Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label SURABAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SURABAYA. Tampilkan semua postingan

Wali Kota Surabaya Bela Bonekmania

Senin, 25 Januari 2010
oleh Prima Sp Vardhana


TRIBUN, SURABAYA -Menghadapi sikap anarkis bonekmania yang dituding menyebabkan kerugian ratusan juta banyak pihak, ternyata sikap yang ditunjukkan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono bertolak belakang dengan sikap yang dilakukan Ketua Umum Persebaya Surabaya, Saleh Ismail Mukadar


Atas kerusaka kereta api yang ditengarai menyebabkan kerugian PT KA sekitarRp 269juta, misalnya. Bambang DH menyatakan, kerusakan KA itu bukan sepenuhnya kesalahan suporter Persebaya (bonekmania) saat menyaksikan pertandingan Persebaya melawan Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/1).
"Sudah ada bukti, arah batu it berawal dari lemparan masyarakat. Para bonek hanya bersikap pasif dan bertahan dengan memegangi kepala dan berlindung. Kondisi itu sudah jelas bukan bonek yang memulai. Karena itu, saya menolak keras jika bonekmania disebabkan sebagai penyebab anarkis,” katanya saat menghadiri acara Konfercab PDIP Surabaya, Senin (25/1).
Dengan kondisi yang terjadi itu, ditegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak akan membayar kerugian kerusakan KA yang dianggap dirusak oleh Bonekmania saat mengangkut suporter dari Bandung ke Surabaya. Menurut dia, pemkot tidak mau bertanggung jawab, karena anggaran yang dikeluarkan untuk mengganti kerugian ulah suporter akan diminta pertanggungjawabannya. "Uangnya ada, tapi kalau dikeluarkan yang bukan untuk haknya, saya bisa digeruduk dan diperiksa," ujarnya.
Kendati demikian, dikatakan, bahwa kepulangan bonek ke Surabaya bukannya tanpa membayar tiket. Para bonekmania itu naik kereta api dengan subsidi dana dari pemkot. Pembayaran tiket itu dipercayakan pada Wastomi Suheri (Koordinator Yayasan Suporter Surabaya) untuk membayar tiket kereta api ke PT KA. Karena itu, orang nomor satu di Suabaya ini sangat masgul dan sakit saat bonekmania dituding naik kereta, secara anarkis dan tanpa beli tiket.

Tagihan tiket KA yang ditagikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop II Bandung sebagaimana hasil kesepakatan yang ditandatangani antara pihak Daop II Bandung dengan Ketua Dewan Suporter Bonek, Wastomi, jumlahnya sekitar Rp 105 juta untuk KA Pasundan dan KA luar biasa. Nilai itu belum termasuk kerugian akibat kerusakan sarana. Rincian tangihan itu untuk KA luar biasa yang mengangkut sekitar 2.500 bonek senilai Rp 65 juta dan KA Pasundan yang mengangkut 2.000 bonek senilai Rp 40 juta.
Sedangakan untuk kerugian sarana yang tengah dalam proses penghitungan PT KA, untuk sementara sebesar Rp 177 juta. Nilai itu akibat kerusakan yang dialami KA Pasundan, KA Parahyangan, KA Lodaya, KA Mutiara Selatan serta KA reguler Cibatu Garut. Sarana transportasi kereta itu rusak akibat pelemparan oleh warga di sepanjang jalur kepulangan bonek.
Sebagian akibat kaca pecah, kipas angin raib dan lampu hilang. Rincian sementara kerugian akibat kerusakan sarana adalah KA Lodaya Rp4,5 juta, Mutiara Selatan Rp2,8 juta, Argo Wilis Rp20,8 juta, KA Kahuripan Rp78 juta dan KA Pasundan 69 juta. Belum termasuk penggunaan delapan rangkaian Kereta Api Luar Biasa (KALB).
Sikap bijaksana lain dilakuan pemkot adalah akan mengganti biaya perawatan bagi bonek yang mengalami luka dan santunan kepada keluarga korban meninggal. “Harapan saya ke depannya semoga para suporter Persebaya ini mampu mengubah perilaku anarkisnya, sehingga tidak merugikan kesebelasan yang didukungnya. Selain, itu masyarakat kota lain hendaknya juga bersikap ramah dan bijak, sehingga tidak membuat anggota bonekmania terpicu untuk berperilaku beringas,” ujarnya.(vd)
Read Full 0 komentar

Saleh Mukadar Tak Akui Eksisten Bonekmania


TRIBUN, Surabaya -Citra bonekmania –suporter fanatis kesebelasan Persebaya- kian buram. Predikat pembuat onar dan pelaku anarkis yang layak dipenjarakan, kembali ditembakkan pada bonekmania pasca kepulangan mereka mendukung penampilan Persebaya dalam petandingan tandang ke kndang Persib Bandung di Stadion Jalak Harupat, Bandung. Tudingan itu berawal dari banyaknya peristiwa anarkis yang mengiringi kepulangan mereka ke Surabaya, 24 Januari sore.


Selain menyebabkan PT Kereta Api (KA) mengalami kerugian sekitar Rp 269 juta akibat rusaknya: ratusan kaca kereta dan bingkainya, lampu dan kipas angin, jok untuk tempat duduk penumpang, dan rusaknya kran air.  “Kerugian tersebut merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir akibat ulah suporter,” kata Manajer Humas PT KA Daops VIII Surabaya, Nur Amin didampingi stafnya Herry Winarno.
Karena kerugian yang ditanggung PT KA sangat besar, pihaknya, kata Nur Amin minta pemerintah setempat dan lembaga yang menaungi suporter mengganti biaya kerusakan yang terjadi.“Penggantian itu sebagai bentuk tanggung jawab, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi di kemudian hari,” ujarnya.
Hal senada ditegaskan Kepala Humas PT KA Pusat Adi Suryatmini. Menurutnya, harus ada lembaga atau institusi yang bertanggungjawab dengan banyaknya kerugian yang diderita PT KA akibat ulah suporter. “Jangan malah kerugian dibebankan pada kami (PT KA),” katanya.
Selain kerugian materi dengan banyaknya fasilitas dan sarana-prasarana yang rusak, sejumlah petugas PT KA, kata Adi juga mengalami luka-luka akibat ulah beringas para suporter. Selain itu, masyarakat umum juga menjadi takut dan tak berani naik transportasi massal tersebut, karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat ulah supporter. “Itu terjadi, baik saat mereka (suporter) berangkat maupun ketika pulang,” terangnya.
Dasar nilai kerugian yang harus ditanggung perusahaan BUMN itu antara lain, banyaknya kaca yang pecah untuk satu unit kaca (berisi dua lembar) harganya Rp 394.000. Kerusakan paling parah dialami KA Pasundan. Empat dari sembilan gerbong kereta yang biasanya melayani penumpang jurusan Surabaya - Bandung atau sebaliknya ini kondisinya rusak parah. Sejumlah gerbong lain juga mengalami kerusakan, tapi kondisinya tidak separah empat gerbong tersebut.
Hasil pendataan petugas PT KA, kerusakan yang terjadi di KA Pasundan yang membawa sembilan gerbong, meliputi 147 kaca pecah, 15 pintu bordes rusak, 3 kipas angin rusak, 31 lampu TL hilang, 53 meja panjang hilang, 12 jok tempat duduk rusak, 35 bingkai jendela rusak, dan dua kran air rusak. Selain itu, kondisi KA juga awut-awutan dan tercium bau tidak sedap dari hampir setiap sudut gerbong di kereta ekonomi tersebut. “Kondisi kereta benar-benar remuk redam dan baunya juga menyengat,” jelas Herry.
Jumlah kerusakan tersebut dipastikan akan bertambah, karena petugas masih merampungkan pendataan kerusakan yang dialami KA Luar Biasa (KLB) yang mengangkut sekitar 2.000 bonekmania dan tiba di stasiun Wonokromo, Minggu (24/1) sore. Khusus KA Pasundan yang mengangkut rombongan kedua suporter, pihak PT KA telah dua kali mengganti loko yang dipakai mengangkut sekitar 1.500 bonekmania tersebut akibat kaca depan loko pecah berkeping-keping. Penggantian dilakukan saat kereta di Jogjakarta dan Solo. Selain lokonya yang diganti, masinis kereta yang mengemudikan KA juga minta diganti dengan yang lain.
“Para masinis mengaku takut dan trauma dengan ulah bonek,” ujarnya.


Terhadap tagihan yang dilayangkan PT KA itu, ternyata Persebaya Surabaya tidak mau bertanggung jawab atas tindakan anarkis dan perusakan fasilitas umum yang dilakukan suporter bonek di Solo, Jawa Tengah, saat perjalanan akan mendukung timnya ke Bandung, Jumat (22/1).
“Sampai saat ini Persebaya belum pernah mengakui atau mendaftarkan bonek kepada PSSI sebagai elemen suporter resmi Persebaya. Karena itu, Persebaya tidak punya kewajiban untuk bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan perlaku bonekmania,” kata Ketua Umum Persebaya Saleh Ismail Mukadar di sela-sela Konfercab PDIP Surabaya, Senin (25/1).
Menurut dia, pengurus Persebaya sangat prihatin dengan kejadian di Solo. Karena itu, ia berencana mengumpulkan seluruh elemen suporter di Surabaya. Tujuan pengumpulan suporter itu untuk diajak konsolidasi. Selai itu, juga pengumuman pembentukan elemen suporter resmi  Persebaya.
Langkah selanjutnya, elemen suporter resmi itu akan dilaporkan Persebaya Surabaya kepada PSSI dan kepolisian, dengan dasar kartu keanggotaan supoter yang dilengkapi data diri dan foto anggota. Sikap itu sebagai tindakan preventif  Persebaya, sehingga kedepannya saat melakukan aksi anarkis dan kerusuhan, maka pihak Persebaya siap betanggung jawab. Selain itu, suporter yang melakukan perilaku anarkis itu beserta kelompoknya daat dijerat sanksi hukum.
"Pokoknya akhir Januari ini, seluruh elemen suporter kami kumpulkan untuk membahas masalah ini. Kami juga akan undang PSSI, Komdis (Komisi Disiplin) dan kepolisian," kata Saleh yang juga Manajer Persebaya itu menambahkan.
"Kalau sekarang Komdis menjatuhkan hukuman denda, Persebaya tidak akan pernah mau membayar. Mengapa orang lain yang berbuat, tapi kami yang terkena getahnya," ujarnya menegaskan.
Sebelumnya, Komdis PSSI telah menjatuhkan sanksi kepada suporter bonek berupa larangan mendukung timnya pada laga di luar kandang selama dua tahun. Keputusan itu buntut dari kasus kerusuhan yang dilakukan bonek saat laga Persebaya lawan tuan rumah Pelita Jaya di Karawang. Persebaya terkena hukuman denda Rp250 juta dengan masa percobaan hingga akhir musim. Namun, sanksi Komdis PSSI itu tidak digubris suporter, karena ribuan bonek tetap ngotot berangkat ke Bandung untuk mendukung laga Persebaya menghadapi Persib Bandung, Sabtu (23/1).
Dalam perjalanan ke Bandung, ribuan suporter terlibat aksi anarkis dan pelemparan batu di Solo, yang mengakibatkan sejumlah warga luka-luka dan harus dibawa ke rumah sakit. Salah satu korbannya kontributor foto LKBN ANTARA di Solo yang luka-luka akibat dijotosi bonek saat mengambil foto. Sedangkan tiga suporter Persebaya dikabarkan meninggal, setelah terjatuh dari atap kereta api, sementara puluhan suporter lainnya mengalami luka-luka terkena lemparan batu. (vd)
Read Full 0 komentar

M. Noer Masuk ICU

Rabu, 23 September 2009

oleh Prima Sp Vardhana

SESEPUH masyaraka Jawa Timu dan mantan Gubernur Jawa Timur periode 1967-1976, HR Muhamamd Noer (Pak Noer) dirawat di Rumah Sakit (RS) Darmo, Jalan Darmo 90, Kota Surabaya, Jawa Timur akibat penyakit yang dideritanya.


Salah seorang staf bagian informasi RS setempat, Teti, di Surabaya, Rabu, membenarkan adanya pasien bernama Muhammad Noer umur 95 tahun yang dirawat di RS Darmo sejak tanggal 20 September 2009.

"Pasien Muhammad Noer dirawat di ICU (Intensive Care Unit atau instalasi unit perawatan intensif)," katanya.

Sebelumnya, katanya, Muhammad Noer dirawat di ruang paviliun 7, namun karena kondisi kurang membaik sehingga pada Selasa (22/9) terpaksa dirawat di ICU.

"Kalau dipindah ke ICU berarti penyakitnya agak parah," ujarnya.

Namun, ia tidak mengetahui secara rinci jenis penyakit yang diderita Muhammad Noer.

"Saya tidak tahu penyakitnya apa, tapi di bagian informasi hanya disebutkan penyakit dalam," katanya.

Saat dikonfirmasi ke bagian medis di ICU, pegawai setempat enggan memberikan informasi terkait penyakit yang diderita Muhammad Noer beserta kondisi yang ada saat ini.

"Saya tidak berani memberikan informasi terkait itu. Silakan tanya ke keluarganya," ujarnya. (vd/nta)
Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks