Tampilkan postingan dengan label DEWAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEWAN. Tampilkan semua postingan
Wisnu Pimpin PDIP Surabaya 2010-2015
Selasa, 26 Januari 2010oleh Prima Sp Vardhana
Prediksi akan melenggangnya Wisnu Sakti Buana ke tahta Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Surabaya periode 2010-2015, lewat Konferensi Cabang (konfercab) PDIP Surabaya di Hotel Equator Jl. Pakis Argosari, 25-26 Februari, menjadi kenyataan. Wisnu yang putra politikus PDIP Sutjpto itu “dipaksakan” terpilih dengan membukukan 19 suara, sementara rivalnya Rizqie Darmaputra yang hanya mendapatkan 10 suara.
PAC yang berhak memberikan suara dalam konfercab itu, menurut Wakil Ketua DPD PDIP Jatim, Ali Mudji, jumlahnya sebanyak 31 PAC. Namun yang terlibat dalam pemungutan suara hanya 29 PAC. Sedangkan PAC Sukomanungga dan Bubutan tidak bisa memberikan suaranya, karena kedua PAC sedang dalam masalah kepengurusan. Masing-masing memiliki dua kepengurusan yang saat ini dalam proses penyelesaian, sehingga panpel konfercab memutuskan kedua PAC itu hanya memiliki hak sebagai peninjau tanpa memiliki hak suara.
Setelah ketua baru terpilih, menurut Ali Mudji, proses selanjutnya peserta bersama ketua terpilih akan memilih anggota formatur yang nantinya bertugas membentuk kepengurusan baru. Anggota formatur terdiri dari tujuh orang meliputi lima dari utusan dapil, satu orang perwakilan DPD PDIP Jatim dan ketua terpilih. Anggota perwakilan dapil meliputi, dapil satu diwakili Hasan, dapil dua Suwanto dapil tiga Iwan dapil empat Hariyadi dan dapil lima Haris Pranata.
Induk Parpol Berang atas Agenda Kunker Komisi E ke Laos
Rabu, 09 Desember 2009oleh Prima Sp Vardhana
SURABAYA, TRIBUN – Agenda plesir politik anggota Komisi E DPD Jatim yang beropeng Kunker(Kunjungan Kerja) ke Laos, untuk melakukan monitoring atlit Sea Games XXV asal Jawa Timur, ternyata membuat 'berang' para pimpinan induk Patai Politik. Pasalnya agenda kunker tersebut dinilai melanggar aturan. Karena itu, para pimpinan partai memberi peringatan keras terhadap kadernya yang duduk di Komisi E.
Salah satu pimpinan partai yang siap melakukan teguran keras pada kadernya adalah Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim H Imam Nahrawi. Ia mengaku, sudah mendengar keberangkatan tiga anggotanya di komisi E ke Laos . Anggota asal PKB itu antara lain, Fuad Mashuni (Wakil Ketua Komisi E), Badrut Tamam dan Anisya Syakur. “Sampai sekarang, kepergian mereka belum ada pemberitahuan resmi ke partai maupun fraksi,” kata Imam Nahrawi, Rabu (09/12).
Secara strukturial, dikatakan, sangat keberatan dengan perilaku anggotanya yang dinilai masyarakat ketagihan kunjungan kerja. DPW akan mempelajari penyelewengan kewenangan anggotanya di dewan terkait kunjungan kerja ke Laos itu. Apakah benar-benar dalam rangka tugas atau sekedar jalan-jalan.
“Jika mereka berangkat sesuai mekanisme, kami akan legowo atas keberangkatannya. Sebaliknya jika menyalahi mekanisme, DPW akan melakukan sikap tegas dan tak akan melakukan toleransi,” katanya.
DPW pun memberi patokan, hal-hal yang bisa dianggap menyalahi mekanisme. Yakni terkait anggaran yang digunakan itu termasuk merugikan negara atau tidak. Lalu soal penting tidaknya atau urgensi kunjungan tersebut. “Sekembalinya dari Laos , kita akan panggil mereka bertiga,” ujar anggota DPR RI ini.
Apakah bakal disanksi? Nahrawi belum bisa memastikan sekarang. Ia akan melihat tingkat kesalahannya. Apalagi, dana yang digunakan adalah APBD yang dimiliki KONI Jatim. “Apalagi jika dana yang dipakai diduga mengandung unsur gratifikasi (hadiah). Kita akan lakukan kroscek ke KONI juga,” tegasnya
Sikap yang tidak jauh berbeda juga dilakukan Ibnu Hajar, Ketua DPD Partai Demokrat Jatim. Sebab ada tiga anggotanya sudah berangkat ke Laos sejak 8 Desember lalu. Yakni Hery Prasetyo, Nur Muhidin dan Lilik Muharti. “Kalau ternyata mereka di sana jalan-jalan, kita akan undang mereka untuk menjelaskan soal keberangkatannya ke Laos ,” kata Ibnu saat dihubungi.
Menurutnya, anggota Partai Demokrat menggunakan kunjungan kerja untuk jalan-jalan, itu kurang tepat. Sebab sepengetahuannya, KONI mengajak anggota komisi E, karena mungkin ada kaitanya dalam perbaikan manjemen dan prestasi atlit Jatim. “Saya akan mempelajari proposalnya, apa betul ada jadwal jalan-jalan wisata-nya,” katanya. Setelah dipelajari dan mengundang anggotanya, Partai tidak segan-segan menerapkan sanksi disiplin keras pada anggotanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 12 (bukan 14) anggota Komisi E DPRD Jatim rama-ramai piknik ke negeri Laos. Berangkat pada 8 Desember dengan dalih memantau atlit Sea Games asal Jatim. Tempat-tempat yang masuk jadwal city tour itu antara lain Viantiane ( kota bulan), obyek wisata Wat Sisakat (Candi Tertua di Laos), Haw Pha Kaew, Patoxai, Luang Stupa Morning Market dan jembatan Laos-Thailand.
Sayang dari enam hari kunjungan yang dibiayai Rp 14,7 juta per anggota itu, hanya dua hari saja yang digunakan untuk melihat venue Sea Games. Sisanya digunakan lebih banyak jalan-jalan.
Selain enam anggota yang sudah disebut di atas, ada pula nama Dr. Wike Herawati dan Erwin Budiyoto dari Gerindra, Dra Sumiati (PDIP), Riyadh Rosyadi (PKS), Akik Zaman (PKNU) dan Ibrahim Adib (PPP). Sisanya, ada yang masuk dalam gelombang kedua berangkat tangal 15 Desember. Tapi ada pula anggota yang menolak berangkat seperti Kuswanto dari Partai Hanura. “Urgensinya tidak ada, saya pilih tidak berangkat,” tukasnya dua hari lalu. (vd)
Salah satu pimpinan partai yang siap melakukan teguran keras pada kadernya adalah Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim H Imam Nahrawi. Ia mengaku, sudah mendengar keberangkatan tiga anggotanya di komisi E ke Laos . Anggota asal PKB itu antara lain, Fuad Mashuni (Wakil Ketua Komisi E), Badrut Tamam dan Anisya Syakur. “Sampai sekarang, kepergian mereka belum ada pemberitahuan resmi ke partai maupun fraksi,” kata Imam Nahrawi, Rabu (09/12).
Secara strukturial, dikatakan, sangat keberatan dengan perilaku anggotanya yang dinilai masyarakat ketagihan kunjungan kerja. DPW akan mempelajari penyelewengan kewenangan anggotanya di dewan terkait kunjungan kerja ke Laos itu. Apakah benar-benar dalam rangka tugas atau sekedar jalan-jalan.
“Jika mereka berangkat sesuai mekanisme, kami akan legowo atas keberangkatannya. Sebaliknya jika menyalahi mekanisme, DPW akan melakukan sikap tegas dan tak akan melakukan toleransi,” katanya.
DPW pun memberi patokan, hal-hal yang bisa dianggap menyalahi mekanisme. Yakni terkait anggaran yang digunakan itu termasuk merugikan negara atau tidak. Lalu soal penting tidaknya atau urgensi kunjungan tersebut. “Sekembalinya dari Laos , kita akan panggil mereka bertiga,” ujar anggota DPR RI ini.
Apakah bakal disanksi? Nahrawi belum bisa memastikan sekarang. Ia akan melihat tingkat kesalahannya. Apalagi, dana yang digunakan adalah APBD yang dimiliki KONI Jatim. “Apalagi jika dana yang dipakai diduga mengandung unsur gratifikasi (hadiah). Kita akan lakukan kroscek ke KONI juga,” tegasnya
Sikap yang tidak jauh berbeda juga dilakukan Ibnu Hajar, Ketua DPD Partai Demokrat Jatim. Sebab ada tiga anggotanya sudah berangkat ke Laos sejak 8 Desember lalu. Yakni Hery Prasetyo, Nur Muhidin dan Lilik Muharti. “Kalau ternyata mereka di sana jalan-jalan, kita akan undang mereka untuk menjelaskan soal keberangkatannya ke Laos ,” kata Ibnu saat dihubungi.
Menurutnya, anggota Partai Demokrat menggunakan kunjungan kerja untuk jalan-jalan, itu kurang tepat. Sebab sepengetahuannya, KONI mengajak anggota komisi E, karena mungkin ada kaitanya dalam perbaikan manjemen dan prestasi atlit Jatim. “Saya akan mempelajari proposalnya, apa betul ada jadwal jalan-jalan wisata-nya,” katanya. Setelah dipelajari dan mengundang anggotanya, Partai tidak segan-segan menerapkan sanksi disiplin keras pada anggotanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 12 (bukan 14) anggota Komisi E DPRD Jatim rama-ramai piknik ke negeri Laos. Berangkat pada 8 Desember dengan dalih memantau atlit Sea Games asal Jatim. Tempat-tempat yang masuk jadwal city tour itu antara lain Viantiane ( kota bulan), obyek wisata Wat Sisakat (Candi Tertua di Laos), Haw Pha Kaew, Patoxai, Luang Stupa Morning Market dan jembatan Laos-Thailand.
Sayang dari enam hari kunjungan yang dibiayai Rp 14,7 juta per anggota itu, hanya dua hari saja yang digunakan untuk melihat venue Sea Games. Sisanya digunakan lebih banyak jalan-jalan.
Selain enam anggota yang sudah disebut di atas, ada pula nama Dr. Wike Herawati dan Erwin Budiyoto dari Gerindra, Dra Sumiati (PDIP), Riyadh Rosyadi (PKS), Akik Zaman (PKNU) dan Ibrahim Adib (PPP). Sisanya, ada yang masuk dalam gelombang kedua berangkat tangal 15 Desember. Tapi ada pula anggota yang menolak berangkat seperti Kuswanto dari Partai Hanura. “Urgensinya tidak ada, saya pilih tidak berangkat,” tukasnya dua hari lalu. (vd)
Takut Terseret Skandal Gratifikasi, Lima Anggota Komisi E Pilih Tak ke Laos
Selasa, 08 Desember 2009ole Prima Sp Vardhana
SURABAYA, TRIBUN – Setelah agenda kunker politik 12 anggota Komisi E DPRD Jatim ke Laos dengan kedok monitoring atlet Jatim di arena SEA Games XXV terungkap. Juga menuai kritik, maka lima anggota yang rencananya akan terbang dalam kelompok kedua pada 14 Desember memutuskan tidak berangkat. Mereka kuatir kunker tersebut menjadi masalah serius di kemudian hari.
Mereka yang batal berangkat itu antara lain Saleh Ismail Mukadar dan Bambang Hariyanto (PDIP), Kuswiyanto (PAN), Kuswanto (Hanura) dan Kodrat Sunyoto (Partai Golkar). Mereka berpendapat, kunjungan kerja ke Laos itu dinilai tidak memiliki urgensi terhadap keberadaan mereka sebagai wakil rakyat Jatim. Apalagi dana yang digunakan dari KONI Jatim yang selama ini langganan menerima hibah dari APBD Jatim.
Saat ditemui di gedung DPRD Jatim pada Selasa (8/12) siang, Kuswanto mengatakan, sejak pembahasan awal, dirinya telah menolak agenda kunker ke Laos. Pasalnya, agenda dengan dalih melakukan monev atlet Jatim di arena Sea Games XXV Laos dianggap tidak begitu penting dan mengada-ada.
Menurut Ketua Fraksi Hanura Damai DPRD Jatim ini, pelesir ke Laos itu bermula dari rapat gabungan yang digelar antara Komisi E dengan KONI Jatim. Saat itu, KONI menyatakan ada anggaran untuk anggota Komisi E jika ingin menyaksikan langsung atlet asal Jatim yang berlaga di Sea Games.
Terlebih, kata Kuswanto monitoring dan evaluasi yang dilakukan anggota komisi E di Laos jika dilihat dari schedule kegiatan selama di Laos tidak mungkin bisa maksimal. Sebab monitoring itu paling tidak dilakukan dari awal sampai akhir kegiatan Sea Games. “Tapi kalau melihat jadwal yang efektif untuk Sea Games kan cuma dua hari, apa itu yang dinamakan monitoring,” cetus politisi asal Sidoarjo itu. Untuk diketahui, sesuai
jadwal, kunker ke Laos itu berangkat mulai kemarin sampai tanggal 13 Desember. Hari pertama, mereka nginap di Hongkong lalu ke melihat atlit dua hari dan sisanya digunakan untuk pelesir ke sejumlah tempat wisata negeri Laos. Seperti Viantiane (kota bulan), obyek wisata Wat Sisakat (Candi Tertua di Laos), Haw Pha Kaew, Patoxai, Luang Stupa Morning Market dan jembatan Laos-Thailand.
"Acara semacam ini mungkin bisa kalau di Jatim, misalnya akan ada even sebesar itu, jadi bisa sekalian studi banding. Kalau yang sekarang itukan hanya menghambur-hamburkan duit rakyat yang seharusnya bisa digunakan untuk membina atlet," ujarnya.
Sedangkan Kodrat Sunyoto mengatakan, dirinya tidak berangkat dengan alasan acara di Laos it tidak memiliki urgensitas dengan kegiatan Komisi E. Selain itu, secara kebetulan diriya ada acara internal partai. “Di Golkar kan ada kegiatan pergantian pengurus hingga ke bawah . Kalau saya tinggal, khawatir nantinya saya dianggap tidak loyal terhadap partai, jadi saya lebih mengutamakan kepentingan partai,” tambahnya.
Sekretaris DPRD Jatim Edi Purwinarto mengatakan, kunjungan Komisi E ke Laos ini menggunakan anggaran dari KONI. "Dewan memang tidak ada anggaran untuk itu, seluruhnya dianggarkan KONI," pungkasnya.
Sebagai Informasi, anggaran yang dihabiskan untuk kegiatan ini juga tidak kecil. Setiap anggota komisi dijatah masing-masing Rp 14.700.000. Biaya tersebut sudah termasuk transportasi dan akomodasi selama enam hari. Serta biaya penginapan di hotel bintang tiga. Segala urusan para wakil rakyat itu dikendalikan biro perjalanan wisata BCP (Bayu Citra Persada). (vd)
Agenda Pelesir Komisi E Habiskan Dana KONI Rp 279,3 Juta
oleh Prima Sp Vardhana
SURABAYA, TRIBUN – Agenda kunjungan kerja (Kunker) 19 anggota Komisi E DPRD Jawa Timur ke Laos dengan kedok monitoring prestasi 140 tlet Jatim di arena SEA Games XXV, ternyata menelan dana pembinaan KONI Jatim sekitar Rp 279,3 Juta. Dana yang dibutuhkan untuk sistem pembinaan atlet Jatim itu akan dimanfaatkan untuk membayai dua kelompok terbang (kloter) 19 anggota dewan. Kloter pertama yang terdiri 12 anggota dewan sudah berangkat 8 Desember pagi kemarin, sementra 7 anggota sisanya rencananya akan terbang 14 Desember bersama Ketua Umum KONI Jatm, H. Imam Utomo.
Besarnya anggaran pembinaan atlet milik KONI Jatim yang dihabisnkan itu, kaena setiap anggota komisi di atas kertas masing-masing dijatah Rp 14.700.000. Biaya tersebut sudah termasuk transportasi dan akomodasi selama enam hari. Serta biaya penginapan di hotel kelas bintang tiga. Sedangkan segala urusan para wakil rakyat itu ditangani oleh biro perjalanan wisata Bayu Citra Persada (BCP).
Dari jadwal yang didapat Tribun Indonesia, para anggota komisi E DPRD Jatim itu tidak murni melakukan monitoring prestasi atlet Jatim di arena SEA Games Laos. Pasalnya selama enam hari jdwal kunker, ternyata mereka hanya melihat pesta olahraga tergengsi di Asia Tenggara itu cuma pada hari ke dua dan ke empat. Selebihnya dijadwal jalan-jalan ke sejumlah obyek wisata di negeri Laos itu.
Tempat wisata yang terjadwal menjadi target wisata para anggota dewan itu adalah Viantiane (kota bulan), obyek wisata Wat Sisakat (Candi Tertua di Laos), Haw Pha Kaew, Patoxai, Luang Stupa Morning Market dan jembatan Laos-Thailand.
Dengan bukti jadwal kunker yang diagendakan biro perjalanan BCP itu, menurut Dewan Penasehat Aliansi Masyarakat Antikorupsi Surabaya (Amaks), I Wayan Titip Sulaksana, sudah membuktikan jika agenda kunker tersebut menyalahi aturan. Seharusnya kunker anggota dewan harus dibiayai oleh anggaran dewan. Kondisi ini untuk menjaga indepedensi lembaga legislatif tersebut.
"Kalau keberangkatan 19 anggota Komisi E itu atas biaya KONI Jatim, saya yakin agenda tersebut memiliki benang merah yang bernuansa kongkalikong denga sebuah kebijaan yang menguntungkan KONI Jatim dalam kaitan anggaran," kata pria berambut putih itu saat dihubungi.
Karena itu, dia menegaskan akan melakukan pengumpulan data lengkap tentang keberangkatan 19 anggota komisi E tersebut. (vd)
Besarnya anggaran pembinaan atlet milik KONI Jatim yang dihabisnkan itu, kaena setiap anggota komisi di atas kertas masing-masing dijatah Rp 14.700.000. Biaya tersebut sudah termasuk transportasi dan akomodasi selama enam hari. Serta biaya penginapan di hotel kelas bintang tiga. Sedangkan segala urusan para wakil rakyat itu ditangani oleh biro perjalanan wisata Bayu Citra Persada (BCP).
Dari jadwal yang didapat Tribun Indonesia, para anggota komisi E DPRD Jatim itu tidak murni melakukan monitoring prestasi atlet Jatim di arena SEA Games Laos. Pasalnya selama enam hari jdwal kunker, ternyata mereka hanya melihat pesta olahraga tergengsi di Asia Tenggara itu cuma pada hari ke dua dan ke empat. Selebihnya dijadwal jalan-jalan ke sejumlah obyek wisata di negeri Laos itu.
Tempat wisata yang terjadwal menjadi target wisata para anggota dewan itu adalah Viantiane (kota bulan), obyek wisata Wat Sisakat (Candi Tertua di Laos), Haw Pha Kaew, Patoxai, Luang Stupa Morning Market dan jembatan Laos-Thailand.
Dengan bukti jadwal kunker yang diagendakan biro perjalanan BCP itu, menurut Dewan Penasehat Aliansi Masyarakat Antikorupsi Surabaya (Amaks), I Wayan Titip Sulaksana, sudah membuktikan jika agenda kunker tersebut menyalahi aturan. Seharusnya kunker anggota dewan harus dibiayai oleh anggaran dewan. Kondisi ini untuk menjaga indepedensi lembaga legislatif tersebut.
"Kalau keberangkatan 19 anggota Komisi E itu atas biaya KONI Jatim, saya yakin agenda tersebut memiliki benang merah yang bernuansa kongkalikong denga sebuah kebijaan yang menguntungkan KONI Jatim dalam kaitan anggaran," kata pria berambut putih itu saat dihubungi.
Karena itu, dia menegaskan akan melakukan pengumpulan data lengkap tentang keberangkatan 19 anggota komisi E tersebut. (vd)
Alasan Kunker, Komisi E DPRD Jatim Nglencer 'Politik' ke Laos
oleh Prima Sp Vardhana
SURABAYA, TRIBUN - Anggota Komisi E DPRD Jatim yang membidangi Kesejahteran Rakyat (Kesra) periode 2009-2014 bak pepatah mendapat durian runtuh. Bagaimana tidak. Baru seumur jagung dilantik, ternyata mereka sudah diajak KONI Jatim ke luar negeri. Dengan alasan kunjungan kerja (kunker) kepentingan dinas, sektar 14 anggota dewan terbang ke Laos untuk menyaksikan pembukaan Sea Games XXV.
Para wakil rakyat ini terbang dengan pesawat Royal Brunei. Berdasarkan papan pengumuman keberangkatan pesawat milik negara Sultan Bulkiah itu berangkat 06.35 WIB melalui Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Selasa (8/12).
Informasi yang didapat keberangkatan ke Laos atas undangan KONI untuk memantau atlet Indonesia yang berlaga di arena Sea Games XXV, yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 18 Desember. Mereka bertolak ke Laos daam dua gelombang. Kloter pertama terbang 8 Desember sementara kloter kedua berangkat 13 Desember.
Sebelum masuk ke ruang boarding, terlihat rombongan yang berjumlah 14 orang ini berkumpul di Soerabaja Cafe, sesaat setelah memasukan tas dan bawaanya ke bagasi melalui ruang check in.
Tampak dalam rombongan diantaranya Nur Muhyidin dan Hery Prasetyo dan beberapa pengurus KONI Jatim. Heri kepada detiksurabaya.com mengakui jika rombongan komisi E atas ajakan KONI Jatim. "Ke Laos, kita diajak KONI," kata politisi dari Partai Demokrat ini singkat sembari menuju ke ruang boarding. (vd)
Para wakil rakyat ini terbang dengan pesawat Royal Brunei. Berdasarkan papan pengumuman keberangkatan pesawat milik negara Sultan Bulkiah itu berangkat 06.35 WIB melalui Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Selasa (8/12).
Informasi yang didapat keberangkatan ke Laos atas undangan KONI untuk memantau atlet Indonesia yang berlaga di arena Sea Games XXV, yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 18 Desember. Mereka bertolak ke Laos daam dua gelombang. Kloter pertama terbang 8 Desember sementara kloter kedua berangkat 13 Desember.
Sebelum masuk ke ruang boarding, terlihat rombongan yang berjumlah 14 orang ini berkumpul di Soerabaja Cafe, sesaat setelah memasukan tas dan bawaanya ke bagasi melalui ruang check in.
Tampak dalam rombongan diantaranya Nur Muhyidin dan Hery Prasetyo dan beberapa pengurus KONI Jatim. Heri kepada detiksurabaya.com mengakui jika rombongan komisi E atas ajakan KONI Jatim. "Ke Laos, kita diajak KONI," kata politisi dari Partai Demokrat ini singkat sembari menuju ke ruang boarding. (vd)
Dr.Wijono Pimpin Komisi D, Iswahyudi Pimpin Komisi A
Jumat, 23 Oktober 2009TRIBUN, Sidoarjo - Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo periode 2004-2009 Iswahyudi akhirnya kembali di tetapkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo periode 2009-2014 bersama Dr Wijono melalui SK Gubenur Jawa Timur No SK 171.438/92/011/2009.
Pengambilan sumpah jabatan melalui rapat paripurna istimewa yang di gelar Jum’at (23/10) di gedung DPRD Sidoarjo, berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun.
Ketua DPRD Sidoarjo Dawud Budi Sutrisno menegaskan, pergantian dua wakil rakyat ini sudah sesuai mekanisme pergantian yang di usulkan partai pengusung kepada ketua DPRD.
“Proses pergantiannya sudah sesuai dengan mekanisme yang ada, dengan turunnya SK Gubenur dan pengambilan sumpah jabatan, maka keduanya sudah resmi menjadi anggota DPRD Sidoarjo,” katanya.
Di tempat terpisah, ketua fraksi PDIP Taufik Hidayat menegaskan, sesuai dengan rapat fraksi yang di gelar beberapa waktu lalu, Anggota Fraksi PDIP yang baru akan di tempatkan di komisi yang sesuai dengan kemampuan masing masing.
Untuk Iswahyudi, tempatkan di komisi A membidani pemerintahan, sedangkan Dr Wijono dipercayakan di komisi D yang membidani Kesejahteraan rakyat.
“Penempatan keduanya sesuai dengan kemampuan masing masing” ujar Taufik Hidayat
Sementara itu ditemui selepas sumpah jabatan, Iswahyudi dan Dr Wijono mengaku siap menjalankan amanat fraksinya di komisi A dan D serta mulai melakukan tugas komisi sejak hari pertama mereka di kukuhkan sebagai anggota DPRD Sidoarjo. (vd)
Langganan:
Postingan (Atom)












