Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label BURSA PILKADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BURSA PILKADA. Tampilkan semua postingan

Wiwied Menebar Janji Menuai Kecaman

Kamis, 25 Februari 2010
oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-2 Habis

SEPANJANG mengikuti kampanye pencitraan diri yang dilakukan Bambang Prasetyo Widodo atau karib disapa Wiwied Soewandi, sepintas lalu sosok putra mantan Bupati Sidoarjo, Soewandi ini mampu memagis sebagian masyarakat yang dikunjungi. Sehingga dirinya pun jadi sosok calon bupati yang menjanjikan untuk membawa kemakmuran pada Kab. Sidoarjo.

Padahal semua janji-janjinya yang bernuansa keberpihakan pada wong cilik dengan wacana Tilik Deso, Noto Deso, Mbangun Kuto itu, hanyalah sebuah orasi politik hasil kecerdikan tim suksesnya. Targetnya kecilnya sekadar sebagai magis pengumpul suara dukungan untuk memuluskan ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai Kab. Sidoarjo. Sedangkan target utamanya adalah “mengamankan” bisnis keluarga Bakrie yang terancam akibat tragedi sumur Banjar Panji (populer sebagai Tragedi Lumpur Lapindo, red.).
Read Full 0 komentar

Wiwied Suwandi Boneka Politik Bakrie Grup

Rabu, 24 Februari 2010
oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-1

GAGAL memenuhi janji melunasi komitmen cash and carry pada mayoritas korban lumpur Lapindo, ternyata tidak membuat PT. Minarak Lapindo Jaya terserang rasa malu dan pekiwuh. Perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas yang menangani urusan jual beli aset tanah dan bangunan korban luapan lumpur sumur Banjar Panji ini, justru bersikap kurang simpati dan miskin empati.
Sikap itu ditunjukkan dengan ambisi anak perusahaan keluarga  Grup Bakrie ini dengan mengikuti perebutan tahta Bupati Sidoarjo lewat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yang rencananya diselenggarakan April 2010 mendatang. Besarnya ambisi tersebut diproyeksikan dengan menurunkan dua calon andalan mereka, yang dilengkapi dana puluhan miliar rupiah sebagai stimulus merebut tahta W-1.
Read Full 0 komentar

PKB Sudah Pasti Kawinkan Saiful-Sutjipto

Selasa, 16 Februari 2010

oleh Prima Sp Vardhana


Keputusan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam memilih pasangan yang dijagokan dalam Pemilihan Kepala Daerah (PKB) Sidoarjo 2010, sudah terpastikan mengarah pada duet H. Syaiful Ilah sebagai Calon Bupati (Cabup) dan H. MG Hadi Sutjipto sebagai Calon Wakil Bupati (Cawabup). Kedua ”mempelai” itu sudah pasti disandingkan, setelah mereka bersama H.Abdulah Khoiri (Sekretaris PKB Sidoarjo) dinyatakan lolos dari penjaringan, yang diselenggarakan PKB Sidoarjo akhir Januari lalu.

Selain itu, arah pemilihan DPP dalam mendukung pasangan yang dijagokan dalam Pilkada Sidoarjo itu, ternyata sudah diungkapkan oleh Ketua Desk Pilkada Sidoarjo 2010, Imam Rahmat secara sekilas. ”Walau belum menerima pemberitahuan dari pusat kami sudah melihat arah dukungan DPP yang mengerucut untuk memasangkan Pak Syaiful dan Pak Tjip,” kata Imam saat dihubungi ponselnya, Senin (15/02).
Read Full 0 komentar

Melirik Hadi Sutjipto, Saiful Ilah Kian Melenggang

Senin, 15 Februari 2010

oleh Prima Sp Vardhana

Setelah lama menutup diri tentang calon tokoh yang akan digandengnya sebagai Wakil Bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2010, Syaiful Ilah sedikit membuka diri. Calon Bupati (Cabup) yang sudah pasti akan dijagokan oleh DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sidoarjo itu memastikan akan memilih calon wakil, yang memiliki basis pendukung yang besar dan kuat. Selain itu, tokoh tersebut mengantongi catatan prestasi dalam profesinya yang sangat membanggakan.

”Maju dalam Pilkada itu bukan sebuah permainan yang kental nuana spekulatif. Masuk bursa Pilkada merupakan sebuah perjuangan diri untuk memperebutkan amanah masyarakat. Karena itu, siapa pun yang maju harus mengantongi beragam syarat yang memastikan keyakinannya untuk dipercaya masyarakat,” kata Syaiful Ilah usai acara Istighosah Bersama yang diadakan Mahasiswa UIN Maliki Malang, Minggu (14/02).
Read Full 0 komentar

Syaiful Ilah Bacabup, Hadi Sutjipto - Akhmad Khoiri Bacawabup

Selasa, 26 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardhana


Sampai batas toleransi pemenuhan kurangnya data administrasi berupa foto dan ijasah terakir, Minggu (24/1), ternyata bacawabup Jalaludin Alham Sip., M.Hum., tidak mampu memenuhi kekurangannya.Sehingga desk Pilkada PKB menetapkan deklarator Partai Demokrat Sidoaro itu gugur dalam sesi administratif.
“Saya legowo atas pencoretan nama saya sebagai pendaftar bacawabup, karena saya memang gagal memenuhi persyaratan pendaftaran. Kegagalan ini bagi saya memberi hikmah agar saya konsentrasi di DPRD Jatim,” kata Jalaludin saat ditemui di ruang kerjanya, DPRD Jatim, Selasa (26/1).
Read Full 0 komentar

Hadi Sutjipto Mencalonkan Diri dengan Jaminan 'People Power'

CATATAN PILKADA SIDOARJO 2010 (SERIE KE-2)

oleh Prima Sp Vardhana

LALU siapakah kandidal rival yang seimbang untuk melayani pencalonan Syaiful Ilah merebut tahta W-1?


Dari nama-nama cabup dan cawabup yang beredar, secara popularitas dan elektabilitasnya, hanya satu nama yang mampu mengimbangi pencalonan Syaiful Ilah dan mesin politiknya PKB. Satu nama itu adalah H. MG Hadi Sutjipto SH., MH. Ini karena dari sisi dukungan, Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini memiliki basis massa yang sangat mengagumkan dan membuat para rival perlu bekerj keras untuk membendung kekuatannya.

Dengan latar belakang sebagai mantan Kepala Dinas Infokom dan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo, pria ramah ini di atas kertas telah mengantongi dukungan yang memastikan dari sekitar 9.000-an guru PNS dan Honorer se-Sidoarjo. Jumla itu belum termasuk keluarga dari para guru tersebut, yang memmungkinkan dari basis pendidik saja bisa mengumpulkan sekitar 17.000 suara dukungan.

Jumlah dukungan suara itu bisa membengkak berlipat kali, karena pria yang menjabat Asisten I Pemkab Sidoarjo ini juga sangat populer di kalangan PNS Kabupaten Sidoarjo, juga di kalangan umum lantaran pria yang akrab dipanggil Pak Tjip ini merupakan sosok yang terlibat aktif sedikitnya dalam 10 oranisasi kemasyarakatan. Selain sebagai Ketua Takmir Masjid Agung, ia juga Ketua Kwartir Cabang Pramuka Sidoarjo, Ketua Harian KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Sidoarjo, Wakil Ketua BAZ (Badan Amil dan Zakat) Sidoarjo.

Dengan peluang dalam pengumpulan suara dukungan itu, secara tersirat posisi tawar Hadi Sutjipto ini untuk merebut tahta W-1 bak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, sejak awal tahun 2009 Bupati Win Hendrarso sudah mengelus-elusnya untuk dijadikan jago yang diterjunkan dalam Pilkada 2010. Namun tawaran indah yang menjanjikan kekuasaan itu tidak membuat pria berpostur kecil ini terbius dan terlena untuk menerima. Sehingga membuat Win gusar dan mengubah pilihan pada Kepala Dinas DPU Bina Marega Sidoarjo, Ir Bambang Joelianto. Namun pilihan Win itu harus berhenti di tengah jalan, lantaran Takdir Allah Swt menentukan lain. Bambang Julianto yang berdarah Madura Pamekasan itu harus berpeluang akibat serangan jantung pada 23 Desember 2009 pukul 07.30.

Kejutan lain dalam peta kekuatan Pilkada 2010 itu, secara tiba-tiba Hadi Sujipto didampingi tiga orang terdekatnya mendaftar ke desk Pilkada PKB untuk mengikuti penjaringan merebut tiket cawabup dari partai tersebut. Obsesi Pak Tjip hanya satu dipercaya oleh PKB untuk mendampingi Syaiful Ilah melenggang menuju Pilkada 2010.

Kesiapan Pak Tjip maju berlaga di ajang Pilkada Sidoarjo 2010, menurut dia, karena dorongan dari berbagai kalangan masyarakat. Hanya saja, dia tidak tertarik untuk merebut tahta W-1. Ia hanya tertarik dan ingin menambah ilmu sebagai umaro di posisi wakil bupati. “Banyak kalangan masyarakat (Sidoarjo) yang mengharapkan saya mencalonkan diri jadi bupati. Tapi saya sampaikan, saya belum mampu jadi orang nmo satu. Saya cukup jadi orang dua saja lewat PKB. Sikap ini merupakan proyeksi dari komitmen saya mendukung Pak Saiful,” katanya.


Berpijak dari sikap Pak Tjip yang sangat mengejutkan itu, maka tahtaW-1 di atas kertas sudah ada di genggaman Syaiful Illah. Pertempuran memperebutkan kekuasan di Sidoarjo pun sudah berakhir sebelum peperangan dimulai. Bagaimana tidak. Dengan sikap komitmen Pak Tjip yang memilih menjadi Wakil Bupati mendampingi diri Syaifu Ilah itu, maka kekuatan PKB untuk mengantarkan pasangan calonnya memenangkan Pilkada 2010 akan lebih gampang dari perjuangan mengantarkan pasangan Win Hendrarso-Syaiful Illah memenangkan Pilkada 2000 dan 2005.

Apalagi Pak Tjip merupakan salah satu sosok hasil istikarah tim kiai NU dan PKB untuk direkomendasikan sebagai pasangan Saiful. Rival Pak Tjip yang konon juga dipublikasi menjadi pilihan alternatif untuk mendampingi Syaiful, adalah Gesang Budianto - Gesang Budiarso, Komisaris Utama PT. Minarak Lapindo Jaya.

Dengan majunya Hadi Sutjipto mendaftarkan diri lebih dahulu, maka peluang Gesang untuk mendmpingi Syaiful Ilah kian meredup. Pasalnya sosok Gesang secara politis memiliki citra yang sangat buruk di mata masyarakat Sidoarjo. Sekretaris DPD Partai Golkar Propinsi Jawa Timur itu menyandang predikat trouble marker untuk Sidoarjo. Daftar dosa yang disandangnya adalah menyebabkan tragedi Lumpur Lapindo yang membuat ribuan warga terdampak lumpur lapindo harus menderita. Kehilangan sandang, pangan, dan papan yang hingga saat ini belum selesai.

“Saya yakin para Kiyai NU dan PKB, juga partai PKB tak akan memilih Gesang Budianto untuk dipasangkan dengan Syaful Ilah. Jika merek memilih Gesang, maka tipologi para Kyai NU dan PKB itu adalah Kyai Bonokeling yang hanya memikirkn diri sendiri tak memikirkan kesusaha masyarakat Sidoarjo,” kata Mbah Di –sesepuh masyarakat Tulangan dan Krian.

Selain itu, dia akan mengerahkan massa untuk endemo para Kyai dan PKB jika memilih Gesang yang jelas-jelas pembuat susah masyarakat Sidoarjo. Juga, akan melakukan tour politic kelilin Sidoarjo untuk tidak memilih Gesang dan pasangannya berkuasa diSidoarjo.(TAMAT)
Read Full 0 komentar

Syaiful Ilah Melenggang Tanpa Rival Sebanding

Senin, 25 Januari 2010
Catatan Pilkada Sidoarjo 2010 (1)

oleh Prima Sp Vardhana




PEMILIHAN Kepala Daerah (PILKADA) Sidoarjo yang rencananya digelar Juli 2010 dapat dipastikan akan berlangsung tanpa pertarungan sengit. Calon peraih tahta Bupati Sidoarjo dalam Pilkada itu 75% sudah dapat diprediksi. Wakil Bupati H. Saiful Ilah yang sejak jauh-jauh hari memastikan ikut mencalonkan diri dengan mesin politiknya Partai Keadilan Bangsa (PKB) Sidoarjo, diatas kertas berpeluang besar untuk melenggang mulus tanpa perlawanan. Mengapa demikian?
Juragan tambak yang biasa bicara ceplas-ceplos ini, diprediksi banyak pihak akan melenggang merebut tahta W-1 tanpa perlu mengeluarkan strategi ekstra. Ini terjadi lantaran deret lawan yang akan dihadapi Saiful Ilah dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) nanti, semuanya tak memiliki kekuatan rupiah maupun pasukan pemenangan yang mampu mengimbangi mesin politiknya PKB Sidoarjo yang sangat solid dan tangguh. Dibawah bayang-bayang dukungan NU, Muslimat, Fatayat, PKB, Ansor, PPKB, dan Garda Bangsa.
Sebut saja, H. Khulaim Junaidi Sp. Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Sidoarjo ini yang sudah mendaftarkan diri ke tim pencalonan penjaringan Cabup-Cawabup tim sembilan PAN Sidoarjo, 3 Januari lalu, ini bukanlah lawan yang sebanding dengan Saiful Ilah. Dari sisi kepopuleran bagi masyarakat Sidoarjo, misalnya. Nama Khulaim baru dikenal saat ia terpilih sebagai anggota DPRD, dengan jabatan politik Ketua Wakil DPRD Sidoarjo. Sebelumnya nama dia hanya dikenal oleh kalangan anggota PAN Sidoarja saja.

Demikian pula H. Imam Sugiri. Pria keling Ketua Kadin Sidoarjo ini diatas kertas tak akan menjadi sosok yang perlu dikhawatirkan kubu Saiful Ilah. Pasalnya kontraktor di Sidoarjo ini memiliki banyak cacat dan kekurangan untuk memimpin Sidoarjo. Ketidakmampuannya memimpin Kadin Sidoarjo, misalnya. Itu dibuktikan dengan banyaknya pengurus inti yang menundurka diri dari struktur kepengurusan Kadin, antara lain Turino Junaidi dan H. Hadi Putranto.
Dua pegurus di jajaran Wakil Ketua ini mundur lantaran merasa dikhianati Imam Sugiri. Kadin Sidoarjo tidak dijalankan sebagaimana fungsinya, tapi hanya dijadikan kendaraan politik Imam Sugiri untuk mencari popularitas. ”Kadin saat ini sudah tidak serius melakukan pembinaan anggotanya. Tapi lebih fokus sebagai kendaraan politik untuk kepentingan Pilkada Sidoarjo 2010 mendatang,” kata Hadi Putanto, yang juga Ketua Umum Askumindo (Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia) Sidoarjo tersebut.
Hal lain yang turut mendasari pengunduran diri itu, adalah beberapa ‘kesalahan’ Kadin saat menggelar kegiatan Sidoarjo Festival (SF) 2009. Salah satunya, adalah banner SF 2009 yang dipasang tidak layak. Dalam banner itu gambar Wakil Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah dihilangkan dan diganti gambar Imam Sugiri, yang secara struktural birokrasi dinilai para pengurus sangat tidak etis. “Selain itu, dalam penyelenggaraan Sidoarjo Festival itu karcis masuknya segaja tidak berporporasi. Ini adalah sebuah pelanggaran perpajakan dan bernuansa pelanggaran hukum,” ujarnya.
Sedangkan H. Sarto MT., MH, Ketua DPC Partai Demokrat Sidoarjo yang sejak pertengahann 2009 sudah melakukan kampanye terselubung dengan memasang fotonya berdampingan SBY. Di atas kertas dia juga rival yang mumpuni untk berduel dengan Saiul Ilah. Salah satunya adalah background asal-usulnya, yang bukan dari Sidoarjo. Dus, peluangnya untuk berebut tahta W-1 sangat berat. Mengapa demikian?
Ini karena masyarakat Sidoarjo, menurut Mbah Di -sesepuh masyarakat Tulangan, sudah kapok dipimpin pemimpin yang bukan asli Sidoarjo. Terbukti dua periode dipimpin Win Hendrarso yang asli Wong Jawa Tengah, ternyata membuat perekonomian Sidoarjo terpuruk oleh tragedi Lumpur Lapindo. Jumlah masyarakat yang hidup dibawah angka kemiskinan dengan tanpa papan (rumah) dan pangan menjadi meningkat.
Demikian pula sikap para ulama yang pernah dilontakan oleh Gus Ali Mashuri, bahwa para ulama Sidoarjo sangat mengharapkan agar Kota Udang itu tak lagi dipimpin oleh seorang bupati yang non-Sidoarjo. Sehingga pemimpin tersebut mengetahui akan karakter masyarakat Sidoarjo, demikian pula kebutuhan masyarakat. Sepintas lalu sikap para ulama itu akan menjadi batu sandungan bagi Sarto untuk mencalonkan diri. (bersambung)

Read Full 0 komentar

Hadi Sutjipto Daftar Cawabup ke Desk PKB

Rabu, 20 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardana



Sidoarjo, TRIBUN – Setelah satu tahun lebih berdiam diri atas rumour yang berkembang tentang ambisinya maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo 2010,  Rabu (20/1)  malam, H. MG Hadi Sutjipto turun gunung. Didampingi tiga orang terdekatnya, pejabat Asisten 1 SekdakabSidoarjo Bidang Pemerintahan dan Kesra ini mendaftarkan diri dalam bursa Bacawabup (Bakal Calon Wakil Bupati) pada desk Pilkada PKB.
Datang tiga jam sebelum penutupan pendaftaran, Pak Tjip (nama panggilan Hadi Sutjipto, red.)  tiba di Kantor PKB, Jl Erlangga 5-6. Disambut Ketua Desk Pilkada PKB Imam Rahmad dan anggota, Pak Tjip yang datang sekitar pukul 21.00 langsung mengisi daftar hadir, melengkapi berkas administrasi mengisi berkas pendaftaran bacawabup. Selain itu, dia juga memenuhi ''mahar'' pendaftaran sebesar Rp 50 juta.
”Alhamdulilah, saya berhasil mendaftarkan diri sebagai bacawabup pada desk PKB pada detik-detik terakhir penutupan. Semoga pendaftaran saya ini diridhoi Allah, sehingga saya bisa mendampingi Pak Saiful untuk melakukan perbaikan perekonomian Sidoarjo yang tersuruk akibat tragedi Lumpr Lapindo,” kata Hadi Sutjipto saat dihubungi ponselnya.
Tak berselang lama, deklarator Partai Demokrat Sidoarjo Jalaluddin Alham datang. Pria berkumis ala aktor Yunani Omar Sharief ini didampingi tujuh anak yatim dari panti asuhan Al Firdaus, Siwalanpanji, Buduran. Wakil ketua DPRD Sidoarjo periode 2004-2009 itu masuk Kantor PKB sekitar pukul 22.00.

Saat mendaftar, anggota DPRD Jatim dari dapil Sidoarjo-Surabaya itu mengisi daftar hadir, lantas melengkapi berkas administrasi. Tak lupa, dia menyerahkan uang pendaftaran Rp 50 juta. Ironisnya, Sarjana Ilmu Politik itu tak membawa foto dan salinan ijazah terakhir. Tapi, dia diberi toleransi melengkapi hingga Minggu (24/1). Jika tak bisa memenuhi, dia bersedia dicoret dari daftar nama bacawabup PKB.

Sepertinya, waktu yang diberikan PKB itu tidak cukup untuk mengurus kekurangan tersebut. ''Saya menghargai penjaringan PKB. Saya bersedia dicoret karena alasan waktu,'' katanya.

Pada menit-menit terakhir Akhmad Khoiri datang paling akhir ditemani dua orang dekatnya. Kader NU itu menyerahkan ''mahar'' Rp 50 juta. Menurut Khoiri, dirinya serius maju mendampingi bacabup Saiful Ilah.

Sekretaris PKB Sidoarjo itu merasa terpanggil untuk memajukan Sidoarjo. Warga NU Sidoarjo, kata dia, merupakan mayoritas. Karena itu, dia ingin menjadi representasi warga NU. ''Jangan orang lain yang diusung, utamakan kader sendiri,'' ucap wakil direktur RS Siti Hajar tersebut.
(vd)

Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks