tak bisa memenuhi, dia bersedia dicoret dari daftar nama bacawabup PKB.
Sepertinya, waktu yang diberikan PKB itu tidak cukup untuk mengurus kekurangan tersebut. ''Saya menghargai penjaringan PKB. Saya bersedia dicoret karena alasan waktu,'' katanya.
Pada menit-menit terakhir Akhmad Khoiri datang paling akhir ditemani dua orang dekatnya. Kader NU itu menyerahkan ''mahar'' Rp 50 juta. Menurut Khoiri, dirinya serius maju mendampingi bacabup Saiful Ilah.
Sekretaris PKB Sidoarjo itu merasa terpanggil untuk memajukan Sidoarjo. Warga NU Sidoarjo, kata dia, merupakan mayoritas. Karena itu, dia ingin menjadi representasi warga NU. ''Jangan orang lain yang diusung, utamakan kader sendiri,'' ucap wakil direktur RS Siti Hajar tersebut. (vd)
Saat mendaftar, anggota DPRD Jatim dari dapil Sidoarjo-Surabaya itu mengisi daftar hadir, lantas melengkapi berkas administrasi. Tak lupa, dia menyerahkan uang pendaftaran Rp 50 juta. Ironisnya, Sarjana Ilmu Politik itu tak membawa foto dan salinan ijazah terakhir. Tapi, dia diberi toleransi melengkapi hingga Minggu (24/1). Jika tak bisa memenuhi, dia bersedia dicoret dari daftar nama bacawabup PKB.
Sepertinya, waktu yang diberikan PKB itu tidak cukup untuk mengurus kekurangan tersebut. ''Saya menghargai penjaringan PKB. Saya bersedia dicoret karena alasan waktu,'' katanya.
Pada menit-menit terakhir Akhmad Khoiri datang paling akhir ditemani dua orang dekatnya. Kader NU itu menyerahkan ''mahar'' Rp 50 juta. Menurut Khoiri, dirinya serius maju mendampingi bacabup Saiful Ilah.
Sekretaris PKB Sidoarjo itu merasa terpanggil untuk memajukan Sidoarjo. Warga NU Sidoarjo, kata dia, merupakan mayoritas. Karena itu, dia ingin menjadi representasi warga NU. ''Jangan orang lain yang diusung, utamakan kader sendiri,'' ucap wakil direktur RS Siti Hajar tersebut. (vd)
Langganan:
Postingan (Atom)















