Keris Kun Di Bawah Situs Masjid
Rabu, 14 April 2010Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus.
Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas.
Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010).
Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas.
"Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully.
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris.
Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret.
Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17.
Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit.
Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah.
Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.(ico/kompas)
Dicari: Pemimpin Berjiwa Sehat
Kamis, 22 Oktober 2009Pemimpin yang ”sakit” rawan membuat rakyat menderita. Tidak terlalu mengherankan bahwa dalam pemilihan presiden dan calon menteri, tes kesehatan jiwa ikut menjadi persyaratan.
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), sekaligus Ketua Tim Penguji Kesehatan Calon Menteri, Brigjen TNI Supriyantoro mengatakan, calon menteri menjalani tes kejiwaan tertulis dan wawancara. Lewat tes itu didapatkan, antara lain, profil kepribadian, kemampuan menghadapi stres, berkomunikasi, dan kematangan jiwa. Untuk tes kejiwaan tertulis, calon menteri disodori sekitar 500 pertanyaan.
Pemimpin berjiwa sehat
Dr Hervita Diatri, SpKJ dari Departemen Psikiatri Universitas Indonesia senang dengan dimasukkannya kesehatan jiwa sebagai salah satu pertimbangan calon menteri. ”Pemimpin berjiwa sehat akan produktif dalam menjalankan tugasnya dan tentunya keputusan yang diambil lebih baik,” ujarnya.
Individu berjiwa sehat mampu menerima kondisi (kelebihan dan kekurangan) dirinya dan orang lain serta mampu beradaptasi. Individu tersebut merasa bahagia dan sejahtera. Dia mampu menghadapi tantangan, baik diprediksi maupun tidak.
Bagi para pemimpin, mereka juga harus dapat menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi hal kompleks terkait tugasnya. Dengan demikian, pemimpin itu akan merasa perlu mendengarkan dan mengakses orang lain yang berpotensi.
”Jika tidak, dia bisa menyalahkan dirinya sendiri dan orang lain sehingga mengganggu sistem. Selama ini ada kesan pemimpin harus tahu segalanya,” ujarnya. Hal yang tidak boleh dilupakan, di Indonesia pemimpin merupakan panutan—dia akan memengaruhi masyarakat.
Tes kejiwaan terkait kepemimpinan umumnya mencakup tes kepribadian guna melihat kecenderungan gangguan jiwa tertentu. Misalnya, cenderung depresi, kecemasan, dan psikotik (ketidakmampuan menilai kenyataan), seperti curiga berlebihan ada yang mau menjatuhkan. Intelligence quotient (IQ) yang terkait dengan kemampuan memecahkan permasalahan juga diuji. Terdapat pula tes kemampuan melihat kelebihan dan kekurangannya. ”Juga kemampuan bekerja dalam tim, posisi sebagai pemimpin, dan gaya kepemimpinan,” ujarnya.
Pengaruhi produktivitas
Tidak hanya bagi pemimpin kesehatan jiwa sangat penting sebagai bangsa. Kesehatan jiwa memengaruhi kualitas kesehatan dan produktivitas seseorang. Hari-hari produktif yang hilang (disabilty-adjusted life years/DALYs) sebesar 14 persen dari beban global penyakit, disebabkan masalah kesehatan jiwa. Sekitar 3/4 beban global penyakit neuropsikiatrik didapati di negara-negara berpenghasilan rendah. Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, yang jatuh setiap 10 Oktober, pada tahun ini sekaligus merupakan kampanye kesadaran global agar kesehatan jiwa menjadi prioritas.
Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menyebutkan, prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia meliputi gangguan kecemasan dan depresi secara nasional adalah 11,6 persen dari populasi orang dewasa—usia di atas 15 tahun. Dengan populasi orang dewasa sekitar 150 juta, sekitar 1.740.000 orang Indonesia mengalami gangguan mental emosional.
Sejauh mana seseorang dapat dikatakan mengalami masalah dan gangguan kesehatan jiwa? Hervita mengatakan bahwa sebagian besar orang pernah mengalami problem kesehatan jiwa. ”Orang itu mempunyai masalah, tetapi tidak mengganggu fungsinya. Contohnya, seseorang masih mampu berangkat bekerja, tetapi tidak bersemangat,” ujarnya.
Gangguan kesehatan jiwa berspektrum luas. Sekretaris Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo mengungkapkan, setidaknya ada 284 diagnosis gangguan jiwa, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Definisi gangguan jiwa sendiri adalah apabila ditemukan penurunan fungsi sebagai manusia dan ada keluhan. ”Terkait penurunan fungsi, individu tidak mengeluh, tetapi orang lain melihat perubahan perilakunya,” ujar Danardi.
Bentuk keluhan terdiri dari keluhan fisik (somatis), seperti tidak bisa berpikir, tidak bisa tidur, sakit kepala, dan jantung berdebar. Ada juga yang mengeluhkan perasaan, seperti benci, cemas, kesal, marah, dan takut.
Penetapan gangguan sedang hingga berat biasanya dengan memeriksa kemungkinan cedera di otak. ”Belum tentu ada kerusakan makro otak, tetapi gangguan mikro di neurotransmiter dan hormon, misalnya, dapat menjadi kronis. Gangguan jiwa berat mengganggu perilaku sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri maupun secara sosial.
Menurut Danardi, ada tiga penyebab gangguan jiwa. Pertama, faktor genetik yang bersifat herediter (keturunan) ataupun congenital (terjadi gangguan saat dalam kandungan). Kedua, faktor kepribadian yang berhubungan dengan kematangan pembentukan karakter. Ketiga, berkaitan dengan stressor (ancaman) internal ataupun eksternal. Penyebab tersebut bisa berdiri sendiri atau kombinasi.
Pembangunan
Dr Albert Maramis, SpKJ dari Departemen Psikiatri UI, dalam seminar Hari Kesehatan Jiwa di Departemen Kesehatan, berpendapat, kemiskinan relatif dan stressor psikososial meningkatkan risiko masalah kesehatan jiwa. Stressor psikososial terkait kekerasan, pengangguran, pengucilan sosial, ketidakamanan, rendahnya pendidikan, dan ketimpangan masyarakat.
Pembangunan masyarakat dan ekonomi berguna untuk memulihkan dan meningkatkan kesehatan jiwa. Program pembangunan yang bertujuan mengurangi kemiskinan, kemandirian ekonomi, pemberdayaan perempuan, meningkatkan pendidikan, serta memberdayakan masyarakat dapat menjadi pencegahan gangguan jiwa dan mempromosikan kesehatan jiwa. Itu hanya bisa dicapai di bawah pemimpin yang berjiwa sehat tadi. (kompas/vd)
Eeee... Pak Hatta, Sebentar Akang di Kamar Mandi
”Ada yang saya telepon, yang menerima seorang ibu. Ibu itu spontan berkata, ’Eeee... Pak Hatta. Sebentar ya, akang sedang di kamar mandi. Entar ya’,” demikian cerita Hatta Rajasa kepada wartawan, Rabu (21/10) malam. Ia adalah salah satu yang bertugas menelepon calon menteri kabinet baru.
Ada pula yang ditelepon langsung merasa curiga. ”Ini Hatta? Jangan-jangan bohong ini,” cerita Hatta di kantor Sekretaris Negara di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, semalam.
Maka, ia mengecek lagi apakah yang menelepon itu Hatta Rajasa yang saat itu menjabat Menteri Sekretaris Negara.
Sementara Pembantu Rektor I dan guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Gusti Muhammad Hatta ketika ditelepon mengira dia akan segera menjadi rektor universitas.
Hatta mengatakan, sebagian besar menteri dari partai politik, dia yang menghubungi melalui telepon. Sedangkan lainnya dihubungi lewat telepon oleh Sudi Silalahi yang saat itu menjabat Sekretaris Kabinet.
Ditanya apakah para calon menteri yang dihubungi lewat telepon ada yang membalas dengan bentakan, Hatta mengatakan, ”Kalau itu tidak ada.”
Dalam percakapan dengan para wartawan mengenai hal-hal di balik pembentukan kabinet baru ini, Hatta juga mengatakan mendengar berbagai suara yang meragukan dia bisa memegang jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. ”Dulu saya juga diragukan ketika ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara. Akan tetapi, sekarang Anda bisa menilai saya,” ujarnya.
Karena tugas Hatta menjadi ”tukang” telepon calon menteri, lalu siapa yang menelepon dia? Hatta diam saja. Setelah berkali-kali hal ini dipertanyakan, barulah Hatta menjawab. Ia mengatakan, sehari-hari ia ada di lingkungan istana, jadi tidak perlu lewat telepon.
Semalam, sebelum pengumuman susunan personalia Kabinet Indonesia Bersatu II, Hatta banyak bicara soal masalah energi. Ia juga menyanggah, pengumuman kabinet ini dilakukan pada malam hari, bahkan menjelang tengah malam, karena menunggu pihak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
”Proses pembentukan kabinet ini berjalan lancar dan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan,” ujarnya.
Menurut Hatta, bukan baru kali ini orang-orang yang akan dijadikan menteri kabinet dihubungi lewat telepon. ”Dulu tahun 2004 saya dihubungi oleh Pak Sudi Silalahi untuk menjadi Menteri Sekretaris Negara,” ujar Hatta.
Semalam, seusai pengumuman kabinet baru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Sekretaris Negara yang baru, Susi Silalahi, mengatakan, waktu untuk keluarga akan lebih berkurang lagi karena jabatan baru ini akan lebih berat dan lebih banyak tugas.
”Insya Allah, saya akan bisa melaksanakan tugas baru ini,” ujarnya sambil meninggalkan wartawan karena harus mendampingi Presiden Yudhoyono.
Sebelum pengumuman
Seusai pelantikannya sebagai Presiden RI, Selasa malam, Yudhoyono melanjutkan audisi calon menteri di rumah pribadinya di Puri Indah Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.
Presiden memanggil mantan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto dan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Kuntoro ditunjuk menjadi Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan. Adapun Sjafrie diproyeksikan menjadi Sekretaris Kabinet menggantikan Sudi Silalahi.
Saat pemanggilan keduanya, pers sama sekali tidak diberi tahu sehingga pemanggilan tersebut tidak terpublikasi.
Selanjutnya, Rabu pagi, Presiden Yudhoyono melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Boediono untuk memfinalisasi para calon. Pertemuan yang dilakukan sejak Rabu pagi itu diselingi dengan pertemuan antara Presiden Yudhoyono dan Hatta Rajasa mengenai rencana pertemuan nasional tentang ekonomi 2009, yang diselenggarakan pada 29-30 Oktober di Jakarta.
Presiden Yudhoyono juga menyempatkan bertemu dengan calon Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, untuk membahas persiapan pertemuan tingkat tinggi kepala negara (KTT) ASEAN di Hua Hin, Thailand.
Pertemuan maraton hampir seharian di rumah pribadi Presiden Yudhoyono itu menyebabkan batalnya sejumlah agenda pada hari pertama Wapres Boediono. Dua agenda yang urung dilaksanakan Boediono adalah pertemuan dengan pegawai dan pejabat kantor Sekretariat Wapres serta memimpin rapat dengan para sekretaris menteri koordinator di Istana Wapres. Rapat dengan para sekretaris menteri koordinator akhirnya digantikan oleh Hatta Rajasa.
Menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, setelah rapat yang memproses calon menteri, akhirnya diputuskan pengumuman menteri Kabinet Indonesia Bersatu II dijadwalkan Rabu malam di atas pukul 22.00 di Istana Merdeka, Jakarta. (kompas/vd)
Pembatik di Jember Turun Temurun
Rabu, 21 Oktober 2009WARGA yang membuat batik (pembatik) di Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun di kecamatan setempat.
"Saya belajar batik dari ibu saya, sedangkan ibu saya juga belajar batik dari nenek saya," kata Sumiati (31), salah seorang pembatik di Kecamatan Sumberjambe.
Menurut dia, pekerjaan membatik cukup sulit karena memerlukan ketekunan dan ketelitian untuk membatik di sebuah kain putih yang sudah diberi pola batik tersebut. "Sebagian besar pembatik di sini juga belajar membatik secara turun temurun," katanya.
Sebagian warga yang belajar untuk membatik, kata dia, tidak bertahan lama, apabila tidak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar membatik.
"Ada beberapa warga yang mengeluh setelah beberapa hari belajar membatik di sini karena pekerjaan membatik memerlukan ketekunan dan kesabaran," katanya.
Ia mengemukakan, untuk membatik pada sepotong kain biasanya diperlukan waktu selama 1-2 hari sesuai dengan pola yang diinginkan oleh pemesan. "Kami harus berhati-hati untuk membatik di sepotong kain supaya hasilnya tidak mengecewakan konsumen," katanya.
Sejauh ini, kata dia, anak keduanya sudah mulai membantu dirinya membatik di sepotong kain, namun motifnya tidak terlalu rumit. "Hanya anak kedua saya yang mau belajar membatik seperti saya, sedangkan yang lain tidak mau belajar membatik," katanya.
Pembatik lainnya, Mahfidatul, mengaku belajar batik Sumberjambe dari ibunya sejak kecil karena pekerjaan ibunya sehari-hari adalah membatik di sebuah industri rumah tangga batik di Jember.
"Memang pekerjaan membatik adalah pekerjaan yang turun temurun yang harus dilestarikan oleh masyarakat Jember," katanya.
Ia menjelaskan, seorang pembatik harus memiliki kesabaran yang cukup tinggi karena pekerjaan membatik tidak seperti pekerjaan lainnya yang harus cepat. "Saya tidak menyesal bekerja sebagai pembatik, meski penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.
Untuk membatik tulis, kata dia, upah yang diterimanya sebesar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per potong kain, padahal membatik tersebut membutuhkan waktu sehari untuk menyelesaikan motof batik sesuai dengan pesanan. "Kalau sehari penuh, saya bisa menyelesaikan batik tulis hanya dua potong kain saja," katanya.
Ia menjelaskan, biasanya batik yang paling laris di Sumberjambe adalah batik bermotif daun tembakau yang dikenal dengan batik Labako yang merupakan batik khas Jember. (nta)
Batik Khas Jember Terinspiasi Corak Daun Tembakau
DUNIA melalui UNESCO sudah mengakui batik Indonesia sebagai budaya tak-benda warisan manusia, sehingga pengakuan tersebut membuat bangga masyarakat Indonesia yang sudah turun-temurun membuat batik.
Beragam motif dan corak batik ditorehkan dalam sebuah kain putih, sehingga ribuan corak batik dengan berbagai keunikan sudah dihasilkan oleh masyarakat yang notabene sebagai perajin batik di Nusantara.
Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, perajin batik mulai berbenah untuk mencari motif sesuai dengan selera pasar di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam industri batik.
Namun, tidak sedikit perajin batik yang berusaha mempertahankan motif batik yang diyakini bisa menjadi ciri khas suatu daerah tertentu, sehingga masyarakat luas mudah mengenali kain batik tersebut dari corak dan motifnya.
Seperti yang dilakukan Mawardi, seorang perajin batik asal Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jatim, selama beberapa tahun terakhir ini, ia mencoba mempertahankan motif daun tembakau yang diyakini sebagai motif batik khas Jember.
"Jember merupakan salah satu kabupaten yang dikenal sebagai produsen tembakau, sehingga tidak heran para perajin batik di kabupaten ini berusaha mempertahankan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember," kata Mawardi yang sudah menyukai batik sejak kecil ini.
KAYA MOTIF
Sekilas, batik Sumberjambe terlihat hampir sama dengan batik di daerah lainnya yang kaya dengan motif dan penuh dengan sentuhan seni para pembatiknya, sehingga kain batik memiliki pesona tersendiri bagi pemakainya.
Dengan cekatan dan tangan terampilnya, Mawardi mencoba membuat berbagai motif batik sesuai dengan pesanan konsumen, namun apa pun motif batik yang dibuatnya, ia tidak pernah lupa untuk memadukannya dengan motif daun termbakau.
Ia mengakui, masyarakat tidak banyak yang mengenal batik Jember karena batik Solo, Yogyakarta dan Madura lebih terkenal dibandingkan batik yang sederhana di kabupaten yang kecil di kawasan Besuki ini.
"Beberapa daerah di Jatim ternyata kaya akan budaya batik yang menjadi khas di daerah setempat, termasuk Kabupaten Jember, " kata pria yang memiliki dua anak yang sudah beranjak dewasa ini.
Sejak turun temurun, kata dia, motif daun tembakau dari ukuran kecil hingga ukuran besar selalu menjadi salah satu motif andalan bagi perajin batik di Kecamatan Sumberjambe tersebut.
"Sejak dulu motif batik berupa daun tembakau sudah menjadi ciri khas batik Jember, meski motif itu belum tidak pernah diajarkan secara turun temurun oleh para perajin batik," ujarnya mengungkapkan.
Harga batik Jember juga terjangkau, batik cap dengan bahan kain katun dijual sebesar Rp65 ribu-Rp80 ribu per-potong, batik tulis yang menggunakan bahan kain katun dijual dengan Rp85 ribu-Rp150 ribu perpotong.
Untuk batik dari bahan kain sutera dijual dengan harga Rp300 ribu perpotong, apabila menggunakan batik cap harganya sekitar Rp125 ribu per-potong. Harga ini lebih murah dibandingkan sejumlah harga kain batik di beberapa daerah.
Menurut dia, banyak warga Jember dan luar Jember yang memesan batik dengan motif daun tembakau karena sudah menjadi ciri khas Kabupaten Jember, yang dikenal sebagai kota tembakau.
"Kami berusaha mengikuti selera pasar terkait dengan motif batik yang ada, namun kreasi motif baru itu selalu dipadukan dengan motif daun tembakau," katanya.
MOTIF DAUN
Ia menjelaskan, hampir sebagian besar warga Jember dan luar Jember memilih motif tembakau yang dikombinasikan dengan motif bunga, parang dan tumbuhan yang dibuat semenarik mungkin, sehingga kombinasi coraknya serasi.
Sejauh ini, kata dia, perajin batik di Kecamatan Sumberjambe berusaha mempertahankan motif daun tembakau sebagai motif yang khas Jember, meski beberapa perajin batik di luar Jember menggunakan motif daun tembakau.
"Kami tidak bisa melarang perajin batik lain yang menggunakan motif tembakau karena pembuatan motif batik merupakan kreasi pembatik untuk menarik konsumen. Alhamdulillah di sini, masih banyak yang memesan batik dengan motif daun tembakau," paparnya.
Imbauan Presiden untuk menggunakan baju batik dalam acara resmi, kata dia, memiliki dampak yang luar biasa yang dirasakan para perajin batik di Jember, yakni meningkatnya jumlah pesanan kain batik sebagai sebagai seragam sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta.
"Para pembatik di sini sempat kewalahan dan harus kerja ekstra keras untuk menyelesaikan berbagai pesanan batik tulis dan batik cap," tuturnya.
Buruh pembatik di UD Bintang Timur, Sofia, mengaku, gembira dengan banyaknya pesanan batik di Kecamatan Sumberjambe, sehingga para buruh pembatik juga mendapatkan upah yang lumayan banyak seiring dengan banyaknya jumlah pesanan.
Sebagian besar perempuan di Desa Sumberpakem menjadi buruh pembatik di beberapa perajin batik di desa setempat untuk menambah penghasilan suami mereka yang sehari-hari menjadi buruh tani.
"Tidak semua warga di sini bisa membatik, namun membatik adalah warisan secara turun temurun. Saya belajar membatik dari ibu saya dan akan saya teruskan kepada anak perempuan saya," katanya.
Sebagian besar motif kain batik tulis yang dikerjakan, lanjut Sofia, adalah motif daun tembakau dengan berbagai ukuran dan kombinasi motif lain yang dipadukan secara serasi, sehingga motif khas Jember selalu ada dalam setiap potong kain batik.
BELUM MENGENAL
Belum dikenalnya batik Jember dan pangsa pasar yang masih sulit membuat sejumlah pihak khawatir akan perkembangan batik tulis dengan motif tembakau yang terkesan sederhana dan kurang diminati.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jember, Mirfano, mengatakan, masyarakat luas belum mengenal batik khas Jember karena masih banyak warga Jember yang enggan menggunakan batik lokal buatan perajin batik Sumberpakem, sehingga hal itu yang menjadikan promosi batik dengan motif tembakau kurang dikenal di tingkat lokal, nasional dan internasional.
"Sebagai warga Jember seharusnya bangga menggunakan baju batik lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan batik di beberapa daerah di Tanah Air," katanya.
Ia optimistis dengan promosi yang dilakukan secara serentak dan massif oleh masyarakat Jember dengan cara menggunakan batik lokal dalam acara resmi di luar daerah Jember, secara tidak langsung warga Jember ikut mempromosikan batik yang memiliki motif tembakau tersebut.
"Kami sudah mengedarkan surat imbauan kepada seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan perusahaan swasta untuk menggunakan batik lokal, minimal sehari dalam enam hari kerja," ujarnya.
KESULITAN MODAL
Selain promosi yang kurang, lanjut dia, kesulitan mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang industri batik juga menjadi kendala tersendiri bagi perajin batik untuk mengembangkan industri batik yang ada di Kabupaten Jember.
Menurut dia, pihaknya berupaya membantu memberikan modal melalui Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) kepada sejumlah perajin batik yang kabarnya kesulitan modal untuk mengembangkan industri batik supaya pertumbuhan "home industry" batik di Desa Sumberpakem tidak gulung tikar.
"Kami berusaha untuk membantu usaha batik mereka dengan mengucurkan sejumlah program bantuan modal dari Perbankan dengan bunga rendah," katanya.
Sejauh ini, teknologi untuk membatik di Jember masih sangat sederhana, sehingga belum memenuhi standar yang layak untuk bersaing di pasar tingkat nasional dan internasional.
"Perajin batik harus mengembangkan wawasan sedemikian rupa untuk mengembangkan motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif khas Jember berupa daun tembakau," katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Penanaman Modal Jember, Hariyanto, mengemukakan, batik Jember memang belum dikenal oleh masyarakat luas karena motifnya hanya monoton, sehingga kurang diminati oleh konsumen.
"Kalau dulu motifnya itu-itu saja (monoton) dan variasi corak kurang, sehingga tidak layak jual ke pasar baik tingkat lokal maupun nasional" katanya.
Untuk itu, kata dia, pihaknya berupaya memberikan pelatihan dan ketrampilan tambahan kepada perajin batik supaya bisa mengembangkan kreasi motif tembakau dan membuat sebuah terobosan inovatif untuk memajukan industri batik.
"Sebanyak 20 perajin batik pernah diberangkatkan untuk mengikuti 'workshop' terkait dengan inovasi batik, sehingga mereka memiliki wawasan tambahan dalam mengembangkan batik lokal," paparnya.
Di Jember, ada tiga kelompok industri rumah tangga yang mengembangkan usaha batik yang memiliki puluhan buruh pembatik yang berasal dari warga desa setempat.
"Kami meminta kepada perajin batik untuk mengembangkan kreasi motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif daun tembakau yang menjadi ikon Kabupaten Jember," ucapnya.
MENGENALKAN BATIK
Keterbatasan wawasan yang dimiliki perajin batik dan modal usaha menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan batik Jember, sehingga sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berusaha untuk mengatasi persoalan tersebut dan mencoba mencari solusinya.
Untuk mempromosikan batik Jember, lanjut dia, pihaknya selalu berpartisipasi dalam pameran batik di tingkat lokal dan nasional untuk mengenalkan batik Jember kepada masyarakat luas.
"Beberapa kali kami ikut pameran produk Indonesia, minat warga luar Jember terhadap batik yang bermotif daun tembakau cukup besar," katanya.
Kendati motif daun tembakau menjadi ciri khas batik Jember, pihak pemkab setempat tidak memiliki keinginan untuk mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember.
"Kami pikir tidak perlu mematenkan motif daun tembakau sebagai motif khas Jember, karena batik secara umum sudah ditetapkan sebagai budaya Indonesia oleh UNESCO," katanya.
Pemkab Jember, kata dia, memiliki sebuah gerai di kawasan wisata Bali, sebagai upaya mengenalkan batik Jember kepada warga negara asing yang sedang berlibur di Pulau Dewata.
"Kami sudah menjalin kerja sama dengan beberapa toko kerajinan di Amerika Serikat (AS), Belanda, Jerman, Australia dan India untuk memasarkan batik dengan dominasi motif tembakau," katanya.
Sejumlah negara tersebut terkadang mengirimkan pola motif batik yang diminati oleh warga di sana ke perajin batik di Jember untuk dibuat kain batik tulis dengan corak dan motif sesuai dengan pesanan warga di sana.
"Dengan kerja sama seperti itu, perajin batik di Jember bisa mempelajari sejumlah corak yang diminati warga negara asing," katanya.
Sementara anggota DPRD Jember, Ahmad Halim, mengaku bangga terhadap batik Jember yang memiliki ciri khas tertentu, yakni dengan motif tembakau yang terkesan sederhana namun eksotik, apabila dikombinasikan dengan beragam motif.
"Memang benar banyak warga Jember yang belum menggunakan baju batik lokal, sehingga promosi hanya dilakukan oleh pihak perajin batik dan kurang maksimal," katanya.
Ia berharap, pemerintah bisa memberikan pembinaan khusus kepada para perajin batik, terutama yang telah banyak memberikan kontribusi dalam mengurangi pengangguran dan ikut melestarikan batik tulis Sumberjambe.
"Pemkab seharusnya mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember, supaya perajin batik bisa termotivasi untuk mengembangkan motif kreasi tembakau yang lebih mempesona," kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.
Apabila dunia sudah mengakui batik sebagai budaya Indonesia, tentu masyarakat harus menjaga warisan nenek moyang tersebut dengan melestarikan batik di masing-masing daerah, yang memiliki ciri khas tertentu. (nta)
Batik Mangrove Simbol Kepedulian Lingkungan Warga Surabaya
Selasa, 20 Oktober 2009SIAPA menyangka munculnya batik Mangrove (bakau) asal Kota Pahlawan atau yang dikenal dengan batik "SeRU" (Seni batik Mangrove Rungkut) berawal dari keprihatinan salah satu warga di Wisma Kedung Asem Indah J 28 Surabaya, Lulut Sri Yuliani atas rusaknya lingkungan yang ada di kawasan konservasi pantai Timur Surabaya.
Banyaknya tanaman mangrove yang ditebang secara liar oleh anggota masyarakat yang tidak bertanggung jawab, sehingga berakibat lingkungan kawasan konservasi pantai Timur Surabaya menjadi rusak. Dampak lainnya, banyak satwa terancam punah dan mengkibatkan abrasi dan erosi di sekitar pantai.
Kondisi tersebut membuat Lulut yang juga koordinator batik SeRU tergerak hatinya. Ia pun mulai memutar otak untuk melakukan tindakan pencegahan penebangan mangrove secara liar. Kebetulan Lulut sendiri adalah salah satu aktivis lingkungan di Surabaya, sehingga ide untuk itu bisa segera terwujud.
"Salah satu yang bisa saya lakukan untuk lingkungan adalah membuat batik mangrove," katanya.
Menurut dia, tujuan dari batik mangrove tersebut adalah kampanye lingkungan yakni dengan cara mengenalkan mangrove melalui seni batik. "Saya kira ini yang paling efektif, daripada cara lainnya," katanya menegaskan.
Batik mangrove, lanjut dia, pertama kali mulai dicetuskan pada tahun 2007 hingga 2008. Selama dua tahun tersebut, ia belajar membatik ke sejumlah daerah, salah satunya belajar cara mendesain batik di Bali.
Baru pada bulan Maret 2009, ia mengumpulkan sejumlah warga di Kecamatan Rungkut Surabaya untuk mengikuti pelatihan cara membatik. "Pertama saya bebaskan mereka membuat batik sesuai keinginannya. Namun pada saat saya melihat hasil karya mereka, saya terinspirasi dengan mangrove," ujarnya.
Lulut sendiri berhasil menampilkan kain batik mangrove dengan beragam motif bunga, buah, akar, binatang dan motif mangrove lainnya.
Namun, batik yang sudah pernah dipamerkan adalah batik dengan beragam motif batik mangrove, antara lain motif "Aegiceras corniculatum, A. floridum, Avicennia alba, Bruguiera cylindrica, Lumnitzera racemosa, "Acanthus ilicifolius, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Pemphis acidula, Nypa fruticans, Barringtonia asiatica, Calophyllum inophyllum, Calotropis gigantea, Pandanus tectorius, Acrostichum aureum dan motif Ipomoea pes-caprae.
Desain batik mangrove murni mengadopsi jenis-jenis mangrove yang hidup di rawa-rawa sekitar pantai Wonorejo, seperti baringtonia, tanjang, nipah, nyamplung, dan bogem. Warna yang dipilih adalah warna-warna yang cerah.
Memang ada pengaruh dari Batik Madura, tapi batik mangrove punya kekhasan sulur-sulur mangrovenya dan selalu dalam bentuk batik tulis, bukan cetak.
Sebenarnya, tak hanya batik bermotif mangrove saja yang dihasilkan oleh Lulut dan kelompok binaannya yang berjumlah 11 kelompok. Namun, sabun wangi dari buah Sonneratia juga dibuat dengan tujuan utama untuk memperkenalkan mangrove kepada masyarakat umum.
Beranjak dari pemikiran yang sama bahwa mangrove bukanlah sebuah ekosistem penuh sampah, nyamuk, dan tak berdaya guna, melainkan sebuah ekosistem yang sangat potensial baik secara ekologi dan ekonomi, maka Lulut dan kelompoknya berjuang keras agar mangrove "diakui" dari sisi ekonominya.
Bahkan batik mangrove sendiri juga pernah diikutkan dalam pameran di Jakarta beberapa waktu lalu. Namun, ia sendiri cukup menyadari bahwa produksi mangrove masih sangat terbatas, sehingga belum bisa bersaing dengan batik kelas atas seperti yang ada di Yogyakarta dan Surakarta.
Dengan 11 kelompok yang ada, kata dia, masing-masing kelompok dalam setiap dua pekan menghasilkan enam hingga delapan kain. Satu lembar kain batik mangrove berukuran sekitar tiga meter dijual dengan harga Rp75 ribu hingga Rp200 ribu.
"Batik mangrove baru sebatas dijual ke masyarakat yang ada di Surabaya, tapi responnya bagus. Bahkan tidak hanya kalangan orang tua, tapi juga anak-anak muda," paparnya.
Ia sendiri juga mempunyai rencana untuk memasarkan produknya ke sejumlah instansi pemerintahan dan swasta di Surabaya. "Hingga saat ini yang sudah memesan batik mangrove baru Kecamatan Rungkut," katanya.
Untuk menembus pasar batik, kata Lulut, mau tidak mau memang harus dikelola secara industri dan melibatkan banyak tenaga kerja dan modal. “Kami masih bingung soal pemasaran. Selama ini kami menjual produk-produk kami ke instansi-instansi pemerintah. Untuk masuk ke pasar batik, kami masih banyak kendala,” ucapnya lirih.
HAK PATEN DESAIN
Sebelumnya, Sekretaris Kecamatan Rungkut, Ridwan Mubarun yang menjadi fasilitator kelompok batik mangrove di Wonorejo mengatakan, Pemkot Surabaya berusaha mengangkat keberadaan batik mangrove dengan menetapkannya sebagai ikon Kecamatan Rungkut.
Selain itu, batik mangrove juga akan dimasukkan dalam paket ekowisata hutan mangrove yang akhir tahun 2009 akan diresmikan oleh wali kota Surabaya. “Kami juga berupaya untuk memfasilitasi kelompok-kelompok ini mendapatkan hak paten atas desain batik mangrove.
Ia juga mengaku bersyukur atas batik asal Indonesia yang mendapat pengakuan dari Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah kebudayaan, UNESCO sebagai warisan budaya dunia (world heritage) tak benda (intangible). Pengakuan tersebut diberikan UNESCO di Abu Dabi pada Jumat (2/10) malam
"Kami berharap batik tetap eksis, diterima oleh masyarakat dunia, dan perajinnya tetap bisa berkarya lebih baik," katanya.
Kreativitas membuat batik tersebut rupanya menarik perhatian istri Wakil Wali Kota Surabaya, Arif Afandi yakni Tjahyaning Retno Wilis untuk berkunjung ke pameran batik mangrove yang digelar di Kecamatan Rungkut beberapa waktu lalu.
Bahkan, Tjahyaning Retno yang juga sebagai ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranada) Surabaya memberikan stimulus berupa bantuan modal sebesar Rp2 juta.
"Bantuan ini jangan dilihat besarnya tapi ini merupakan stimulus sekaligus pancingan agar pihak lain juga mau perduli dengan kerajinan tradisional seperti batik ini agar tak punah," katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono meminta kepada pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya supaya memakai pakain batik paling tidak dua hingga tiga kali dalam sepekan.
"Jauh sebelum adanya intruksi dari Presiden RI untuk serentak memakai batik pada Jumat(2/10), saya sudah minta agar memakai batik," katanya.
Menurut dia, memakai pakain batik merupakan salah satu upaya menghargai pusaka budaya bangsa Indonesia. Pasalnya, batik sendiri nyaris diakui oleh negara Malaysia sebagai budayanya.
Selain itu, kata dia, dengan memakai pakain batik, juga memberikan penghasilan bagi para perajin batik yang saat ini mulai marak di Surabaya dan juga memberikan bekal ketrampilan membatik di kalangan ibu-ibu PKK.
"Semakin terampil ibu-ibu PKK, maka semakin banyak industri batik yang ada di Surabaya," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, pihaknya menyarankan agar seluruh pegawai di Pemkot Surabaya membiasakan dengan memakai batik, paling tidak dalam sekali dalam sepekan.
Kepala Sub Bagian (Kasubag) Liputan berita dan Pers, Bagian Humas Pemkot Surabaya, Eddy Witjayanto menambahkan bahwa kebiasaan memakai pakain batik sudah dilakukan pegawai pemkot setiap hari Jumat. "Meski tidak ada aturan resmi, tapi banyak di antara pegawai yang sudah memakai batik," katanya.
Namun, kata dia, pihaknya juga tidak memungkiri adanya sejumlah pegawai yang enggan memakai batik pada hari Jumat dengan alasan tertentu. "Tiap orang punya alasan sendiri-sendiri," katanya.
Namun, pemakaian seragam batik selama sepekan dianjurkan pada saat peringatakan Hari Kebangkitan Nasional. Hal itu merupakan instruksi dari pemerintah pusat. (nta)
Faktor Kesulitan Membuat Batik Tulis Mahal
Senin, 19 Oktober 2009SIANG itu, arena pameran Karya Kreatif UKM 2009 di Balai Sidang Jakarta, Minggu (18/10), berjejal manusia. Pengunjung dewasa dan anak-anak berjibun jadi satu. Ada stan pameran yang laris manis diborong pengunjung, ada yang biasa-biasa saja. Namun ada juga yang seret, dengan berbagai penyebabnya.
Stan pameran batik tulis, misalnya. Seorang wanita berpenampilan molek dengan nama
Farida (35) batal membeli selembar kain batik tulis setelah ia tahu harga yang ditawarkan. Penjual menyebut harga Rp 450.000 untuk selembar kain yang memikat hatinya.
Sebelum menanyakan harga, ia sudah meneliti beberapa kain. Setelah menemukan kain dengan corak yang dirasa pas, baru ia bertanya harganya. ”Tadinya mau buat bawahan kebaya yang beli di sini juga. Enggak jadi beli deh, mahal banget. Heran kenapa harganya bisa begitu,” gumamnya.
Keingintahuannya terjawab sebelum ia keluar dari arena pameran. Penyelenggara pameran menyediakan tempat demo bagi pengunjung. Beberapa perajin menyediakan bahan demo yang bisa digunakan pengunjung. Pengunjung bisa memilih kerajinan tangan di pojok arena demo atau membatik di bagian tengah arena.
Farida memilih tempat demo batik. Ia mencoba menggambar bunga. Belum 10 menit, ia sudah merasa susahnya membuat batik tulis. ”Kadang malam (tinta batik)-nya enggak mau keluar, kadang keluar kebanyakan, keluar sampai meleber ke mana- mana. Bikin batik susah banget, wajar harganya mahal,” ujarnya.
Ibu dua anak itu butuh hampir 20 menit untuk membuat motif kelopak bunga yang kurang memuaskan hasilnya. Tetapi, ia senang karena bisa merasakan pengalaman membuat batik. ”Kalau di televisi kelihatannya mudah sekali, sebentar saja langsung jadi motif. Waktu coba sendiri, susahnya minta ampun. Buat batik cap juga katanya susah dan lama. Kalau batik cetak mudah dan cepat, makanya bisa murah,” ujarnya.
Meski tahu susahnya membuat batik, ia tidak kembali ke gerai penjual kain batik tulis yang sebelumnya didatangi. Ia sudah cukup puas dengan beberapa baju batik yang motifnya hasil cetakan mesin. ”Ini sudah bagus kok, bisa buat ke kantor atau acara biasa,” ujarnya.
CANTING PANAS
Pengunjung lain, Dira (21), juga merasakan susahnya membatik. Kesusahan dirasakan mulai dari memegang canting. Alat untuk menorehkan malam ke kain itu terasa panas karena terus berada di kuali berisi malam. Kuali itu terus dipanaskan agar malam tetap cair dan bisa ditorehkan ke kain. ”Ini cantingnya panas, kelamaan di dalam kuali. Heran kenapa perajin-perajin itu enggak kepanasan,” tuturnya.
Sebelum malam bisa ditorehkan, canting harus ditiup dulu untuk melancarkan saluran ujungnya. Dira butuh melakukan beberapa kali sebelum bisa meniup dengan pas. ”Kalau meniup terlalu keras, malamnya muncrat ke mana-mana. Terus di kain meleber karena malam terlalu lancar mengalir dari canting. Kalau kelewat pelan, malam enggak mau keluar. Perajin-perajin di Pekalongan atau Solo itu sudah tiap hari niup canting, jadi kelihatan enak bener,” ungkapnya.
Uji coba di arena pameran itu membuat mahasiswi salah satu perguruan tingi swasta di Jakarta ini tahu kenapa batik mahal. Baginya, membeli batik bukan sekadar membeli kain. ”Pembeli lebih membayar untuk keahlian para perajin. Keahlian itu perlu latihan bertahun-tahun sebelum bisa membuat batik bagus-bagus,” tuturnya.
Motif-motif batik juga tidak sembarangan dibuat. Tiap motif memiliki landasan filosofi tersendiri. ”Kata teman dari Solo, tiap acara sebenarnya ada motif khusus. Bagi yang muda seperti saya sih, enggak terlalu ngerti. Cuma kalau dipelajari, menarik juga. Tetapi, saya sih belum punya batik tulis,” ujarnya.
Salah seorang teman kuliah Dira yang juga hadir di arena pameran, Arman, mengatakan, seharusnya ada lebih banyak pelajaran soal landasan filosofi dan nilai batik. Pelajaran itu akan mendorong orang mengerti dan menyukai batik. ”Sekarang orang pakai batik karena sedang tren. Kalau tren sudah habis, siapa mau pakai batik? Kan sama waktu sebelum tren, enggak ada orang mau pakai batik. Kesannya cuma orang tua yang pantas pakai batik,” katanya.
Tindak lanjut atas pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia seharusnya tidak berhenti sebatas anjuran memakai saja. Orang Indonesia harus diberi tahu lebih banyak mengapa UNESCO membuat pengakuan itu. ”Mungkin harus ada pelajaran lebih banyak soal sejarah batik pada masa lalu dan sekarang. Pelajarannya jangan kaku, nanti enggak menarik buat yang muda-muda,” ujarnya.
Pelajaran itu juga akan membantu orang Indonesia yakin batik memang dikembangkan bangsa ini. Jadi, orang Indonesia bisa menjelaskan kepada warga asing tentang batik. ”Waktu ada negara lain klaim batik, banyak yang marah. Tetapi, enggak semua ngerti kenapa harus marah karena enggak ngerti soal batik. Itu sebenarnya malah membuat citra Indonesia jadi jelek. Mending buat lebih banyak orang tahu soal batik biar makin banyak yang bisa jelasin soal batik,” ujarnya.
Cara seperti itu akan lebih diterima dan menarik simpati warga negara asing. Warga negara asing akan yakin batik memang warisan budaya asli Indonesia karena banyak orang Indonesia yang bisa menjelaskan soal batik. ”Sama juga dengan kepemilikan benda lain. Mana bisa ngaku punya sesuatu kalau enggak bisa jelasin sesuatu itu seperti apa,” tuturnya.
Namun, seperti Farida dan Dira, Arman belum punya koleksi batik tulis. Faktor harga jadi alasan utama ia belum memiliki busana dari batik tulis. ”Selain itu, rasanya sayang kain bagus dan mahal dipotong-potong buat baju. Mending buat yang lain aja deh,” tuturnya. (kompas cetak/berbagai sumber)
Masjid Ampel, Wisata Religi Buruan Wisatawan
Jumat, 11 September 2009
MASJID Sunan Ampel merupakan salah satu tempat wisata religi yang ada di Surabaya. Keberadaan masjid berusia sektar 600 tahun itu sampai sekarang masih dipertahankan keberadaa dan fungsinya. Saat berkunjung ke kawasan tersebut, jangan heran anda bergeliat dengan peziarah lain yang berkunjung dari dalam dan luar kota Surabaya, karena kawasan ini merupakan kawasan makam salah satu Wali Songo yakni Sunan Ampel
Namun, masjid yang dibangun Sunan Ampel itu kini sudah tiga kali mengalami perluasan yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini, luas salah satu masjid tua di Indonesia itu mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter.
Faktor historis itu agaknya membuat Masjid Ampel juga marak dikunjungi puluhan wisatawan asing dari berbagai negara selama ramadhan dan di luar bulan puasa itu.
"Biasanya hanya 2-3 wisatawan asing yang datang setiap hari, tapi selama ramadhan meningkat hingga puluhan orang asing setiap hari," kata juru kunci Masjid Ampel Surabaya, H. Abdul Hamid.
Ia mengatakan, wisatawan asing yang datang berasal dari China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Arab Saudi, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, dan sebagainya.
Menurut dia, wisatawan asing itu umumnya melihat bentuk bangunan masjid Ampel yang dibangun sejak tahun 1421 M itu, kemudian mereka juga berziarah ke makam Sunan Ampel. "Mereka senang melihat banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel, karena hal serupa tidak ada di negaranya, karena itu Masjid Ampel masuk dalam agenda kunjungan wisata internasional, " katanya.
Agaknya, kendati tidak mengikuti tradisi "maleman" di Masjid Ampel, para wisatawan asing itu tertarik dengan arsitektur masjid yang sudah tua tapi keasliannya tetap terpelihara.
"Tidak hanya itu, mereka juga banyak belajar tentang pengembangan agama ala Sunan Ampel yang mengedepankan jalur pelajaran budi pekerti (akhlak), seperti ajaran 'Moh Limo' (Lima Tidak) yakni 'moh main' (tidak judi), 'moh minum' (tidak mabuk), 'moh maling' (tidak mencuri atau korupsi), 'moh madat' (tidak candu atau narkoba), dan moh madon (tidak main perempuan atau berzinah)," tuturya.
Gerbang masuk kawasan ini diawali dengan lorong yang berjajar berbagai penjual, mulai dari pakaian muslim, buah-buahan, kurma, minyak wangi, kerudung sampai kaset lagu-lagu islami. Lorong itu dikenal sebagai kampung Qubah.
Di ujung Lorong itulah terletaklah Masjid Ampel yang Megah. Sudah beberapa renovasi yang dilakukan oleh pemerintah demi kemajuan tempat wisata ini. Di Masjid inilah para peziarah beristirahat dan menghadap Allah DWT. Mereka beriktikaf, membaca al-Qur’an dan beribadah fardlu (wajib) ataupun sunnah.
Di halaman samping masjid itu terletak pemakaman Mbah Bolong, Mbah Soleh dan pusat keramaian ziarahnya yaitu makam Sunan Ampel yang merupakan Sunan Tertua dari Wali Songo.
Di Makam Sunan Yang bernama asli Raden Achmad Rahmatullah ini sayup-sayup terdengar alunan Surat Yaasiin dibacakan para peziarah. Biasanya setelah membaca surat tersebut para peziarah akan berdoa, baik memohon ampunan Allah atas dosa dankesalahan Sunan Ampel serta para santrinya. Juga mohon ampunan atas dosa pribadi dan petunjukNya dalam menjalani hidup di dunia untuk selamat dunia akherat.
Meskipun waktu telah menunjukkan Tengah malam, suasana di kawasan yang terletak di jalan Ampel ini jumlah pengunjung justru semakin bertambah, mereka beranggapan kalau beriktikaf dan berziarah pada malam hari lebih banyah keberkahannya daripada saat matahari bersinar.
Pengunjung akan membludak saat bulan Ramadhan, karena disana juga diadakan Sholat Tarawih berjamaah yang sistemya seperti Masjid Agung Surabaya. Untuk shalat tarawih di Ampel, jumlahnya 20 rakaat dan ditambah 3 rakaat witir. Bedanya, setiap kali shalat tarawih, imam shalat tarawih menghabiskan satu juz Al Quran, sehingga dalam satu bulan ramadhan dapat mengkhatamkan Al Quran sebanyak 30 juz.
"Karena mengkhatamkan satu juz, maka setiap tarawih dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, sehingga kalau shalat tarawih di masjid lain sudah selesai justru di Masjid Ampel baru selesai agak malam, apalagi Masjid Ampel memiliki Lembaga Pendidikan Bahasa Arab," katanya .
Selain itu, pengurus Yayasan Masjid Ampel juga menyiapkan ratusan bungkus makanan takjil (sajian pembuka untuk mempercepat buka puasa) yang dananya diperoleh dari peziarah yang menyumbang ke Masjid Sunan Ampel.
Perkembangan Wisata Agama tersebut menunjukkan sikap kepedulaian pemerintah kota dalam memajukan wisata religi di Surabaya. Buktinya mereka melakukan beberapa renovasi demi perbaikan Masjid Bersejarah Islami tersebut
Komplek Makam
Saat Ramadhan seperi saat ini, jumlah pengunjung, peziarah, dan musafir itu pun kian membludak. "Sejak 10 hari menjelang ramadhan, warga Surabaya dan sekitarnya seperti Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, dan Bangkalan, sudah berdatangan ke Makam Sunan Ampel," kata penjaga Makam Sunan Ampel, Muhammad.
Di komplek Masjid Ampel ada tiga makam utama yang menjadi tujuan ziarah, yakni Makam Sunan Ampel dan makam dua santrinya yakni Makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) dan Mbah Soleh. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.
Lain halnya dengan Mbah Soleh yang dikenal memiliki sembilan nyawa, karena itu makamnya pun berjumlah sembilan makam. Menurut hikayat, dia sempat hidup-mati sebanyak sembilan kali, karena Sunan Ampel sering merasa kehilangan santrinya yang sangat rajin bekerja itu, sehingga Mbah Sholeh pun hidup saat dibutuhkan Sunan Ampel dan tidak hidup lagi setelah Sunan Ampel wafat.
"Selama ramadhan, masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel juga meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata mencapai 2.000 orang. Pada maleman likuran julahnya bisa mencapai 15 ribu penziarah," katanya.
Menurut dia, pengunjung Masjid Ampel akan semakin banyak lagi pada saat "maleman" (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 bulan ramadhan). Tradisi "maleman" yang dimaksud adalah pengunjung membaca tahlil, tadarus (membaca Al Quran secara bersama-sama di bulan puasa), shalat sunah, dan iktikaf (berdiam diri di dalam masjid dengan membaca zikir) semalam suntuk.
"Mereka pulang menjelang sahur atau banyak juga yang menginap. Tradisi itu dilakukan terkait dengan ihtiar mencari Malam Lailatul Qadar (malam istimewa yang nilai spiritualnya lebih baik dari seribu bulan)," katanya.
Dalam buku "Wali Songo" yang diterjemahkan KH Dachlan Abdul Qohar (almarhum) dan diterbitkan ustaz Ibrohim Ghozi pada Haul ke-544 Sunan Ampel (1994) disebutkan bahwa tiang penyangga masjid asli berjumlah 16 tiang dari kayu jati dengan panjang 17 meter, lebar 0,4 meter, dan tanpa sambungan.
Ketika membangun masjid itu, Sunan Ampel dibantu santri-santrinya, di antaranya Mbah Bolong yang dikenal sebagai penunjuk kiblat pada awal berdirinya Masjid Ampel. Dia dijuluki dengan "bolong" (berlubang), karena dia dikisahkan melihat Ka'bah saat melubangi tembok masjid. (vd/nta)
Makam Mbah Kholil Langganan Pejabat Mencari Berkah

oleh Nabila M. Rahman/ Prima Sp Vardhana
ALMARHUM Mbah Kolil Bangkalan sangat populer di kalangan para santri ataupun abangan yang ada di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai sosok Kyai dengan nama Syaichona Kholil Bin Abdul Latif, yang bijak dalam menyampaikan dakwahnya. Sehingga siapa pun yang mendengar nasehatnya dijamin isi wasiahnya akan lagsung nancep ke sanubari.
Tidak hanya itu, Mbah Kolil juga sangat membumi sebagai seseorang yang diyakini masyarakat memiliki hubungan dengan dunia gaib. Sehingga almarhum memiliki kekuatan linuwih yang dapat memerintah bangsa jin untuk membantu masyarakat atau seseorang yang berharap jabatan di pemerintahan. Kendati ada pejabat yang mampu memberi nasehat tentang dunia gaib dan kemistikan, bahkan beiau juga mampu memberikan idzim (jimat) pada para pejabat Jatim dan Indonesia yang bersedia sowan dan mohon pertolongan. Juga, masyarakat awam yang meminta jimat untuk mencari rezeki dan keselamatan dunia.
Di bulan Ramadhan 1430 Hijriah, para musafir (petualang) dari berbagai daerah banyak mendatangi Pesarean (makam) Syaichona Kholil Bin Abdul Latif di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
"Sejak memasuki bulan suci Ramadhan 1430 H, mereka yang datang ke pesarean umumnya para musafir yang melakukan khataman Al Quran dan berzikir di pesarean itu," kata Pengurus Kantor Pesarean Syaichona Kholil, Mohammad Rawidi Al Sambari.
Kondisi semacam itu jauh berbeda dengan sebelum bulan suci ramadhan, sebab pengunjung sebelum ramadhan adalah para peziaran dari berbagai kota di Indonesia yang datang secara rombongan.
"Bila hari biasa hanya 20 sampai 25 musafir, namun pada bulan puasa meningkat dua kali lipat menjadi 50 orang," ungkapnya.
Aktivitas para musafir dalam mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta itu bermacam-macam. Hal itu sesuai dengan kemampuan dan kepercayaan dari masing-masing musafir itu sendiri.
"Ada yang puasa bisu (tidak berbicara) dan ada juga yang tidak tidur selama 24 jam, sehingga badannya kurus seperti orang sakit ?," ujarnya.
Dalam berkomunikasi, musafir yang puasa bisu dengan orang lain itu memakai bahasa nonverbal atau isyarat. Mereka meyakini hanya dengan cara seperti itu bisa mendekatkan diri pada sang Kholik.
"Untuk urusan makan, bagi para musafir tidak ada masalah, ada saja rezeki dari warga setempat. Misalnya, ada warga yang punya nazar lalu menggelar tumpengan di sini dan dimakan para musafir," ungkapnya.
Lain halnya dengan para peziarah. Sebelum bulan puasa, jumlah peziarah yang datang membeludak, bahkan naiknya sampai empat kali lipat dari hari-hari biasa.
Peziarah yang datang dapat mencapai 100 rombongan dengan setiap rombongan berkisar antara 30 hingga 50 peziarah.
Namun, memasuki minggu pertama bulan suci ramadhan jumlah peziarah yang datang ke sana menurun drastis yakni hanya belasan rombongan dalam sehari.
Para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Pulau Madura, melainkan dari luar Madura seperti Jawa dan Sumatra.
Wapres Jusuf Kalla
Para peziarah yang datang umumnya membaca doa tahlil untuk Syaichona Kholil.
Salah seorang peziarah, Hj Siti Hajar, mengatakan, dirinya datang ke Pesarean Syaichona Kholil bersama keluarganya.
"Saya pergi ke pesarean karena ingin mendapatkan berkah. Saya datang ke sini bersama anak saya untuk mengirim doa pada Mbah Kholil, sebab perjuangan beliau dalam menegakkan agama Islam pantang menyerah," katanya.
Menurut dia, dirinya sengaja berkunjung ke pesarean minggu pertama di bulan suci ramadhan, sebab pada awal bulan puasa biasanya peziarah yang datang tidak terlalu banyak, melainkan relatif sepi.
"Kami sengaja datang ke sini sekarang, karena kami mencari hari yang sepi. Jika menjelang puasa dan menjelang hari raya akan banyak peziarahnya. Saya 'kan sudah tua sehingga tidak kuat berdesak-desakan dengan peziarah lain," ucapnya.
Diperkirakan, peziarah akan kembali meningkat memasuki hari ke-15 di bulan ramadhan hingga H-2 Hari Raya Idul Fitri, sesuai dengan kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya.
"Setelah itu, pengunjung kembali normal dengan angka 30 hingga 50 rombongan," ucapnya.
Salah seorang keturunan Syeh Moh Kholil, KH Imam Buchori Cholil, mengatakan, pesarean tersebut dari dulu sudah ramai dikunjungi para peziarah, mulai orang biasa, tokoh masyarakat, hingga pejabat negara.
Bahkan, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, juga pernah melakukan ziarah ke Pesarean Syaikhona Kholil, saat mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres 2009.
"Peziarah yang datang ke pesarean tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, tapi pak Jusuf Kalla pernah ziarah ke sini," ucap Imam.
Bagi para peziarah yang datang ke pesarean Syaichona Kholil diminta mematuhi segala aturan yang ada untuk menjaga kesopanan di areal pesarean.
"Bagi para peziarah diharapkan mematuhi seluruh aturan yang ada. Itu dilakukan untuk kepentingan bersama," katanya.
Dongkrak Ekonomi
Keberadaan Pesarean Syaichona Kholil bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, karena warga sekitar bisa berjualan mulai dari makanan hingga berbagai souvenir khas Madura.
"Keuntungan yang mereka kantongi dari hasil berdagang lumayan besar. Jika ramai mereka bisa mendapatkan untung antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari," kata seorang penjual souvenir, Maimunah.
Namun, bila sepi, penghasilan bersih yang mereka raih hanya Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.
"Kalau seperti sekarang ya sepi. Dalam sehari, saya hanya mengantongi uang Rp20 ribu saja, tapi kalau ramai bisa mendapatkan Rp125 ribu dalam sehari," katanya.
Menurut dia, dagangannya laku keras menjelang hari raya dan menjelang bulan puasa, sebab peziarah yang mengunjungi Pesarean Syaichona Kholil membeludak.
"Ya, cukuplah untung segitu bisa dibuat biaya anak sekolah dan untuk tambahan kebutuhan hidup sehari-hari, " ucapnya.
Menurut cacatan Pemkab Bangkalan, Pesarean Syaichona Kholil merupakan satu dari delapan tempat wisata yang ada di wilayah yang selama ini paling banyak didatangi pengunjung.
Tempat wisata religi itu termasuk tempat wisata bersejarah, karena Syaichona Kholil sendiri merupakan tokoh ulama yang dikenal getol menyebarkan agama Islam di Madura.
Figur Syaichona Kholil dikenal sebagai ulama berpengaruh pada zamannya. Belum ada sumber resmi yang menyebutkan, kapan tokoh ulama karismatik itu dilahirkan, tapi Syaichona Kholil dikenal sebagai pemimpin ulama di Madura dan Jawa.
Bahkan, ia merupakan guru dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari asal Jombang, kakek dari mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dalam buku yang ditulis Mujammil Qomar, ia juga dianggap salah seorang pelopor dan memiliki andil besar beridirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU).
Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU, Syaichona Kholil Bangkalan juga dianggap sebagai bapak spiritual NU karena juga berperan dalam menumbuhkan tradisi tarekat di Madura. (bil/nta)












