Tragedi Prio 1984: Tragedi Kemanusian Era Orba

oleh Prima Sp Vardhana / Radio Nederland
SEKITAR 25 tahun silam, di tempat sama terjadi sebuah peristiwa pelanggarn HAM (Hak Asasi Manusia) berat. Korban tragedi tersebut ada dua versi. Menurut pemerintah tidak lebih dari 80 korban jiwa, tapi menurut saksi mata Husein Safe (64th), jumlahnya lebih dari 300-an jiwa lebih. Dasar pertimbangannya adalah pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya:
"Saya lihat tentara mengangkuti mayat demikian banyaknya. Truk tentara bolak-balik mengangkut mayat-mayat yang berserakan dijalan," kata pria betubuh agak legam itu dengan menitikkan air mata.
Tragedi itu bermula dari kabar burung, bahwa empat hari sebelum banjir darah di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, 1984. Anggota ABRI bernama Hermanu dikabarkan masuk ke mushala warga tanpa membuka sepatu. Hermanu mencopot dan merobek pamflet yang mengeritik kebijakan pemerintahan Soeharto. Soal Pancasila sebagai asas tunggal.
Sang tentara bahkan dikabarkan menyiram sebagian mushala dengan air got. Warga marah. Sepeda motor Hermanu dibakar. Empat warga yang membakar sepeda motor pun ditahan di Kodim Jakarta Pusat.
12 September 1984, warga menggelar Tabligh Akbar dekat kantor polisi. Ada ribuan jemaah yang berkumpul. Isi ceramahnya keras dan kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Barang langka kala itu. Ratono, salah satu korban Tanjung Priok, saat itu ikut berceramah.
Ratono: "Dan bagi semua yang menindas, pasti akan hancur dan kita kan tegar. Acara 25 tahun tragedi berdarah Tanjung Priok, orang yang berani mengeritik kebijakan pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat langka."
Demo damai
Sejam sebelum tengah malam, hujan turun. Tokoh masyarakat Amir Biki mengajak jemaah Tabligh Akbar untuk berdemo ke Kodim, menuntut pembebasan empat warga mereka yang ditahan di sana. Husein Safe ada di barisan terdepan.
Husein Safe: "Jam 10 malam itulah, baru ada rencana demo ke Kodim. Itu demo ya, bukan maksudnya apa-apa. Kita demo meminta empat teman kita dipindahkan ke sini, ke polres. Nah, karena itu kan urusan polisi bukan urusan TNI, nah itu yang kami minta."
Berjarak dua meter dari tentara, warga dihadang. Ada sebelas tentara, semuanya dalam posisi siap menembak.
Kaki Husein Safe tertembus peluru. Di kiri kanan Husein, orang mati atau terluka.
Rombongan kedua yang dipimpin Amir Biki pun tiba. Maksud hati hendak menyelamatkan Husein dan kawan-kawan. Lagi-lagi disambut dengan kekerasan. Rentetan tembakan hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti sepanjang malam.
Tak lama empat truk dan satu mobil pemadam kebakaran datang. Korban tewas dan luka diangkut. Aspal yang hitam kemerahan langsung disiram air.
Jadi buron
Kisah penculikan mengisi fragmen berikutnya. Warga yang terlibat pengajian itu satu per satu menghilang. Ratono berupaya menghindar dengan tinggal berpindah-pindah.
Ratono: "Kayaknya ini sudah nggak aman. Saya langsung kabur, lari pulang. Pertama ke Ciputat, ke Bogor sebentar, terus Cianjur. Ya buronanlah, sampai terakhir saya ke Pandeglang. Pas 40 hari persis saya ditangkap. Itu pun karena isteri saya, yang terus diikutin sama intel. Gitu kan."
Aminatun yang membantu memperbanyak dokumen kronologis penembakan warga di Tanjung Priok, ikut diangkut bersama kakaknya.
Aminatun: "Malam tanggal 14 itu, digerebek rumah saya. Jam 12 saat saya mau tidur. Terus ketok-ketok pintu gitu loh. Ternyata melihat kakak saya sudah diborgol."
Ratono dan Aminatun dicecar pertanyaan seputar malam Tabligh Akbar. Lewat tangan tentara, siksaan mampir ke tubuh mereka.
Ratono: "Pokoknya tiga orang gebukin saya dari belakang. Di depan juga ada, terus sampai meleng begini kan di sel itu diborgol. Sampai saya bilang, Allahu Akbar! Tiga orang gebuk saya, meleng begini kan. Dihajar saya, Duash! Sampai pingsan, baru berhenti. Terus disetrum, Ces-ces-ces!"
Aminatun: "Waktu itu depresi saya, karena waktu itu, tiap malam diganggu. Jadi ditakut-takutin, ada yang mau memperkosa, ada yang mau masuk, mau dibunuh segala. Ya, sebenarnya, kalau buat saya kalau dibunuh itu kan mati, nggak masalah. Kenapa pakai ada suara-suara siksaan-siksaan. Jadi diperdengarkan suara-suara siksaan-siksaan itu setiap malamnya."
Dosa Turunan
Bertahun-tahun peristiwa berlalu, masih menyisakan kepedihan bagi keluarga korban. Hidup Wanmayetty sontak berubah begitu ayahnya menghilang dari bumi, pasca tragedi Tanjung Priok. Hidupnya berjalan terseok-seok. Sekolah mandek, cita-cita disimpan lagi dalam laci. Modal mereka kala itu hanya selembar ijazah SMA.
Wanmayetty: "Jadi, bukan bapakku saja yang hilang. Tapi pekerjaan juga hilang. Karena orang yang menjadi koneksi bapakku itu ketakutan menerima aku, karena aku dianggap eks-PKI. Jadi bekas-bekas PKI jaman dulu, bergerak kembali. Jadi digaris merahi, tiap wawancara digaris merahi. Bahwa kita warga Tanjung Priok, tak layak mendapat tempat kerja, dan kuliah pun sulit."
Diskriminasi pun jadi santapan sehari-hari. Adik Yetty, Nurhayati, misalnya, selalu dipersulit saat mengurus Surat Izin Kelakuan Baik.
Nurhayati: "Mba' dari Priok? Jakarta Utara? Saya bilang iya. Tapi dia nggak bilang sih saya ini korban Priok. Tapi dia bilang, kalau dari Priok biasanya banyak tato. Jadi alasan dia tuh begitu, jadi dia pengen, saya bisa buka baju. Di situ saya marah, saya ludahin tuh polisi, akhirnya saya keluar. Dari situ, kayaknya saya putus asa ngelamar ke sana ke mari. Saya ngerasa orang-orang itu mojokin saya."
Lima kali presiden berganti. Yang hilang tetap hilang. Korban dan keluarga korban belum mendapat keadilan.
Menunggu Keadilan
Hampir 25 tahun setelah peristiwa terjadi, barulah puluhan tentara diperiksa, termasuk Pangdam Jaya saat itu Try Sutrisno dan Panglima ABRI kala itu Benny Moerdani. Tapi tak semua petinggi TNI itu diajukan ke pengadilan pada 2003.
Padahal menurut Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, para petinggi TNI ketika itu, mengetahui, membiarkan dan memerintahkan penguburan diam-diam terhadap korban tewas. Bahkan diduga ikut terlibat dalam merencanakan penculikan dan penghilangan orang secara paksa.
Ifdhal Kasim: "Proses pengadilannya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena banyak sekali kelemahan dalam proses pengadilan ini. Kasus ini masih tetap mencari keadilan, karena upaya penyelesaiannya tidak memberikan hasil nyata bagi para korban. Bisa dikatakan, peristiwa Tanjung Priok baru diselesaikan secara parsial. Yang didapatkan korban baru partial justice."
Dari 23 pelaku yang direkomendasikan untuk diadili oleh Komnas HAM, Pengadilan HAM Ad Hoc menyusutkan jumlah terdakwa menjadi 14 tentara. Setelah berjalan tiga tahun, semuanya bebas: Mayjen RA Butar-butar, Mayjen Pranowo, Mayjen Sriyanto dan Kapten Soetrisno Mascung dan sepuluh anak buah mereka.
Islah
Warga Tanjung Priok pun dipecah belah lewat pemberian islah oleh tentara. Iming-iming uang 1 sampai 2,5 juta atau motor per orang membuat 85 dari total 100 korban Tanjung Priok ikut di belakang Pangdam Jaya Try Sutrisno. Logika yang ditawarkan Try Soetrisno kala itu adalah perdamaian.
Try Sutrisno: "Saya kira, bukan TNI saja, tiap perdamaian di tanah air itu, melegakan semua orang. Yang harus disadari. Apa kita mau terus jadi negara yang carut marut."
Padahal islah tak lebih dari sebuah sogokan demi memberikan keterangan palsu di pengadilan. Supaya saksi melunakkan, atau bahkan mencabut kesaksian. Aminatun tak pernah sudi menerima islah.
Aminatun: "Nah, kalau itu, hanya tipu daya, kalau islah itu hanya disuap uang recehan. Kemudian, disuruh ngaku, disuruh buat kesaksian yang diinginkan oleh mereka. Bikin rekayasa, bikin perlawanan."
Belasan korban yang tersisa terus bertahan, hingga kini. (*)

Kerusuhan Priok, Bukti Kesalahan Birokrat

oleh Prima Sp Vardhana / Kompas

Kejar, tendang, seret, tangkap, gebuk, tebas.... Rentetan kejadian itu berujung, tiga petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meregang nyawa, dan 134 orang luka-luka.

Satpol PP terlibat bentrok dengan warga Tanjung Priok saat berupaya mengambil alih lahan di sekitar kawasan Kompleks Makam Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu.

Eksekusi lahan sekitar makam tokoh Muslim Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau dikenal sebagai Mbah Priok, berubah menjadi kerusuhan berdarah, karena massa dan Satpol PP tersulut emosi, yang berlanjut saling lempar batu dan baku hantam.

Dengan embel-embel imbauan "jangan meniru adegan ini", sebuah stasiun televisi swasta menayangkan gambar seorang anggota Satpol PP terlentang di jalan raya "rame-rame" dipukul, ditendang, dilempar bahkan dirajam batu massa.

Dalam bagian tayangan berbeda, sejumlah petugas satpol PP menendang dan mengeroyok seorang warga. Di antara anggota satpol PP itu ada yang tertangkap kamera sedang memukul warga sambil mengisap sebatang rokok.

Dari gambar pewarta foto, tampak seorang bocah berusia belasan tahun yang terlibat aksi lempar ke petugas, akhirnya ditangkap, diseret dan dijadikan "bulan-bulanan" petugas. Sekujur tubuh bocah itu bersimbah darah.

Massa berusaha menggulingkan kendaraan water canon milik polisi saat pecah bentrokan dengan Satpol PP. Warga juga membakar sedikitnya 46 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri termasuk truk dan kendaraan berat.

Korban tewas insiden Priuk mencapai tiga orang anggota Satpol PP yakni M. Soepono, bertempat tinggal di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Israel Jaya bertempat tinggal di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi dan Ahmad Tadjudin yang beralamatkan Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Korban luka-luka, polisi sebanyak 10 orang, Satpol PP (69 orang) dan warga (55 orang).

Insiden ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin. Presiden meminta agar rencana penertiban kawasan makam itu dihentikan.

"Saya minta status quo," kata Yudhoyono, dalam jumpa pers menjelang tengah malam. "Pilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya menegaskan.

Insiden Priok yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan miliaran rupiah itu mengerucut kepada pertanyaan apakah bentrok itu cermin dari masyarakat yang memilih kredo kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan kekerasan?

Jawabnya, kekerasan bagaikan penyakit menular, demikian ahli filsafat Gabriel Possenti Sindhunata SJ. "Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan, ingin melampiaskan kekerasannya kepada orang lain," katanya.

Kekerasan adalah bumerang. Kekerasan balik mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk dan menebas lawan yang melepaskannya atau melawannya.

Menurut Sindhunata, dilawan atau tidak dilawan bahkan dibiarkan, akhirnya kekerasan sendiri yang senantiasa keluar sebagai pemenang.

Kekerasan diibaratkan sebagai si jago merah, dipadamkan dengan diguyur dengan air malah menyala besar bahkan melalap bagian bangunan lain, atau meminta korban jiwa.

Kekerasan bagaikan wabah, tidak diketahui dari mana datangnya, tapi tiba-tiba dan serta merta menyambangi dan menghantam manusia.

Kejadian Priok sungguh menyesakkan. "Bagaimana mungkin bangsa yang konon diagung-agungkan sebagai bangsa halus budi pekertinya dapat mengejar, menendang, menyeret, menangkap, menggebuk, merajam dan menebas sesama sambil menyunggingkan senyum, atau seraya menghisap sebatang rokok?"

"Saya sampaikan belasungkawa atas peristiwa ini," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sementara itu, Kepala Satpol PP Harianto Badjoeri mengatakan, "Pasti ada sanksi bagi yang melakukan penyerangan terlebih dahulu."

Meskipun demikian, ia menyebut dengan menggunakan kalimat kondisional, jika ada petugas Satpol PP yang terbakar emosi kemudian balik menyerang, tindakan itu merupakan hal wajar. "Itu adalah dinamika di lapangan, toh kita diserang duluan. Itu manusiawi," katanya.

Dalam insiden Priok, petugas Satpol PP tidak membawa senjata dan membawa tameng ketika melakukan penertiban sementara warga yang mencoba mempertahankan bangunan liar di sekitar makam Mbah Priok telah menyiapkan batu, clurit, golok, dan pedang samurai.

Kepolisian Daerah Polada Metro Jaya merespons dengan mengerahkan sekitar 600 personil untuk mengamankan Koja, Tanjung Priok. Ratusan personil polisi itu berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Metro Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Priok, kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Kamis.

Semua sepakat kejadian Priok dapat dikategori sebagai tragedi kemanusiaan mengenaskan. Kejadian itu juga meneguhkan bahwa institusi kemasyarakatan sedang gonjang-ganjing karena ulah aparat dan warga yang brutal. Mereka lebih suka memakai bahasa kekerasan, yang berujung jatuhnya korban jiwa.

Insiden Priok sama dan sebangun dengan bahasa tragedi karena kental dengan kekerasan. Kekerasan selalu berbalas kekerasan, padu dalam istilah betawi, "Ente jual, ane beli". (*)

KERIS KUNO DI BAWAH SITUS MASJID

SEBILAH keris kuno ditemukan di situs mesjid kuno yang diyakini sebagai masjid kompleks keraton Mataram Islam di Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sejauh ini, belum diketahui asal-usul keris berlekuk sembilan (luk songo) tersebut. Bilah keris sepanjang 45 sentimeter itu ditemukan oleh Tim Ekskavasi Situs Masjid Kauman Pleret di situs Masjid Kauman Pleret, Dusun Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/4/2010) petang. Keris ditemukan terkubur di kedalaman 120 sentimeter dengan kondisi tanpa pegangan maupun pembungkus. Lokasi penemuan berada sekitar lima meter di sisi luar bagian selatan fondasi bangunan induk masjid kuno. Ujung keris telah patah saat ditemukan. Seluruh bagiannya diselimuti tanah dan karat, sehingga detil keris tidak bisa dilihat. Namun, bagian dan lekuk keris masih dapat terlihat cukup jelas. Koordinator Lapangan Tim Ekskavasi Masjid Kauman Pleret Rully Andriadi mengatakan, keris tersebut ditemukan secara tak sengaja. "Tujuan kami semula adalah menemukan fondasi dan memetakan struktur bangunan mesjid kuno," katanya di lokasi penggalian, Jumat (16/4/2010). Hingga malam ini, belum diketahui asal-usul keris. Saat ini, tim ekskavasi gabungan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta dan Balai Arkeologi Yogyakarta tengah berupaya membersihkan keris secara mekanis dengan menggunakan sikat dan kuas. "Yang pasti ini adalah keris kuno. Dilihat dari tingkat kerusakan dan karat, keris ini mungkin sudah terpendam beratus tahun," ujar Rully. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, keris akan dianalisa secara arkeologi untuk mengetahui usia dan jenis logam pembuat keris. Tim juga berencana melibatkan ahli keris untuk menentukan fungsi keris. Menurut Rully, penemuan keris ini menarik karena merupakan penemuan pusaka yang pertama di seluruh situs kompleks keraton Mataram Islam yang mulai diekskavasi secara bergilir sejak 2003. Ekskavasi yang berlangsung 1-31 April ini merupakan ekskavasi tahap ketujuh di Masjid Kauman Pleret. Selain situs Masjid Kauman Pleret, kompleks situs Keraton Mataram Islam meliputi situs Kerto, Pungkuran, Gunung Kelir, dan Kedaton. Menurut sejumlah referensi, kompleks Keraton Pleret dan Kerto merupakan pusat pemerintahan Mataram Islam sekitar Abad ke-17. Juru Kunci Situs Masjid Kauman Pleret Rahmat Fauzi mengatakan, berdasarkan bentuknya, keris diduga merupakan jenis Ki Brojol. Jenis ini biasanya digunakan dalam proses melahirkan karena diyakini dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, dalam penggalian tahap ketujuh di situs Masjid Kauman Pleret ini juga ditemukan potongan tulang serta gigi binatang. Terdapat pula temuan berupa empat fragmen keramik dan gerabah. "Tiga potongan adalah jenis keramik China dari Dinasti Ming dan satu potongan lagi jenis keramik Eropa," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Alifah. Menurut Alifah, temuan-temuan ini sangat berguna untuk mengungkap kehidupan di seputar keraton Mataram Islam itu. Sejauh ini, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai keraton tersebut.
Tampilkan postingan dengan label KONI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONI. Tampilkan semua postingan

KONI Sidoarjo Diharapkan Rangkul Bapak Angkat Buat Cabor

Kamis, 22 Oktober 2009
oleh Prima Sp Vardhana



TRIBUN, Sidoarjo - Pekan olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang telah berakhir 10 Oktober lalu. Kontingen Kota Surabaya berhasil mempertahankan prestasinya sebagai juara umum dengan 47 emas, sementara posisi kedua hingga kelima ditempati kontingen tuan rumah Kota Malang, Kab. Sidoarjo, Kab. Malang, dan Kota Kediri.

Dalam perebutan kursi lima besar itu, prestasi yang ditunjukkan kontingen Kab. Sidoarjo sangat luar biasa. Pasukan yang hanya menggelar pemusatan latihan daerah (Puslatda) hanya lima hari mulai 27 September hingga 1 Oktober itu, ternyata berhasil memperbaiki prestasi yang diraih dalam Porprov I/2007 di Surabaya. Kontingen yang hanya berlaga dalam 17 cabang olahraga (cabor) dari 20 cabor yang dipertandingkan itu, dengan mengejutkan menggusur posisi kontingen Kota Kediri dari posisi ketiga.

Sukses yang didulang para atlet Sidoarjo itu secara prestise sangat membanggakan Bupati Sidoarjo H. Win Hendrarso saat dihubungi di ruang kerjanya, beberapa hari lalu. Menurut orang nomor satu di Kota Delta itu, karena sukses memperbaiki posisi itu secara prestasi membuktikan keberhasilan sistem pembinaan olahraga yang dilakukan pengurus cabang (pengcab) olahraga di Sidoarjo.

Sedangkan kucuran medali yang dijanjikan KONI Sidoarjo akan diberikan terhadap atlet yang berhasil mendulang medali Porprov II dilakukan pada 19 Oktober. Peraih medali emas mendapat Rp 2 juta. Peraih medai Perak dan Perunggu, masing-masing diganjar Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta. Untuk atlet yang tidak mendapat medali, masing-masing memper­oleh Rp 200 ribu.

Kebahagiaan yang ditunjukkan Win kian memuncak, setelah diketahui dalam pertempuran perebutan medali Porprov II di Malang, ternyata ada beberapa tim cabor mampu membukukan medali melebihi target yang ditetapkan KONI Sidoarjo. Tim karate, misalnya.

”Saya berharap kedepannya KONI harus memberikan perhatian spesial terhadap cabor-cabor yang mampu mendulang medali melebihi target, sehingga prestasi para atletnya mengalami peningkatan pesat dan bermanfaat untuk Jatim dan nasional,” ujarnya.

Sikap sama juga dilontarkan Wakil Bupati Sidoarjo H. Syaiful Ilah, bahkan kandidat kuat pengganti Win Hendrarso untuk periode 2010-2014 ini menyarankan, keberhasiln kontingen kota petis dalam Porprov II itu perlu ditindaklanjuti dengan peningkatan sistem pembinaan olahraga seluruhnya, khususnya terhadap cabor-cabor yang berhasil membuktikan hasil pembinaan atletnya dengan mendulang medali Porprov II.

Perhatian peningkatan sistem pembinaan atlet, menurut ketua PKB Sidoarjo ini, secara manajerial sangat beragam. Namun yang paling penting dan perlu ditindaklanjuti KONI Sidoarjo adalah menjadi mediator pencab-pengcab cabor, untuk mendapatkan bapak angkat yang siap mendukung pembinaan atlet-atlet Sidoarjo.

”Di Sidoarjo ini ada 700 lebih pengusaha mapan sebagaimana catatan Kadin Sidoarjo, masa merangkul satu pengusaha atau lebih untuk satu cabor tidak bisa dilakukan KONI. Kalau pun kesulitan ini yang terjadi, maka Pemkab siap memberikan dukungan dalam program KONI merangkul pengusaha sebagai bapa angkat cabor,” ujarnya.
 

TOLERANSI KEGAGALAN

Sukses Kab. Sidoarjo masuk tiga besar juara umum dengan mendulang 11 medali emas, 12 perak, dan 13 perunggu, secara prestise belum layak disebut sebagai sebuah keberhasilan kontingen. Pasalnya 260 atlet dan ofisial yang diturunkan dalam 17 cabor Porprov II, ternyata 5 cabor seperti bola voli, basket, bridge, silat, dan tenis meja mengalami kegagalan.

Dengan gagalnya 5 cabor tersebut dalam mendulang medali, maka asupan dana APBD Sidoarjo sebesar Rp 1,4 miliar yang diterima KONI dari Pemkab Sidoarjo yang sebagian besar untuk pengiriman tim ke Porprov II, secara prestise tidak mendapatkan imbalan seimbang dari kontingen yang dikirimkan dalam Porprov II.

Tolok ukur kegagalan memberikan imbalan seimbang dari asupan dana APBD untuk KONI Sidoarjo itu, adalah kegagalan lima tim cabor yang dikirimkan. Fakta itu menunjukkan, bahwa kontingen yang dikirimkan mengalami kegagalan 30%. Prosentase kegagalan tersebut secara prestasi, dinilai Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagya di Stadion Gajayana, melebihi standart toleransi kegagalan pengiriman sebuah kotingen olahraga.

Batas toleransi kegagalan sebuah kontingen olahraga dalam mendulang medali, menurut mantan petenis nasional ini, secara teknik sebesar 20%. Sehingga sebuah kontingen yang tampil dalam 20 cabor Porprov II ini, dikategorikan mengalami kegagalan prestasi umum saat lebih dari 4 tim cabor yang diturunkan gagal mendulang medali. Demikian pula terhadap pengiriman kontingen cabor yang berlaga dalam Kejurcab, Kejurda dan Kejurnas.

”Batas toleransi kegagalan ini wajib menjadi pegangan sebuah kontingen olahraga daerah yang tampil dalam even olahraga, karena terkait dana keberangkatan mereka yang berasal dari APBD dan haus dipertanggungjawabkan dengan prestasi,” ujarnya.  

Berdasar batas toleransi kegagalan tim olahraga yang dipaparkan Ibaq (panggilan akrab Irmantara Subagya), maka tim cabor yang diturunkan Kab. Sidoarjo seharusnya tak lebih dari tiga cabor. Karena itu, KONI Sidoarjo pun ”menyemprit” pengurus cabang lima cabor yang gagal mendulang medali Porprov II. Mereka diminta meningkatkan sistem pembinaan atlet yang dilakukan selama ini. Tolok ukur peningkatan sistem pembinaan itu harus mereka buktikan dalam Kejurprov masing-masing cabor yang akan berlangsung di sisa tahun 2009 dan 2010.
 
”KONI akan mengambil sikap tegas jika dalam Kejurprov mendatang, ternyata diantara 5 cabor itu ada yang gagal mendulang medali. Cabor bersangkutan tidak akan diproyeksikan berpartisipasi dalam Porprov III tahun 2011,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo H. MG Hadi Sutjipto di ruang kerjanya.

Karena itu, pejabat Asisten I Bidang Tata Pemerintahan dan Kesra Pemkab Sidoarjo ini berharap, kegagalan berprestasi dalam Porprov II itu tidak perlu lagi disesali yang secara psikologis akan bedampak dalam kejiwaan para atlet. Sebaliknya kegagalan tersebut cukup dinilai sebagai prestasi yang tertunda, sehingga dimanfaatkan sebagai momen motivasi pada masing-masing cabor untuk merebut prestasinya yang tertunda.

Selain itu, pria yang piawai beladiri pencak silat ini, juga berharap agar cabor yang sukses mendulang medali tidak terlenah dengan prestasinya dalam Porprov II. Prestasi yang berhasil dibukukan justru harus menjadi motivasi pembinaan, sehingga prestasinya dalam Kejurpro dan Porprov III mendatang mengalami peningkatan yang signifikan.

”Saya yakin sekali peta persaingan dalam Porprov III akan lebih ketat dan merata. Karena itu, semua pengcab olahaga di Sidoarjo mulai melakukan pembinaan berjenjang, sehingga menjelang Porprov tidak mengalami kesulitan dalam menjaring atlet potensial sebagaimana regulasi Porprov yang ditetapkan,” katanya. (vd)

 
Read Full 0 komentar

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah ‘Murni’ Porprov 2011

oleh Prima Sp Vardhana


TRIBUN, SurabayaSukses mempertahankan predikat juara umum dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang, 5 -10 Oktober, memantapkan KONI Surabaya untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah pesta olahraga paling prestisius se-Jatim III/2011 mendatang. Bahkan kesiapan menjadi tuan rumah itu sudah dilaporkan dan disetujui Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono.
 
Kendati demikian, kesiapan yang disampaikan komite olahraga Kota Pahlawan yang dipimpin Heroe Poernomohadi itu, tidak sekadar strategi untuk mempertahankan predikat juara umum Porprov yang ketiga kalinya. Namun lebih bersifat keinginan melaksanakan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2007 pasal 16 tentang sistem penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota, khususnya ayat 2 dan 3.  
 
Sikap ini terlihat dari kesiapan KONI Surabaya sebagai tuan rumah Porprov III/2011 dengan dua catatan persyaratan, yang selaras dalam penafsiran PP No.17/2007 pasal 16 ayat 2 dan 2. Dua persyaratan yang berintikan pada keinginan menjadi tuan rumah secara murni dalam menggelar seluruh nomor pertandingan di wilayah sendiri itu, adalah pertama pengelolaan seluruh dana penyelenggaraan dari Pemprov Jatim untuk Porprov diserahkan dan menjadi tanggung jawab KONI Surabaya. Kedua, kepanitiaan juga menjadi tanggung jawab penuh daerah, bukan lagi dipegang KONI Jatim.
 
“Dua persyaatan yang melengkapi kesiapan kami sebagai tuan rumah Porprov 2011, sesungguhnya bukan sebuah persyaratan baru. Pasalnya persyaratan itu pernah disodorkan KONI Surabaya saat ditunjuk KONI Jatim untuk menjadi tuan ruma Porprov I,” kata Heroe di ruang kerjanya.
 
Namun, dua persyaratan tersebut ditolak KONI Jatim dengan alasan persyaratan tersebut dinilai membuat peran serta KONI Jatim dalam penyelenggaraan Porprov menjadi hilang. Dampak penolakan itu membuat KONI Surabaya memutuskan mundur dan menolak dilibatkan dalam kepanitiaan Porprov I.
 
Tak pelak lagi posisi KONI Surabaya dalam Porprov I, diakui mantan pesilat andalan Jatim itu, murni sebagai peserta. Kota Surabaya hanya bersifat sebagai salah satu lokasi pertandingan bersama Gresik dan Sidoarjo, sementara porsi tuan rumah ditangani langsung oleh KONI Jatim.

RANSUM BASI
 

Sikap kesiapan menjadi tuan rumah Porprov III yang dilengkapi persyaratan itu. Menurut Heroe, terinspirasi dari fakta lapangan dalam penyelenggaraan Porprov II di Malang yang menelan APBD sebesar Rp 8,5 milyar lebih itu. Dengan sistem penyelenggaraan yang masih dikendalikan sepenuhnya oleh KONI Jatim, teryata penyelenggaraannya secara prestise lebih buruk dari Porprov I. Banyaknya kekurangan pada sektor-sektor vital, yang secara pesikologis mempengaruhi penampilan atlet yang diturunkan semua daerah.
 
Sektor akomodasi penginapan peserta, misalnya. Dengan penjatahan penginapan bersistem ”sama rata sama rasa” sebagaiman diakui Bidang Akomodasi PB Porprov II Ir Arief Sosiawan, saat berdiskusi dengan monev tim bola voli Kontingen Surabaya Irwan Setiadi di media centre GOR Gajayana, 5 Oktober malam. Dinilai Heroe, sistem tersebut justru menjadi bumerang yang membabit pencitraan KONI Jatim sebagai penyelenggara. Pasalnya banyak tim cabor daerah memilih pindah penginapan dengan resiko mengeluarkan dana tambahan, karena kondisi penginapan yang dinilai tak layak untuk atlet tim.
 
Kalau pun ada tim cabor yang tidak pindah, itu pun dilakukan dengan hati yang masgul. Atau diakibatkan oleh tipisnya dana keberangkatan kontingen daerah. ”Bukti banyaknya tim cabor yang pindah penginapan atau mengikuti penjatahan PB, sudah menjadi rahasia umum yang diketahui semua wartawan. Sebab kondisi penginapan sering menjadi bahan gibah antar ofisial sepanjang penyelenggaraan pertandingan cabor,” ujarnya.
 
Kekurangan lainnya terjadi pada jatah ransum atlet dan panitia, khususnya untuk pertandinga sore dan malam hari. Berdasar laporan para ofisial tim cabor, tim monev, konfirmasi dari daerah lain, serta fakta yang dilihat sendiri oleh Heroe. Jatah ransum peserta dan panitia untuk sore hari, rata-rata sudah basih dan berbauh saat akan disantap. Sehingga ofisial cabor daerah kembali mengeluarkan dana tambahan untuk membelikan konsumsi atletnya.
 
Selain itu, pada sektor alokasi dana penyelenggaraan pertandingan cabor yang mayoritas menunjukkan jumlah sangat fantastis dan bernuansa mark-up. Pada penyelenggaraan pertandingan cabor pencak silat, misalnya. Dana yang harus dikeluarkan KONI Jatim mencapai jumlah sekitar Rp 170 juta lebih. Jumlah dana tersebut dua kali lipat biaya yang dibutuhkan untuk menggelar Kejurda Pencak Silat yang rata-rata tak leih dari Rp 80 juta. Padahal jumlah pesilat yang tampil dalam Kejurda hampir lima kali lebih banyak dari Porprov II.
 
SARANA PROMOSI
 

Demikian pula dari sektor gebyarnya penyelenggaraan. Untuk Porprov II yang menelan dana Rp 8,5 milyar, ternyata gaungnya di Kota Malang seakan tidak terdengar. Masyarakat kota apel itu seakan tidak mengetahui, bahwa kotanya sedang menjadi tuan rumah sebuah PON mini. Ini terjadi lantaran di jalanan kota tidak ditemukan sarana promosi berupa umbul-umbul atau spanduk seperti saat Porprov I di Surabaya.
 
”Saya menjadi heran, Porprov II senilai milyaran rupiah mengapa gaung penyelenggaraannya tidak terasakan Saya tidak menemukan selembar umbul-umbul atau spanduk yang menunjukkan kota Malang tengah menjadi tuan rumah PON mini,” kelakar Sekretaris Umum KONI Surabaya Hoslich Abdullah.
 
Banyaknya kekurangan dalam penyelenggaraan Porprov II itu, dikatakan Heroe, sebagai bukti adanya ketidak harmonisan antara KONI Jatim sebagai penyelenggara dan KONI Kota Malang sebagai tuan rumah. Semua kekurangan itu diyakini tidak akan terjadi, kalau saja KONI Jatim menyerahkan sepenuhnya sistem penyelenggaraan dan pengelolaan Porprov II pada tuan rumah. Pasalnya tuan rumah pasti sangat tahu akan kondisi yang terkait di semua sektor penyelenggaraan, sehingga kebocoran dana penyelenggaraan dapat ditekan.
 
”Harapan saya untuk penyelenggaraan Porprov III nanti, KONI Jatim belajar pada sistem penyelenggaraan KONI Jabar yang sudah menggelar sepuluh kali Porprov,” kata Heroe kembali.
 
Sistem penyelenggaraan Porprov yang diterapkan KONI Jabar, sebagaimana penjelasan Humas KONI Jabar Mursyid WK saat mengunjugi Media Centre di Stadion Gajayana, 8 Oktober sore. Menurut ia, sistem penyelenggaraan Porprov Jabar mirip yang dilakukan KONI Pusat dalam menyelenggarakan PON di daerah. Pengelolaan sistem penyelenggaraan sepenuhnya diserahkan pada kota/ kabupaten yang ditunjuk sebagai tuan rumah, sementara KONI Jabar menempatkan diri sebagai steering comite (SC), yang tinggal menilai dan membenarkan sistem penyelenggaraan yang keliru.
 
Sistem penyelenggaraan yang dilakukan KONI Jabar itu juga sangatbermanfaat dalam menekan alokasi dana APBD untuk Porprov. Sebab dana penyelenggaraan Porprov Jabar yang dikucurkan Pemprov Jabar rata-rata jumlahnya 40% dari biaya yang dibutuhkan, sementara pemenuhn kekurangan dana tersebut menjadi tanggung jawab tuan rumah dengan sistem pengadaan dana yan diajarkan KONI Jabar.
 
”Kalau saja penyelenggaraan Porprov Jatim mulai yang ketiga hingga seterusnya sepeti yang dilakukan KONI Jabar, saya yakin penyelenggaraan Porprov akan sesuai dengan PP No. 17 tahun 2007 pasal 16. Selain itu, APBD Pemprov yang berasal dari uang rakyat itu tidak teralu terkuras sebesar dana penyelenggaraan Porprov II di Malang,” kata Heroe.  (vd)

Read Full 0 komentar

KONI Sidorajo Rencanakan TC Atlet Porprov II

Senin, 07 September 2009

KONI Sidoarjo hanya membutuhkan waktu lima hari untuk mengadakan training center (TC/pemusatan latihan) terhadap para atletnya. Padahal, banyak pesaing mereka dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang pada 5-10 Oktober mendatang yang melakukan program serupa dengan waktu lebih lama.

Tapi, itu tidak berarti KONI Sidoarjo tak berusaha membuat persiapan maksimal. Selama ini KONI sudah menyerahkan persiapan kepada setiap cabor. Bahkan, ada cabor yang sudah lama menggembleng atletnya. 

Rencananya, sentralisasi TC KONI Sidoarjo berlangsung mulai 27 September hingga 1 Oktober mendatang. Kenapa cuma lima hari? Hal tersebut tak lain terkait dengan ketersediaan dana yang tidak banyak. "Selama lima hari itu, latihan akan dilakukan seintensif mungkin agar begitu bertanding di porprov, para atlet bisa meraih hasil maksimal," kata Sekum KONI Sidoarjo Sunardi.

Selama TC, para atlet akan dikarantina di kompleks SMANOR Sidoarjo. Tapi, latihan tetap diadakan di tempat pengcab masing-masing.

Untuk keperluan Porprov II, KONI Sidoarjo menganggarkan dana sekitar Rp 1,4 miliar. Dana itu dipergunakan, antara lain, untuk uang saku atlet dan pelatih. Selama TC, kabarnya, setiap atlet akan mendapatkan uang saku Rp 50 ribu dan pelatih Rp 100 ribu perhari. 

Pada Porprov II Malang, Sidoarjo akan berpartisipasi di 17 cabor. Total atlet dan ofisial yang dikirimkan berjumlah 260. Pada Porprov I/2007 di Surabaya, Sidoarjo mengirimkan 187 atlet dan ofisial dari sepuluh cabor. 

Pada Porprov II mendatang, Sidoarjo tidak mematok jumlah medali emas yang harus dibawa pulang. Tapi, target wajibnya adalah harus lebih baik daripada perolehan porprov edisi pertama dua tahun lalu. Saat itu kontingen Kota Udang hanya bisa meraih 2 keping medali emas (voli pria dan jalan cepat wanita 5.000 meter), 3 perak, dan 5 perunggu. 

Meski KONI Sidoarjo tidak memasang target medali, semua pengcab yang turut berlaga menyatakan siap mempersembahkan yang terbaik. Pengcab Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) optimistis Wulansari Ramadhani bisa mempertahankan medali emas yang diraihnya di nomor jalan cepat 5.000 meter pada Porprov I. Saat menjadi juara, siswi kelas III SMANOR tersebut mencatat waktu 30 menit 23 detik. Setelah digembleng latihan keras, pada kejurnas junior bulan lalu, catatan Wulan naik signifikan menjadi 27 menit 58 detik. 

Pengcab Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) bahkan optimistis setidaknya bisa meraih empat emas. Hal itu didasarkan pada prestasi para atletnya saat turut di beberapa kejuaraan terakhir. (vd/jap)
Read Full 0 komentar

KONI Surabaya Siap Coret Atlet Porprov


KONI Surabaya tak akan segan-segan untuk mencoret atlet Surabaya yang akan diterjukan ke arena Porprov II di Malang, 5-10 Oktober, meski nama atlet tersebut sudah didaftarkan ke KONI Jatim. Sikap tegas itu akan dilakukan, karena rasa tanggungjawab pada Pemkot Surabaya yang membenani. Salah satunya, tanggungjawab untuk merebut medali emas untuk mempertahankan peringkt Surabaya sebagai juara umum Porprov I/2007 di Surabaya.

“Atlet yang akan kami coret namanya sebagai peserta kontingen adalah atlet yang tidak mampu membuktikan peningkatan prestasinya. Daripada penampilannya di Porprov menjadi noda untuk kontingen Surabaya, lebih baik atlet tersebut dicoret dan atmosfer dalam kontingen tetap sehat,” kata Ketua umum KONI Surabaya, Heroe Poernomohadi di sekretriat Surabaya Bangkit, Senin (7/9) sore.

Sikap KONI Surabaya itu tekait, menurut mantan pesilat Jatim ini, sebagai bagian dari rencana perampingan umlah kontingen Surabaya yang terlalu tambun. Sikap itu juga telah dikoordinasikan dengan pengurus 20 cabor yang dipertandingkan di Porprov. Langkah ini, nantinya akan didasarkan pada potensi raihan medali dari masing-masing atlet. Bisa saja, atlet Surabaya tak ambil bagian di semua nomor karena pertimbangan tipisnya kans meraih medali. 

Diakui, pihaknya belum bisa menentukan cabor mana saja yang kuotanya akan dikurangi. Semua masih akan dibahas secara marathon oleh Binpres KONI Surabaya, dan pengurus masing-masing cabor. “Tentunya dengan memperhatikan peluang kita dan kekuatan para kompetitor,” katanya. 

Kendati demikian, Heroe memastikan, bahwa perampingan koningen itu tidak berpenaruh pada jumlah cabor yang akan diikuti. Cabor yang diikuti tetap 20 buah. “Kebijakan ini tidak berpengaruh pada jumlah cabor, karena ini bagian dari komitmen kami sejak awal mendukung pelaksanaan Porprov. Hanya saja, mungkin ada beberapa nomor yang kita lepas, karena potensi menuai medalinya kecil sekali,” ujarnya. 

Surabaya bakal mengirim sebanyak 306 atlet yang terdiri dari 171 atlet putra, serta 135 atlet putri. Mereka didukung 129 ofisial. Drumband yang ditarget dua medali emas mengisi kuota terbanyak dengan 25 atlet. Disusul voli indoor dengan 24 atlet. Atletik yang memperebutkan 26 medali emas, akan diikuti 18 atlet Surabaya. Heroe menambahkan, perampingan ini tak akan mengubah target raihan medali di Porprov nanti. Surabaya tetap membidik koleksi 60 medali emas yang dinilai cukup sebagai bekal mempertahankan juara umum. 

“Tak ada revisi target. Seperti amanat Pak Bambang DH, walikota Surabaya, kita harus pertahankan juara umum. Medali sebanyak itu ( 60 keping, red) kita nilai cukup untuk mengamankannya,” tegasnya

Sebagai imbalan atas sikap tegas yang akan dilakukan itu, menurut ia, KONI Surabaya akan melobi Pemkot Surbaya untuk memberikan tambahan bonus bagi peraih medali di Porprov II/2009 . Ini karena KONI sendiri sudah memberikan suntikan dana yang membengkat dari rencana awal sebesar Rp 219 juta meningkat menjadi Rp 750 juta. Kelebihan dana tersebut diambilkan dari dna operasional beberapa bagian di KONI Surabaya. 

Seandainya upaya KONI Surabaya tak membuahkan hasil, Heroe memastikan para atlet peraih medali tetap akan menerima reward. Nominalnya sama dengan Porprov I/2007. Saat itu, peraih emas mendapatkan Rp 1 juta, perak Rp 750 ribu, dan perunggu Rp 500 ribu. (vd)

Read Full 0 komentar

Perang Bonus Medali Porprov II Gelitik KONI Sidoarjo

Rabu, 29 Juli 2009

oleh Prima sp Vardhana

PETA persaingan dalam arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang, 5-10 Oktober, dapat dipastikan berlangsung ketat. Perebutan medali pun akan menjadi sebuah perjuangan keras yang menguras tenaga dan fikiran. Karena itu, banyak daerah mulai mengibarkan psywar dengan iming-iming bonus, untuk atlet mereka yang berhasil mendulang medali emas.

Kondisi tersebut awalnya tidak terlalu menarik KONI Sidoarjo. Para pengurus komisi olahraga kota udang itu menilai, iming-iming bonus itu hanyalah sebuah akal-akalan daerah lain untuk memotivasi para atlet mereka yang akan turun di Porprov lebih berlatih keras. Sementara soal realisasi kucuran bonus untuk peraih medali emas, akan ditentukan pasca Porprov.

“Setelah Batu, Kota dan Kabupaten Malang mengumumkan nilai bonus yang akan diberikan buat atlet peraih emas, kami menilai perang bonus ini bukan main-main lagi. Karena itu, KONI Sidoarjo juga perlu ikut arus untuk menjaga kualitas mental atlet kami,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo, MG Hadi Sutjipto SH MM di ruang ker­janya.

Kucuran bonus untuk atlet peraih emas Porprov II. Menurut ia, sesungguhnya sudah menjadi program pengurus KONI sejak rencana pengiriman kontingen ke PON kecil itu. Namun pengurus belum berani mengumumkan, karena khawatir akan menjadi bumerang bagi sistem pembinaan yang tengah diselenggarakan para pengkab cabang olahraga (cabor). 

Kekhawatiran lainnya, takut mendapat teguran dari KONI Jatim. Pasalnya penyelenggaraan Porprov bermisi peningkatan pembibitan atlet. Juga pembangunan sistem fair-play dalam rekrutmen atlet untuk tim pelapis dalam penyelenggaran Puslatda 100/II, yang diproyeksikan untuk PON 2012.

“Karena Pak Karno Marsaid, ternyata tidak menyemprit terhadap konsisi perang bonus yang berkembang saat ini, maka kami pun memastikan jika atlet Sidoarjo peraih medali emas akan mendapat bonus,” ujarnya dengan tersenyum.

Berapa nilai yang akan diberikan untuk setiap keping medali emas. Hadi sutjipto yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo itu menolak secara halus, untuk menyebutkan besarnya nilai bonus tersebut. “Besarnya bonus untuk peraih emas Porprov tak etis saya sebutkan dan diumumkan di media, tapi kami akan membisikkan nilainya pada para pengurus cabor untuk disampaikan pada atlet yang berlatih,” kilahnya berdiplomasi.

Sikap tertutup pilihan KONI Sidoarjo terhadap besarnya nilai bonus yang akan dikucurkan, diakui pria yang juga Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini, takut menyinggung perasaan daerah lain yang hingga saat ini belum memastikan untuk memberi bonus atau tidak pada atletnya yang meraih medali emas.

Dana Pembinaan

Alokasi dana yang rencananya akan digunakan untuk memberikan bonus medali emas itu. Menurut ia, kemungkinan besar akan diambilkan dari dana yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, yang besarnya Rp 5 miliar. Juklak penggunaan dana tersebut untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Juga, operasional dari sebua pengkab cabor yang bernaung dibawah KONI Sidoarjo.

Sistem penggunaan dana tersebut, sebesar Rp 1,2 miliar untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Sedangkan yang Rp 3,8 miliar akan diberikan pada pengkab cabor. “Sedangkan alokasi pengadaan dana bonus saat ini tengah kami fikirkan. Diambil dari dana untuk pembiayaan dan pengiriman kontingen. Atau nantinya KONI akan mengajukan lagi pada Pemkab, karena nantinya yang memberikan bonus itu adalah Pak Bupati dalam sebuah acara seremonial resmi,” ujarnya.

Sedangkan mekanisme pengucuran dana Porprov pada pengkab cabor, dipastikan, akan berlangsung secara transparan dan memanfaatkan jasa perbankan. Karena itu, para pengkab cabor sudah diminta untuk menyerahkan rekening bank masing-masing, sehingga bendahara KONI dapat segera mengalirkan dana yang menjadi jatah mereka.

“Walau mekanismenya menggunakan jasa perbankan, tapi KONI menjamin setiap cabor dapat melihat nilai dana yang diterima satu dan lainnya,” ujarnya.

Nilai dana pembinaan untuk atlet Porprov itu, diakui, besarnya berdasar pada besarnya kebutuhan dana pembinaan yang sudah diajukan masing-masing cabor pada KONI. Hadi Sutjipto menjamin, bahwa sebelum awal Agustus semua cabor sudah menerima transfer dana yang dibutuhkan itu. (pvardhana88@gmail.com)

Read Full 0 komentar

Soekarwo Tak Berani Ungkap Dana Puslatda Jatim 100/II

Senin, 16 Maret 2009

oleh Prima Sp Vardhana

BENDE pertempuran PON XVIII Riau 2012 sudah didengungkan KONI Jawa Timur, dengan meresmikan Puslatda pada 16 Maret. Sebanyak 575 personel yang terdiri atas 435 atlet dan sisanya ofisial memadati GOR CLS Kertajaya, Surabaya, tempat program yang diberi nama Puslatda Jatim 100/II itu diresmikan. Gubernur Jatim Soekarwo yang melantik mereka.

Dalam sambutannya, gubernur yang baru dua bulan menjabat tersebut menuntut para atlet untuk mempertahankan gelar juara umum yang diraih di PON Kaltim. Seraya berjanji memberi dukungan penuh, dia optimistis Jatim bisa mengulang kejayaan di Riau tiga tahun mendatang.

Optimisme Soekarwo dilandasi oleh tiga hal yang dimiliki Jatim. Yakni, atlet yang punya kemauan keras, pelatih yang mumpuni, dan organisasi yang mendukung. “Di Jatim, saya lihat koordinasi antara tiga elemen itu bagus sekali. Jika koordinasi itu bisa dipertahankan, saya yakin juara umum bisa diraih kembali,” tegas pria yang akrab dengan sebutan Pakde tersebut.

Sayang, tuntutan plus optimisme tinggi dari orang nomor satu di Jatim tersebut tidak dibarengi dengan jaminan untuk sektor pendanaan. Soekarwo tidak berani menyebut besaran anggaran yang disiapkan pemerintah untuk puslatda jangka panjang yang digeber hingga menjelang PON itu. Dia juga tidak menganggap keterbatasan sarana latihan di Jatim sebagai kendala serius pencapaian prestasi.

“Dana itu memang penting, tapi bukan yang nomor satu. Yang lebih penting adalah semangat atlet untuk latihan keras. Kalau ada uang tapi atletnya tidak mau latihan, kan tidak mungkin bisa juara. Karena itu, sarana bukan faktor yang menentukan,” ucap Soekarwo.

Sebagai gambaran, untuk periode pertama puslatda ini, pemerintah provinsi mengalokasikan Rp 48 miliar dari APBD. Kalau mengacu ke sistem Puslatda Jatim 100 jilid pertama, tiap tahun alokasi anggaran itu selalu meningkat, bahkan di tahun terakhir mencapai Rp 67 miliar karena ditambah pos untuk bonus atlet.

“Saat ini APBD untuk tahun-tahun ke depan kan belum diukur. Jadi, soal ada peningkatan atau tidak, saya belum bisa menjawab,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim Imam Utomo menegaskan, semua cabor harus mulai latihan setelah puslatda dikukuhkan. Jatim harus berpacu dengan waktu karena rahasia sukses PON Kaltim lalu sudah diketahui provinsi lain. Kini, hampir semua daerah menjalankan puslatda dengan sistem yang persis seperti di Jatim.

“Kita sudah berbaik hati membagi-bagikan resep keberhasilan di PON Kaltim. Kalau semua daerah punya sistem latihan yang sama, kita harus berusaha lebih keras,” tegasnya. Mekanisme Puslatda Jatim 100 jilid kedua ini memang tidak banyak berbeda dengan pendahulunya.(pvardhana88@gmail.com)
Read Full 0 komentar

Puslatda PON XVIII Jatim Digelar, Imam Kritisi Kebijakan KONI Pusat



oleh Prima Sp vardhana

KETIDAKPASTIAN Cabang Olahraga (Cabor) yang akan dipertandingkan dalam PON XVIII/2012 di Riau, dipertanyakan KONI Jawa Timur. Ketua Umum KONI Jatim, H. Imam Utomo mengharapkan kepastian tersebut, karena sangat menentukan fokus konsentrasi setiap daerah dalam menyelenggarakan penggemblengan atlet daerah. Selain itu, kepastian tersebut sangat berpengaruh dalam prestasi atlet, khususnya di nomor-nomor terukur untuk memenuhi target prestasi pemecahan rekornas, rekor PON, dan rekor asia.

Demikian kritikan Imam Utomo seusai peresmian Puslatda PN XVIII/2012 oleh Gubernur Jatim H. Soekarwo di Gor Kertajaya, Senin (16/3) pagi.


Harapan Imam, KONI Pusat hendaknya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaran PON. Selama ini, KONI Pusat selalu menganut kebijakan misteri dalam menentukan cabor yang dipertandingkan dalam even paling prestisius di jagat Indonesia. Bahkan dalam penyelenggaraan PON XVII/2008 lalu. Sehingga membingungkan KONI daerah dalam menyelenggarakan sistem pembinaan atlet Puslatda PON.


“KONI Pusat sudah saatnya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaraan PON yang selama ini membingungkan daerah. Cabor yang dipertandingkan hendaknya segera dipastikan, sehingga daerah lebih terkonsentrasi dalam membina atletnya dan persaingan di PON XVIII Riau akan menghasilkan prestasi yang berpotensi medali emas SEA Games ataupun ASEAN Games,” kata mantan orang nomor satu di Jatim ini.


Selama ini, dinilainya, kepastian cabang yang dilagakan di PON XVIII Riau sangat tidak jelas. Tidak heran, banyak daerah menjadi kebingungan dalam menggelar Puslatda. Dus, KONI daerah dipaksa melakukan prakiraan yang tidak memiliki kepastian dalam menggelar Puslatda mereka. Misalnya, menggelar Puslatda dengan Cabor yang hanya dipertandingkan dalam SEA Games atau pun ASEAN Games saja. Namun, juga ada daerah yang menggelar Puslatda dengan pembatasan atlet yang cabornya di PON XVII mendulang emas, seperti yang dilakukan Jawa Timur.


“Memang ada cabor yang sudah diketahui akan dilombakan. Tapi, kepastiannya khan belum. Hal ini akan kita pertanyakan ke KONI Pusat dalam Raparnas di Jakarta nanti,” ujarnya.


Selain kepastian cabor, menurut ia, Jatim juga akan mengusulkan agar cabor yang dipertandingkan di PON disesuaikan dengan SEA Games. Sebab, level SEA Games lebih tinggi dibanding PON. ”Jangan sampai atlet juara PON, nantinya tidak bisa berlaga di SEA Games. KONI Jatim juga akan berupaya agar cabor andalan yang tak dilombakan di SEA Games bisa dipertandingkan di PON, seperti panjat tebing,” tambahnya.


Soal mutasi atlet, Imam juga sependapat dengan penolakan daerah lain terhadap mutasi atlet sebelum PON. “Semua daerah sepakat tolak mutasi. Hanya saja, harus ada keputusan KONI Pusat yang bersifat mengikat, Kami berharap jangan sampai kasus-kasus mutasi atlet di PON XVII kembali terulang lantaran ketidaktegasan KONI Pusat,” ujarnya


Sedangkan Gubernur Jatim H. Soekarwo saat meresmikan penyelenggaraan Pusalatda PON XVIII Jatim 100/II, mengatakan, bahwa kesuksesan sebuah daerah dalam even PON bergantung pada tiga tiang pokok utama, yaitu keberadaan atlet potensial, pelatih yang piawai menggembeleng prestasi, serta KONI yang memiliki program pembinaan yang bijaksana dan obyektif.


“Jatim saat ini telah memiliki tiga tiang pokok tersebut, harapan saya ketiganya mampu melaksanakan Puslatda PON XVIII dalam sebuah sinergi yang harmonis,” katanya.


Hubungan antara atlet, pelatih dan KONI Jatim, menurut ia. tidak bisa dipreteli untuk berdiri sendiri-sendiri. Namun merupakan sebuah kesatuan yang satu dengan lainnya harus saling melekat. Senyampang tiga unsur pendongkrak prestasi itu bersinergi dengan harmonis, dia yakin di PON XVIII Riau nanti Jatim mampu dan bisa kembali menjadi juara umum seperti di PON XVII lalu.


“Seorang pelatih dengan program pembinaan yang bagus tidak akan mampu melahirkan sebuah juara apabila tidak didukung atlet bagus dan berpotensi. Sebaliknya atlet ber-skill bagus juga tidak akan jadi juara jika tidak memiliki pelatih yang baik, Apabila simbiosis antara atlet dan pelatih ini bagus serta saling mendukung tetapi gong terakhirnya, yakni KONI tidak bagus, maka perjuangan atlet dan pelatih dalam menggembeleng diri akan sia-sia dan masuk tong sampah,” katanya.


Soekarwo juga mengucapkan terima kasih kepada Imam Utomo, karena mampu mengantarkan KONI Jawa Timur merebut predikat juara umum PON XVII/2008 Kaltim. Selain itu, prestasi yang diukir juga sangat luar biasa. Dari 100 medali emas yang ditargetkan, ternyata kontingen Jawa Timur berhasil mendulang 139 medali emas, 114 perak, dan 111 perunggu.


Sedangkan Humas KONI Jatim Fonumero Ziraluo yang populer dipanggil Fonzir mengatakan, Puslatda Jangka Panjang PON XVIII Jatim ini merupakan obsesi KONI sejak tahun lalu. Program Puslatda Jangka Panjang tahun ini, Jatim menetapkan nama Jatim 102. Artinya di PON XVIII Riau mendatang, Jatim akan menargetkan perolehan medali emas sebanyak 102 atau lebih banyak dibanding PON XVII Kalimantan Timur lalu.


Cabor yang masuk Puslatda, dikatakan, dibatasi 32 cabor dengan kriteria cabor perorangan terukur yang berhasil mendulang emas PON XVII Kaltim. Jumlah atletnya 439 orang. Sedangkan cabor permainan dan lainnya, penyelenggaraan Puslatdanya akan menyusul berdasarkan perkembangan prestasi yang mereka dulang hingga dua tahun menjelang pelaksanaan PON XVIII tahun 2012. (pvardhana88@gmail.com)
Read Full 0 komentar
 

Free Blog Templates

Easy Blog Trick

Blog Tutorial

© 3 Columns Newspaper Copyright by SWARA ONLINE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks