Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan

Keripik Kedelai Pugeran, Produk Rumahan Kualitas Industri

Jumat, 19 Juni 2009

oleh Lucky Errol

SEBELUMNYA, keripik kedelai populer sebagai salah satu kudapan hidangan hari raya. Rasanya yang enak dan gurih membuat keripik ini menjadi hidangan favorit. Atmosfer yang membuat terbukanya pasar itu ditangkap oleh para pengrajin kerupuk kedelai di Desa Pugeran, Kec. Gondang Mojokerto. 

Langkah awal yang mereka lakukan adalah membentuk sebuah kelompok kerja yang disepakati bernama Kelompok Matahari, dengan anggots 18 ibu-ibu pengrajin. Dan, Yunanik disepakati sebagai ketua kelompok yang dibangun pada 2 tahun lalu itu. Konsep kerja kelompok ini untuk menjaga eksistensi dan persaingan harga antar pengrajin.

”Sebelum ada industri keripek kedelai, ibu-ibu di desa umumnya murni ibu rumah tangga. Saat ini, status pengrajin membuat ibu-ibu di sini ikut terlibat sebagai mesin pengail rezeki. Sehingga tingkat perekonomian kami pun mengalami peningkatan,” kata Yunanik saat ditemui di rumahnya.

Wanita yang memulai usaha sejak 6 tahun lalu ini mengatakan, kesuksesan yang didulang kelompoknya saat ini diluar prakiraan. Pasalnya investasi awal yang digunakan hanyalah alat-alat dapur sebagai sarana produksi.

Kendati demikian, setahun terakhir keberadaan para pengrajin keripik kedelai ini berhasil mengetuk empati Pemkab. Mojokerto. Terbukti dengan mengalirnya bantuan mesin pengiris keripik yang diberikan langsung oleh Bupati Mojokerto Drs. H. Suwandi MM., bulan Desember 2008 lalu. Mesin yang diterima 18 anggota kelompok pengrajin dibuat oleh SMK Jetis.
Saat ini, rata-rata setiap anggota kelompok, memiliki karyawan 2 hingga 5 orang tetangga masing-masing. Dengan jumlah produksi yang berkembang pesat antara 12kg hingga 24kg, maka setiap anggota memiliki omset bersih Rp 75.000 – Rp 100.000 per harinya.

Harga keripik kedelai yang ditetapkan kelompok Matahari sebesar Rp. 2.500 untuk kemasan 100gr, Rp. 5.500 untuk kemasan 225gr, Rp. 12.000 untuk kemasan 500gr, dan Rp. 24.000 untuk kemasan 1 kg.

Harga yang relatif murah itu, maka pemasaran keripik kedelai saat ini telah menguasai Kab./ Kota Mojokerto. Sejak setahun terakhir sudah merambah ke wilayah Jombang, Malang dan Surabaya. Mayoritas pemasaran mereka di tempat-tempat wisata yang dimiliki masing-masing daerah.

”Wilayah pemasarannya tidak diatur kelompok, karena diantara anggota sangat menjunjung etika bisnis. Wilayah yang sudah dimasuki salah satu anggota kelompok, tidak akan dimasuki anggota lainnya,” ujar Yunanik lagi.

Lontong Keripik

Pesatnya perkembangan pasar yang menyerap produk keripik kedelai kelompok ini, menurut solikah –salah satu pengrajin, tidak lepas dari bahan yang digunakan jenis impor. Biji kedelainya lebih kecil dan padat.

Bahan yang digunakan dalam memproduksi keripik adalah kedelai, tepung terigu, tepung kanji, telur, soda kue, bumbu-bumbu dan biji kedelai yang berguna pembuat rasa.

Sedangkan proses pembuatan yaitu merebus kedelai serta pengupasan kulitnya. Selanjutnya rebusan itu dicampur dengan bahan-bahan lain dan bumbu penyedap. Saat kedelai dan bahan lainnya tercampur membentuk lontong kerupik, maka proses selanjutnya lontong keriupik dikukus dalam dandang selama 2 jam.

Proses terakhir, lontong keripik ditiriskan, setelah dingin diris tipis-tipis dengan pengiris kemudian digoreng.

Ironisnya masa kedaluwarsa keripik kedelai yang diyakini Solikah mampu bertahan hingga 2 bulan, ternyata dalam praktiknya hanya bertahan selama 3-4 minggu saja. Kondisi keripik sudah melempem akibat kemasan, yang sudah bocor.

Karena itu, masing-masing pengrajin saat ini tengah berusaha mendapatkan mesin kemasan, yang mampu memenuhi standar ketahanan saat dipasarklan. Sehingga sistem perputaran produksi dan penarikan retur berlangsung sesuai target waktu setiap 2 bulan sekali.

”Salah satu kendala kami gagal memasarkan di supermarket adalah faktor kemasan. Jika kondisi ini dapat kami selesaikan, kami yakin pasarnya makin melebar,” ujar Teguh yang memproduksi keripik kedelai berlabel Teguh Jaya. (tribunonline@gmail.com)
Read Full 0 komentar

Batik Tulis Mojokerto Berdendang di Tingkat Nasional


oleh: Fakih Ahmad, Prima Sp Vardhana

Merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang sudah populer di tingkat internasional. Namun, selama ini yang terkenal hanyalah batik-batif yang bercirikan Yogya dan Solo, seperti kawung, parang, gondosuli, ceplok dan lainnya. Padahal Kota Mojokerto memiliki sebuah batik khas, yang memiliki sejarah lebih tua dibanding batik Jawa Tengahaan itu. Mengapa demikian.


Ini karena batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh di telinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait.

Pengrajin batik tulis yang berhasil mempopulerkan Batik Mojokerto di tingkat nasional adalah Hindun (42), di Dusun Keboan Desa Gunung Gedangan Kec. Magersari Kota Mojokerto. Di rumahnya dapat ditemukan ratusan batik-batik itu, dengan warna yang sejuk dan mencerminkan kejayaan Majapahit.

Motif batik Mojokerto yang kini mulai dilirik pasar nasional dan dunia itu, menurut ia, merupakan desainnya dari hasil perenungannya. Dan, semua motif batik temuannya itu kini dikenal sebagai motif batik khas Kota Mojokerto. 

Desain batik itu, diakui, mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam.

Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya mirip seperti anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

Usaha batik tulisnya itu dimulai Hindun pada 1996. Semula semuanya ditangani sendiri mulai dari mendesain, meramu bahan pewarna, membatik, sampai memasarkan hasilnya. Namun perjalanan waktu menunjukkan usahanya mengalami perkembangan. Awalnya dia mampu membuat tiga lembar sebulan. Kini bisa mencapai puluhan lembar setelah mempekerjakan karyawan. 

Perubahan itu terjadi pada tahun 2000. Setelah tahun itu, usahanya mulai dikenal masyarakat dan omzet pesanan terus mengalir. Resikonya dia harus sesekali kerja lembur untuk memuaskan pembeli. Kendati demikian, dia belum mampu memenuhi semua pesanan pelanggan, sehingga harus merekrut pekerja dari tetangganya. Para pekerja itu hanya bisa membatik dan tak mahir mendesain, meramu obat batik serta tak bisa memasarkan hasil kerajinannya.

Pengalaman berbeda diutarakan pengrajin batik tulis Ernawati. Pengusaha sepatu di Surodinawan, Prajurit kulon ini, mulai belajar menjadi seorang pengrajin batik tulis saat masih duduk di kelas 4 SD. Dia mengawali keseriusannya dalam dunia batik sejak tahun 1994.

”Waktu itu, penjualannya hanya sebatas pada teman. Tapi sering kali mereka ikut membantu memasarkan pada kenalan masing-masing,” kata istri dari M. Zainudin yang juga sebagai pengusaha sepatu.

Setelah ijin produksi usahanya sebagai pengrajin batik tulis turun pada tahun 2001, maka dia pun lebih keras dalam memasarkan dan mengenalkan batik tulis khas Mojokerto itu pada masyarakat. Untuk menumbuhkan rasa cinta masyarakat, ia lakukan dengan bergabung pada perkumpulan-perkumpulan wanita yang ada di Mojokerto. Misalnya Paguyuban Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL) dan Keluarga Informasi Masyarakat Kota. Selain itu, ia juga mengembangkan di SD di Surodinawan dengan status guru khusus kerajinan batik tulis.

Sedangkan motif batik yang dikembangkan Ernawati mencapai lebih dari 30 macam. Tapi produk miliknya ada 6 motif dan sudah di hak ciptakan dari Disperindag, seperti mrico bolong, rawan inggek, sesek grenseng, matahari, koro renteng, dan rengsedapur. “Kebetulan waktu itu memang ada kolektif, dan yang saya daftarkan itu merupakan motif yang paling diminati,” ujarnya.

Menurut ia, enam motif batik tulisnya memiliki daya tarik masing-masing, bahkan motif matahari pernah di pamerkan ke Australia 2007 lalu. Dengan ukuran tiga kali lipat besar kain yang biasanya dipakai.

Untuk harga, batik tulis Hindun dan Ernawati nyaris sama. Batik sebesar taplak ditawarkan Rp 37.500. Sedangkan batik yang berbahan katun berkisar Rp 125 ribu hingga Rp 1,4 juta. Harganya melambung jadi Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta jika berbahan sutra. 

Pasar yang kini telah diraih tidak terbatas di wilayah Mojokerto. Namun sudah merambah ke Malang, Surabaya, betawi, Jakarta, Medan hingga Banjarmasin. Selain itu, Disperindag Kab. Mojokerto juga memberi dukungan pemasaran sampai ke Palembang dan pameran-pameran tingkat nasional. (tribunonline@gmail.com)
Read Full 0 komentar

Rambak Bangsal Produk Unggulan di Tingkat Nasional



oleh Fakih Ahmad  

Berkunjung ke Kabupaten Mojokerto jika tidak membawa ole-ole rambak Bangsal, banyak wisatawan lokal menilai belum afdol. Kekuatan pencitraan itu membuat rambak Bangsal sangat populer di tingkat nasional, bahka krupuk berbahan kulit sapi ini telah dicitrakan sebagai salah satu icon industri Kab. Mojokerto. 

SEKITAR 4 kilometer dari Mojokerto ke arah timur menuju Malang, terlihat jajaran pedagang krupuk rambak menawarkan dagangannya di kios-kios pinggir jalan. Mereka bertumpahan di kiri-kanan jalan sepanjang sekitar 1km. Sesekali terlihat salah satu kios dikunjungi pembeli. Mulai dari yang mengendari sepeda motor hingga bis wisata.

Krupuk rambak yang dibeli tidak hanya rambak goreng yang telah dikemas dalam plastik seharga Rp 10.000 hingga Rp 30.000. Namun, juga yang mentah (krecek) terlihat diborong.
”Sudah lima tahun lebih saya menggantikan orang tua jualan rambak dan krecek di sini. Hasilnya lumayan. Dapat digunakan untuk membiayai kuliah anak-anak,” kata Rahmat sembari melayani pembelinya.

Rambak dan krecek yang dijual di kiosnya, diakui bapak tiga orang anak ini, dikulak dari pengrajin di Kauman-Bangsal. Letak kedua tempat pengrajin tak jauh dari kios dagangannya. Untuk kulakan cukup diangkut dengan motornya.

Pengrajin rambak yang menjadi langganannya, menurut ia, hampir semua pengrajin yang ada di Kauman – Bangsal. Kebiasan yang dianut tidak beda yang dilakukan rekan pedagang lainnya. Ini terjadi lantaran jadwal kulakan masing-masing pedagang nyaris tidak sama dengan keberadaan rambak atau krecek, yang ditawarkan pengrajin langganan.

”Jika kami fanatik kulakan pada satu atau beberapa pengrajin saja, pasti saya akan mengalami kerepotan. Pasalnya keberadaan rambak dan krecek seorang pengrajin waktunya tidak pasti, sehingga harus kulakan ke pengrajin agar kios saya tidak kosong,” ujarnya.

Saat mengunjung Desa Kauman, terlihat sebuah pemandangan ada di kiri kanan jalan. Sepanjang mata memanjang jalan desa, tampak tebaran terpal penjemuran krecek. Sehingga jalan yang tersisa hanya cukup dilalui sebuah sedan. Ini karena 50% warga Bangsal merupakan pengrajin, jasa pengeringan, penggorengan dan distributor rambak serta krecek. 

Proses Pencucian
Salah satu pengrajin yang populer diantara sesamanya adalah H. Khomsun (44th). Bagaimana tidak, hanya kurun 7 tahun menekuni profesi pengrajin krecek, mantan penjual balon keliling ini sudah mampu mengubah tingkat ekonomi keluarganya, naik haji sekeluarga, membeli mobil, dan membeli gudang untuk mengembangkan bisnisnya yang harganya ratusan juta rupiah.

”Ilmu membuat krecek ini, saya dapatkan dari teman-teman pengusaha dan H. Jainul kakak kandung saya,” kata pria yang merintis bisnisnya dengan modal Rp 9 juta hasil penjualan sepeda motor.

Dalam menekuni bisnisnya, dibantu 11 karyawan. Mulai dari proses pencucian hingga pemotongan. Omset penjualan kini mencapai 5 kwintal per minggunya. Bahkan melonjak 10 ton sepanjang bulan Romadhon.

“Produk saya tersebar di beberapa kota di Jatim, seperti Malang, Pasuruan, Surabaya. Bahkan Ambon, Kalimantan dan Papua juga kami layani,” kata pemilik Farid Jaya, yang namanya diambil dari anak pertamanya.

Nasib usahanya, ternyata sejaya nama produknya. Betapa tidak. Saat beberapa bulan lalu berembus isu negatif, bahwa krecek atau rambak ada yang berbahan limbah jaket atau sepatu kulit, ternyata bisnisnya tak goyah. Angka penjualan tetap stabil.

”Jika ada yang menyebut bahan rambak adalah limbah. Pendapat itu tidak salah, tapi limbah yang mana. Bahan krecek adalah irisan kulit sapi bagian dalam, sementara kulit bagian luarnya untuk jaket atau sepatu,” ujarnya.

Harapannya pendapat tentang limbah kulit itu tidak diplesetkan. Menurut ia, kulit yang digunakan sebagai bahan selama menekuni bisnisnya, adalah lapisan kulit yang dibeli di pabrik pengolahan kulit di Sidoarjo, Krian, dan Malang. Kondisi kulit saat dibeli juga masih mentah. Bukan kulit samakan sisa produk bahan jaket dan kulit.

Kendati demikian, kulit yang dibelinya tidak langsung diiris-iris. Namun melalui beberapa proses pencucian yang berulang, dan direndam dalam air gamping selama 40 jam. ”Proses pencucian dan perendaman air gamping untuk menghilangkan bakteri atau zat-zat beracun yang menempel, sehingga steril dan higines,” katanya. (tribunonline@gmail.com)

Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks