Tampilkan postingan dengan label RELATIONSHIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELATIONSHIP. Tampilkan semua postingan
Tak Pernah Bertengkar? Justru Harus Curiga!
Selasa, 20 Oktober 2009
BERTENGKAR adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Jika seseorang berkata, "Saya tidak pernah bertengkar dengan pasangan," kemungkinannya hanya dua: orang itu belum menikah atau ia tengah berdusta. Bertengkar itu sebenarnya diskusi yang digelontori muatan perasaan.
Jika mengetahui etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam. Perasaan mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi!
Maria Herlina Limyati Msi Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, mengatakan, sesungguhnya yang jadi masalah bukan pernah atau tidak pernah bertengkar, melainkan bagaimana cara pasangan mengendalikan emosi agar pertengkaran tidak malah menimbulkan berbagai masalah baru dan berakhir dengan negatif. Kuncinya, tak lain, pola komunikasi, interaksi, keterbukaan, dan kepedulian dari masing-masing pasangan.
Jangan Ditahan!
Menurut Maria, tentu saja banyak keuntungan jika tak pernah bertengkar. Suasana rumah kondusif, tenang dan tidak tegang. Tapi suasana hati belum tentu, karena emosi yang tidak tersalurkan atau tidak terbuka, dapat menciptakan iklim psikologis lebih buruk dari pertengkaran itu sendiri. Masalahnya, amarah tak keluar atau tersalurkan.
"Bisa saja si istri yang memendam emosi, kemudian menyalurkan kepada anaknya. Anak salah sedikit, langsung dicubit atau dimarahi. Sementara suami, jika tak bisa menyalurkan emosinya dengan baik, bisa tak betah di rumah dan malah berulah macam-macam di luar rumah," katanya.
Maria menambahkan, emosi pasangan harus dikelola dengan baik. Nyatakan hal positif atau negatif yang dirasakan. Misalnya, "Aku merasa kesal karena..." Sebutkan alasannya dan jangan malah menyalahkan pasangan atas ketidak nyamanan perasaan yang Anda rasakan.
"Kalau memang ingin bertengkar, lakukan saja, tak perlu dipendam atau ditutupi karena bisa menimbulkan stres. Masalah memang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Bicarakan secara baik-baik lalu cari titik temu. Lalu saling memaafkan dan tinggal berserah diri kepada Tuhan. Nyaman bukan?" tutup Maria.
(Mom& Kiddie//tty)
Jika mengetahui etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam. Perasaan mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi!
Maria Herlina Limyati Msi Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, mengatakan, sesungguhnya yang jadi masalah bukan pernah atau tidak pernah bertengkar, melainkan bagaimana cara pasangan mengendalikan emosi agar pertengkaran tidak malah menimbulkan berbagai masalah baru dan berakhir dengan negatif. Kuncinya, tak lain, pola komunikasi, interaksi, keterbukaan, dan kepedulian dari masing-masing pasangan.
Jangan Ditahan!
Menurut Maria, tentu saja banyak keuntungan jika tak pernah bertengkar. Suasana rumah kondusif, tenang dan tidak tegang. Tapi suasana hati belum tentu, karena emosi yang tidak tersalurkan atau tidak terbuka, dapat menciptakan iklim psikologis lebih buruk dari pertengkaran itu sendiri. Masalahnya, amarah tak keluar atau tersalurkan.
"Bisa saja si istri yang memendam emosi, kemudian menyalurkan kepada anaknya. Anak salah sedikit, langsung dicubit atau dimarahi. Sementara suami, jika tak bisa menyalurkan emosinya dengan baik, bisa tak betah di rumah dan malah berulah macam-macam di luar rumah," katanya.
Maria menambahkan, emosi pasangan harus dikelola dengan baik. Nyatakan hal positif atau negatif yang dirasakan. Misalnya, "Aku merasa kesal karena..." Sebutkan alasannya dan jangan malah menyalahkan pasangan atas ketidak nyamanan perasaan yang Anda rasakan.
"Kalau memang ingin bertengkar, lakukan saja, tak perlu dipendam atau ditutupi karena bisa menimbulkan stres. Masalah memang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Bicarakan secara baik-baik lalu cari titik temu. Lalu saling memaafkan dan tinggal berserah diri kepada Tuhan. Nyaman bukan?" tutup Maria.
(Mom& Kiddie//tty)
8 Kebiasaan yang Bisa Merusak Hubungan
Minggu, 18 Oktober 2009TAK jarang suatu hubungan rusak hanya karena kebiasaan kecil yang dilakukan oleh salah seorang dari pasangan. Hubungan yang sudah sangat erat dan tak mungkin terpisahkan pun bisa buyar karena masalah yang dianggap “sepele”. Majalah Glamour mendaftar sifat-sifat apa saja yang bisa memicu keretakan hubungan Anda dan si dia. Ini daftarnya;
1. Tidak bisa menerima
Menginginkan kekasih Anda untuk bisa mengeluarkan yang terbaik dari dirinya adalah hal yang baik. Namun, jangan sampai Anda ingin melakukan perubahan dalam diri si suami hingga ke penampilannya. Cobalah untuk menerima si dia apa adanya. Jika memang apa yang ada padanya sebegitu parahnya dan sudah saatnya diubah, maka usahakan untuk mengatakannya dengan baik-baik. Jangan sampai Anda mengkritik atau memaksanya untuk berubah drastis. Karena pesan yang akan ia terima hanyalah, “Kamu nggak cukup baik untuk aku.”
Cobalah berlakukan aturan 80-20. Maksudnya, ketika Anda sedang bersamanya, utarakan apa yang Anda kagumi tentangnya, lakukan hal ini sebanyak 80 persen. Hingga ketika Anda mengatakan hal yang tak Anda sukai tentangnya, maka hal itu tak akan terdengar sebagai salah satu poin daftar keburukannya di mata Anda.
2. Mood mudah berubah
Kita hidup dalam zaman yang membuat orang tegang. Tak heran ketika stres melanda, kita bisa marah-marah kepada pasangan. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan mood yang mendadak bisa dimaafkan. Namun, bayangkan jika kita hidup bersama pasangan yang sering mengalami mood swing (perubahan mood yang drastis). Anda pasti akan berlari menjauh. Nah, jika Anda merasa sedang mengalami masa-masa mood swing (biasanya menjelang haid), cobalah untuk mengalihkan pikiran Anda dari hal-hal yang bisa membuat Anda ingin marah.
3. Gosip
Tak ada yang mau dijadikan bahan gosip. Maka, ketika Anda sedang ada masalah dengan si dia, usahakan untuk mencoba menyelesaikannya secara dewasa. Cobalah mengurangi keinginan untuk menceritakan setiap detail masalah Anda dengan pasangan ke orangtua atau sahabat terdekat. Tak hanya Anda akan merasa malu ketika masa bertengkar itu usai, tapi Anda juga akan membuat si dia merasa dikhianati. Sebagai pasangan, ada baiknya Anda menjaga rahasia antara Anda dan dia berdua saja daripada merusak reputasi Anda dan pasangan di mata orang lain.
4. Melodrama
Jika Anda terus-menerus meneleponnya setiap kali ada teman kantor yang membuat Anda sebal, menghapusnya dari daftar teman di Facebook, atau mengancam putus setiap kali ada perbedaan pendapat, jangan heran kalau ia mencari wanita lain. Adalah hal yang melelahkan jika kita harus selalu berusaha menenangkan pasangan yang suka mendramatisasi keadaan setiap saat.
5. Jadi ibu kedua
Suami Anda pasti mencintai ibunya, dan ia pun pasti mencintai Anda. Namun, ketika Anda setiap hari memperlakukannya seperti anak kecil, maka Anda akan membuatnya ingin lari dari Anda. Anak-anak cenderung melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan orangtuanya, ketika perintah tersebut tak mau ia lakukan. Hal ini pun berlaku pada kehidupan berpasangan yang memiliki tipe hubungan layaknya ibu-anak (yang terlalu mengemong).
6. Terlalu sering bersama
Menghabiskan waktu bersama orang yang Anda cintai adalah salah satu keuntungan dalam berhubungan, namun ada perbedaan dengan memiliki hubungan dari kembar siam. Banyak pria tertarik pada wanita yang mandiri dan percaya diri. Namun, tak jarang wanita yang awalnya memiliki karakter tersebut berubah 180 derajat begitu memiliki pasangan. Wanita bisa jadi sangat bergantung, dan menuntut waktu yang sangat banyak dari pasangannya. Sesekali luangkan waktu untuk Anda sendiri atau bersama teman-teman Anda. Biarkan ia juga menikmati waktunya sendiri. Tahukah Anda apa keuntungan dari menikmati "me time" seperti ini? Anda jadi sering merindukan si dia, selain jadi punya bahan obrolan.
7. Cemburu
Meski ia seringkali mengingatkan Anda betapa ia mencintai Anda, namun hal itu tak menghentikan Anda untuk mengecek ponselnya kala ia sedang mandi. Atau, terus-terusan ngambek setiap kali melirik wanita cantik. Kecemburuan kecil memang sesekali diperlukan dalam sebuah hubungan. Namun menuduhnya selingkuh atau membombardirnya dengan pertanyaan setiap kali ia pergi sendiri pun, akan membuat orang paling sabar sedunia menjerit. Periksa sekali lagi, jangan-jangan kecemburuan Anda terhadap si dia tidak berdasar.
8. Terlalu nyaman
Pada awal hubungan, kedua pihak harus memastikan bisa mencari cara untuk bersikap terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu dan rutinitas, kita cenderung jadi pemalas dan tidak mau mengusahakan agar hubungan tetap hangat. Manusia senang untuk dirayu dan digoda, sama seperti Anda juga. Yang menyenangkan dari sebuah hubungan adalah menemukan hal-hal baru dari pasangan dan mencoba hal baru bersamanya. Ketika seorang wanita berhenti untuk berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya kepada pasangan, si pria akan merasa bahwa pasangannya tak lagi menyukainya. Tunjukkan pada pasangan Anda bahwa ia masih sangat berharga di mata Anda. Caranya dengan memberikan kejutan-kejutan manis untuknya. Ia akan menghargai usaha Anda dan berusaha untuk membalasnya.
Sumber: Glamour
Bertengkar Membuat Tambah Mesra?
Minggu, 11 Oktober 2009Siapapun orangnya, pasti pernah bertengkar dengan pasangan. Meskipun terkadang menyesakkan, ternyata acara bertengkar pun bisa membuat hubungan berpasangan semakin mesra, lho!
Anda pasti pernah bertengkar dengan pasangan gara-gara hal sepele, dan pergi meninggalkannya saat masih dalam keadaan marah. Pertengkaran bisa terjadi, misalnya, saat Anda dikerling seorang pria tampan, meski tak berarti Anda menanggapi kerlinganya. Atau, Anda suka berbohong kepada pasangan dengan mengatakan, kepala botaknya justru semakin menambah keseksiannya. Terdengar lumrah, bukan?
Bagi orangtua jaman dulu, bertengkar, menggoda, digoda, atau berbohong merupakan kebiasaan yang tak dapat diterima di dalam suatu hubungan. Namun, beberapa pasangan terkadang melakukannya, bahkan pada pasangan yang tampaknya sangat serasi sekalipun. Berita baiknya, kebiasaan yang tak baik ini justru dapat memberikan pengaruh baik bagi hubungan jangka panjang Anda.
Bila Anda ingin tahu bagaimana kebiasaan yang kurang baik ini dapat memberikan pengaruh yang baik bagi hubungan Anda, bacalah beberapa 'penyalahgunaan' cinta yang dapat memperkokoh hubungan Anda berikut ini!
1. Menggoda atau Digoda
Percaya tidak, sedikit menggoda orang yang bukan pasangan sendiri, justru bisa memberikan manfaat pada hubungan Anda berdua. Ego menggoda orang lain bisa membuat Anda merasa seksi dan bersemangat, sama seperti saat pertama kali Anda bertemu dengan pasangan dulu.
Ingat, seiring berjalannya waktu, tak ada lagi hal-hal yang menggetarkan antara Anda dan pasangan. Anda berdua sudah saling terbiasa satu sama lain. Sehingga, menggoda atau digoda orang lain bisa membuat Anda merasa seksi, bergairah, pede, dan menarik.
Manfaat lainnya, Anda bisa membawa perasaan seksi itu ke rumah dan menggunakannya di tempat tidur bersama pasangan. Lagipula, bila pasangan melihat ada orang lain yang mengerling ke arah Anda, akan membuatnya tersadar, Anda merupakan seorang yang menarik. Sekaligus mengingatkannya, betapa beruntungnya dia memiliki Anda.
Namun, kapan acara menggoda atau digoda ini melewati batas? Kuncinya, Anda harus menyadari, bila yang Anda lakukan tak berhasil, bahkan membuat pasangan sangat marah, malu, dan menganggap Anda tak bisa dipercaya, jangan lakukan! Dan jujur kepada diri sendiri, bila Anda menggoda atau digoda, jangan menanggapinya dengan serius. Bila Anda melakukannya dengan serius dan konstan, berarti Anda dalam bahaya.
2. Egois
Berkompromi bukan berarti menemukan jalan tengah yang tepat atas setiap kondisi. Bila ada kata bijak dari suatu hubungan yang kerap kita dengar, pastilah kata "kompromi". Jadi, bagaimana mungkin kita boleh bersikap egois? Kuncinya, kompromi juga bisa berarti saat ini Anda melakukannya 100 persen dengan cara Anda, dan lain kali Anda melakukannya 100 persen dengan cara pasangan Anda. Saat melakukannya dengan cara
Anda, jangan sampai Anda merasa tak nyaman terhadap pasangan.
Sering kali pasangan berpikir, kita harus memberikan bobot yang sama dalam segala hal. Masalahnya, Anda tak memiliki batasan atas apa yang diberikan pasangan. Tentu saja, idealnya masing-masing saling memberikan segala yang dibutuhkan pasangannya. Sering kali apa yang dibutuhkan tak selalu jelas dan pasangan tak selalu mampu membaca jalan pikiran Anda. Itu sebabnya Anda harus menetapkan batasan, apakah pasangan memberikan yang Anda butuhkan ketika Anda memerlukannya atau tidak. Jika ya, terima hal itu sebagai kebahagiaan.
Nikmati juga kesendirian untuk beberapa saat atau mendapat perhatian dan rasa sayang yang tak harus selalu berarti berhubungan seks. Ini bisa menjadi resep atas perasaan kesal dan marah yang muncul pada Anda berdua. Anda bisa memulainya dari sekarang dan tak harus selalu menunggu pasangan memberikan apa yang Anda butuhkan. Mulailah dari hal-hal yang kecil untuk bisa membuat perubahan besar.
Misalnya, bila pasangan tak bisa menemani Anda menghadiri acara ulang tahun teman, pergilah sendiri. Bila pasangan Anda tak bisa memperbaiki keran yang bocor, panggillah tukang ledeng untuk memperbaikinya. Melakukan semuanya sendirian, bisa memberikan rasa puas. Ini jauh lebih baik daripada mengomel atau menggerutu karena pasangan tak bisa melakukannya. Bahkan, ini juga bisa membuat Anda lebih mencintai pasangan, bahagia, dan hubungan menjadi lebih langgeng.
3. Bertengkar
Bertengkar ternyata merupakan salah satu hal tersehat yang bisa Anda lakukan bersama pasangan untuk memupuk kemesraan. Memang betul, pertengkaran yang terjadi terus menerus tak baik bagi cinta Anda berdua. Sebab, tak jarang pasangan khawatir akan kemungkinan efek negatifnya. Mereka khawatir hubungan cintanya akan retak atau takut merasa dirinya menjadi tidak penting lagi bagi pasangannya. Namun, ada satu penelitian yang cukup mengejutkan: "Tidak pernah bertengkar sama buruknya dengan konflik yang konstan". Pada kenyataannya, berdebat merupakan salah satu hal tersehat yang dapat dilakukan Anda berdua.
Memikirkan pertengkaran sama halnya seperti kaca. Terkadang Anda harus membersihkan kaca-kaca itu dari kotoran. Tentu akan tampak berbeda, tetapi setelahnya akan berjalan lebih lancar. Bila Anda menahan rasa marah hingga menumpuk, bisa menyabotase kekuatan hubungan Anda berdua. Harus disadari, setiap pasangan tidak diciptakan sama persis. Salah paham bisa terjadi setiap saat dan tak bisa dihindari. Bahkan, kemarahan yang ditahan-tahan, justru bisa memisahkan Anda berdua. Jadi, lakukan pertengkaran dengan benar.
Bertengkar bisa menjadi alat untuk mempercepat penyelesaian masalah antara Anda berdua. Bertengkar tak selalu menghasilkan kata sepakat, tapi berguna untuk hubungan Anda. Sebab, bisa memperjelas perbedaan yang Anda berdua miliki, sekaligus memberikan solusi. Kunci untuk berargumentasi yang baik, Anda berhak untuk tidak setuju, tetapi harus tetap menghormati pasangan. Penelitian menunjukkan, pasangan yang bertengkar dengan cara mengkritik dan menghina pasangannya, punya kemungkinan lebih besar untuk berpisah atau bercerai. Jadi, Anda hanya harus berargumentasi mengenai masalah yang sama-sama dimengerti oleh Anda berdua, lalu mencari solusinya.
4. Pergi dari Pertengkaran
Ketika Anda bertengkar dengan pasangan, awalnya tampak seperti pertengkaran yang sehat, tapi kemudian jadi memanas. Anda marah dengan suara menggelegar dan mengatakan hal yang sama berulang kali. Jika begitu, hentikan dan tinggalkan! Apalagi, bila pertengkaran semakin memanas, detak jantung dan hormon stres meningkat. Sisi emosional otak Anda menjadi tinggi dan menutup sisi logika, sehingga Anda tak sanggup lagi bertengkar dengan emosi yang terkendali.
Bila salah satu dari Anda sangat marah, pertengkaran bisa jadi salah kaprah dan akhirnya merusak. Begitu Anda mulai membahas masa lalu, luka lama akan terungkit kembali. Di saat-saat seperti ini, Anda tak akan bisa berbicara tenang atau berpikir jernih. Untuk menghindari kata-kata kasar atau melakukan kekerasan fisik, sadari segera dan tenangkan diri Anda. Begitu juga sebaliknya, bila Anda melihat pasangan sangat emosi, sebaiknya Anda bersikap lebih tenang dan minta time out, alias waktu jeda.
Bila pertengkaran Anda sering cepat menghebat, cobalah untuk meredamnya. Buat aturan, bila salah satu dari Anda memberikan tanda time out, hentikan pertengkaran. Tak perlu bertanya kenapa, cukup tenangkan diri saja. Bila sudah larut malam dan Anda merasa sudah waktunya tidur, ya tidurlah. Memang, terkadang Anda berdua jadi harus pergi tidur dalam keadaan marah.
Bila Anda pergi dari suatu pertengkaran, jangan pergi untuk selamanya. Masalah bagi kebanyakan pasangan, bukan karena pertengkaran yang terlalu panjang, tapi justru pertengkaran yang terlalu pendek. Mereka meninggalkan pertengkaran karena sangat marah, tetapi tidak membahasnya lebih lanjut dengan alasan merasa tak nyaman untuk memulainya kembali. Buat komitmen, Anda akan membahas masalahnya lagi bila keduanya sudah tenang dan membicarakannya dengan kepala dingin.
5. "White Lies"
Terkadang, lebih mudah mengatakan white lies, alias bohong halus, daripada mengatakan kebenaran. Namun, hati-hati, kebohongan yang tampaknya baik-baik saja pada awalnya, bisa meledak di kemudian hari. Pasangan Anda mungkin mengatakan, "Tidak, kok, potongan rambut kamu tidak jelek." Atau, "Saya suka sekali masakan kamu, Sayang." Ya, white lies memang lebih mudah diucapkan daripada mengatakan yang sebenarnya. Jika melakukan white lies, Anda tak boleh merasa bersalah, bila ini berhubungan dengan cinta. Toh, kejujuran tak selalu merupakan cara yang terbaik.
Tapi ingat, Anda harus memperhatikan kebohongan yang tadinya tampak baik-baik saja, bisa meledak di kemudian hari. Tidak dibenarkan Anda berbohong untuk menghindari konfrontasi yang memang harus terjadi. Misalnya, Anda berbohong tentang pengeluaran pribadi ketika Anda berdua justru sedang memperketat keuangan, sebab sedang menyicil rumah.
Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Bukan saja masalah akan meledak, tetapi kecurangan juga akan terjadi. Ini merupakan bagian yang terburuk dalam hubungan Anda berdua. Kecurangan bisa membuat pasangan ragu-ragu dan menganggap Anda tak bisa lagi dipercaya. Jika ingin berbohong, pikirkan saja apa yang layak didengar pasangan dan lakukan dengan "benar" untuknya.(Nova/vd)
Langganan:
Postingan (Atom)









