KONI Sidoarjo Diharapkan Rangkul Bapak Angkat Buat Cabor
Kamis, 22 Oktober 2009TRIBUN, Sidoarjo - Pekan olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang telah berakhir 10 Oktober lalu. Kontingen Kota Surabaya berhasil mempertahankan prestasinya sebagai juara umum dengan 47 emas, sementara posisi kedua hingga kelima ditempati kontingen tuan rumah Kota Malang, Kab. Sidoarjo, Kab. Malang, dan Kota Kediri.
Dalam perebutan kursi lima besar itu, prestasi yang ditunjukkan kontingen Kab. Sidoarjo sangat luar biasa. Pasukan yang hanya menggelar pemusatan latihan daerah (Puslatda) hanya lima hari mulai 27 September hingga 1 Oktober itu, ternyata berhasil memperbaiki prestasi yang diraih dalam Porprov I/2007 di Surabaya. Kontingen yang hanya berlaga dalam 17 cabang olahraga (cabor) dari 20 cabor yang dipertandingkan itu, dengan mengejutkan menggusur posisi kontingen Kota Kediri dari posisi ketiga.
Sukses yang didulang para atlet Sidoarjo itu secara prestise sangat membanggakan Bupati Sidoarjo H. Win Hendrarso saat dihubungi di ruang kerjanya, beberapa hari lalu. Menurut orang nomor satu di Kota Delta itu, karena sukses memperbaiki posisi itu secara prestasi membuktikan keberhasilan sistem pembinaan olahraga yang dilakukan pengurus cabang (pengcab) olahraga di Sidoarjo.
Sedangkan kucuran medali yang dijanjikan KONI Sidoarjo akan diberikan terhadap atlet yang berhasil mendulang medali Porprov II dilakukan pada 19 Oktober. Peraih medali emas mendapat Rp 2 juta. Peraih medai Perak dan Perunggu, masing-masing diganjar Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta. Untuk atlet yang tidak mendapat medali, masing-masing memperoleh Rp 200 ribu.
Kebahagiaan yang ditunjukkan Win kian memuncak, setelah diketahui dalam pertempuran perebutan medali Porprov II di Malang, ternyata ada beberapa tim cabor mampu membukukan medali melebihi target yang ditetapkan KONI Sidoarjo. Tim karate, misalnya.
”Saya berharap kedepannya KONI harus memberikan perhatian spesial terhadap cabor-cabor yang mampu mendulang medali melebihi target, sehingga prestasi para atletnya mengalami peningkatan pesat dan bermanfaat untuk Jatim dan nasional,” ujarnya.
Sikap sama juga dilontarkan Wakil Bupati Sidoarjo H. Syaiful Ilah, bahkan kandidat kuat pengganti Win Hendrarso untuk periode 2010-2014 ini menyarankan, keberhasiln kontingen kota petis dalam Porprov II itu perlu ditindaklanjuti dengan peningkatan sistem pembinaan olahraga seluruhnya, khususnya terhadap cabor-cabor yang berhasil membuktikan hasil pembinaan atletnya dengan mendulang medali Porprov II.
Perhatian peningkatan sistem pembinaan atlet, menurut ketua PKB Sidoarjo ini, secara manajerial sangat beragam. Namun yang paling penting dan perlu ditindaklanjuti KONI Sidoarjo adalah menjadi mediator pencab-pengcab cabor, untuk mendapatkan bapak angkat yang siap mendukung pembinaan atlet-atlet Sidoarjo.
”Di Sidoarjo ini ada 700 lebih pengusaha mapan sebagaimana catatan Kadin Sidoarjo, masa merangkul satu pengusaha atau lebih untuk satu cabor tidak bisa dilakukan KONI. Kalau pun kesulitan ini yang terjadi, maka Pemkab siap memberikan dukungan dalam program KONI merangkul pengusaha sebagai bapa angkat cabor,” ujarnya.
TOLERANSI KEGAGALAN
Sukses Kab. Sidoarjo masuk tiga besar juara umum dengan mendulang 11 medali emas, 12 perak, dan 13 perunggu, secara prestise belum layak disebut sebagai sebuah keberhasilan kontingen. Pasalnya 260 atlet dan ofisial yang diturunkan dalam 17 cabor Porprov II, ternyata 5 cabor seperti bola voli, basket, bridge, silat, dan tenis meja mengalami kegagalan.
Dengan gagalnya 5 cabor tersebut dalam mendulang medali, maka asupan dana APBD Sidoarjo sebesar Rp 1,4 miliar yang diterima KONI dari Pemkab Sidoarjo yang sebagian besar untuk pengiriman tim ke Porprov II, secara prestise tidak mendapatkan imbalan seimbang dari kontingen yang dikirimkan dalam Porprov II.
Tolok ukur kegagalan memberikan imbalan seimbang dari asupan dana APBD untuk KONI Sidoarjo itu, adalah kegagalan lima tim cabor yang dikirimkan. Fakta itu menunjukkan, bahwa kontingen yang dikirimkan mengalami kegagalan 30%. Prosentase kegagalan tersebut secara prestasi, dinilai Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagya di Stadion Gajayana, melebihi standart toleransi kegagalan pengiriman sebuah kotingen olahraga.
Batas toleransi kegagalan sebuah kontingen olahraga dalam mendulang medali, menurut mantan petenis nasional ini, secara teknik sebesar 20%. Sehingga sebuah kontingen yang tampil dalam 20 cabor Porprov II ini, dikategorikan mengalami kegagalan prestasi umum saat lebih dari 4 tim cabor yang diturunkan gagal mendulang medali. Demikian pula terhadap pengiriman kontingen cabor yang berlaga dalam Kejurcab, Kejurda dan Kejurnas.
”Batas toleransi kegagalan ini wajib menjadi pegangan sebuah kontingen olahraga daerah yang tampil dalam even olahraga, karena terkait dana keberangkatan mereka yang berasal dari APBD dan haus dipertanggungjawabkan dengan prestasi,” ujarnya.
Berdasar batas toleransi kegagalan tim olahraga yang dipaparkan Ibaq (panggilan akrab Irmantara Subagya), maka tim cabor yang diturunkan Kab. Sidoarjo seharusnya tak lebih dari tiga cabor. Karena itu, KONI Sidoarjo pun ”menyemprit” pengurus cabang lima cabor yang gagal mendulang medali Porprov II. Mereka diminta meningkatkan sistem pembinaan atlet yang dilakukan selama ini. Tolok ukur peningkatan sistem pembinaan itu harus mereka buktikan dalam Kejurprov masing-masing cabor yang akan berlangsung di sisa tahun 2009 dan 2010.
”KONI akan mengambil sikap tegas jika dalam Kejurprov mendatang, ternyata diantara 5 cabor itu ada yang gagal mendulang medali. Cabor bersangkutan tidak akan diproyeksikan berpartisipasi dalam Porprov III tahun 2011,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo H. MG Hadi Sutjipto di ruang kerjanya.
Karena itu, pejabat Asisten I Bidang Tata Pemerintahan dan Kesra Pemkab Sidoarjo ini berharap, kegagalan berprestasi dalam Porprov II itu tidak perlu lagi disesali yang secara psikologis akan bedampak dalam kejiwaan para atlet. Sebaliknya kegagalan tersebut cukup dinilai sebagai prestasi yang tertunda, sehingga dimanfaatkan sebagai momen motivasi pada masing-masing cabor untuk merebut prestasinya yang tertunda.
Selain itu, pria yang piawai beladiri pencak silat ini, juga berharap agar cabor yang sukses mendulang medali tidak terlenah dengan prestasinya dalam Porprov II. Prestasi yang berhasil dibukukan justru harus menjadi motivasi pembinaan, sehingga prestasinya dalam Kejurpro dan Porprov III mendatang mengalami peningkatan yang signifikan.
”Saya yakin sekali peta persaingan dalam Porprov III akan lebih ketat dan merata. Karena itu, semua pengcab olahaga di Sidoarjo mulai melakukan pembinaan berjenjang, sehingga menjelang Porprov tidak mengalami kesulitan dalam menjaring atlet potensial sebagaimana regulasi Porprov yang ditetapkan,” katanya. (vd)
Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah ‘Murni’ Porprov 2011
TRIBUN, Surabaya - Sukses mempertahankan predikat juara umum dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang, 5 -10 Oktober, memantapkan KONI Surabaya untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah pesta olahraga paling prestisius se-Jatim III/2011 mendatang. Bahkan kesiapan menjadi tuan rumah itu sudah dilaporkan dan disetujui Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono.
Kendati demikian, kesiapan yang disampaikan komite olahraga Kota Pahlawan yang dipimpin Heroe Poernomohadi itu, tidak sekadar strategi untuk mempertahankan predikat juara umum Porprov yang ketiga kalinya. Namun lebih bersifat keinginan melaksanakan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2007 pasal 16 tentang sistem penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota, khususnya ayat 2 dan 3.
Sikap ini terlihat dari kesiapan KONI Surabaya sebagai tuan rumah Porprov III/2011 dengan dua catatan persyaratan, yang selaras dalam penafsiran PP No.17/2007 pasal 16 ayat 2 dan 2. Dua persyaratan yang berintikan pada keinginan menjadi tuan rumah secara murni dalam menggelar seluruh nomor pertandingan di wilayah sendiri itu, adalah pertama pengelolaan seluruh dana penyelenggaraan dari Pemprov Jatim untuk Porprov diserahkan dan menjadi tanggung jawab KONI Surabaya. Kedua, kepanitiaan juga menjadi tanggung jawab penuh daerah, bukan lagi dipegang KONI Jatim.
“Dua persyaatan yang melengkapi kesiapan kami sebagai tuan rumah Porprov 2011, sesungguhnya bukan sebuah persyaratan baru. Pasalnya persyaratan itu pernah disodorkan KONI Surabaya saat ditunjuk KONI Jatim untuk menjadi tuan ruma Porprov I,” kata Heroe di ruang kerjanya.
Namun, dua persyaratan tersebut ditolak KONI Jatim dengan alasan persyaratan tersebut dinilai membuat peran serta KONI Jatim dalam penyelenggaraan Porprov menjadi hilang. Dampak penolakan itu membuat KONI Surabaya memutuskan mundur dan menolak dilibatkan dalam kepanitiaan Porprov I.
Tak pelak lagi posisi KONI Surabaya dalam Porprov I, diakui mantan pesilat andalan Jatim itu, murni sebagai peserta. Kota Surabaya hanya bersifat sebagai salah satu lokasi pertandingan bersama Gresik dan Sidoarjo, sementara porsi tuan rumah ditangani langsung oleh KONI Jatim.
RANSUM BASI
Sikap kesiapan menjadi tuan rumah Porprov III yang dilengkapi persyaratan itu. Menurut Heroe, terinspirasi dari fakta lapangan dalam penyelenggaraan Porprov II di Malang yang menelan APBD sebesar Rp 8,5 milyar lebih itu. Dengan sistem penyelenggaraan yang masih dikendalikan sepenuhnya oleh KONI Jatim, teryata penyelenggaraannya secara prestise lebih buruk dari Porprov I. Banyaknya kekurangan pada sektor-sektor vital, yang secara pesikologis mempengaruhi penampilan atlet yang diturunkan semua daerah.
Sektor akomodasi penginapan peserta, misalnya. Dengan penjatahan penginapan bersistem ”sama rata sama rasa” sebagaiman diakui Bidang Akomodasi PB Porprov II Ir Arief Sosiawan, saat berdiskusi dengan monev tim bola voli Kontingen Surabaya Irwan Setiadi di media centre GOR Gajayana, 5 Oktober malam. Dinilai Heroe, sistem tersebut justru menjadi bumerang yang membabit pencitraan KONI Jatim sebagai penyelenggara. Pasalnya banyak tim cabor daerah memilih pindah penginapan dengan resiko mengeluarkan dana tambahan, karena kondisi penginapan yang dinilai tak layak untuk atlet tim.
Kalau pun ada tim cabor yang tidak pindah, itu pun dilakukan dengan hati yang masgul. Atau diakibatkan oleh tipisnya dana keberangkatan kontingen daerah. ”Bukti banyaknya tim cabor yang pindah penginapan atau mengikuti penjatahan PB, sudah menjadi rahasia umum yang diketahui semua wartawan. Sebab kondisi penginapan sering menjadi bahan gibah antar ofisial sepanjang penyelenggaraan pertandingan cabor,” ujarnya.
Kekurangan lainnya terjadi pada jatah ransum atlet dan panitia, khususnya untuk pertandinga sore dan malam hari. Berdasar laporan para ofisial tim cabor, tim monev, konfirmasi dari daerah lain, serta fakta yang dilihat sendiri oleh Heroe. Jatah ransum peserta dan panitia untuk sore hari, rata-rata sudah basih dan berbauh saat akan disantap. Sehingga ofisial cabor daerah kembali mengeluarkan dana tambahan untuk membelikan konsumsi atletnya.
Selain itu, pada sektor alokasi dana penyelenggaraan pertandingan cabor yang mayoritas menunjukkan jumlah sangat fantastis dan bernuansa mark-up. Pada penyelenggaraan pertandingan cabor pencak silat, misalnya. Dana yang harus dikeluarkan KONI Jatim mencapai jumlah sekitar Rp 170 juta lebih. Jumlah dana tersebut dua kali lipat biaya yang dibutuhkan untuk menggelar Kejurda Pencak Silat yang rata-rata tak leih dari Rp 80 juta. Padahal jumlah pesilat yang tampil dalam Kejurda hampir lima kali lebih banyak dari Porprov II.
SARANA PROMOSI
Demikian pula dari sektor gebyarnya penyelenggaraan. Untuk Porprov II yang menelan dana Rp 8,5 milyar, ternyata gaungnya di Kota Malang seakan tidak terdengar. Masyarakat kota apel itu seakan tidak mengetahui, bahwa kotanya sedang menjadi tuan rumah sebuah PON mini. Ini terjadi lantaran di jalanan kota tidak ditemukan sarana promosi berupa umbul-umbul atau spanduk seperti saat Porprov I di Surabaya.
”Saya menjadi heran, Porprov II senilai milyaran rupiah mengapa gaung penyelenggaraannya tidak terasakan Saya tidak menemukan selembar umbul-umbul atau spanduk yang menunjukkan kota Malang tengah menjadi tuan rumah PON mini,” kelakar Sekretaris Umum KONI Surabaya Hoslich Abdullah.
Banyaknya kekurangan dalam penyelenggaraan Porprov II itu, dikatakan Heroe, sebagai bukti adanya ketidak harmonisan antara KONI Jatim sebagai penyelenggara dan KONI Kota Malang sebagai tuan rumah. Semua kekurangan itu diyakini tidak akan terjadi, kalau saja KONI Jatim menyerahkan sepenuhnya sistem penyelenggaraan dan pengelolaan Porprov II pada tuan rumah. Pasalnya tuan rumah pasti sangat tahu akan kondisi yang terkait di semua sektor penyelenggaraan, sehingga kebocoran dana penyelenggaraan dapat ditekan.
”Harapan saya untuk penyelenggaraan Porprov III nanti, KONI Jatim belajar pada sistem penyelenggaraan KONI Jabar yang sudah menggelar sepuluh kali Porprov,” kata Heroe kembali.
Sistem penyelenggaraan Porprov yang diterapkan KONI Jabar, sebagaimana penjelasan Humas KONI Jabar Mursyid WK saat mengunjugi Media Centre di Stadion Gajayana, 8 Oktober sore. Menurut ia, sistem penyelenggaraan Porprov Jabar mirip yang dilakukan KONI Pusat dalam menyelenggarakan PON di daerah. Pengelolaan sistem penyelenggaraan sepenuhnya diserahkan pada kota/ kabupaten yang ditunjuk sebagai tuan rumah, sementara KONI Jabar menempatkan diri sebagai steering comite (SC), yang tinggal menilai dan membenarkan sistem penyelenggaraan yang keliru.
Sistem penyelenggaraan yang dilakukan KONI Jabar itu juga sangatbermanfaat dalam menekan alokasi dana APBD untuk Porprov. Sebab dana penyelenggaraan Porprov Jabar yang dikucurkan Pemprov Jabar rata-rata jumlahnya 40% dari biaya yang dibutuhkan, sementara pemenuhn kekurangan dana tersebut menjadi tanggung jawab tuan rumah dengan sistem pengadaan dana yan diajarkan KONI Jabar.
”Kalau saja penyelenggaraan Porprov Jatim mulai yang ketiga hingga seterusnya sepeti yang dilakukan KONI Jabar, saya yakin penyelenggaraan Porprov akan sesuai dengan PP No. 17 tahun 2007 pasal 16. Selain itu, APBD Pemprov yang berasal dari uang rakyat itu tidak teralu terkuras sebesar dana penyelenggaraan Porprov II di Malang,” kata Heroe. (vd)
KONI Sidorajo Rencanakan TC Atlet Porprov II
Senin, 07 September 2009
KONI Sidoarjo hanya membutuhkan waktu lima hari untuk mengadakan training center (TC/pemusatan latihan) terhadap para atletnya. Padahal, banyak pesaing mereka dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang pada 5-10 Oktober mendatang yang melakukan program serupa dengan waktu lebih lama.
Tapi, itu tidak berarti KONI Sidoarjo tak berusaha membuat persiapan maksimal. Selama ini KONI sudah menyerahkan persiapan kepada setiap cabor. Bahkan, ada cabor yang sudah lama menggembleng atletnya.
Rencananya, sentralisasi TC KONI Sidoarjo berlangsung mulai 27 September hingga 1 Oktober mendatang. Kenapa cuma lima hari? Hal tersebut tak lain terkait dengan ketersediaan dana yang tidak banyak. "Selama lima hari itu, latihan akan dilakukan seintensif mungkin agar begitu bertanding di porprov, para atlet bisa meraih hasil maksimal," kata Sekum KONI Sidoarjo Sunardi.
Selama TC, para atlet akan dikarantina di kompleks SMANOR Sidoarjo. Tapi, latihan tetap diadakan di tempat pengcab masing-masing.
Untuk keperluan Porprov II, KONI Sidoarjo menganggarkan dana sekitar Rp 1,4 miliar. Dana itu dipergunakan, antara lain, untuk uang saku atlet dan pelatih. Selama TC, kabarnya, setiap atlet akan mendapatkan uang saku Rp 50 ribu dan pelatih Rp 100 ribu perhari.
Pada Porprov II Malang, Sidoarjo akan berpartisipasi di 17 cabor. Total atlet dan ofisial yang dikirimkan berjumlah 260. Pada Porprov I/2007 di Surabaya, Sidoarjo mengirimkan 187 atlet dan ofisial dari sepuluh cabor.
Pada Porprov II mendatang, Sidoarjo tidak mematok jumlah medali emas yang harus dibawa pulang. Tapi, target wajibnya adalah harus lebih baik daripada perolehan porprov edisi pertama dua tahun lalu. Saat itu kontingen Kota Udang hanya bisa meraih 2 keping medali emas (voli pria dan jalan cepat wanita 5.000 meter), 3 perak, dan 5 perunggu.
Meski KONI Sidoarjo tidak memasang target medali, semua pengcab yang turut berlaga menyatakan siap mempersembahkan yang terbaik. Pengcab Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) optimistis Wulansari Ramadhani bisa mempertahankan medali emas yang diraihnya di nomor jalan cepat 5.000 meter pada Porprov I. Saat menjadi juara, siswi kelas III SMANOR tersebut mencatat waktu 30 menit 23 detik. Setelah digembleng latihan keras, pada kejurnas junior bulan lalu, catatan Wulan naik signifikan menjadi 27 menit 58 detik.
Pengcab Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) bahkan optimistis setidaknya bisa meraih empat emas. Hal itu didasarkan pada prestasi para atletnya saat turut di beberapa kejuaraan terakhir. (vd/jap)
KONI Surabaya Siap Coret Atlet Porprov

KONI Surabaya tak akan segan-segan untuk mencoret atlet Surabaya yang akan diterjukan ke arena Porprov II di Malang, 5-10 Oktober, meski nama atlet tersebut sudah didaftarkan ke KONI Jatim. Sikap tegas itu akan dilakukan, karena rasa tanggungjawab pada Pemkot Surabaya yang membenani. Salah satunya, tanggungjawab untuk merebut medali emas untuk mempertahankan peringkt Surabaya sebagai juara umum Porprov I/2007 di Surabaya.
“Atlet yang akan kami coret namanya sebagai peserta kontingen adalah atlet yang tidak mampu membuktikan peningkatan prestasinya. Daripada penampilannya di Porprov menjadi noda untuk kontingen Surabaya, lebih baik atlet tersebut dicoret dan atmosfer dalam kontingen tetap sehat,” kata Ketua umum KONI Surabaya, Heroe Poernomohadi di sekretriat Surabaya Bangkit, Senin (7/9) sore.
Diakui, pihaknya belum bisa menentukan cabor mana saja yang kuotanya akan dikurangi. Semua masih akan dibahas secara marathon oleh Binpres KONI Surabaya, dan pengurus masing-masing cabor. “Tentunya dengan memperhatikan peluang kita dan kekuatan para kompetitor,” katanya.
Kendati demikian, Heroe memastikan, bahwa perampingan koningen itu tidak berpenaruh pada jumlah cabor yang akan diikuti. Cabor yang diikuti tetap 20 buah. “Kebijakan ini tidak berpengaruh pada jumlah cabor, karena ini bagian dari komitmen kami sejak awal mendukung pelaksanaan Porprov. Hanya saja, mungkin ada beberapa nomor yang kita lepas, karena potensi menuai medalinya kecil sekali,” ujarnya.
“Tak ada revisi target. Seperti amanat Pak Bambang DH, walikota Surabaya, kita harus pertahankan juara umum. Medali sebanyak itu ( 60 keping, red) kita nilai cukup untuk mengamankannya,” tegasnya
Seandainya upaya KONI Surabaya tak membuahkan hasil, Heroe memastikan para atlet peraih medali tetap akan menerima reward. Nominalnya sama dengan Porprov I/2007. Saat itu, peraih emas mendapatkan Rp 1 juta, perak Rp 750 ribu, dan perunggu Rp 500 ribu. (vd)
Perang Bonus Medali Porprov II Gelitik KONI Sidoarjo
Rabu, 29 Juli 2009
oleh Prima sp Vardhana
PETA persaingan dalam arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang, 5-10 Oktober, dapat dipastikan berlangsung ketat. Perebutan medali pun akan menjadi sebuah perjuangan keras yang menguras tenaga dan fikiran. Karena itu, banyak daerah mulai mengibarkan psywar dengan iming-iming bonus, untuk atlet mereka yang berhasil mendulang medali emas.
Kondisi tersebut awalnya tidak terlalu menarik KONI Sidoarjo. Para pengurus komisi olahraga kota udang itu menilai, iming-iming bonus itu hanyalah sebuah akal-akalan daerah lain untuk memotivasi para atlet mereka yang akan turun di Porprov lebih berlatih keras. Sementara soal realisasi kucuran bonus untuk peraih medali emas, akan ditentukan pasca Porprov.
“Setelah Batu, Kota dan Kabupaten Malang mengumumkan nilai bonus yang akan diberikan buat atlet peraih emas, kami menilai perang bonus ini bukan main-main lagi. Karena itu, KONI Sidoarjo juga perlu ikut arus untuk menjaga kualitas mental atlet kami,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo, MG Hadi Sutjipto SH MM di ruang kerjanya.
Kucuran bonus untuk atlet peraih emas Porprov II. Menurut ia, sesungguhnya sudah menjadi program pengurus KONI sejak rencana pengiriman kontingen ke PON kecil itu. Namun pengurus belum berani mengumumkan, karena khawatir akan menjadi bumerang bagi sistem pembinaan yang tengah diselenggarakan para pengkab cabang olahraga (cabor).
Kekhawatiran lainnya, takut mendapat teguran dari KONI Jatim. Pasalnya penyelenggaraan Porprov bermisi peningkatan pembibitan atlet. Juga pembangunan sistem fair-play dalam rekrutmen atlet untuk tim pelapis dalam penyelenggaran Puslatda 100/II, yang diproyeksikan untuk PON 2012.
“Karena Pak Karno Marsaid, ternyata tidak menyemprit terhadap konsisi perang bonus yang berkembang saat ini, maka kami pun memastikan jika atlet Sidoarjo peraih medali emas akan mendapat bonus,” ujarnya dengan tersenyum.
Berapa nilai yang akan diberikan untuk setiap keping medali emas. Hadi sutjipto yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo itu menolak secara halus, untuk menyebutkan besarnya nilai bonus tersebut. “Besarnya bonus untuk peraih emas Porprov tak etis saya sebutkan dan diumumkan di media, tapi kami akan membisikkan nilainya pada para pengurus cabor untuk disampaikan pada atlet yang berlatih,” kilahnya berdiplomasi.
Sikap tertutup pilihan KONI Sidoarjo terhadap besarnya nilai bonus yang akan dikucurkan, diakui pria yang juga Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini, takut menyinggung perasaan daerah lain yang hingga saat ini belum memastikan untuk memberi bonus atau tidak pada atletnya yang meraih medali emas.
Dana Pembinaan
Alokasi dana yang rencananya akan digunakan untuk memberikan bonus medali emas itu. Menurut ia, kemungkinan besar akan diambilkan dari dana yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, yang besarnya Rp 5 miliar. Juklak penggunaan dana tersebut untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Juga, operasional dari sebua pengkab cabor yang bernaung dibawah KONI Sidoarjo.
Sistem penggunaan dana tersebut, sebesar Rp 1,2 miliar untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Sedangkan yang Rp 3,8 miliar akan diberikan pada pengkab cabor. “Sedangkan alokasi pengadaan dana bonus saat ini tengah kami fikirkan. Diambil dari dana untuk pembiayaan dan pengiriman kontingen. Atau nantinya KONI akan mengajukan lagi pada Pemkab, karena nantinya yang memberikan bonus itu adalah Pak Bupati dalam sebuah acara seremonial resmi,” ujarnya.
Sedangkan mekanisme pengucuran dana Porprov pada pengkab cabor, dipastikan, akan berlangsung secara transparan dan memanfaatkan jasa perbankan. Karena itu, para pengkab cabor sudah diminta untuk menyerahkan rekening bank masing-masing, sehingga bendahara KONI dapat segera mengalirkan dana yang menjadi jatah mereka.
“Walau mekanismenya menggunakan jasa perbankan, tapi KONI menjamin setiap cabor dapat melihat nilai dana yang diterima satu dan lainnya,” ujarnya.
Nilai dana pembinaan untuk atlet Porprov itu, diakui, besarnya berdasar pada besarnya kebutuhan dana pembinaan yang sudah diajukan masing-masing cabor pada KONI. Hadi Sutjipto menjamin, bahwa sebelum awal Agustus semua cabor sudah menerima transfer dana yang dibutuhkan itu. (pvardhana88@gmail.com)
Soekarwo Tak Berani Ungkap Dana Puslatda Jatim 100/II
Senin, 16 Maret 2009
oleh Prima Sp Vardhana
BENDE pertempuran PON XVIII Riau 2012 sudah didengungkan KONI Jawa Timur, dengan meresmikan Puslatda pada 16 Maret. Sebanyak 575 personel yang terdiri atas 435 atlet dan sisanya ofisial memadati GOR CLS Kertajaya, Surabaya, tempat program yang diberi nama Puslatda Jatim 100/II itu diresmikan. Gubernur Jatim Soekarwo yang melantik mereka.
Dalam sambutannya, gubernur yang baru dua bulan menjabat tersebut menuntut para atlet untuk mempertahankan gelar juara umum yang diraih di PON Kaltim. Seraya berjanji memberi dukungan penuh, dia optimistis Jatim bisa mengulang kejayaan di Riau tiga tahun mendatang.
Optimisme Soekarwo dilandasi oleh tiga hal yang dimiliki Jatim. Yakni, atlet yang punya kemauan keras, pelatih yang mumpuni, dan organisasi yang mendukung. “Di Jatim, saya lihat koordinasi antara tiga elemen itu bagus sekali. Jika koordinasi itu bisa dipertahankan, saya yakin juara umum bisa diraih kembali,” tegas pria yang akrab dengan sebutan Pakde tersebut.
Sayang, tuntutan plus optimisme tinggi dari orang nomor satu di Jatim tersebut tidak dibarengi dengan jaminan untuk sektor pendanaan. Soekarwo tidak berani menyebut besaran anggaran yang disiapkan pemerintah untuk puslatda jangka panjang yang digeber hingga menjelang PON itu. Dia juga tidak menganggap keterbatasan sarana latihan di Jatim sebagai kendala serius pencapaian prestasi.
“Dana itu memang penting, tapi bukan yang nomor satu. Yang lebih penting adalah semangat atlet untuk latihan keras. Kalau ada uang tapi atletnya tidak mau latihan, kan tidak mungkin bisa juara. Karena itu, sarana bukan faktor yang menentukan,” ucap Soekarwo.
Sebagai gambaran, untuk periode pertama puslatda ini, pemerintah provinsi mengalokasikan Rp 48 miliar dari APBD. Kalau mengacu ke sistem Puslatda Jatim 100 jilid pertama, tiap tahun alokasi anggaran itu selalu meningkat, bahkan di tahun terakhir mencapai Rp 67 miliar karena ditambah pos untuk bonus atlet.
“Saat ini APBD untuk tahun-tahun ke depan kan belum diukur. Jadi, soal ada peningkatan atau tidak, saya belum bisa menjawab,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim Imam Utomo menegaskan, semua cabor harus mulai latihan setelah puslatda dikukuhkan. Jatim harus berpacu dengan waktu karena rahasia sukses PON Kaltim lalu sudah diketahui provinsi lain. Kini, hampir semua daerah menjalankan puslatda dengan sistem yang persis seperti di Jatim.
“Kita sudah berbaik hati membagi-bagikan resep keberhasilan di PON Kaltim. Kalau semua daerah punya sistem latihan yang sama, kita harus berusaha lebih keras,” tegasnya. Mekanisme Puslatda Jatim 100 jilid kedua ini memang tidak banyak berbeda dengan pendahulunya.(pvardhana88@gmail.com)
Puslatda PON XVIII Jatim Digelar, Imam Kritisi Kebijakan KONI Pusat

oleh Prima Sp vardhana
KETIDAKPASTIAN Cabang Olahraga (Cabor) yang akan dipertandingkan dalam PON XVIII/2012 di Riau, dipertanyakan KONI Jawa Timur. Ketua Umum KONI Jatim, H. Imam Utomo mengharapkan kepastian tersebut, karena sangat menentukan fokus konsentrasi setiap daerah dalam menyelenggarakan penggemblengan atlet daerah. Selain itu, kepastian tersebut sangat berpengaruh dalam prestasi atlet, khususnya di nomor-nomor terukur untuk memenuhi target prestasi pemecahan rekornas, rekor PON, dan rekor asia.
Demikian kritikan Imam Utomo seusai peresmian Puslatda PN XVIII/2012 oleh Gubernur Jatim H. Soekarwo di Gor Kertajaya, Senin (16/3) pagi.
Harapan Imam, KONI Pusat hendaknya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaran PON. Selama ini, KONI Pusat selalu menganut kebijakan misteri dalam menentukan cabor yang dipertandingkan dalam even paling prestisius di jagat Indonesia. Bahkan dalam penyelenggaraan PON XVII/2008 lalu. Sehingga membingungkan KONI daerah dalam menyelenggarakan sistem pembinaan atlet Puslatda PON.
“KONI Pusat sudah saatnya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaraan PON yang selama ini membingungkan daerah. Cabor yang dipertandingkan hendaknya segera dipastikan, sehingga daerah lebih terkonsentrasi dalam membina atletnya dan persaingan di PON XVIII Riau akan menghasilkan prestasi yang berpotensi medali emas SEA Games ataupun ASEAN Games,” kata mantan orang nomor satu di Jatim ini.
Selama ini, dinilainya, kepastian cabang yang dilagakan di PON XVIII Riau sangat tidak jelas. Tidak heran, banyak daerah menjadi kebingungan dalam menggelar Puslatda. Dus, KONI daerah dipaksa melakukan prakiraan yang tidak memiliki kepastian dalam menggelar Puslatda mereka. Misalnya, menggelar Puslatda dengan Cabor yang hanya dipertandingkan dalam SEA Games atau pun ASEAN Games saja. Namun, juga ada daerah yang menggelar Puslatda dengan pembatasan atlet yang cabornya di PON XVII mendulang emas, seperti yang dilakukan Jawa Timur.
“Memang ada cabor yang sudah diketahui akan dilombakan. Tapi, kepastiannya khan belum. Hal ini akan kita pertanyakan ke KONI Pusat dalam Raparnas di Jakarta nanti,” ujarnya.
Selain kepastian cabor, menurut ia, Jatim juga akan mengusulkan agar cabor yang dipertandingkan di PON disesuaikan dengan SEA Games. Sebab, level SEA Games lebih tinggi dibanding PON. ”Jangan sampai atlet juara PON, nantinya tidak bisa berlaga di SEA Games. KONI Jatim juga akan berupaya agar cabor andalan yang tak dilombakan di SEA Games bisa dipertandingkan di PON, seperti panjat tebing,” tambahnya.
Soal mutasi atlet, Imam juga sependapat dengan penolakan daerah lain terhadap mutasi atlet sebelum PON. “Semua daerah sepakat tolak mutasi. Hanya saja, harus ada keputusan KONI Pusat yang bersifat mengikat, Kami berharap jangan sampai kasus-kasus mutasi atlet di PON XVII kembali terulang lantaran ketidaktegasan KONI Pusat,” ujarnya
Sedangkan Gubernur Jatim H. Soekarwo saat meresmikan penyelenggaraan Pusalatda PON XVIII Jatim 100/II, mengatakan, bahwa kesuksesan sebuah daerah dalam even PON bergantung pada tiga tiang pokok utama, yaitu keberadaan atlet potensial, pelatih yang piawai menggembeleng prestasi, serta KONI yang memiliki program pembinaan yang bijaksana dan obyektif.
“Jatim saat ini telah memiliki tiga tiang pokok tersebut, harapan saya ketiganya mampu melaksanakan Puslatda PON XVIII dalam sebuah sinergi yang harmonis,” katanya.
Hubungan antara atlet, pelatih dan KONI Jatim, menurut ia. tidak bisa dipreteli untuk berdiri sendiri-sendiri. Namun merupakan sebuah kesatuan yang satu dengan lainnya harus saling melekat. Senyampang tiga unsur pendongkrak prestasi itu bersinergi dengan harmonis, dia yakin di PON XVIII Riau nanti Jatim mampu dan bisa kembali menjadi juara umum seperti di PON XVII lalu.
“Seorang pelatih dengan program pembinaan yang bagus tidak akan mampu melahirkan sebuah juara apabila tidak didukung atlet bagus dan berpotensi. Sebaliknya atlet ber-skill bagus juga tidak akan jadi juara jika tidak memiliki pelatih yang baik, Apabila simbiosis antara atlet dan pelatih ini bagus serta saling mendukung tetapi gong terakhirnya, yakni KONI tidak bagus, maka perjuangan atlet dan pelatih dalam menggembeleng diri akan sia-sia dan masuk tong sampah,” katanya.
Soekarwo juga mengucapkan terima kasih kepada Imam Utomo, karena mampu mengantarkan KONI Jawa Timur merebut predikat juara umum PON XVII/2008 Kaltim. Selain itu, prestasi yang diukir juga sangat luar biasa. Dari 100 medali emas yang ditargetkan, ternyata kontingen Jawa Timur berhasil mendulang 139 medali emas, 114 perak, dan 111 perunggu.
Sedangkan Humas KONI Jatim Fonumero Ziraluo yang populer dipanggil Fonzir mengatakan, Puslatda Jangka Panjang PON XVIII Jatim ini merupakan obsesi KONI sejak tahun lalu. Program Puslatda Jangka Panjang tahun ini, Jatim menetapkan nama Jatim 102. Artinya di PON XVIII Riau mendatang, Jatim akan menargetkan perolehan medali emas sebanyak 102 atau lebih banyak dibanding PON XVII Kalimantan Timur lalu.
Cabor yang masuk Puslatda, dikatakan, dibatasi 32 cabor dengan kriteria cabor perorangan terukur yang berhasil mendulang emas PON XVII Kaltim. Jumlah atletnya 439 orang. Sedangkan cabor permainan dan lainnya, penyelenggaraan Puslatdanya akan menyusul berdasarkan perkembangan prestasi yang mereka dulang hingga dua tahun menjelang pelaksanaan PON XVIII tahun 2012. (pvardhana88@gmail.com)



-B.jpg)




